I Love You Too

I Love You Too
Rino lagi



Tepat pukul empat sore, Reza sudah standby dimobilnya menunggu Kiki. Kali ini atas permintaan Reza, Erwin yang mengantar Sheila pulang. Beberapa bulan diabaikan Kiki, Reza masih bisa santai. Tapi melihat lelaki lain yang mulai menempel pada Kiki membuat Reza gerah. Seperti ucapannya pada Kiki, Reza sudah memberitahu Om Ryan bahwa Ia akan mengantar Kiki pulang dan Reza juga ijin mengajak Kiki mampir ke Warung Elite. Dengan senang hati permintaan diterima.


Tampak Kiki berjalan bersama Monik dan Intan, ah tapi lagi-lagi ada Rino diantara mereka. "Maunya apa sih?" gerutu Reza.


"Aku sudah di mobil." Kata Reza pada Kiki via telpon, lalu mematikan teleponnya. Matanya terus kearah Kiki yang perlahan mendekat, tak perlu dijelaskan Kiki pasti sudah hafal dimana Reza biasa parkir. Setelah berpamitan dengan sahabatnya, Kiki pun menghampiri Reza.


"Kak Sheila mana kak?" tanya Kiki heran.


"Pulang." jawab Reza sedikit cemberut. Masih ada rasa kesal dihatinya. Tapi ia tak bisa berkata-kata. Mau komplen mana bisa, Kiki bisa bilang mereka tak ada hubungan apapun. Dijodohkan juga hanya Reza yang tahu, Kiki kan belum tahu, jadi serba salah. Reza menarik nafas panjang berusaha menetralkan perasaannya.


"Kamu buru-buru tidak dek, Kita mampir ke warung dulu ya? pinta Reza dengan suara yang mulai melembut.


Kiki tersentak memandangi Reza yang mulai melajukan kendaraannya. Apa tak salah dengar Reza memanggilnya Adek. Ya tidak salah sih, kan memang sebagian orang tahunya mereka kakak adik. Dan sepertinya Reza memang menganggapnya Adik pikir Kiki.


"Aku telpon papa dulu ya." Jawab Kiki sambil menggeser layar Handphonenya.


"Om Ryan sudah ku kasih tahu." Kata Reza sambil fokus menyetir. "oo oke." Kiki pun tak jadi menelpon papanya. Tapi dia tetap meminta ijin melalui pesan. Suasana kembali hening. Tak ada percakapan.


Drrttt.... drrrtttt... Tampak dilayar handphone Kiki pesan suara dari Papa. Kiki pun membukanya "Iya sayang, tadi Reza sudah telepon Papa. Take your time." Seperti biasa Ryan menjawab melalui pesan suara karena masih menyetir. Reza tersenyum mendengarnya. Kenapa harus tunggu selesai sidang sih melamar Kiki, pikirnya tak sabar.


"Kamu mau ikut performe jumat, Ki?" tanya Reza mencairkan suasana.


"Aku tanya mama dulu kak. Kayanya Kita mau lihat Kak Wina, lagi ngidam dia. Jadi tak bisa ke Jakarta." jelas Kiki sambil tersenyum senang membayangkan sebentar lagi akan punya keponakan.


"Sampaikan salamku ya. Selamat semoga sehat terus." Reza ikut senang mendengarnya.


"Insyaa Allah." jawab Kiki


"Semester ini aku sudah tidak ada kuliah, Ki. Tinggal susun skripsi. Beberapa bulan ini kita bakal jarang ketemu." kata Reza sedikit sedih dan juga khawatir pastinya karena tak bisa mengawasi Kiki. Setelah itu kita akan ketemu tiap hari Ki, batinnya. Reza tersenyum dalam hati.


"Wah senang ya kak sebentar lagi lulus. Aku masih lama." sungut Kiki.


"Kamu kuliah yang benar. Jangan dekat dekat sama Rino." Uppss Reza keceplosan melarang Kiki untuk dekat dengan Rino, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Stupid keluhnya dalam hati.


"Memang kenapa kak?" tanya Kiki heran.


"Kan Mama kamu bilang tidak boleh pacaran." Reza mengeles.


"Oh iya, Kak Eja tahu saja." Kiki cengengesan dibuatnya. Mengingat Mama yang selalu bilang begitu setiap ada kesempatan.


Tak lama mereka pun tiba di Warung Elite. Tampak mobil Mario dan Andi sudah parkir manis disana. Tapi mobil Erwin belum terlihat, mungkin masih mengantar Sheila. Ada yang mau dibahas terkait penambahan tenaga di bagian produksi dan juga membahas masalah pembangunan cabang baru di jakarta selatan.


"Ini restaurantnya Kak Eja. Lu sendiri ngapain?" tanya Kiki


"Janjian sama temen gue. Yuk gabung." ajak Rino.


"Kita ada urusan." sahut Reza cepat, dan segera menggandeng tangan Kiki meninggalkan Rino kemudian memanggil staffnya.


"Kak.." Kiki mencoba melepaskan genggaman tangan Reza. Wajahnya tampak memerah salah tingkah. Reza hanya memandang Kiki sesaat, melirik ke tangan mungil yang digenggamnya dan kembali berbicara pada staffnya.


"Pang, bantu tuh meja yang disana. Jangan lupa kasih compliment dan panggil Bowo ke ruangan suruh bawa laporan produksi." Reza menunjuk ke arah Rino yang sudah bergabung dengan temannya. Lalu berjalan menuju ruangan kerjanya dengan jari yang saling bertautan. Ada perasaan hangat dihatinya.


Dari balik ruangan kerja, Mario dan Andi tertawa geli melihat tingkah laku Reza. "Lihat tuh yang lagi emosi." Kata Mario sambil memegang perutnya yang sakit kebanyakan tertawa. "Lupa dia main gandeng saja. Belum pernah gue lihat Reza begitu." Sahut Andi tak kalah geli. Ketika melihat Reza sudah mendekat, kedua sahabat itu langsung kembali duduk di bangku masing-masing berlagak sibuk.


"Assalamualaikum.." Reza membuka pintu dan menyapa kedua sahabatnya. Genggaman tangan tentu sudah dilepas saat membuka pintu ia tak ingin habis diledek sahabatnya didepan Kiki.


"Waalaikumusalaam.. Hai ada Kiki. Jadi performe ya." Sambut Andi hangat.


"Duduk dulu dong." Kata Reza sambil mengajak Kiki duduk di sofa.


"Belum tahu kak, aku mau pastikan ke Mama dulu, Aku lupa kita ada rencana mau ke S'pore besuk kakakku yang sedang hamil." Jawab Kiki setelah duduk.


"Jam berapa berangkat? Bareng gue yuk, setelah performe juga gue sama Reza mau ke S'pore." Jawab Mario asal. Memang rencana sehabis performe dia akan berangkat ke Singapura tapi tidak dengan Reza. Tak ikut berkomentar Reza hanya menyimak.


"Atau mau diundur acaranya jadi jumat depan?" kata Andi meminta persetujuan Mario dan Reza.


"Jangan friend lanjut saja. Jumat depan sudah fokus dicabang baru." Reza mulai bersuara.


"Ok. Gue upload nih. Kiki tentative ya. Kabari Ki, kalau bisa berangkatnya bareng Mario saja. Nanti dipesawat tinggal tidur" Kata Andi sambil sibuk mengetik didepan laptopnya.


"Iya kak nanti aku kabari." jawab Kiki


Tak lama Bowo pun tiba diruangan membawa laporan kerja. Karena Reza yang bertanggung jawab dibagian produksi, maka bowo pun menghadap Reza. Mereka sibuk berdiskusi sesekali meminta persetujuan Andi dan Mario.


Kiki melihat Reza tampak berbeda saat duduk dimeja kerja, berdiskusi dengan Bowo , Reza terlihat sangat keren. Duh ganteng sekali sih pacar orang, batin Kiki mengagumi Reza. Tapi terlintas wajah Sheila diotaknya. Kiki segera menepis perasaannya dan mulai sibuk memainkan handphonenya. Ada pesan masuk dari Rino.


Sini Ki kenalan sama teman-teman gue.


"Kak aku ke Rino ya, mau dikenalkan sama temannya." Kata Kiki pada Reza. Reza yang masih sibuk berdiskusi hanya melirik sesaat lalu kembali berdiskusi. Menyebalkan sekali si Rino, batin Reza kesal.


"Ki, sini Ki bantuin gue." Mario memanggil Kiki sambil menyodorkan laptopnya. Ia sangat mengerti ekspresi Reza yang mulai berubah saat Kiki ijin ke Rino. Sungguh Mario sahabat yang sangat pengertian. Reza tampak menyeringai.