
"Pakai yang sedengkul saja." kata Nanta pada istrinya ketika Dania menanyakan mana yang bagus diantara keduanya.
"Tidak seksi?" tanya Dania walaupun sebenarnya ia memang suka yang sedengkul.
"Tidak, malah kaya balon." Nanta terkekeh, bohong sih, Dania tampak cantik dengan setelan itu.
"Ish menyebalkan, pakai yang panjang saja kalau begitu, masa kaya Balon sih, sebal." Dania langsung saja merengut, bersiap mengganti celananya.
"Hahaha biar saja jangan diganti, biar tidak ada yang suka sama kamu, cukup aku saja." Nanta terbahak kembali menggoda Dania.
"Tidak mau, aku seperti Balon, Mas Nantanya ganteng habis, tidak mau begitu." Dania cemberut sambil gelengkan kepalanya.
"Maunya bagaimana?" Nanta mendekati Dania lalu mengecup bibirnya, masih cengar-cengir berhasil membuat istrinya kesal
"Maunya seimbang, kalau aku kaya Balon, Mas Nanta juga harus kaya Balon." jawab Dania memukul bahu suaminya.
"Mau aku seperti Balon? Nanti kamu lirik yang lain, aku tidak kaya Balon saja kamu habiskan waktu kamu dengan artis Korea yang kamu tonton setiap hari. Enak saja." Nanta kembali mengecup bibir istrinya. Dania jadi terkekeh, ingat artis Korea yang disukainya.
"Tuh, pikirkan cowok lain." Nanta langsung menjentikkan jarinya dijidat Dania.
"Sakit." sungut Dania.
"Sudah aku peluk begini saja masih pikirkan artis Korea, terlalu." Nanta pura-pura marah.
"Kan cuma nge fans, seperti orang-orang kalau bertemu Mas Nanta itu."
"Tidak boleh." Nanta memeluk istrinya seerat mungkin.
"Mas Nanta, bajunya kusut nih." teriak Dania membuat Nanta kembali tertawa dan melepaskan pelukannya.
"Bawa baju ganti buat dilapangan ya." pinta Nanta pada Dania.
"Untuk Mas Nanta?"
"Untuk kamu juga, biar tidak kepanasan." jawab Nanta, segera berganti pakaian yang senada dengan istrinya.
"Oke." Dania langsung siapkan baju ganti untuknya dan juga untuk Nanta.
"Ini kalau Mas Nanta tidak bicara langsung pasti belum selesai." kata Dania menunjuk celana yang dipakainya.
"Perasaan kamu saja." Nanta tertawa.
"Ini buktinya langsung jadi, Mama Lulu pesan tiga hari yang lalu baru diantar kemarin." Dania menjelaskan.
"Ada yang langsung jadi, ada yang berapa hari. Tergantung permintaan, semakin cepat semakin mahal." Nanta ikut menjelaskan.
"Kok Mas Nanta tahu?"
"Kata Papa Micko, waktu pesan baju untuk untuk acara keluarga Suryadi itu. Bagaimana sih, minim info sudah menuduh saja." Nanta terkekeh.
"Seperti kebanyakan orang ya aku. Maafkan sayangku" Dania jadi malu sendiri. Nanta tersenyum lebar dan menarik Dania dalam pelukannya lalu mengecup dahi istrinya.
"Ayo Bal, kita cus." katanya kemudian.
"Bal? Balon?" Dania menarik nafas menahan kesal. Nanta kembali tertawa senang.
"Aku tidak mau ikut, Mas Nanta saja berangkat sendiri." Dania jadi merajuk.
"Ish, jangan dong. Cantik kok beneran deh."
"Bohong!"
"Iya tadi aku bohong waktu bilang kamu kaya Balon." Nanta akhirnya mengaku.
"Bohong." kata Dania lagi setengah merengek.
"Ish cantik beneran deh, ayo." Nanta menarik lembut tangan istrinya keluar kamar, mereka siap berangkat ke acara pernikahan Ando, sudah janji pada Wilma dan Ando untuk datang sepagi mungkin.
"Wih Tania, tantik amat." teriak Balen saat melihat Dania digandeng Abangnya.
"Baen beiin baju taya dini don." pintanya pada Nanta.
"Iya nanti Aban pesankan untuk Balen." janji Nanta pada Balen. Dania jadi tersenyum mendengarnya.
"Samakan saja ya, nanti kita kembaran." kata Dania senang Balen menyukai bajunya.
"Ote." jawab Balen setuju.
"Cuwiwit Tania, tamu santik deh." tiba-tiba Richie muncul dari kamar.
"Atu benean Baban, Tania santik beditu. Tamu beuntun Baban." Richie sok tahu acungkan jempolnya.
"Beruntung kenapa?" tanya Nanta pada adiknya.
"Beuntun puna adek biang isti Abanna santik." jawab Richie tanpa bermaksud melucu, tapi semua terbahak mendengarnya, termasuk Dania yang tertawa sambil memegang perutnya.
"Aduh, aku kecil selucu ini tidak sih?" tanya Nanta pada Papa sambil tertawa. Kenan gelengkan kepalanya ikut tertawa juga.
"Ndak ada yan lucu pada tawa, hean atu, semuana tawa teus talo atu nomon." celoteh Richie kembali masuk kekamarnya.
"Ini Richie seperti Padeh kali ya, lucu sekali." kata Nanta pada Papanya.
"Sepertinya begitu." jawab Kenan terkekeh.
"Aku berangkat ya." pamit Nanta pada Kenan dan Nona.
"Hati-hati ya kalian, salaam untuk Ando dan keluarganya, Ando tahu sih kenapa Papa tidak bisa datang." kata Kenan pada Nanta.
"Iya Pa, sudah kasih angpau dimuka belum?" Nanta terbahak ingat Wilma.
"Hahaha perlu diceritakan memangnya?" Kenan ikut terbahak. Setelah menyalami Mamon dan Papon juga mencium gemas Balen, keduanya berangkat menuju rumah Wilma yang tidak begitu jauh dari rumah Ando.
"Papa sudah datang loh." tunjuk Dania pada Mobil Papanya yang sudah terparkir di depan rumah Ando. Tidak perlu waktu lama mereka sudah tiba dirumah Wilma, sudah banyak keluarga dan kerabat yang datang, Abang kembar sepupu Wilma pun sudah tampak hilir mudik.
"Mobil Papa memang ditinggal disini untuk keperluan Ando." kata Nanta menjelaskan.
'Mas Nanta kok lebih tahu sih dari aku?"
"Temannya Ando kamu apa aku sih?" Nanta tertawa menggoda istrinya.
"Anaknya Papa kan aku." Dania tidak mau kalah.
"Tapi yang ditelepon tiap hari sama Papa dan Mama kamu siapa?" tanya Nanta tertawa geli, Mama Maya dan Papa Micko menghubungi Nanta hampir setiap hari.
"Iya, aku anak yang diabaikan, anakku sayang, nanti jangan begitu ya, lebih senang sama Papa dari pada sama Mama seperti Opa dan Oma." Dania mengusap perutnya, Nanta jadi tertawa.
"Nanti sayang sama Mama ya, jangan melawan. Tapi banyakin sayangnya ke Papa." kata Nanta ikut bicara dengan Baby di perutnya.
"Aaah, curang." Dania jadi terkekeh, jahil sekali suaminya hari ini.
"Ayo turun." ajak Nanta, kemudian mereka segera keluar dari Mobil, berjalan masuki rumah Wilma.
"Waduh, sudah besar saja perutnya Dan, tidak percuma ditraining singkat waktu itu ya." Arkana terkekeh menyambut keduanya.
"Ish Bang Atan." Nanta jadi meringis, selalu mati kutu kalau dekat Arkana.
"Sudah berapa bulan?" tanya Sarah istri Arkana yang baru saja melahirkan bulan lalu.
"Masuk bulan kelima." jawab Dania tersenyum.
"Mana calon pengantinnya?" tanya Dania pada Sarah.
"Lagi dandan di atas, kamu jangan naik tangga deh, duduk disini saja." Sarah melarang Dania untuk naik.
"Iya sayang, disini saja." pinta Nanta setuju dengan apa yang Sarah katakan.
"Bang Chico sama Bang Naka mana Bang?" tanya Nanta pada Arkana.
"Lagi sama Ando, mereka lagi kasih tutorial untuk Ando." jawab Arkana tertawa.
"Abang tidak ikutan?" tanya Nanta.
"Gantian dong, masa semuanya jadi murid gue." jawabnya tengil, Nanta jadi tertawa.
"Hai Nan, dari tadi?" sapa Romi kakak ipar Wilma pada Nanta.
"Baru saja, Kak Anggita mana Bang?"
"Lagi mabok berat, itu dikamar saja tidak bisa keluar." kata Romi yang sedang bergantian menjaga Anggita dengan Mamanya Intan.
"Kasihan, jadi nanti bagaimana saat acara?" tanya Nanta.
"Tidak apa, yang penting kan bisa hadir disini." Romi menepuk bahu Nanta. Tampak wajahnya sedikit lelah, mungkin semalaman tidak tidur.
"Elu istirahat dulu Rom." kata Arkana pada Romi.
"Biar saja tanggung, nanti setelah akad nikah baru deh gue istirahat." kata Romi pada Arkana. Beginilah nasib suami kalau istrinya lagi mabok parah karena bawaan hamil.