
Seharian travel di Bandung, banyak tempat yang mereka kunjungi. Setelah makan mereka menyusuri jalan Riau, banyak Factory Outlet disana, Roma berburu baju hamil, padahal di Jakarta atau Malang juga banyak, tapi tetap saja rasanya masih ada yang belum punya. Dania berbeda dengan Roma, ia bukan type orang yang suka berbelanja, ia lebih memilih sibuk dengan kamera yang biasa dibawanya saat travel, padahal Nanta sudah mentransfer sejumlah uang pada istrinya.
Nanta menemani Dania duduk di salah satu bangku yang disediakan factory outlet disana, mereka melihat-lihat hasil foto yang di jepret Dania tadi, sesekali mereka tertawa karena rupanya banyak foto candid Nanta, Roma dan Raymond di kamera tersebut, bahkan saat Raymond tertawa akibat ulah Balen pun menjadi obyek foto Dania.
"Bagus." kata Nanta sambil menunjuk tiap foto yang dikaguminya.
"Iya." jawab Dania terkekeh.
"Foto kamu tidak ada." protes Nanta.
"Kan aku yang foto." Dania tertawa memandang suaminya.
"Ayo selfie." ajak Nanta, selfie perdana mereka. Nanta mengeluarkan handphonenya, belum pernah Nanta mengajak Dania atau siapapun berfoto sebelumnya. Banyak mata melihat ke arah Nanta dan Dania yang tampak mesra berduaan, wajah tampan Nanta selalu membuat mata tak puas memandang, walaupun sudah ada wanita disebelah Nanta. Terlepas dari Nanta terkenal apa tidak, seperti yang Nanta bilang ia tidak seterkenal bayangan Ayah Eja, memang tidak semua orang mengenal Nanta, tapi kalau Nanta keluar rumah belum tentu tidak bertemu orang yang mengenal Nanta
Setelah beberapa kali jepret dengan handphonenya dengan berbagai macam gaya, Nanta memilih salah satu foto selfie yang menjadi photo profile terbarunya, tidak lagi gambar sebuah pulau, tapi gambar ia dan Dania saling menempelkan kepala dengan senyum yang sama kedua Gigi mereka terlihat. Langsung heboh, handphone Nanta tidak berhenti bergetar sedari tadi. Setiap pergerakan Nanta selalu diikuti oleh semua yang ada di kontak teleponnya.
"Getar terus." protes Dania yang ikut merasakan getaran handphone Nanta di meja.
"Biarkan saja." jawab Nanta yang sudah biasa menerima banyak pesan.
"Tidak dibaca?" tanya Dania.
"Kalau dibaca semua bisa habis waktuku." jawab Nanta terkekeh. Dania menganggukkan kepalanya.
"Setelah ini ke jalan Braga ya?" pintanya pada Nanta.
"Hu uh." jawab Nanta setuju, mereka masih menunggu Roma dan Raymond, biarkan saja mereka asik belanja, Nanta juga asik bicara dan bercanda bersama istrinya.
"Aku pasang foto ini di profileku ya?" ijin Dania pada suaminya.
"Aku sudah." Nanta terkekeh.
"Ish Mas Nanta duluan." Dania menepuk bahu suaminya.
"Sudah dong, orang-orang harus tahu aku sudah ada yang punya." Nanta merangkul istrinya.
"Memangnya mereka tahu Mas Nanta sudah menikah?" tanya Dania.
"Belum, tapi kan profilku bersama kamu, lihat dong statusku." kata Nanta lagi.
Forever and Ever.
Dania langsung tersenyum senang memandangi suaminya.
"Terima kasih Mas Nanta." kata Dania masih dengan senyum dipipinya.
"Kiss me." Nanta menatap istrinya.
Dania langsung mengecup bibir suaminya sekilas.
"Aish ini bukan Eropa." pekik Nanta pelan, Dania langsung tertawa tanpa beban. Berani sekali Dania mengecup bibir Nanta diarea umum, membuat Nanta menggelengkan kepalanya.
"Paris Van Java." jawab Dania jahil.
"Hahaha nakal kamu ya, siap-siap masuk kolom gosip." Nanta terbahak.
"Mas Nanta tidak seterkenal itu kan?" kata Dania tertawa.
"Iya sih." Nanta ikut tertawa. Keduanya langsung berdiri begitu melihat Raymond dan Roma datang dengan paperbag di tangannya.
"Sudah?" tanya Nanta membantu Raymond yang kewalahan membawa tentengan istrinya.
"Sebenarnya masih ada lagi, tapi Raymond marah." sungut Roma.
"Ish ngences nanti anakmu Bang." kata Nanta pada Raymond.
"Tuh kan, aku juga tadi bilang begitu." Roma merasa dapat suaka.
"Kamu percaya yang seperti itu?" tanya Raymond pada Nanta
"Ya jaga-jaga saja, Dari pada Nanti bajumu basah kena air liur baby saat menggendongnya, belikan saja. Tidak setiap hari juga ke Bandung." Roma mengangguk senang Nanta membelanya
"Kamu tahu dia sudah beli selusin baju hamil Dan yang ku larang itu selusin yang lain?" kata Raymond membuat Nanta mendelik.
"Kak Roma mau jualan kah?" tanya Nanta membuat Raymond terbahak.
"Nanta, kalau tidak terpakai kan bisa ku kasih kan ke yang lain." kata Roma bersungut.
"Yang lain itu siapa? semuanya sama seperti kamu suka belanja." kata Raymond mengingat istri sahabatnya yang juga menjadi sahabat istrinya.
"Ya nanti kalau Dania hamil tidak perlu beli lagi." Roma memberikan alasannya, Nanta terbahak.
"Dania pakai kaos aku." kata Nanta terkekeh.
"Eh Dania kamu praktekkan ya itu?" Roma langsung saja semangat, Dania jadi salah tingkah.
"Kenapa nih?" tanya Raymond.
"Ayo Dania praktek belanja kaos Nanta." tarik Roma pada Dania, ia tahu Dania Salah tingkah dan pucat pasih. Raymond terkekeh sudah tahu Roma pasti ingin beli baju yang dilarangnya tadi.
"Tidak nurut sama suami dosa loh." goda Raymond pada istrinya. Sontak Roma berbalik badan.
"Hahaha iya boleh, beli kaos Nanta yang banyak, pilih yang paling tipis." kata Raymond setengah menyindir, Nanta langsung saja menjepit leher Abangnya dengan kedua tangannya sambil terbahak. Ia langsung tahu kalau kemarin itu ajaran Roma dan sahabatnya, tapi Nanta senang saja.
"Warna pastel saja." Nanta akhirnya ikut mengarahkan, Roma dan Dania terbahak.
"Ganti poto profile apa tidak ramai handphonemu?" tanya Raymond gantian duduk ditempat Dania tadi duduk.
"Ramai, Abang sudah lihat ya?" tanya Nanta cengengesan.
"Sudah, Bagus. Siap-siap Balen marah."
"Marah kenapa?" tanya Nanta.
"Background fotomu mainan anak-anak apa tidak sadar?" tanya Raymond mendorong dahi adiknya.
"Hahaha aku tidak sadar, aku cari boneka Balen dulu ya." katanya segera berdiri memasuki toko boneka.
"Belikan Richi dan Wulan juga." Raymond mengingatkan.
"Iya." jawab Nanta tersenyum, berterima kasih Raymond mengingatkannya. Ia memasuki toko mainan anak dan memilih beberapa mainan untuk ketiga adiknya. Kemudian berlanjut ke toko baju pria, Nanta jadi teringat Lucky dan Winner. Tidak butuh waktu lama untuk berbelanja, hanya setengah jam Nanta sudah kembali dengan Lima tentengan ditangannya.
"Banyak betul." kata Raymond heran.
"Adikku sekarang Lima." kata Nanta terkekeh. Raymond ikut tertawa.
"Istrimu tidak dibelikan?" tanya Raymond.
"Ah kalau begitu bisa merembet Mama, Papa, Mamon, Om Bagus, Oma, Opa, Ayah dan Bunda, eh belum lagi Tante Lulu dan Om Micko, Oma Misha. Bagaimana aku pusing, belikan saja semua?" Nanta menggaruk kepalanya.
"Hahaha tidak usah, mereka juga tidak mengharapkan itu. Kita senang saja mereka sudah ikut senang. Nanti kita belikan makanan saja." kata Raymond terbahak melihat Nanta bingung.
"Wilma nih." Raymond menunjuk handphonenya pada Nanta.
Bang Ray bilang Bang Nanta oleh-oleh gue jangan lupa.
pesan Wilma untuk Nanta masuk ke handphone Raymond.
"Dasar bocah." Nanta terkekeh.
"Adikmu enam bukan lima." Raymond terbahak.
"Sudah janji tidak minta transfer lagi karena aku sudah menikah." Omel Nanta saat menghubungi Wilma via telepon.
"Aku kan tidak minta transfer, cuma minta oleh-oleh." jawab Wilma membuat Nanta terkekeh.
"Mau apa?" tanya Nanta, tidak pernah bisa menolak permintaan Wilma.
"Batagor ya bawakan batagor yang dekat pintu tol itu." kata Wilma pada Nanta.
"Oke, ingatkan lagi nanti ya saat kami mau pulang." kata Nanta khawatir lupa
"Oke nanti kuingatkan lewat Dania juga." kata Wilma tertawa.
"Iya."
"Abang, jangan lupa ya bikin adek you." kata Wilma membuat Nanta mendelik, dapat dari mana Wilma cerita ini, bingung sendiri, Nanta tidak tahu saja tadi Micko memanggil Ando kekantornya, jadi saat Nanta menghubungi Kenan, Ando ada diruangan itu.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Raymond begitu Nanta mengakhiri sambungan teleponnya dengan Wilma.
"Dania mau ke jalan Braga." kata Nanta pada Raymond.
"Oh iya nanti makan disana juga enak." kata Raymond setuju.
"Lama sekali mereka belanja, kita letakkan dulu saja ini di mobil." Nanta menunjuk tentengan mereka.
"Ayo." Raymond mengikuti, dari pada nanti repot pasti lebih banyak lagi bawaan istri mereka, sudah bisa Raymond bayangkan.
"Sayang tunggu." teriak Roma berlari kecil mengejar suaminya. Rupanya ia dan Dania sudah selesai berbelanja, mereka tidak menenteng apapun, tapi dibelakang mereka pegawai toko sedang membawakan banyak kantong belanjaan yang Raymond duga milik Roma dan Dania. Lebih banyak dari dugaan Raymond.
"Belanja apa saja?" tanya Raymond heran.
"Aku sih beli yang tadi saja, sisanya belanjaan Dania." jawab Roma santai, Raymond terkekeh menepuk bahu Nanta.
"Kamu beli apa banyak sekali?" tanya Nanta karena bukan hanya satu orang pegawai toko tapi ada tiga orang yang membawakan belanjaan mereka.
"Belanja untuk semua keluarga Mas Nanta dan Keluargaku, untuk Wilma dan Ando juga, untuk Nek Pur, Mama dan adikku di London juga." jawab Dania membuat Nanta menepuk jidatnya. Istrinya memang tidak suka belanja, tapi selalu membawakan oleh-oleh untuk orang rupanya, pantas saja kemarin itu overload.
"Nanti kalau ke Turki tidak usah begini, belanja saja untuk kebutuhan kamu." kata Nanta tertawa.
"Takut uang Mas Nanta habis ya." Dania terkekeh.
"Mana mungkin habis." jawab Nanta sombong
"Kenapa tidak boleh?" tanya Dania.
"Mubazir kalau harus membayar biaya overload." bisik Nanta membuat Dania terbahak.
"Sudah ada rekanan Suryaputra group di Turki kan?" Dania menyeringai jahil, langsung saja Nanta mencubit pipinya gemas.