
Kenan terkekeh mendengar cerita dari Raymond, wajahnya yang semula masam berubah drastis, baru saja ia menegur Raymond yang tak pernah berhenti mengatakan Nona calon istrinya, tentu saja itu sangat mengganggu Kenan, terlebih hubungannya dengan Nanta baru saja mulai membaik.
Ini bulan ketiga Kenan di Jakarta, sekarang ia sudah bisa berjalan normal tanpa menggunakan alat bantu. Beberapa hari ke depan Kenan, Raymond dan Roma akan berangkat ke Malang. Raymond sudah mendapat tugas dari Reza untuk menjadi asisten Kenan di Malang dan tentu ia dan istrinya harus bermukim disana.
"Nanti bisa janjian sama calon istri Om Kenan dong." kata Raymond tadi membuat Kenan sedikit emosi, sudah kesekian kali Raymond menyebut calon istri dan Kenan tahu jika yang dimaksud calon istri itu adalah Nona. Karena setiap kali Raymond habis menghubungi Nanta pasti ada laporan, "Nanta tadi jalan sama calon istri Om Kenan."
Awalnya Kenan tidak merasa terganggu, ia santai saja karena tidak pernah berkomunikasi dengan Nona secara personal. Hanya saja jika Raymond sedang Video Call dengan Nanta, Kenan ikut nimbrung dan pernah sekali waktu saat Nanta sedang janjian dengan Nona mereka bertegur sapa, itu pun hanya sebentar. Urusan persepatuan membuat Nona dan Nanta menjadi sangat akrab.
"Berhentilah mengatakan Nona calon istri Om, Ray. Kamu tahu hubungan Om sama Nanta baru saja membaik. Jangan cari masalah. Lagi pula tidak enak juga jika Nona terlalu sering mendengarnya."
"Itu Nona sendiri yang mulai, Om. Jangan salahkan aku sama Nanta kalau akhirnya jadi menggoda Nona waktu itu."
Pov. On
Setelah dari bioskop, Raymond, Roma, Nona dan Nanta berjalan menuju cafe yang ditunjuk oleh Lutfi. Mereka asik membahas cerita film yang baru saja mereka tonton sambil tertawa-tawa. Saat hampir mendekati cafe, tiba-tiba saja keasikan mereka terganggu karena seorang wanita menyapa Nanta dengan tangan terlipat di dada.
"Anaknya Kenan kan?" siapa lagi yang menyapa kalau bukan Sheila. Nanta hanya melihat tanpa menjawab dan melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Nanta tunggu." langkah Nanta terhenti karena Sheila menarik tangannya.
"Kamu dengar saya ya, saya sama Papa kamu itu hanya sahabat. Kenapa gara-gara kamu, Kenan jadi menghindar. Saya tidak pernah selingkuh dengan Papamu." Sheila menjelaskan dengan suara yang terdengar emosi.
"Papa menghindar dari Tante bukan urusan saya, maaf." Nanta melepaskan tangannya yang masih dipegang Sheila.
"Tentu saja urusan kamu, Kamu marah sama Papamu karena dekat dengan saya."
"Yang membuat saya marah, karena kedekatan Tante dengan Papa membuat Mama dan Papa saya ribut dan akhirnya berpisah." desis Nanta dengan tatapan tajamnya dan lagi-lagi ingin menjauh dari Sheila.
"Itu pilihan Mama kamu, jangan salahkan saya kalau mereka akhirnya berpisah. Jangan salahkan saya kalau Papa kamu lebih mencintai Saya dari Mama kamu. Tapi asal kamu tahu, kami tidak pernah selingkuh. Kami hanya bersahabat dan tadi Kenan mengusir saya karena takut kamu marah. itu konyol."
"Ish." Nanta bertambah kesal saja mendengar penjelasan Sheila. Kali ini Ia benar-benar berjalan meninggalkan Sheila. Raymond, Roma dan Nona mengikuti dari belakang. Tapi Sheila benar-benar membangkitkan emosi.
"Nanta, saya belum selesai bicara." teriaknya lagi, tanpa malu dilihat oleh orang-orang yang lewat.
"Sudahlah jangan diganggu, malu dilihat orang, Nanta tidak suka sama kamu ya terima saja." desis Nona saat melewati Sheila.
"Kamu siapa? jangan ikut campur masalah kami."
"Oh belum tahu ya? kenalkan saya Nona calon istri Mas Kenan. Bisa kan mulai sekarang tidak lagi mendekati dan mengganggu mereka?" Nona mengulurkan tangannya dengan wajah polos dan senyum tanpa dosa. Sheila menghentakkan kakinya dan berjalan meninggalkan mereka. Pecahlah tawa Raymond dan Roma, langsung saja mereka ribut membahas reaksi Sheila dan kekonyolan Nona, sampai duduk di cafe pun mereka masih tertawa-tawa seru membahas itu.
Pov. End
"Masih mau menyalahkan aku? Aku juga begitu ada sebabnya Om." sungut Raymond membela diri. Kenan menggelengkan kepalanya dengan lengkungan senyum dibibirnya.
"Menghadapi kejahilan kamu saja sudah repot, sepertinya di Malang nanti akan bertambah menghadapi Nanta yang mulai ketularan kamu dan Nona." kekeh Kenan lagi.
"Air cucuran jatuhnya kepelimbahan juga." jawab Raymond sok berperibahasa.
"Aku sama Nanta begini ya ada turunannya, perlu aku sebut siapa?" Kenan dan Raymond tertawa bersama.
"Persiapan ke Malang sudah sampai mana?" tanya Kenan dalam perjalanan pulang dari kantor. Tiga bulan ini saat hari kerja selalu bersama Raymond hampir dua puluh empat jam, hanya dikurangi jam tidur saja yang tidak sampai delapan jam.
"Tinggal berangkat, semua sudah beres." jawab Raymond.
"Jangan lupa service Mobil dulu Ray." Kenan mengingatkan Raymond karena mereka akan menggunakan mobil Raymond saat menuju Malang nanti.
"Siap jalankan perintah, komandan." jawab Raymond konyol. Kenan menoyor pelan kepala keponakannya.
Tibalah hari yang ditungu-tunggu. Perjalanan menuju Malang segera dimulai. Kiki dan Monik kompak menyiapkan bekal untuk anak dan menantunya. Sementara Alex dan Reza seperti biasa tampak santai menghadapi kelakuan istri mereka yang sekarang sedikit lebih kalem, tidak lagi seperti belatung nangka.
"Ray, Roma, telepon Bunda setiap hari loh ya." Pesan Kiki pada anak dan menantunya.
"Mami juga, jangan Bunda saja." sahut Monik tidak mau kalah.
"Hmm aku pasti kangen terus sama Mami dan Bunda." sungut Roma yang setengah hati pindah Ke Malang. Jika saja bisa memilih, ia meminta Raymond untuk tetap di Jakarta. Apalah daya Ayah Reza kali ini tidak mau dibantah. Menurut Reza untuk membuat Raymond melupakan dunia kartun dan komik ya, dengan membuatnya sibuk membantu Kenan. Lelah di siang hari membuatnya tak sanggup begadang menyelesaikan komiknya. Apa lagi Kiki dan Monik sudah ribut meminta cucu.
"Nanti Papi dan Mami akan sering mengunjungi kamu ke Malang, tenang saja." kata Alex pada anaknya.
"Setiap weekend kami akan ke Malang, iya kan Pi?" tanya Monik pada Alex.
"Tidak setiap weekend sayang, kalau kita tidak sibuk." jawab Alex mengerling nakal pada istrinya.
"Ish Papi sibuk apa sama Mami?" tanya Roma penasaran.
"Kalau kamu tidak segera memberi kami cucu, ya kami yang akan memberi kamu adik." jawab Alex dengan senyum menyeringai.
"Ih Mas Alex." Kiki menutup wajahnya malu. Reza dan Kenan tertawa melihat reaksi Kiki yang selalu saja belum berubah jika ada yang bercanda mesum dihadapannya.
"Kenapa malu, kita juga bisa kasih adik untuk Raymond." bisik Reza pada istrinya. Tambah terbahak saja mereka yang mendengarnya termasuk Roma dan Raymond.
"Ok Ray, siapa yang mau setir Om atau kamu?" tanya Kenan pada Raymond.
"Aku saja Om, nanti kalau ngantuk Roma juga bisa menggantikan." jawab Ray mulai memasuki Mobil.
"Titip Ray dan Roma ya Ken." kata Kiki pada Iparnya.
"Tenang saja kakak Ipar." Kenan menepuk bahu Kiki. Masih saja suka menggoda Kiki dengan sebutan Kakak Ipar, Walaupun kadang ia menuruti keinginan Kiki dengan hanya memanggilnya nama.
"Jangan lupa pakai pengaman, supaya cucu dan anak tidak seumuran." Kenan tersenyum jahil pada Alex dan Reza.
"Dasar, pantas saja keponakannya jadi begitu." toyor Reza pada adik tersayangnya. Sementara Alex terkekeh dibuatnya.