
"Kalian sudah makan?" tanya Nek Pur senang melihat Dania dan Nanta mengunjunginya.
"Sudah, tadi Dania makan pecak ikan. Aku baru tahu ada menu makanan seperti itu." Nanta tersenyum.
"Suka?" tanya Nek Pur terkekeh.
"Bagaimana ya, lucu saja rasanya segar-segar begitu, cuma terlalu banyak bumbu jadi terbuang begitu saja."
"Itu makanan khas betawi, Dania paling suka."
"Mamon tidak pernah bikin itu, Mungkin tidak pernah makan juga." Nanta terkekeh.
"Kamu tidak bungkus bawa pulang?"
"Nanti aku tanya dulu, khawatir tidak dimakan." jawab Nanta.
"Nenek apa kabar?" tanya Dania sudah hampir dua bulan tidak bertemu Nek Pur.
"Baik, kamu gemukan Dan?" tanya Nek Pur.
"Masa? berat badan tidak naik kok." jawab Dania segera berkaca memastikan terlihat gemuk apa tidak. Nek Pur tertawa.
"Nenek, aku hamil." lapor Dania pada Nenek sambil senyum bahagia, wajahnya tampak sumringah dengan mata berbinar-binar.
"Alhamdulillah, Mama sudah tahu?" tanya Nek Pur ikut sumringah, menghampiri Dania dan memeluknya, dasar Nenek ya, pakai berkaca-kaca lagi matanya.
"Belum, aku belum bisa hubungi Mama sejak menikah." jawab Dania jujur.
"Tapi Mama rajin hubungi Mas Nanta." lapor Dania lagi pada Nek Pur. Nanta terkekeh matanya menyipit karena senyum kelebaran. Nenek jadi ikut tersenyum lebar.
"Bagaimana kabarnya Maya? dia juga tidak pernah hubungi Nenek." Nenek memandangi Dania dan Nanta bergantian.
"Tanya saja mas Nanta, anaknya Mama tuh sekarang Mas Nanta bukan aku." sungut Dania, Nanta tertawa jadinya.
"Om Peter pernah kesini Nek?" tanya Nanta, tak menghiraukan kesalnya Dania.
"Pernah kesini seminggu yang lalu, tanya Nenek orang tuanya Maya ada dimana, memangnya ada disana, aneh memang orang itu." Nenek menggelengkan kepalanya.
"Masih usaha dia ternyata ya" keluh Dania memandang Nanta. Nenek menyimak saja percakapan keduanya.
"Itulah kenapa Mama tidak hubungi kamu. Masih saja prasangka buruk." Nanta memencet hidung Dania gemas. Dania terkekeh jadinya, lagi-lagi Nenek ikut terkekeh.
"Nenek, anak kos sekarang siapa yang urus? kalau perlu bantuan biar aku minta Yunita istrinya Tomson yang bantu Nenek." Dania jadi ingat tugasnya mengurusi Kos-kosan Nek Pur.
"Kamu bantu cek setoran ke rekening saja Dan, Nanti kalau ada yang belum bayar kasih tahu Nenek. Yang bulan kemarin kamu belum laporang tuh."
"Loh, masih ke rekening aku toh. Oke Nenek, Aku cek via internet bangking?" tanya Dania.
"Masih, mau rekening siapa lagi, Nenek cuma percaya kamu." jawab Nek Pur, Dania manggut-manggut. Gantian Nanta yang hanya menyimak.
"Nenek kenapa tidak bilang, bulan ini aku belum cek." Dania buru-buru menyalakan handphonenya dan melihat rincian transaksi yang ada.
"Nanti dirumah saja ya Nek, kalau mau lihat transaksi satu bulan terakhir aku harus pakai token, ternyata aku lupa bawa." kata Dania pada Nenek.
"Tokennya ada dimana?" tanya Nanta.pada istrinya.
"Di rumah Papa." jawab Dania tersenyum.
"Kebetulan nanti kita kesana. Nenek mau ikut tidak menginap di rumahku." Nanta menawarkan, siapa tahu Nek Pur masih rindu sama Dania.
"Kalian saja yang menginap disini." pinta Nek Pur, ia memang rindu Dania, tapi tidak bisa meninggalkan anak buahnya.
"Nanti ya Nek, hari minggu besok kalau jadi aku ikut Mas Nanta ke Abu Dhabi, pulang dari sana saja kami menginap." kata Dania pada Nek Pur.
"Wah jalan terus, senang sekali kamu ya travel sama suami." Nek Pur menepuk bahu Dania.
"Dia sih banyak yang menemani nanti Nek." kata Nanta kemudian.
"Tidak ditemani juga tidak masalah, aku berani sendiri." jawab Dania tengil.
"Tapi sekarang kan kamu lagi hamil." Nanta memonyongkan bibirnya.
"Iya itu sih yang bikin perlu ditemani." Dania terkekeh.
Setelah hampir dua jam di rumah Nek Pur, keduanya pun pamit pulang, kangennya Dania terobati, Nanta juga menyerahkan oleh-oleh dari Amerika untuk Nek Pur, ia beli lipstick seperti pesanan Oma Misha, lumayan untuk Nek Pur bertemu pelanggannya.
"Kapan ke Malang?" tanya Nek Pur sebelum Nanta dan Dania masuk Mobil.
"Biasanya kan dua minggu sekali, mungkin dua minggu setelah pulang dari Abu Dhabi." jawab Nanta pada Nek Pur.
"Dania ikut?" tanya Nek Pur lagi.
"Kalau kuat aku maunya Dania ikut." jawab Nanta, ia ingin Dania ikut kemanapun Nanta pergi.
"Nenek mau ikut kalau Dania ikut." kata Nek Pur, tumben sekali mau jalan-jalan ke Malang.
"Oke nanti aku kabari kalau jadi ke Malang." jawab Nanta, kemudian segera naik mobil membiarkan Nek Pur untuk masuk rumah lebih dulu, baru Tomson menjalankan kendaraannya menuju rumah Micko.
"Jangan Boy, kalian jangan ke Malang dulu Khawatir keberadaan Kakek dan Nenek diketahui Peter." saran Micko ketika Nanta menyampaikan rencananya mau ke Malang Dan Nek Pur pun mau ikut.
"Belum selesai masalah Om Peter ternyata ya Pa." kata Nanta dengan mata menerawang.
"Iya, belum rapat keluarga, rencananya Kakek Suryadi mau pertemukan kami dan selesaikan masalah yang ada. Apalagi perusahaannya diambang kebangkrutan."
"Apa tidak disuntik Dana oleh perusahaan Utama Pa, nanti bukannya Suryadi Corporation bisa kena dampak jika anak perusahaannya bermasalah." Nanta mengingatkan.
"Entahlah, itu urusan Kakek Suryadi dan Kakek Kris. Oma Misha tidak mau tahu." jawab Micko tersenyum miris.
"Sayang ya Pa, ambil alih saja Pa." kata Nanta pada Micko.
"Kamu mau handel?" Micko menaikkan alisnya.
"Hah aku?" Nanta jadi bingung, kenapa juga Nanta yang ditawarkan.
"Kalau kamu mau handel, Papa beli perusahaannya." kata Micko lagi.
"Aduh, aku sudah janji aktif di Warung Elite, Pa." tolak Nanta halus, apalagi ia juga belum pengalaman.
"Papa bantu, ada Ando juga." kata Micko lagi.
"Aku konsultasi dulu sama Papa dan Ayah Eja. Lagipula aku belum kompeten sih Pa, Basket masih dihatiku. Jadi kalau terpilih bertanding pasti aku ikut, tidak akan menolak." Nanta menghembuskan nafas kasar.
"Lihat saja kalau babymu lahir nanti, Apa masih dihati kamu itu Basket." Micko terbahak.
"Pikirku sih iya Pa, malah nanti anakku akan kuajak setiap aku bertanding." Nanta berhayal sambil terkekeh.
"Kita lihat saja nanti."
"Sepertinya iya Pa, minggu besok saja aku diajak ke Abu Dhabi. Mas Nanta mau dedek bayi menyaksikan Mas Nanta bertanding." celutuk Dania sekaligus memberitahu Papanya.
"Kamu yang benar, Boy. Dania masih hamil muda." Micko membesarkan bola matanya.
"Aku bawa dokter kok Pa, untuk jaga Dania." Nanta terkekeh.
"Siapa?" tanya Micko penasaran.
"Bukan mantan pacar kamu." celutuk Lulu membuat Micko terkekeh, siapa juga yang mau tahu tentang mantan pacar, pikir Micko. Ia hanya mau memastikan kalau Dania aman.
"Om Deni." jawab Nanta cepat, takut panjang karena Mama Lulu mancing-mancing keributan. Micko mengangguk saja, tidak membahas lebih lanjut, bahaya kalau percakapannya nanti nyerempet-nyerempet ke mantan pacar.