
"Tan temani gue ke PI ya." Kata Monik pada Intan via telepon. Sabtu siang ini memang Intan tak ada acara. Dengan senang hati Intan pun setuju. Dari pada bengong dirumah, pikirnya. Intan pun segera bersiap sambil menunggu Monik menjemputnya. Tak lama jemputan pun Tiba. Setelah pamit kepada Mama dan Papanya, Intan berlari menuju ke Mobil. Tampak pak supir dan Alex duduk di depan. "Loh gue kira mas Alex tidak ikut. Kenapa minta temani gue Nik?" tanya Intan spontan.
"Sekalian mau meeting disana, jadi biar nanti gue tak bengong sendiri makanya gue ajak elu Tan." Monik menjelaskan pada Intan.
"Masih meeting saja Mas weekend begini. Eh siapa tahu clientnya Mas Alex single, kenalkan aku ya Mas." kata Intan asal. Alex hanya tersenyum melihat Intan dari kaca spion. "Single kok Tan, tenang saja." jawab Alex tersenyum melebar. Tak lama mereka pun tiba di PI dan menuju salah satu restaurant yang telah disepakati Alex dan clientnya.
"Kita tak usah pisah meja nih?" tanya Monik pada Alex. "Gabung saja." tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar. Begitu Intan menengok, hmmm benar saja tampak Anto berdiri dengan setelan kemeja denim dan celana jeans warna senada. Tak pernah tak keren, kalau saja tidak menyebelkan pasti Intan jatuh cinta.
"Kita tidak ganggu kalian nih kalau gabung?" tanya Monik lagi. "Lah meeting santai kok ini." jawab Anto disambut anggukan Alex. Sementara Alex membahas proyek kerjasamanya dengan Anto, Monik sibuk memilih menu makanan bersama Intan. Sambil sesekali cekikikan pelan, entah apa yang mereka bahas. Dalam keadaan berbisik pun obrolan mereka tetap bisa nyambung. Tak ada diantara mereka yang tiap sebentar bertanya "apa?" sambil mengernyitkan jidat, seperti orang kebanyakan. Mungkin pendengeran mereka sangat baik, atau mereka ahli dalam membaca gerak mulut hehehhe.
"Nik itu mirip Sheila deh." Intan menunjuk seorang gadis yang sedang menggandeng pria berkacamata. Mereka tampak mesra. Berbeda saat Sheila jalan disamping Reza. Tak pernah terlihat Sheila menggelendot manja pada Reza, seperti sekarang. Monik memperhatikan gadis yang dikira Sheila. Setelah mendekat melewati restaurant ternyata memang itu Sheila, entah dengan siapa. Mereka tak kenal tapi Kepo.
"Reza bagaimana tuh." Intan memikirkan Reza merasa kasihan.
"Kayanya mereka tidak pacaran deh." jawab Monik.
"Cocok juga tuh Reza sama Kiki." Intan langsung mengingat Kiki.
"Kalau gue cocoknya sama siapa, Tan?" Sepertinya meeting Anto dan Alex sudah selesai. Terbukti Anto mulai memancing emosi Intan. Masih edisi ngambek Intan hanya memajukan mulutnya beberapa centi. "Eh gue minta maaf." bisik Anto sambil menggeser bangkunya mendekati Intan. Monik hanya diam mengamati, begitu pula Alex.
"Tumben minta maaf." kata Intan heran. Memang selama ini semenyebalkan bagaimanapun Anto tak pernah merasa bersalah. Tapi kali ini entah salah makan apa Anto nih.
"Jadi kalian sudah bisa kita tinggal ya." Tiba-tiba Alex menarik tangan Monik meninggalkan Anto berdua Intan.
"Heiii ... " Intan cuma bisa teriak dan speechless tak bisa berkata apa seperti merasa dijebak.
"Thank you brother." Anto mengacungkan jempolnya pada Alex. Sementara monik hanya bisa melambaikan tangan pada Intan sambil menunjuk Alex.
"Makanan belum datang, mereka sudah pergi. Siapa nanti yang makan." Intan hanya bisa mengeluh pasrah.
"Antar gue pulang ya. Tadi gue dijemput soalnya." Kata Intan, sambil memandang setiap waitress yang lewat berharap pesanannya segera tiba.
"Maafin gue ya?" pinta Anto lagi.
"Ya iya lah, kan lu sudah traktir makan, trus nanti traktir nonton sama traktir belanja kan?" Intan memainkan alisnya menggoda Anto.
"Tenang, pokoknya hari ini kamu ratunya." jawab Anto manis sekali.
Akhirnya makanan yang ditunggu pun tiba. Intan yang sudah lapar langsung menyuap tanpa beban.
"Baca doa dulu dong." Anto mengingatkan
"Sudah dalam hati." jawab Intan santai dan kembali menyuap makanannya. Tak lama makanan dimeja pun habis tak bersisa. Eh itu bukan Intan sendiri yang menghabiskan. Anto ikut membantu kok.
"Siapa yang makan?" tanya Anto membalikkan ocehan Intan tadi. hehe Intan pun tertawa konyol.
Selesai makan mereka menuju ke bioskop, Anto merangkul Intan, kadang bergaya seperti mempiting leher Intan. Ada aja kelakuannya. "Kalau ada wartawan nanti jadi gosip nih, To." Intan mengingatkan Anto. Karena sepanjang jalan ke bioskop beberapa mata tertuju pada mereka dan tak sedikit yang berbisik. Siapa yang tak kenal Anto. Pembalap , pengusaha dan juga bintang iklan. "Biarin." jawab Anto tak peduli dengan semakin mempererat pitingan tangannya pada leher Intan. "Koplak." Intan terbatuk dan memukul pundak Anto. Disambut tawa Anto yang tampak bahagia.
Sementara dirumahnya Kiki yang galau termenung dikamar. Masih tak habis pikir dengan Mama dan Papa yang membahas perjodohannya dengan Reza. Sangat mengejutkan. Eh entahlah apa ini mengejutkan??? kalau ditelaah harusnya Kiki sudah curiga sedari awal karena hanya dengan Reza, Mama dan Papa mengijinkan Kiki untuk pulang lebih malam dari biasanya.
Sebenarnya yang bikin terkejut itu ketika Mama langsung saja bilang nanti malam Reza dan orang tuanya akan datang, sebalnya sewaktu ditelpon Kiki untuk bekerjasama menolak perjodohan jawaban Reza sangat menyebalkan. Seakan pasrah, pakai bilang Kiki tidak jelek-jelek amat lagi. Mentang-mentang menurut Kiki, Sheila lebih cantik dan juga lebih seksi. Ah dari kemaren memang Reza sudah mulai menyebalkan dengan pesannya yang berulang kali membuat Kiki terbengong.
Belum lagi memikirkan Sheila yang hubungannya dengan Kiki sangat-sangat baik, bagaimana Kiki menghadapi Sheila nanti. Ingin curhat dengan sahabatnya mereka lagi asik menikmati weekend di PI, suasana disana tidak mendukung karena ada Alex dan Anto. Curhat dengan Cindy signal lagi kurang bagus dari tadi suara tidak terdengar. Kak Wina??? Ibu hamil itu selalu mendukung Mama. Ah sudahlah, Kiki segera mengambil wudhu, hanya Allah tempatnya mengadu. Kiki tahu mama tak mungkin menjerumuskan anaknya. Kiki juga tahu, ridho ibu adalah ridho Allah. Sudah pasti Kiki menurut tak melawan. Kiki hanya tak ingin ada yang tersakiti dalam perjodohan ini.
Setelah Sholat dan berdoa, Kiki segera bersiap mengganti baju rumahnya dengan baju yang sudah dipilihkan Mama. Juga mempersiapkan perasaannya saat bertemu om Dwi, tante Nina dan Kak Eja nanti. Supaya debar-debar di dadanya yang tidak karuan, kembali normal.
drrrttt...drrrttt... pemberitahuan pesan masuk.
Yang cantik ya, malam ini kamu boleh pakai lipstik yang kemarin. *Calon suami.
Bah Lagi-lagi pesan dari Reza yang tanpa beban menulis calon suami. Apa sih yang ada dipikirannya. Sepertinya Reza bahagia, harusnya Kiki pun sama. Bahagia karena semua persyaratan calon jodoh yang Kiki sampaikan pada Mama, Papa dan Kak Wina malam itu, semua ada pada Reza. Kalau saja tidak ada Sheila. Ah Kiki menghela nafas panjang. Jantungnya berdebar lebih kencang.