I Love You Too

I Love You Too
Berhasil



"Masih diparkiran saja." Nanta terkekeh hampiri Mike yang sedang duduk manis di kap mobilnya.


"Lama sekali." sungut Mike karena satupun belum ada yang muncul, baru Nanta saja yang datang.


"Kenapa tidak menunggu di dalam mobil sambil dengarkan musik atau tidur." kata Nanta pada sahabatnya.


"Saya capek kakak, duduk terus darIi tadi." kata Mike mengambil tas ransel yang berisi bola basket dan peralatan lain yang dibutuhkan. Sementara Nanta sejak turun Mobil sudah membawa tas ranselnya, tinggal berganti pakaian saja.


"Tidak usah latihan saja kalau capek." Nanta menggoda Mike.


"Enak saja, sudah ditunggu dari tadi mau batalkan latihan." Mike langsung saja memiting leher sahabatnya itu, mereka tertawa bersama. Sedang rusuh-rusuhnya berdua mereka dikejutkan oleh suara klakson, hingga Mike melompat. Kembali Nanta tertawakan Mike.


"Tidak usah dilihat, itu Leyi." bisik Mike jahil meskipun sempat melompat karena kaget luar biasa. Kemudian kembali sok sibuk berdua abaikan Larry dan Doni yang baru datang.


"Jangan sok acuh deh, gue pulang lagi nih." ancam Doni begitu mendekat pada Nanta dan Mike.


"Eh jangan dong Om Doni." Nanta langsung mendekat dan menarik tangan Doni, sementara Mike pun merangkul Larry, mereka berjalan menuju lapangan sambil membuat kerusuhan baru.


"Gue ganti baju dulu." ijin Nanta pada sahabatnya, yang lain sudah langsung menggunakan pakaian untuk latihan karena mereka berangkat dari rumah masing-masing.


"Kenapa tidak ganti pakaian di kantor sih?" tanya Mike agak kesal karena harus menunggu lagi.


"Beda dong orang sibuk sama sok sibuk " jawab Nanta konyol, membuat Mike ingin memiting leher Nanta lagi, tapi keburu Nanta berjalan cepat hindari Mike.


Rupanya dilapangan sudah ramai menunggu teman mereka yang lain, mereka sudah siap dengan skipping Dan yang lainnya.


"Tim mana duluan?" tanya salah satu dari mereka.


"Kita dulu lah, kalian setelahnya." kata Doni ingin memulai lebih dulu.


"Yang datang duluan kan kita." jiah tidak mau kalah.


"Suit saja bagaimana?" tanya Larry menengahi.


"Oke." mulailah Doni suit dengan salah satu tim yang lain, dimenangkan oleh Doni, hasilnya mereka akan mulai lebih dulu.


"Kalian kan berempat, kita ada sepuluh orang nih, gue masuk Tim kalian ya?"


"Oke." jawab ketiga geng kwartet setuju. Nanta baru saja terlihat keluar dari ruang ganti pakaian, ia tidak langsung bergabung, tapi menghubungi istrinya di rumah.


"Aku sudah dilapangan." lapornya pada Dania.


"Ya sudah." jawab Dania, hanya itu mau jawab apalagi.


"Aku tidak bisa dihubungi selama dua jam ya." kata Nanta lagi.


"Kok begitu?" Dania merengut


"Kan latihan satu jam Non Stop ada dua tim, kami gantian melatih dan berlatih." Nanta menjelaskan pada istrinya.


"Ya sudah." lagi-lagi jawab ya sudah, pasrah saja.


"Mau kiss?" tanya Nanta menggoda istrinya, Dania langsung tertawa malu sendiri.


"Nanti saja dirumah." jawab Dania.


"Kenapa memangnya kalau sekarang?"


"Kalau sekarang cuma kiss layar hape tidak berasa." Dania kembali tertawa.


"Sudah ah Mas Nanta bikin pikiranku jalan-jalan saja." Dania jujur sekali, jadi kembali tertawa sadari kebodohannya.


"Ajak-ajak dong, jangan jalan-jalan sendiri pikirannya." Dasar Nanta senang sekali menggoda istrinya yang jadi tertawa-tawa malu.


"Makanya Mad Nanta cepat pulang dong." kata Dania kemudian.


"Belum juga mulai sudah disuruh cepat pulang." Nanta jadi terbahak.


"Berarti tidak makan malam di rumah ya? Jam segini belum mulai."


"Iya, kamu makan duluan saja ya sama Papa dan Mamon." kata Nanta kemudian mereka akhiri teleponnya. Nanta pun matikan handphonenya dan masukkan kedalam tas ranselnya.


"Mulai?" tanya Nanta pada yang lain.


"Konsepnya bagaimana, kita berlima satu tim?" tanya Doni pada Nanta.


"Oke setengah jam pertama kita fokus latihan menggiring bola ya. Professional ya, walaupun tidak ada coach gerakan harus benar, pengawas tegur saja kalau dalam anggota ada yang salah." kata Nanta pada semuanya.


"Oke let's start." Mike langsung membawa bolanya, mengambil posisi."


"Kasih jarak." kata Larry pada semuanya.


"Doa dulu dong." Doni terkekeh melihat sahabatnya sudah semangat saja, kembali mereka mendekat membuat lingkaran lalu berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Saling tos dan berteriak memberi semangat, seperti mau bertanding saja.


Mereka mulai latihan mendrible bola dengan model yang berbeda-beda, masing-masing gerakan selama enam menit, itu dilakukan bergantian, jika sudah selesai mereka bertukar posisi satu sama lain, karena tiap gerakan dribbling sudah ditentukan tempatnya. Keringat bercucuran semua fokus, sesekali teman yang mengawasi berteriak agak gerakan dipercepat jika ada yang mulai lambat.


"Ayo, percepat. Jangan malas, mata fokus!" teriak teman mereka yang menjadi pengawas dan menghitung waktu. Terus saja begitu sampai tiga puluh menit berlalu. Setelah selesai dribbling semua mengarah pada pinggir lapangan dimana skipping sudah tersedia dilantai.


"Semua lompat pakai skipping, sambil menunggu salah satu anggota Tim berlari ke garis tree point kembali keujung, kesini lagi lalu keujung lagi, lalu kembali skipping, gue hitung dari ujung ya satu sampai lima, mulai dari nomor satu, kalau sudah selesai lari, skipping lagi, sambil tunggu teman kita selesai." perintah Doni pada sahabatnya.


Semua berlari menuju tali skipping terletak dan mulai melakukan apa yang diperintahkan. Nafas mereka sudah mulai tersengal, tapi sesuai aturan tidak boleh berhenti, kecuali ingin minum. Tapi tidak ada satupun yang minum, semua lakukan latihan dengan maksimal, semua sudah basah dengan keringat.


Setelah selesai lakukan perintah, teman pengawas memberikan mereka bola, kembali lakukan dribble sambil bertahan dan melempar bola lalu masukkan bola ke ring basket.


"Push up lalu lari ambil bola dan masukkan ke ring basket. Yang sudah selesai push up lakukan hal yang sama, yang sudah selesai kembali skipping." teman pengawas berikan perintah.


"Aaah..." Mike berteriak menahan lelah.


"Mike jangan lemah!" yang lain mengingatkan. Begitu terus setiap ada yang berteriak karena kelelahan langsung ada yang mengingatkan.


"Jangan cengeng, pejuang tidak boleh cengeng, tidak boleh lemah!" kembali mereka menyemangati diri masing-masing.


"Skipping lagi sambil tunggu giliran, masing-masing masukkan 10 bola ke ring basket, jika gagal ulang dari awal." tegas Larry, semua pun lakukan skipping di posisi masing-masing, lakukan sesuai arahan sambil menunggu giliran.


"Gila, perut gue keram." teriak Larry saat gilirannya tiba. Doni yang sudah selesai dekati Larry yang sedang membungkuk menahan sakit pada perutnya. Diusapnya bahu Larry.


"Lanjut." kata Larry kemudian setelah perutnya dirasa sudah mulai normal.


"Semangat Leyi, jangan kasih kendor." teriak Mike pada sahabatnya, sementara ia sendiri sedang berjuang dengan skippingnya. Hingga selesai sudah latihan mereka selama satu jam Non Stop sesuai rencana.


"Gila, ide siapa sih ini, mau pingsan rasanya." teman satu tim mereka langsung saja menoyor kepala Nanta yang memang pencetus ajak sahabatnya yang lain ikut latihan satu jam Non Stop. Satu tim kwartet plus pun saling berpelukan karena mereka berhasil lakukan latihan sesuai target, satu jam penuh tanpa istirahat, bahkan tidak ada yang ijin untuk minum.


"Oke lanjut Tim berikutnya." perintah Nanta dengan nafas tersengal.


"Istirahat dulu dong, gue minum dulu, nafas lu juga masih begitu." teriak Mike dengan muka sewot, yang keram siapa yang sewot siapa, semua jadi tertawakan Mike.