I Love You Too

I Love You Too
Pisang Molen



"Nanti jalan jam berapa?" tanya Kenan pada Nanta, tadi Nanta sudah ijin akan menginap di rumah Papa Micko.


"Pagi ini ke kampus dulu." jawab Nanta pada Papa.


"Kalian kuliah?" tanya Nona.


"Iya, sudah lama tidak kuliah, seminggu ini kumpulkan tugas-tugas dulu." jawab Nanta pada Mamon.


"Aku masuk dulu semampuku." jawab Dania tersenyum.


"Kamu sih mestinya kuliah online saja." kata Micko pada menantunya.


"Aku sudah pikir begitu, Pa. Mau pindah kampus yang bisa kuliah online." jawab Dania senang mendengar saran Kenan.


"Ada dipinggiran kota, nanti Papa cari info." jawab Kenan.


"Ayo berangkat." ajak Nanta pada Dania, sementara Om Samuel dan Om Deni sudah berangkat lebih dulu. Berhubung Mobil Nanta di pakai maka mereka akan diantar Pak Atang sebelum mengantar Papa ke kantor.


"Aban..." teriak Balen saat Nanta beranjak menuju Mobil.


"Ya?"


"Talo Aban ninap, Baen ndak beajal beenan don." protes Balen pada Abangnya.


"Oh iya lusa baru belajar lagi ya, masih bisa dua kali belajar." kata Nanta pada adiknya.


"Usa tuh tapan?"


"Besok terus besok lagi." jawab Nanta terkekeh.


"Huhu Aban nih, ninap ladi." kesal Balen berbalik meninggalkan Nanta.


"Aduh, ngambek." Nanta panik, paling tidak tega jika mengecewakan adiknya.


"Balen..." teriak Nanta ingin menghampiri Balen.


"Ayo, nanti telat." tegas Kenan pada Nanta, mau tidak mau Nanta mengikuti Papanya. Setelah ritual cium pipi dan cium dari juga kecup bibir Nona, maka Kenan pun segera memasuki kendaraannya lebih dulu, Nanta dan Dania menyusul duduk dibelakang.


"Kamu sudah hubungi Tomson untuk jemput kita?" tanya Nanta pada istrinya saat perjalanan ke kampus.


"Sudah." jawab Dania singkat.


"Kamu yakin mau ikut Ke Abu Dhabi?" tanya Kenan pada Dania.


"In syaa Allah yakin Pa." jawab Dania.


"Suhu disana lebih panas dari Indonesia, apa kamu kuat? kamu biasa di London." Kenan mengingatkan.


"In syaa Allah kuat Pa, aku hanya perlu minum air putih yang banyak supaya tidak dehidrasi."


"Betul, perbanyak makan buah dan sayur." tegas Kenan.


"Iya Pa."


"Lagipula ada Om Deni, Pa." kata Nanta santai.


"Tidak bisa sepenuhnya berharap sama Om Deni, tetap harus mandiri, menjaga diri sendiri. Kalau Nanta pasti fokus pada pertandingan, kalian tidak mungkin satu kamar kan?" kata Kenan panjang lebar.


"Belum tahu juga, semoga saja bisa sekamar." jawab Nanta berharap.


"Sebenarnya bisa Pa, kalau aku sekamar dengan Doni, kami tinggal tukar partner. Eh tapi Kasihan Kak Dini tidur sendiri. Kalau sudah halal sih enak bisa tidur sama Om Deni." celoteh Nanta.


"Doakan saja Boy." Kenan terkekeh.


"Iya Pa, aku doakan kok." jawab Nanta ikut terkekeh.


"Papa tidak mau ikut Ke Abu Dhabi, Mamon mau tuh Pa, tapi tidak sanggup kalau harus bawa Balen dan Ichi."


"Papa banyak pekerjaan, lagi pula Papa malas dipesawat segitu lama." jawab Kenan pada Nanta jujur.


"Nanti sajalah kalau mau travel tunggu anak-anak besar, atau tunggu kamu santai jadi Papa bisa titip Balen dan Richi sama kalian." Kenan menyeringai.


"Second honeymoon Pa?" Dania terkekeh.


"Hahaha belum pernah honeymoon berdua rasanya." jawab Kenan mengingat-ingat.


"Masa sih Pa? kasihan sekali Mamon. Dua bulan ke depan aku mulai santai paling latihan biasa saja. Papa bisa panggil Oma dan Opa juga, biar rumah tetap ramai, bocil tidak kesepian." Nanta memberi ide agar Papanya dan Mamon bisa travel berdua, pikir Nanta memang selama ini selalu ada Nanta, Bang Raymond dan Kak Roma.


"Boleh juga." jawab Kenan senang, ia akan memberikan kejutan pada Nona nanti.


"Papa rencana mau kemana?" tanya Nanta.


"Mamon minta ke Abu Dhabi kan?"


"Ya karena aku bertanding disana mungkin."


"Coba kamu cari tahu Boy." pinta Kenan pada Nanta.


"Akan aku delegasikan pada Kak Roma." jawab Nanta semua terbahak mendengarnya.


"Roma kapan melahirkan?" tanya Kenan ingat Roma sedang hamil.


"Sepertinya dua bulan lagi."


"Sebelum atau setelah Roma melahirkan, baru kami Travelling." kata Kenan tersenyum. Nanta ikut tersenyum mendengar rencana Papanya.


Mereka tiba dikampus lebih cepat dari perkiraan, Pak Atang membawa Mobil lumayan ngebut, karena jalanan kosong juga tidak macet.


"Hati-hati, Boy. Kalau mau dijemput kabari saja." kata Kenan pada Nanta.


"Tidak usah Pa, itu Tomson sudah standby." Dania menunjuk Tomson yang berjalan menghampiri Dania dan Nanta.


"Ini Tomson?" tanya Nanta.


"Iya." jawab Kenan.


"Papa yang pilihkan?"


"Iya Papa dan Micko." Kenan terkekeh tahu anaknya sedikit berkerut.


"Kamu cemburu sama Tomson, Boy?"


"Sedikit." jawab Nanta berbisik ketika Tomson mendekatinya.


"Sepertinya banyak." Kenan tertawa, Nanta meringis.


"Pagi Pak Kenan." sapa Tomson, Kenan melambaikan tangannya.


"Titip ya Tom, saya ke kantor dulu." kata Kenan pada Tomson.


"Siap Pak." Tomson menganggukkan kepalanya. Kenan pun berlalu meninggalkan mereka bertiga.


"Tom, ini suami aku." kata Dania menggandeng tangan suaminya.


"Pagi Pak Nanta." sapa Tomson sopan.


"Jangan Panggil Pak." kata Nanta pada Tomson.


"Baik Mas." Tomson tersenyum sopan, Nanta ikut tersenyum.


"Aku ke kampus dulu." pamit Dania pada suaminya. Nanta mengangguk tanpa berkata-kata.


"Tidak mau kiss aku?" tanya Dania.


"Didepan umum begini? wilayah kampus?" Nanta terkekeh.


"Tidak ada yang lihat." kata Dania.


"Banyak yang lewat, ada Tomson juga." bisik Nanta takut terdengar.


"Payah ah." dengus Dania kesal.


"Ini bukan London, sayang. Nanti kita jadi omongan orang." Nanta mengacak anak rambut Dania.


"Salam kalau begitu." Dania menyalami Nanta dan mencium tangannya, biar saja orang lihat dan menduga-duga. Kemudian ia berjalan memasuki kampusnya.


"Kamu menunggu dimana Tom?" tanya Nanta pada Tomson.


"Ikuti Mbak Dania, Mas. Kalau dia masuk kelas saya menunggu disekitar kelasnya." Tomson menjelaskan.


"Jaga jarak ya Tom, jangan terlalu dekat." kata Nanta pada Tomson.


"Iya Mas, saya selalu jaga jarak." jawab Tomson.


"Ok terima kasih Tom, titip jaga ya, kampus ku disebelah." Nanta menepuk bahu Tomson. Meski sedikit cemburu tapi Nanta tidak antipati dengan Tomson, bagaimanapun Tomson pilihan Papa dan Papa Micko.


Nanta menghela nafas panjang selama dalam perjalanan menuju ruangan dosennya. Nanta tidak masuk kelas, hanya akan menyerahkan tugas-tugas yang telah dikerjakannya selama di Amerika. Tugas memang sudah dikirim via email, tapi Dosen tetap minta hardcopy.


"Nanta..." panggil Ando yang berlari kecil mengejar Nanta. Senyum Nanta langsung mengembang.


"Kenapa tidak bilang mau ke kampus?" tanya Ando pada sahabatnya, mereka sudah saling berkirim pesan walau baru bertemu lagi.


"Cuma serahkan tugas, tidak masuk kelas." jawab Nanta merangkul Ando.


"Gue ada kabar gembira." kata Ando senang.


"Apa? gue juga ada nih." kata Nanta berseri-seri.


"Gue sama Wilma menikah bulan September." kata Ando tersenyum lebar.


"Lima bulan lagi." senyum Nanta tidak kalah lebar.


"Iya kan Wilma lulus bulan juli, jadi menikahnya bulan September."


"Semoga lancar." Nanta mempererat rangkulannya.


"Aamiin." jawab Ando, senyumnya tidak lepas.


"Kabar gembira lu apa?" tanya Ando.


"Dania hamil." Nanta memperlihatkan giginya yang berbaris rapi efek senyumnya kelebaran. Langsung Ando rusuh berputar-putar sambil melompat-lompat kegirangan.


"Punya keponakan." katanya masih berputar-putar.


"Tidak sabar menunggu Ubi goreng." katanya lagi sambil berputar-putar.


"Kok Ubi goreng?" tanya Nanta bingung.


"Balen Singkong Rebus, anak lu Ubi goreng." katanya terbahak.


"Tidak sekalian lu bilang Pisang Molen?" dengus Nanta kesal tapi mau tidak mau terkikik geli.