
"Pa..." Nanta mengetuk kamar Papanya, ia mau ijin ke rumah mertuanya. Kenan membuka pintu kamar sambil merapikan rambutnya.
"Aku kerumah Papa Micko ya." ijinnya pada Papa.
"Berapa malam?" tembak Kenan langsung.
"Paling telat minggu pagi sudah disini." jawab Nanta tertawa, Papa suka setengah hati kalau Nanta ijin menginap. Bagaimana mau pindah rumah jika Papa seperti ini, pikir Nanta.
"Oke, hati-hati Boy." kata Papa setelah mendengar jawaban Nanta.
"Iya Pa. aku jalan dulu. Papa lanjutkan lagi saja tidak usah antar aku kedepan." Nanta tersenyum jahil.
"Lanjutkan apa?" tanya Kenan mengangkat alisnya.
"Tadi Papa lagi apa, lanjutkan lagi saja." kata Nanta terkekeh.
"Seperti yang tahu saja." Kenan terkekeh mengacak anak rambut putranya.
"Eh, Baen sama Ichi mana, Pa?" tanya Nanta baru sadar duo bocah tidak muncul dari tadi. Kalau ada dikamar Papa pasti sudah ikut keluar kamar mendengar suara Abangnya.
"Balen sama Richi dijemput Ayah tadi." jawab Kenan tersenyum.
"Oh ya sudah aku jalan, sampaikan pada Mamon." kata Nanta menyalami Papanya.
"Jalan dulu ya Pa." pamit Dania ikut menyalami mertuanya.
"Hati-hati ya, Salam untuk Oma Misha." kata Kenan pada Dania.
"Iya, besok kami kumpul keluarga Suryadi Pa." Dania memberi tahu Kenan.
"Tadi Papamu sudah kasih tahu, dress code denim." Kenan terkekeh, ingat Micko menggerutu karena kumpul keluarga harus pakai baju warna senada.
"Hahaha Papa Micko sudah tahu ya." Nanta terbahak.
"Sudah, repot sekali." Kenan menyenderkan badannya di pinggir pintu.
"Baju denim kita ada di rumah Papa kok." kata Dania pada suaminya. Nanta menganggukkan kepalanya tersenyum pada Dania.
"Ya sudah sana nanti kemalaman." usir Kenan pada keduanya.
"Hmm Ok, Pa..." Nanta tersenyum pada Kenan seperti ada yang mau disampaikan. Kenan melambaikan tangannya menatap Nanta curiga. Nanta pun mendekati Papanya kembali,
"Jangan nambah adek." bisik Nanta sebelum meninggalkan Papa dipintu kamar. Kenan langsung terbahak mendengarnya. Dari tadi pasang wajah aneh ternyata mau bilang itu.
"Sudah cukup dua, Boy." jawab Kenan masih terbahak.
"Siapa tahu, Mama saja hamil lagi." kata Nanta tertawa kemudian kali ini beneran menggandeng tangan istrinya keluar rumah, menuju mobilnya yang sudah terparkir menanti diluar, sengaja Nanta tidak masukkan ke garasi karena mereka akan pergi lagi.
"Sayang, kamu masih KB kan?" tanya Kenan di dalam kamar.
"Masih, memangnya kenapa?" tanya Nona bingung.
"Nanta tadi pesan jangan nambah adek lagi." Kenan terkekeh membaringkan tubuhnya disebelah Nona yang sudah tidak berpakaian lengkap.
"Huaaa memangnya dia tahu kita sedang apa?" tanya Nona panik, Kenan malah tertawa mendengarnya dan kembali melakukan aksinya yang sempat terpotong iklan tadi.
Sementara itu dimobil,
"Mas Nanta bisikkan apa sama Papa tadi?" tanya Dania pada suaminya, mereka masih dalam perjalanan saat ini. Lumayan macet mengingat jumat malam dan besok sudah weekend.
"Jangan tambah adek." Nanta terkekeh.
"Ish kok bilang gitu sama Papa, tidak sopan." Dania menutup mulutnya.
"Masa sih tidak sopan? aku hanya mengingatkan, jangan kasih aku adek lagi, kan kita sudah mau kasih mereka cucu." kata Nanta fokus menyetir.
"Memang kenapa kalau punya cucu?" tanya Dania.
"Kapan mau masih perhatian sama Cucu kalau sudah fokus sama anak yang umurnya tidak jauh beda sama cucunya."
"Kemarin sama Mama Tari beda lagi jawabannya." Dania tertawakan suaminya.
"Iya itu kan aku, takut tidak bisa kasih perhatian karena sibuk sama anak kita, sekarang kalau Papa punya anak lagi, Papa yang tidak bisa kasih perhatian sama Cucu."
"Segitunya sayang Papa." Dania terkekeh.
"Aku mau anak kita diperhatikan juga sama Opanya." Nanta tersenyum pada Dania.
"Sama Oma?"
"Nanti jadi anak Opa, ada dua Opa posesif yang adek bayi punya." Dania tertawa ingat Papa dan mertuanya. Nanta ikut tertawa bayangkan anaknya kerepotan hadapi Papa dan Papa Micko yang posesif itu.
"Sayang, anak kita perempuan apa laki-laki ya?" tanya Dania kemudian sambil mengelus perutnya. Nanta jadi tersenyum sendiri dari tadi sebut adek bayi dengan anak kita, rasanya kok semriwing.
"Kamu maunya apa?" tanya Nanta.
"Tidak tahu, lihat Balen lucu, lihat Ichi beda lagi lucunya." Dania jadi bingung.
"Ya sudah jadi tidak masalah mau perempuan atau laki-laki kan. Eh tapi kalau bisa, laki-laki saja deh aku maunya, biar bisa bantu urus perusahaan dan restaurant." Nanta terkekeh.
"Perempuan juga bisa kan?"
"Bisa sih, tapi pengalaman didepan mata lihat kamu, Mamon dan Kak Roma semua pada ikuti suami saja tuh, tidak aktif urusi perusahaan keluarga."
"Aku kan masih kuliah sayang."
"Kalau sudah tamat memangnya kamu mau kerja?" tanya Nanta pada istrinya.
"Kalau kamu ijinkan."
"Boleh kalau anak kita sudah besar dan sudah bisa ditinggal."
"Sebesar Balen?" tanya Dania.
"Harus lebih besar lagi." jawab Nanta.
"Wah lama dong." protes Dania.
"Itu juga kalau kamu tidak hamil lagi." Nanta terbahak.
"Ish yang satu belum keluar sudah pikirkan hamil lagi." Dania ikut tertawa menepuk bahu suaminya.
"Nanti kita bikin ya." Nanta tersenyum sambil mengecup punggung tangan istrinya. Wajah Dania langsung saja memerah ingin segera sembunyi dibalik punggung suaminya.
"Mau tidak?" tanya Nanta lagi menyeringai.
"Bodo ah." wajah Dania malu-malu.
"Masih saja malu-malu." Nanta terkekeh. menggelengkan kepalanya. Dania menutup wajah Nanta dengan tangannya agar tidak terus melihat kearah dirinya. Entah kenapa kalau membahas hal itu Dania langsung saja merasa malu.
"Sayang..." panggil Nanta pada Dania.
"Hmm..." menoleh pada suaminya.
"Nanti anak kita empat saja ya." pinta Nanta Nanta.
"Banyak betul, kapan aku kerja kantorannya." Dania mengernyitkan dahinya.
"Nanti sepi loh seperti Papa sekarang, kalau kita menginap atau Balen menginap pasti ada bahasa penolakannya." jelaskan Nanta pada Dania
"Jangan kasih menginap kalau begitu." Dania tersenyum konyol.
"Memang kamu berani menolak kalau yang suruh menginap, Papa, Papa Micko, Oma-Oma, Opa, Ayah, Bang Ray, berani?" tanya Nanta terkekeh. Dania menggelengkan kepalanya nyengir.
"Jadi?" Nanta menunggu jawaban Dania.
"Aku tidak usah kerja kantoran." jawab Dania pasrah.
"Kenapa begitu?" tanya Nanta.
"Kamu pikir saja, aku baru boleh kerja kantoran kalau anak kita sudah besar, menunggu yang satu besar, ada lagi adiknya, begitu saja terus sampai semuanya besar." cerocos Dania bersungut.
"Iya kalau kamu kerja juga mana bisa ikut aku bertanding." Nanta terkekeh.
"Nah kalau punya baby banyak juga bagaimana mau ikut kamu bertanding, lihat saja Mamon, Papa Kenan selalu kasih ijin kalau mau travel syaratnya ajak Balen sama Richi, akhirnya tidak jadi travel." sungut Dania.
"Jadi anaknya mau berapa?" tanya Nanta.
"Dua saja ya atau kalau mau banyak saat travel, kita mesti bawa pasukan pengasuh. Kamu harus banyak duitnya kalau begitu." Dania terkekeh.
"Kok aku yang banyak duitnya, kamu dong."
"Kok aku?" tanya Dania bingung.
"Karena duitnya kan sudah aku transfer ke rekening kamu." Keduanya langsung saja tertawa. Terus saja bicara berdua sampai akhirnya mereka pun tiba dirumah Papa Micko.