I Love You Too

I Love You Too
Es Krim



"Mana Balen?" tanya Larry yang baru saja datang bersama Mike. Ia sengaja mengajak Mike karena Richi juga pasti mau ikut berenang, meskipun bisa saja Larry mengajari keduanya.


"Masih tidur." jawab Nanta terkekeh, ia meninggalkan Balen dikamarnya ketika Mike menghubunginya mengabarkan ia dan Larry sudah didepan rumah.


"Richi?" tanya Mike menanyakan muridnya.


"Mungkin sama." jawab Nanta yang juga baru bangun tidur, lumayan satu jam menemani Balen tidur siang.


"Masih pada tidur, gue juga ngantuk sih, boleh numpang tidur sebentar ya, sebelum mereka bangun." kata Larry merebahkan badannya di karpet ruang keluarga memakai bantalan kursi penyanggah kepalanya.


"Habis ngapain lu, jam segini ngantuk?" tanya Mike curiga.


"Gue sejak balik Amrik tidurnya masih belum benar." kata Larry yang ternyata masih jetleg.


"Oh mestinya hari pertama datang paksakan mata melek saat siang." kata Nanta memberitahukan pengalamannya, Nanta sih terpaksa melek karena Dania baru kasih kabar dia hamil waktu itu. Jadi kalau Dania tidur Nanta ikut tidur, Dania melek Nanta pun terpaksa melek walau ngantuk mendera.


"Iya sih." jawab Larry terkekeh.


"Bangunkan begitu Balen ready ya." kata Larry yang betul-betul mengantuk.


"Patah hati dia." Mike mencibir pada Larry.


"Enak saja, gue yang putusin sih." protes Larry yang ternyata masih tidur-tidur ayam.


"Bagaimana Kak Dini dan Om Deni?" tanya Mike kepo.


"Yah seperti suami istri kebanyakan." jawab Nanta terkekeh, sepenglihatannya sih begitu, Nanta mana tahu kalau di kamar.


"Seru juga ya dijodohkan begitu." kata Mike lagi.


"Mau dijodohkan?" tanya Nanta pada sahabat sekaligus sepupu istrinya ini.


"Kalau bisa sih jangan, maunya seperti elu sama Dania lah, memang sudah saling suka duluan." kata Mike lagi, Nanta tertawa saja mendengarnya.


"Jangan pacaran juga." kata Nanta pada Mike.


"Iya nanti nasib gue seperti Larry yang tiap sebentar patah hati." Mike tertawa terbahak, senang sekali tertawakan jalan cinta sahabatnya yang satu ini.


"Siapa yang patah hati sih." gumam Larry dengan mata terpejam, rupanya ia tidur-tidur ayam saja, mana bisa pulas Mike tidak bisa diam. Ada saja gerakan tubuhnya, entah tertawa entah mengambil apa.


"Lu mau tidur juga?" tanya Nanta pada Mike.


"Oh tidak, saya baru bangun tidur waktu Aban Leyi jemput." jawab Mike terkekeh.


"Biarkan Larry istirahat, mau makan?" Nanta menawarkan Mike.


"Cemilan saja Nan." Mike langsung saja semangat.


"Cek kulkas dulu yuk." ajak Nanta pada sahabatnya, langsung bergerak tanpa penolakan.


"Ada rujak, puding coklat nih dikasih orang, ada cake juga sepertinya dikasih orang juga." kata Nanta sambil membuka freezer.


"Ice cream." teriak Mike dengan wajah berbinar.


"Jangan lebay deh, ini punya siapa ya?" Nanta bingung, sedikit berpikir. Khawatir punya anaknya Om Samuel atau punya Kak Dini.


"Duh punya siapa memangnya, Balen bukan?" tanya Mike.


"Bukan, mungkin punya anak Om Samuel atau Kak Dini ya." kata Nanta mengira-ngira.


"Makan saja Nanta, kemarin Mas Deni yang beli." tiba-tiba Dini ada dibelakang keduanya.


"Duh kaget aku." kata Nanta memegang dadanya, bagaimana tidak Dini tiba-tiba ada dibelakang mereka dan bicara didekat telingan Nanta.


"Hahaha seperti Opa-Opa kamu." Dini tertawakan Nanta.


"Ih Kak Dini, aku juga kaget tahu." omel Mike yang juga sudah akrab sama Kak Dini.


"Ah kalian ini." Dini menurunkan jempolnya.


"Kak ngobrol dong." kata Mike dengan dahi diangkat.


"Ngobrol apa?" tanya Dini.


"Bagaimana kesan-kesannya jadi istri?" tanya Mike kepo.


"Biasa saja, kenapa memangnya."


"Yang tidak sok cook tuh bagaimana?" tanya Dini terkekeh.


"Iya aku mau tahu kalau baru kenal tahu-tahu jadi suami istri itu apa rasanya?" tanya Mike detail, Nanta senyum-senyum saja mendengarnya, ia menyerahkan es krim pada Mike dan juga Kak Dini. Nanta juga makan satu.


"Ya kalau mau tahu menikah saja dengan orang yang baru kamu kenal." jawab Dini terkekeh kemudian meninggalkan keduanya kembali kekamar.


"Ah Kak Dini, berbagi ilmu lah." teriak Mike lupa kalau sedang dirumah Nanta.


"Pssssttt... ada mertua dan iparku disini." kata Dini meletakkan telunjuknya di bibir.


"Hahaha iya sorry." Mike terbahak.


"Kak Dini ayo ngobrol di kolam." ajak Mike masih mau interogasi Dini.


"Bukan muhrim." jawab Dini konyol membuat Nanta dan Mike terbahak.


"Sombong sekali baru berapa hari jadi istri." gumam Mike kembali ketempat Larry tidur, ia membawa satu lagi es krim jatah Larry, baik sekali.


"Larry, es krim nih." katanya pada Larry. Tidak ada jawaban hanya terdengar dengkuran halus.


"Tidur jangan diganggu." kata Nanta pada Mike.


"Ya sudah es krimnya buat gue ya." kata Mike lagi pada Larry. Tidak ada jawaban.


"Boleh katanya." jawab Sendiri kemudian buka kemasan es krim milik Larry karena yang tadi sudah habis Mike makan.


"Nan, tapi Kak Dini terlihat happy ya. Mukanya juga terlihat bersinar." komentar Mike sambil menikmati es krim keduanya . Nanta menganggukkan kepalanya.


"Hebat berarti Om Deni." kata Mike lagi sambil menganggukkan kepalanya.


"Hebat kenapa?" tanya Nanta.


"Bisa membuat istri bahagia." jawab Mike terkekeh. Nanta ikut terkekeh sudah tahu apa yang ada diotak sahabatnya. Mereka berdua cekikikan.


Handphone Mike berdering, ia langsung menghela nafas saat melihat nama Doni


"Kenapa?" tanyanya seperti tidak senang dihubungi Doni.


"Kerumah Nanta tidak ajak-ajak." protes Doni pada sahabatnya.


"Kakak lu ngadu ya?" tanya Mike tertawa.


"Masih lama tidak disana?" tanya Doni tanpa menjawab pertanyaan Mike.


"Masih kan mau ajari Balen dan Richi berenang, muridnya saja belum bangun." Mike terbahak.


"Ya sudah gue kesana."


"Mau apa kesini?" tanya Mike menggoda sahabatnya.


"Gabut gue gabut, Dona kerja."


"Hahaha kasihan." malah tertawakan Doni.


"Belikan es krim, tadi es krim Kak Dini kita habiskan." pesan Mike pada Doni, khawatir nanti Om Deni tanya es krimnya mana, sudah tidak ada dikulkas.


"Memangnya Kak Dini suka es krim?" Doni tertawa.


"Itu ada dikulkas dibelikan Om Deni." jawab Mike.


"Oh, es krim apa sih? harus yang sama atau bebas?"


"Untuk menghilangkan jejak harus yang sama." jawab Mike.


"Eh Doni, tadi kakak lu makan es krim gue lihat." kata Mike lagi baru sadar.


"Oh, tumben. Ya sudah nanti gue belikan, foto es krimnya Kirim ya." kata Doni pada Mike.


"Ok." jawab Mike, ia pun mengirim gambar es krim yang dimakannya melalui pesan pada Doni.


Bungkusnya Mike, bukan foto es krim yang sudah elu gigit. Baru mau gue kenalin sama cewek, tidak jadilah kalau oneng begini.


pesan yang dikirim Doni membuat Nanta dan Mike terbahak, sengaja betul Mike kerjai Doni tadi mengirim foto es krim yang sudah digigitnya.