I Love You Too

I Love You Too
Maya dan Peter



"Papa minta kita pulang rabu pagi, bang." kata Nanta pada Raymond setelah staff perusahaan mengambil barang yang harus mereka bawa ke Jakarta , kebetulan sore ini ada satu kendaraan yang akan berangkat, jadi bisa langsung sampai malam ini juga, langsung saja didelegasikan barang tersebut agar sampai ke tujuan masing-masing.


"Iya tadi juga hubungi aku." Raymond terkekeh.


"Nanti mau jalan jam berapa?" tanya Nanta mengingat sebentar lagi magrib.


"Belum juga istirahat, kalau capek besok saja lagi keliling Bandung." kata Raymond Nanta pun menganggukkan kepalanya.


"Aku mau makan jagung bakar di bukit nanti malam." teriak Roma dari kamar sebelah.


"Ok, jam sepuluh berarti ya, malam ini makan di hotel saja." kata Nanta pada Raymond.


"Atur saja Dek, tutup ya." kata Raymond menutup pintu penyambung kamar mereka.


"Mau bikin adek yu?" bisik Nanta tertawa jahil.


"Hahaha itu sih kamu." Raymond terbahak sambil menutup pintu kamarnya dan Nanta pun terbahak, ia ikut menutup dan mengunci pintu bagian kamarnya.


"Aku mandi dulu ya, sebentar lagi magrib." kata Nanta pada Dania yang sibuk menghubungi Mamanya tapi belum juga tersambung. Dania menganggukkan kepalanya, ia baru saja selesai mandi ketika Nanta dan Raymond masih sibuk bicara dan mengurus pengiriman barang.


"Mama susah sekali dihubungi." kata Dania begitu sambungan teleponnya terhubung dengan Maya.


"Tadi handphone Mama lowbat. Bagaimana, enak menikah?" tanya Mama tertawa jahil.


"Ini aku lagi di Bandung." kata Dania tersenyum.


"Honeymoon?" Maya tergelak senang.


"Ish jalan-jalan, menjelang Mas Nanta berangkat." Kata Dania pada Mama.


"Ma, aku sudah bertemu Papa." kata Dania jujur, Maya terdiam entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Aku hanya beritahu itu, hubunganku sama Papa membaik." Dania menjelaskan.


"Baguslah." Maya terdengar lemah.


"Mama tidak marah kah?" tanya Dania.


"Mana mungkin marah, memang sudah saatnya kalian bertemu. Tinggal bagaimana Mama menjelaskan pada Peter nanti." kata Maya kemudian.


"Kenapa Mama harus menjelaskan pada Om Peter, memang dia siapa sih sampai setiap pergerakanku harus persetujuan Om Peter, jangan-jangan Mama percaya kalau Om Peter itu Papaku?" tembak Dania langsung.


"Kamu bicara apa, jangan ngawur."


"Om Peter bilang begitu padaku, kami bertemu di rumah Nek Pur." Dania menarik nafas panjang.


"Iya." jawab Maya, tidak ceria seperti biasanya.


"Dan besok kita sambung lagi." Maya menutup sambungan teleponnya.


"Lu tuh goblok atau apa sih? Mudah sekali serahkan Dania pada Micko. Percuma gue ijinkan kalian ke London." teriak Peter pada Maya melalui sambungan telepon. Maya tadi memutuskan sambungan telepon dengan Dania karena Peter menghubunginya.


"Biarkan saja Dania, dia sudah bahagia sekarang." kata Maya pada Peter.


"Terus nasib gue bagaimana? lu pikir dong, karena Dania nasib perusahaan gue tergantung Micko sekarang."


Gue capek Peter, puluhan tahun urusan lu sama Micko tidak ada ujungnya. Sekarang kalau perusahaan tergantung Micko lu baik-baikin Micko lah." Maya jadi ikutan kesal karena terus dimarahi oleh Peter.


"Oh sudah hebat lu sekarang ya, anak lu sudah ada yang lindungi, mau lepas dari gue begitu saja. Ingat lu masih ada keluarga disini."


"Lu mau gue bagaimana lagi Peter? gue harus bagaimana?"


"Minta Dania bujuk Micko supaya loloskan proposal gue ke Burhan Company."


"Gue cuma bisa sampaikan, hasil akhir gue tidak jamin."


"Kalau sampai di tolak, gue kasih tahu Jack kalau lu cewek brengsek yang cuma manfaatin dia."


"Cukup ya Peter, lu juga ancam gue dulu begitu sampai gue pisah sama Micko, sekarang lu mau bikin gue pisah lagi sama Jack."


"Terus saja jadi orang jahat sampai membusuk di Neraka!" teriak Maya sambil mematikan sambungan teleponnya.


Maya menundukkan kepalanya dimeja makan tempat ia menerima telepon dari Dania tadi. Lelah sekali rasanya harus meladeni Peter, cinta pertamanya.


Bodoh sekali Maya dulu sampai sekarang mau saja diperalat oleh Peter, bahkan diperalat untuk membuat Micko jatuh cinta padanya sampai akhirnya patah hati karena harus ditinggalkan Maya. Itu pun Maya turuti demi menyenangkan Peter. Bukan, demi menyelamatkan nama baiknya di mata semua orang terutama orang tuanya. Untuk menikah dengan Peter tidak mungkin karena Peter sudah lebih dulu dijodohkan dengan kerabat keluarganya.


Sekarang apa yang Maya cari, ia terus saja membantu Peter karena ancaman demi ancaman yang Peter kasih pada Maya. Berawal ancaman karena Maya mau saja diajak check in oleh Peter saat mereka masih pacaran, Peter mengancam akan membuka aibnya pada semua orang hingga Maya sangat ketakutan membuat keluarganya malu. Ia menuruti semua kemauan Peter apapun itu agar aibnya tertutupi. Sampai sekarang malah banyak aib yang ia buat karena terus saja mengikuti kemauan Peter.


Sebenarnya Maya sudah jatuh cinta pada Micko sebelum mereka menikah, walaupun awalnya Peter yang meminta Maya untuk mendekati Micko dan memperalatnya. Saat mereka menikah Peter santai saja karena pikirnya Maya masih dalam rangka mempermainkan Micko, yang membuat Peter marah ketika akhirnya Maya hamil dan Maya mengaku pada Peter jika ia jatuh cinta pada suaminya.


Berbagai cara Peter lakukan agar Maya meninggalkan Micko. Ia mengancam akan memberitahu Micko, apa alasan Maya mendekati Micko. Kenapa tidak jujur saja dari awal, Maya menyesal, sebelum Dania lahir Peter mengaku pada Micko jika Dania adalah putrinya, tentu saja Maya menyangkal dan pasrah saat Micko melakukan test DNA. Terbukti Dania anak Micko. Maya boleh bernafas lega, tapi tidak semudah itu, Peter mengancam melalui Dania, ia akan memisahkan Maya dari Dania jika Maya tidak meninggalkan Micko.


Sampai Maya bertemu Jack juga Peter yang mengatur. Jack rekan bisnis Peter yang jatuh cinta pada Maya. Setelah berpisah dari Micko, Maya terus saja berhubungan dengan Peter, ia tidak bisa menjauh dari Peter karena berbagai ancaman yang diberikan mantan kekasihnya itu.


Maya akhirnya menerima lamaran Jack menjadi istrinya, karena Maya harus menjauhkan Dania dari Micko, tentu atas keinginan Peter. Bodohnya Maya tidak jujur dan minta bantuan Micko. Segitu besar ketakutan Maya pada Peter karena dosa masa lalunya.


Pada Jack, Maya berkata jujur permasalahkan yang dihadapinya, Maya mau Jack menerima dirinya dan Dania setulus hati. Jack bisa menerima itu semua, tapi sayang keluarga Jack tidak bisa menerima Dania menjadi bagian keluarganya.


"Apa yang harus aku lakukan." gumam Maya bingung sendiri sambil mengusap wajahnya, Apa ia harus jujur dengan kejahatannya... ah sejahat itu ia sama Micko selama ini. Ia harus jujurkah pada Micko? haruskah Maya meminta maaf pada Micko saat ini? Apalagi yang Maya khawatirkan? minta Micko melindungi keluarganya di Jakarta dari Peter mungkin, orang tuanya sudah tua kasihan sekali jika harus terbebani karena masa lalu Maya. Kelemahan Maya, ia tidak mau orang tuanya tahu jika anaknya tidak sebaik yang mereka kira. Maya terus saja berpikir, melamun di meja makan, juga merenungi semua yang terjadi.