I Love You Too

I Love You Too
Ajaib



"Aban mana sih?" sambut Balen saat Nanta tiba dirumah bersama Kenan dan Dania.


"Kerja." jawab Nanta pada adiknya.


"Butanna ibui?" Balen mengintimidasi Aban.


"Harusnya tapi tadi Ayah telepon suruh ke Warung Elite." jawab Nanta sabar sementara Kenan tertawa mendengar Balen menginterogasi Abangnya. Saat terbangun sampai dirumah ia kecewa karena Abang tidak ikut pulang. Apalagi saat mendengar Winner dan Lucky ikut Abang, tambah kecewa saja Balen.


"Ke waung eit ndak ajak Baen." protesnya pada Nanta, padahal tadi Nanta sudah minta Balen ikut mobilnya tapi Nona menolak.


"Nanti deh hari jumat sore Balen ikut ke Warung Elite. Ada Bang Doni nyanyi." Nanta tawarkan Balen untuk ikut.


"Balen harus istirahat karena sabtu ke S'pore, Boy." Kenan ingatkan Nanta.


"Tuh Baen kamu dengar kan? Abang bukannya tidak mau ajak loh." Nanta sampaikan pada Balen.


"Papon boeh ya itut." bujuk Balen pada Papon. Kenan gelengkan kepalanya. Ia khawatir nanti Balen jadi tidak fit malah merusak suasana dan Balen tidak bisa syuting maksimal. Sementara Balen sudah dikontrak eksklusif oleh Unagroup. Tadi Mario menawarkan sepuluh produk sekaligus untuk Balen sebagai bintang iklannya.


"Ini ndak boeh, itu ndak boeh." gerutu Balen sedikit merajuk.


"Kamu mau masuk TV Papa ijinkan loh." Kenan ingatkan Balen jika awalnya Kenan juga menolak Balen jadi bintang iklan, tapi karena Balen ingin sekali masuk tv Maka Kenan ijinkan.


"Itu tan teja." Balen membela diri.


"Belum saatnya Baen bekerja, Nak. Karena Baen sangat ingin masuk tv saja jadi Papa ijinkan." kata Kenan pada Balen.


"Baen sanat inin iat Ban Doni nani, Papon." kata Balen memelas. Nanta menahan tawanya.


"Nanti kita minta Bang Nanta videokan, Baen bisa nonton lewat handphone." kata Kenan mengusap lembut rambut gadis kecilnya.


"Ndak boeh itut Aban." kata Balen pada Nanta.


"Ya kalau tidak boleh berarti jangan. Betul juga, Papa pasti tidak mau Balen tidak jadi syuting karena kelelahan ikut ke Warung Elite." kata Nanta pada adiknya.


"Aban tok boeh?" protes Balen.


"Abang kan memang lagi bekerja, lagipula saat syuting nanti Abang cuma duduk saja kagumi kamu berenang, sedangkan Baen dan Aban Leyi harus berenang, kamera selalu mengarah ke Baen dan Aban Leyi. Jadi harus cantik mukanya kalau capek kan terlihat kuyu." Nanta menjelaskan. Dania tertawa melihat Balen.


"Ya sudah ikuti saja apa yang Papon bilang, Baen. Itu pasti yang terbaik untuk anaknya." kata Nona pada Balen.


"Ote." jawab Balen menurut.


"Kalau sama Papon dilarang suaranya tidak naik oktaf, coba kalau sama Mamon." keluh Nona pada diri sendiri. Kenan terkekeh mendengarnya, memang betul Balen suka sekali naik oktaf kalau dilarang Nona atau jurus andalan mengadu pada Kenan.


"Baen mo cepet dedek aja." kata Balen tiba-tiba.


"Kenapa memangnya?" tanya Nona.


"Taya Aban temana aja boeh." katanya lagi membuat semuanya tertawa.


"Baen dengar ya, kalau kamu sudah besar juga pasti akan Papa awasi." kata Kenan pada Balen.


"Dilaang juda?" tanya Balen.


"Kalau tidak baik dan membahayakan Baen, pasti Papa larang." jawab Kenan.


"Ah Papon mah, itu sih taya tecil-tecil juda." sungut Balen.


"Baen jadi isti aja ah, jadi boeh temana-mana taya Tania." kata Balen lagi. Dania langsung saja terbahak, tadi saja ia dilarang Nanta bekerja, mau berhenti kuliah tidak diijinkan.


"Kalau jadi istri, urus anak loh seperti Mamon urus kita dan Tania sebentar lagi akan urus anak." Nanta tertawakan Balen.


"Masih kecil sudah mau jadi istri." Kenan gelengkan kepalanya tidak habis pikir sama unyilnya ini.


"Nanti Papon talo Baen udah dedek." kata Balen pada Kenan.


"Pikirkannya nanti saja kalau sudah besar, sekarang masih kecil belajar dulu saja yang benar." kata Kenan pada Balen.


"Oh iya Non, Balen ditawarkan sepuluh produk iklan loh." lapor Kenan pada Nona.


"Duh, Sibuk dong Balen. Dia jangan di eksploitasi Mas." kata Nona pada Kenan.


"Tadinya dua puluh asal kamu tahu saja, saya bilang, saya tidak mau Balen habiskan waktunya didepan kamera terus." jawab Kenan pada Nona.


"Jadi?"


"Jadi saya hanya ambil sepuluh dengan syarat syuting berjarak, kami sepakat Balen syuting satu bulan satu produk, itu pun di Jakarta." Kenan tersenyum menatap Balen.


"Wiih singkong rebus banyak duitnya dong ini." Nanta terkekeh cubiti pipi Balen.


"Banak duitna Papon?" tanya Balen semangat.


"Iya sangat banyak." jawab Kenan terkekeh.


"Bisa bei Oten don." langsung saja semangat, membuat Kenan terbahak.


"Nanti kalau punya hotel siapa yang urusi? Baen mau jadi Bos hotel?" tanya Kenan pada Balen.


"Ichie aja, Baen tan tejana di tipi." kata Balen main tunjuk saja. Kenan terbahak mendengarnya, bukan tidak mungkin Syahputra Group merambah ke bisnis hotel, Kenan jadi kepikiran karena Balen sangat ingin punya hotel.


"Baen mau punya hotel dimana?" tanya Kenan pada Balen.


"Detet umah tita aja." jawabnya santai.


"Kenapa mau dekat rumah?" tanya Nona terkekeh.


"Tao umahna ndak muat, sodaa tita suuh ninap Oten aja. Teus Baen matan sop di Oten." jawabnya tetap mau makan sop di hotel.


"Mamon juga bisa bikin sop, kamu makan tuh dipinggir kolam berenang rumah kita." kata Nona pada Balen.


"Ih itu sih Umah, ini tan Oten." tetap tidak jelas harus saja makan sop di hotel.


"Makan sopnya juga tidak habis kemarin." kata Nanta pada adiknya.


"Tan bedua sama Tania." jawab Balen lagi-lagi buat semuanya tertawa.


"Disimpan saja duit Baen kalau begitu, Kalau sampai besar Baen tetap mau punya hotel baru kita pikirkan." kata Kenan pada Balen.


"Bei sekaang aja Papon." pinta Balen seperti minta beli es krim saja.


"Nanti di S'pore kita juga menginap di hotel." jawab Kenan tidak tanggapi permintaan Balen membeli hotel sekarang.


"Hoee..." Richie bersorak senang, Kenan jadi terbahak, si bungsu dari tadi diam saja tiba-tiba bersorak senang mendengar ucapan Kenan.


"Ichie mau menginap dihotel ya." Nanta terkekeh ciumi adiknya gemas.


"Sinapoi naik sawat hoeee." teriaknya lagi, semua tambah terbahak saja.


"Mo uwus oten Baen ndak Ichie?" tanya Balen pada Richie, padahal hotelnya juga belum dibeli.


"No wei..." jawab Richie membuat semua terbahak, main No Way saja, entah mendengar dari mana.


"Tamu yan uwusin Ichie, Baen teja di tipi cai uanna." katanya sok tua seperti jadi tulang punggung keluarga saja. Kenan tambah terbahak, gadis kecilnya memang ajaib.


"Atu mo uwusin obot ajah." jawab Richie pikirkan mainannya.


"Nah ini normal nih masih kecil pikirannya masih mainan." kata Kenan pada Nona.


"Menurut kamu yang satu tidak normal?" tanya Nona pasang wajah garang.


"Hahaha kalau yang satu ini ajaib, bukan tidak normal." jawab Kenan terbahak. Duo bocah ini, bikin lelah Kenan hilang seketika.