I Love You Too

I Love You Too
Tidak punya perasaan



Mama Nina dan Papa Dwi sedang berkumpul bersama anak dan menantu saat ini, mereka sudah tiba di Jakarta kemarin sore. Soal kehamilan Nona tentu saja Mama Nina heboh, protes begitu tahu kalau Kenan sengaja tidak memberitahu Mama dan Papa supaya tetap bisa travel bersama orang tua Kiki.


"Kamu ini bagaimana sih Ken, sudah anggap kami tidak ada ya?" omel Mama Nina pada Kenan. Kecewa sekali menjadi orang yang belakangan tahu diantara yang lain. Sementara besannya saja sudah tahu lebih awal.


"Kalau dikasih tahu, nanti konsentrasi Mama terganggu. Mau senang-senang malah pikirkan Nona dirumah sedang hamil, mesti begini, mesti begitu." Kenan berkata pada Mama Nina dengan lembut.


"Setidaknya kamu kasih tahu kabar gembira sama Mama dan Papa, Ken." protes Mama bertambah-tambah. Kenan tak habis pikir mestinya ini bukan masalah besar, tapi Mama terlihat sangat kecewa.


"Sekarang kan sudah Kenan kasih tahu, Maafkan Kenan Ma, Kenan hanya tidak mau pikiran Mama terpecah belah." Kenan menciumi tangan Mama Nina. Papa Dwi hanya memainkan alisnya bersama Reza, mereka tidak berani berkomentar, sementara Kiki dan Nona duduk dipojokan juga tidak berani komentar, apalagi Nona ia jadi tidak enak hati sama Mama Nina.


"Kalau Mama tahu, mama bisa bawakan makanan paling enak di tiap daerah yang mama kunjungi untuk Nona." kata Mama Nina memberengut, menyesal sekali hanya memesan empek-empek palembang, sementara dendeng batokok hanya bawa untuk sekali makan, belum lagi bumbu rujak Medan yang rasanya khas, tidak jadi Mama Nina beli karena dipikir tidak terlalu perlu, ternyata menantunya hamil, kalau saja dibawa pasti akan senang sekali makan rujak Medan.


"Nanti kalau babynya sudah lahir, kita ajak travel, Mama jangan marah ya." bujuk Kenan pada Mama.


"Siapa yang marah." suara Mama Nina naik satu oktaf, Reza dan Papa Dwi terkekeh melihatnya, sementara Kenan jadi nyengir kuda, bingung mau bilang apa. Tidak marah tapi wajahnya sengit hehehe.


"Non..." panggil Kenan pada istrinya agak mendekat. Dengan takut-takut Nona menghampiri Mama Nina, tersenyum terpaksa khawatir kena semprot. Setelah Nona mendekat Kenan meraih tangan Mama meletakkan diperut Nona.


"Doakan baby kami ya, Ma." bisik Kenan pada Mama Nina.


"Maafkan Mama dan Papanya juga." tambah Kenan lagi mencium pipi Mama. Susah sekali membujuk Mama kalau sedang merajuk.


"Kamu ada keluhan?" tanya Mama Nina mulai melunak setelah memegang perut Nona.


"Alhamdulillah hanya sedikit mual, tapi tidak mengganggu Ma. Makan permen saja sudah hilang mualnya." jawab Nona menyampaikan apa yang ia rasakan.


"Jangan terlalu sering makan permen, kamu ganti buah saja lebih sehat." kata Mama pada Nona.


"Tina potongkan buah untuk Nona, tiga macam yang manis, berair dan matang. Kamu letakkan di tumbler biar bisa Nona bawa-bawa kalau dia pindah posisi." Mama memberi arahan pada Tina.


"Siap Oma." jawab Tina sigap.


"Kalau habis kamu isi lagi." perintah Mama pada Tina.


"Iya Oma." jawab Tina tersenyum.


"Kalian jangan seperti ini lagi, kalau Mama di Malang atau dimanapun, saat Nona melahirkan nanti Mama dan Papa harus mendampingi, ingat ya! awas saja kalau Mama dapat kabarnya kalau bayi kalian sudah lahir." ancam Mama Nina, bukan main-main.


"Iya Mama sayang. Apa Mama mau di Jakarta terus saja selama Nona hamil. Tinggal dirumahku saja ya." ajak Kenan pada Mama.


"Tidak, Mama sudah janji sama Raymond akan dampingi Raymond dan Roma selama di Malang. Kecuali Reza dan Kiki atau Monik dan Alex menggantikan Mama." jawab Mama Nina tegas.


"Raymond dan Roma sudah besar Ma. Tidak perlu ditemani." kata Papa Dwi pada Mama Nina.


"Papa, kita kan sudah janji sama Roma. Papa bagaimana sih, nanti Ray jadi sedih." Mama Nina mengernyitkan dahinya.


"Kita masih kuat Pa, masih bisa bermanfaat untuk anak cucu dan orang banyak. Apa salahnya kita menyenangkan mereka selagi tidak merepotkan." sekarang Papa Dwi yang kena omel Mama.


"Iya-Iya, Mama atur saja yang penting kita semua sehat." Papa Dwi terkekeh, Mama Nina tak terbantahkan.


"Ma, Micko undang kita makan siang hari minggu besok. Sekalian aku mengenalkan Nona sama Tante Misha dan Lulu." kata Kenan setelah Mama Nina tenang, ia bisa mengganti topik bahasan kini.


"Wah Mama tidak bawa oleh-oleh untuk Misha lagi, bagaimana ini Pa?" mulai panik untuk hal-hal tidak perlu.


"Tante Misha juga tidak tahu Mama travel." Reza terkekeh melihat kelakuan Mama yang selalu ingin menyenangkan orang lain.


"Iya tapi kan tidak enak kalau tidak bawa apapun." Mama Nina memandang Reza dengan kening mengernyit.


"Nanti bawa makanan dari Warung Elite saja, Tante Misha suka juga kok." kata Kiki sudah berani buka suara.


"Betul juga ya, tanyakan Menu Micko besok apa, supaya bisa kita cocokan dengan makanan yang kita bawa." Mama Nina memandang Kenan, sudah pasti Kenan yang diminta menghubungi Micko. Kenan menurut, tidak ingin mengecewakan Mama.


"Apa bos?" jawab Micko saat sambungan telepon diangkatnya.


"Besok kalian tidak usah masaklah, kita bawakan menu dari Warung Elite." kata Kenan pada Micko.


"Tidak usah, Mama sudah menyiapkan menu kesukaan Tante Nina dan Om Dwi, Pesan Mama bawa diri saja, tidak boleh bawa apapun." jawab Micko penuh penekanan, sudah hafal kelakuan Mama Nina yang selalu repot bawa ini itu kalau bertemu Mamanya.


Kenan mengangkat kedua bahunya memandang Mama Nina, sambungan telepon sudah ia loudspeaker.


"Mick, Tante mau bawakan Mama kamu pempek palembang ya." mulai nego supaya bisa bawa sesuatu.


"Loh kemarin itu aku juga ikut pesan pempek juga sama Kenan, jadi sudah sampai juga dirumah pesanannya. Tante dan semuanya tidak usah repot bawa apapun, nanti Mamaku bisa ngomel loh, dikira aku tidak menyampaikan. Kemarin Mama kubilang Tante mau datang saja sudah sangat bahagia. Langsung menyiapkan makanan kesukaan Om dan Tante untuk menu besok." kata Micko apa adanya.


"Baiklah, sampaikan Salam buat Misha, in syaa Allah bertemu besok." kata Mama Nina menutup sambungan teleponnya.


"Ken, Misha itu paling suka sambal goreng buatan Mama, apa bawakan itu saja ya." kata Mama Nina masih berpikir keras.


"Mama ini keras kepala sekali." Kenan tertawa menggoda Mama.


"Mana enak bertamu tidak bawa tentengan." kata Mama Nina ikut tertawa.


"Aku sih enak saja." jawab Kenan disambut anggukan Reza dan Papa Dwi.


"Kalian ini memang tidak ada perasaan." omel Mama lagi membuat semuanya terbahak.


"Terserah Mama deh mau bawa apa." kata Papa Dwi terkekeh, Hal seperti itu saja bisa bikin mereka dibilang tidak punya perasaan, Anak dan Menantu ikut terkekeh, dasar Mama.