I Love You Too

I Love You Too
Meminta Nanta



Kenan membuka handphonenya ketika notifikasi pesan masuk berbunyi.


"Bang Eja meminta kita ikut makan malam bersama dirumah, Istri sahabat Bang Eja ingin mengenal kamu lebih dekat." kata Kenan pada Nona setelah membaca pesan.


"Deni sama Samuel langsung ke paviliun saja atau bagaimana? Nanta?" Nona tampak bingung.


"Saya akan minta Raymond dan Roma menemani mereka." kata Kenan mulai mengetik pesan untuk Raymond.


"Ok, beres. Langsung ke rumah saja, Pak Atang, makan malam dulu baru setelah itu kamu pulang." kata Kenan pada Pak Atang.


"Saya nanti langsung pulang saja, Pak. Ini makanan biar bisa dimakan sama anak-anak dirumah." katanya pada Kenan.


"Ok." jawab Kenan sambil mencubit gemas pipi Nona.


"Sakit!" bisik Nona sambil melirik kesal pada Kenan, keluar galaknya.


"Ish galak."


"Biarin." Nona mengusap pipi bekas cubitan Kenan yang masih terasa.


"Biar cepat sembuh." kata Kenan kemudian mengecup Pipi Nona.


"Mas Kenan, malu aku sama Pak Atang." bisik Nona kesal.


"Tuh lihat." Kenan menunjuk kaca spion tengah yang ternyata sudah dibalik oleh Pak Atang yang tak ingin terkontaminasi kelakuan pengantin baru.


"Mas Kenan biasa cium-cium cewek dimobil ya?" desis Nona curiga. Kenan menggelengkan kepalanya, agak kesal dengan tuduhan Nona yang berlebihan.


"Sayang, lain kali kalau curiga bicara sesuai fakta saja. Kalau belum ada bukti, kamu cari dulu. Baru berapa jam jadi istri saya sih? Ada saja yang di curigai, kalau begitu terus nanti bukan kamu saja yang capek, saya juga ikut capek." bisik Kenan pada Nona tidak mau di dengar oleh Pak Atang.


"Maaf." kata Nona dengan wajah memelas, mengalungkan kedua tangannya dileher Kenan.


"Cium!" Nona mencium pipi Kenan. Kenan menggeleng dan menunjuk bibirnya sambil menatap wajah istrinya yang agak menyebalkan kalau sedang cemburu tidak jelas.


"Ayo!" desak Kenan. Nona menggelengkan kepalanya dengan sedikit merengek, menggeser posisi merebahkan kepalanya dibahu suaminya, manja sekali. Kenan tersenyum sendiri mengecup pucuk kepala istrinya, mesti ekstra sabar menghadapi Nona rupanya.


"Non, sudah sampai." kata Kenan pada Nona setelah mobil berhenti didepan rumah. Saat Nona bangun Pak Atang tampak sudah turun membuka pagar.


"Kamu ketiduran?" tanya Kenan, Nona mengangguk, sementara Kenan memeriksa bahunya.


"Kenapa begitu ada iler ya?" dengus Nona mencubit perut Kenan.


"Saya tidak bilang begitu." kata Kenan terkekeh, segera turun dari Mobil. Mereka turun dari Mobil sambil tertawa hingga masuk kedalam rumah dengan wajah ceria.


"Nah sudah datang, ayo makan bersama." ajak Pipit seakan menjadi tuan rumah.


"Tamu kita sudah datang ya?" Andi menambah-nambah kelakuan.


"Bang Andi tidak bawa alat musik ya? Istriku ingin sekali melihat kalian perform."


"Ah kamu tidak bilang, kalau bilang tadi selesai akad kita tampil khusus untuk kalian." kata Andi sedikit menyesal.


"Lain kali saja." kata Nona tersenyum.


"Masalahnya kita sekarang jarang-jarang kumpul. Besok malam bagaimana?" Mario memberi ide.


"Besok malam?"


"Iya kita ke lounge hotel X saja, nanti tampil disana paling tidak dua lagu cukup lah. Mau? kalau mau gue telepon orang hotelnya supaya disiapkan alatnya."


"Eja, Kiki? ini untuk Nona loh Ipar kalian." Andi menatap Reza yang paling malas tampil.


"Oke. Khusus untuk adikku Nona." jawab Kiki tanpa menunggu jawaban Reza.


"Kak Eja pasti Ok lah, ini untuk Kenan dan Nona." jawab Kiki dengan senyum melebar. Mario segera menghubungi kerabatnya pemilik hotel X, langsung saja minta disiapkan apa saja yang dibutuhkan besok.


"Disiapkan private room untuk kita, jadi bebas mau berapa lagu." kata Mario menaikkan alisnya.


"Kalian juga harus nyanyi ya." kata Erwin pada Kenan dan istrinya.


"Tidak, tidak. Kami yang berdansa saja." Kenan menyeringai jahil.


"Bisa tidak bermain musik sambil berdansa?" tanya Enji pada Erwin.


"Mau apa?"


"Aku juga mau dansa sama kamu, Schatz." kata Enji memeluk suaminya manja.


"Mengalahkan pengantin baru." dengus Kenan menggelengkan kepalanya.


"Hahaha harus begini terus biar sudah punya cucu kan. Eh Kenan cucuku bisa kita jodohkan dengan anakmu tuh." kata Enji pada Kenan.


"Yang benar saja Kak Enji, Nanta sudah Enam belas tahun, cucu Kan Enji masih bayi." protes Kenan pada Enji.


"Anak gadis Chico usia Lima tahun. Boleh lah beda sebelas tahun juga." desak Enji pada Kenan.


"Ah aku tidak berani, bagaimana nanti saja. Kalau jodoh pasti bertemu. Urusan Raymond sama Roma saja ada yang merajuk menghilang seminggu waktu itu." sindir Kenan pada Reza dan Kiki.


"Ish Kenan, tapi kan ada hasilnya. Mereka akhirnya menikah." kata Kiki tersenyum mengingat saat Raymond dan Roma memutuskan pertunangan mereka.


"Ayo jadi makan tidak?" ajak Regina yang sudah menunggu di meja makan.


"Iya jadi." teriak Kiki menarik Nona menuju meja makan yang sudah tersaji menu yang disiapkan Bi Wasti. Lansung semua berkumpul memilih bangku masing-masing dan acara makan malam dimulai dengan khusu.


"Nona kamu beda usia berapa sama Kenan?" tanya Pipit pada Nona setelah makan malam.


"Lima belas tahun, Kak."


"Tuh, bisa Ken. Nanta sama Jelita nanti beda sebelas tahun." kata Enji lagi. Yang lain tertawa saja melihat Enji yang jatuh cinta pada Nanta, langsung ingin meminangnya.


"Masalahnya Kak, Nanta itu sudah remaja, sebentar lagi kuliah. Aku mana tahu kalau nanti dikampus ada yang dia suka atau bagaimana. Kalau pun iya sama Jelita, apa Nanta mau menunggu Jelita selama dua belas tahun. Ih Kak Enji ini."


"Iya juga, lama sekali Nanta harus menunggu Jelita usia tujuh belas tahun. Itu pun kalau terpaksa menikah lulus sekolah menengah." Enji tertawa sendiri. Erwin menggelengkan kepalanya saja.


"Jadi bagaimana? benar-benar ya, sudah tiga anak dipaksa menikah cepat, sekarang yang masih ingusan pun sudah dipikirkan jodohnya." Pipit menggelengkan kepalanya.


"Nah ini yang protes karena perjodohannya jadi menyilang kan?" tawa Enji meledak.


"Hei kalian membahas yang Nona tidak mengerti." kata Kiki kemudian menceritakan kenapa Andi dan Mario akhirnya menjadi besan pada Nona. Saat Pipit menjodohkan anak gadisnya dengan anak Intan dan Anto, malah Lembayung Anak Pipit dan Andi akhirnya menikah dengan Steve putra Mario dan Regina.


"Seru juga ya saling menjodohkan anak." kata Nona.


"Apanya yang seru, padahal kita sudah janji hanya sekedar menjodohkan kalau anaknya tidak mau kita tidak akan memaksa. Kejadian saat Raymond dan Roma putus malah aku kabur dari rumah meninggalkan Raymond. Aku yang patah hati, Non." Kiki menutup wajahnya.


"Jadi mereka menikah terpaksa?"


"Ya tidak terpaksa juga, syukurnya mereka juga tidak kuat putus lama-lama. Begitu baikan langsung kita paksa menikah. Khawatir putus lagi." jawab Reza tertawa.


"Tuh kalau kita punya anak nanti jangan dijodohkan, pusing sendiri jadinya." kata Kenan pada Nona.


"Tidak dijodohkan kalau memang mau pusing pun pusing juga." jawab Andi.


"Ya sudah tidak usah pikir jodoh menjodohkan. Malam ini bikin anak saja dulu." kata Erwin dengan senyum nakalnya, yang lain terbahak termasuk Kenan, sementara Nona merona malu mendengarnya.