I Love You Too

I Love You Too
Bangga



"Kejar tayang sekali baru dua hari jadi suami sudah panggil sayang." bisik Raymond menggoda adiknya.


"Memang ada batasan waktu harus berapa lama?" tanya Nanta terkekeh.


"Aku setelah enam bulan menikah baru panggil sayang." Raymond masih berbisik.


"Salah Bang Ray kalau begitu, kenapa menunggu enam bulan." Nanta mencibir.


"Tapi bohong." kata Raymond kemudian menyebalkan sekali, Nanta jadi terbahak.


"Apa Kak Roma pernah cemburu?" tanya Nanta ikut berbisik.


"Belum pernah lihat?" tanya Raymond. Nanta menggelengkan kepalanya.


"Nanti kamu lihat saja, menyebalkan Dan bikin pusing." kata Raymond terus saja berbisik.


"Kenapa sih bisik-bisik." tanya Roma memandang curiga pada Nanta dan suaminya. Matanya langsung berkeliling menyapu ruangan di Restaurant.


"Awas ya cuci mata." ancam Roma, Nanta langsung tertawa seketika.


"Memang Bang Ray suka cuci mata Kak?" tanya Nanta masih tertawa.


"Jangan ditiru." Roma mendelikkan matanya pada Nanta.


"Aku lagi yang dimarahi." Nanta terkekeh maklum orang hamil lebih judes dari biasanya.


"Apa kubilang, bikin pusing kan? jelas-jelas disini kosong cuma ada Pelayan." Raymond terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Apa?" tanya Roma judes sepertinya dia lapar.


"Apa sih?" Raymond terkekeh menghampiri Roma dan mencubit pipinya,


"Tidak ada angin tidak ada hujan tahu-tahu marah." Omel Raymond.


"Habisnya kamu bisik-bisik, mencurigakan." suara Roma melunak.


"Bisik-bisik apa memangnya? kenapa larinya jadi cuci mata, ada yang cantik disini, cuma kamu sama Dania tahu?" Raymond menjentikkan telunjuknya ke dahi Roma.


"huhu disetil lagi." Roma mengelus jidatnya kemudian terkekeh menarik tangan Dania. Mereka segera memilih meja dan tempat mereka duduk.


Mulai memesan makanan yang tersedia sesuai selera masing-masing. Bukan hanya Mie kocok yang tersedia disana, ada berbagai macam menu yang bisa mereka pilih.


"Setelah ini mau kemana?" tanya Raymond pada ketiganya.


"Balik ke hotel." pinta Roma.


"Iya istirahat dulu lah, tidur sebentar." Nanta pun setuju.


"Yakin tidur?" tanya Raymond mencibir.


"Ish mau apa memangnya, kamar saja Bang Ray minta yang connected." sungut Nanta, Raymond terbahak.


"Jadi kamu tidak suka kamar begitu, kan enak kita bisa keluar masuk bebas, lebih mudah untuk koordinasi." Raymond menjelaskan.


"Iya memang, makanya jangan pikir yang aneh-aneh."


"Siapa yang pikir aneh, aku cuma tanya yakin tidur? siapa tahu kita main uno."


"Oh iya, hehehe." Nanta jadi malu sendiri.


"Tapi siapa juga yang mau main uno." Raymond kembali terbahak, puas sekali menggoda Nanta, Dania cengengesan saja.


Mereka pun kembali ke hotel, lelah juga perjalanan dari pagi, kaki sudah pada cenat cenut kebanyakan berjalan.


"Apa baby tidak komplen?" tanya Dania khawatir Roma kelelahan.


"Baby sangat pengertian, in syaa Allah tidak komplen." jawab Roma merangkul Dania.


"Belanjaanmu tidak diturunkan?" tanya Roma menyeringai.


"Mana sempat lagi, sampai Jakarta kalian sibuk dengan Balen." Raymond seakan mengerti saja.


"Apa sih?" tanya Nanta penasaran.


"Tanya saja Dania." Raymond terkekeh meninggalkan Dania dan Nanta yang masih sibuk dengan molen yang tadi dibelinya. Pikir Nanta harus diturunkan karena mereka baru kembali Ke Jakarta Lusa, sebenarnya terlalu cepat Nanta membelinya, tapi kapan lagi, besok belum tentu ke arah sana.


"Bang!" teriak Nanta memanggil Raymond.


"Ya?" Raymond memutar badannya.


"Apa kukirim paket saja ini makanan, supaya bisa dinikmati besok?" tanya Nanta.


"Oh ya sudah, nanti staff disini kusuruh jemput kemari." jawab Raymond setuju. Nanta pun menarik nafas lega, tidak khawatir makanannya disemuti.


Sementara Nanta dan Dania sibuk bersenang-senang, Micko ditemani Ando datang ke kantor Burhan Company sesuai arahan Arkana, mengikuti skenario yang Arkana buat. Micko datang menjelang makan siang, begitu pertemuan Arkana dan Peter akan berakhir.


"Assalamualaikum..." dengan santai Micko masuk kedalam ruangan Arkana.


"Waalaikumusalaam, ini dia yang kita tunggu-tunggu. Silahkan Pak Micko." Arkana menyambut dengan hangat. Micko segera duduk disebelah Arkana sementara Ando mencari bangku yang kosong


"Maaf terlambat." kata Micko tanpa melihat pada Peter, pura-pura tidak melihat yang pasti.


"It's Ok, kami tahu kesibukan Bapak. Begini Pak Micko, silahkan dipelajari penawaran yang tadi disampaikan PT. Siluet. Secara garis besar saya suka, tapi tetap saja sebagai Tim ahli keputusan saya serahkan pada Pak Micko." Arkana tersenyum menganggukkan kepalanya, kemudian pandangan beralih pada Peter.


"Saya tidak bisa memutuskan, selama ini Papa saya selalu menyerahkan pada Pak Micko orang kepercayaannya." Peter melirik Micko dengan wajah tidak suka dan sedikit gusar. Bagaimanapun ia butuh Dana segar, tapi bagaimana jika Micko langsung menolaknya. Memohon pada Micko, maaf saja ia tidak mau terlihat lemah.


"Eh saya baru sadar, Pak Peter dan Pak Micko punya nama belakang yang sama loh, Apa kalian saudara?" Arkana terkekeh sedikit mengejek sih sebenarnya. Micko hanya tersenyum sinis, saudara macam apa yang selalu merugikan saudaranya yang lain. Karena Arkana memandang pada Peter setelah Micko terlihat sibuk membaca berkas yang diberikan Arkana tadi, mau tidak mau Peter yang menanggapinya.


"Hanya kebetulan." jawab Peter tidak mau mengakui Micko saudaranya, jelas-jelas darah Suryadi mengalir pada tubuh Micko.


"Bagaimana Pak?" tanya Arkana pada Micko.


"Saya pelajari dulu, kurang lebih dua minggu." jawab Micko pada Arkana.


"Apa harus selama itu?" tanya Peter gusar.


"Mengeluarkan uang sebesar ini mana bisa dalam waktu satu dua jam, saya harus pelajari perusahaan anda juga, akan ada Tim survey nanti. Seperti baru menjalankan usaha saja." ketus Micko menatap tajam pada Peter. Sayang saja mereka duduk berseberangan, ingin sekali Peter memaki Micko tanpa terdengar oleh yang lain.


"Jangan mempersulit gue." tegur Peter pada Micko saat mereka sudah keluar dari ruang rapat, ia mengejar Micko yang sudah ijin lebih dulu pada Arkana.


"Maksudnya?" tanya Micko acuh.


"Bekerjalah professional, jangan hanya karena masalah pribadi lu tolak proposal gue." kata Peter pada Micko.


"Gue lu suruh professional? siapa yang selama ini main curang ya? gue apa elu? Jangan cari gara-gara, gue bisa robek proposal ini sekarang juga dan bilang sama Arkana ini tidak layak, lu mau apa?" Micko terkekeh berjalan kembali menuju lift, Ando mengikuti dari belakang seperti ajudan saja.


"Oh iya bro, jangan ganggu anak gue, biarkan dia hidup bahagia sama suaminya. Lu mau mengaku jadi bapaknya, gue bisa bongkar rumah sakit yang kasih lu bukti surat DNA palsu, Sedikit saja Dania terluka, perusahaan lu gue bikin hancur." Micko memandang sinis Peter.


"Lu mau minta modal kemana lagi? Unagroup? sama bro, nasib lu ada ditangan gue." Micko terkekeh dan meninggalkan Peter yang terpaku didepan pintu lift, ia dan staffnya tidak ikut masuk kedalam dan turun bersama Micko.


"Pegang Ndo." Micko menyerahkan berkas yang tadi Arkana berikan pada Ando. Ando pun menyambutnya.


"Pucat pasih, Om. Mudah sekali." komentar Ando ketika mereka sudah didalam Mobil.


"Ck... kita harus waspada, dia banyak akalnya. Mulai hari ini kamu ikut Om terus ya, jadi Sekretaris Om di Syahputra Group." kata Micko membuat Ando melonjak senang.


"Showroom bagaimana Om?" tanya Ando.


"Mereka sudah tahu kamu Om tarik bantu Om." kata Micko membuat Ando tidak henti bersyukur.


"Masih bisa kuliah kan Om?" tanya Ando lagi, Micko terkekeh menepuk bahu Ando.


"Lanjut terus, bikin Mama dan Papamu bangga." katanya tersenyum memandang Ando sahabat kecil putrinya.


Selamat malam mingguan, terima kasih untuk semuanya, I love u allπŸ’—πŸ’—πŸ’—