I Love You Too

I Love You Too
Ikut



Urusan keluarga Dania beres sudah, Papa Micko sudah berbaikan dengan Om Peter yang sudah tidak berkutik karena tidak punya taring lagi. Ia juga sudah berjanji tidak akan mengganggu Mama Maya dan orang tuanya, itu disampaikan di depan seluruh anggota keluarganya.


Dania bisa menarik nafas lega karena bisa menghubungi Mama Maya bebas tanpa beban, hanya saja Dania bingung bagaimana caranya supaya Mama mau mengangkat teleponnya. Dania coba Kirim pesan pada Mamanya, juga mengirim foto keluarga besar Suryadi supaya Mama yakin jika Om Peter tidak akan mengusiknya lagi. Nanti kalau sudah baca pasti Mama akan menghubungi Dania.


"Papa, aku nanti mau ke rumah Nek Pur deh." kata Dania pada Papanya saat mereka dalam perjalanan pulang dari rumah Kakek Suryadi.


"Oma mau ikut ya." kata Oma Misha cepat sambil memandang Nanta.


"Iya Oma." jawab Nanta tersenyum.


"Oma ini sekarang suka sekali ikut Abang dan Kakak." protes Lucky pada Omanya. Micko tertawa mendengarnya.


"Kamu juga boleh ikut kalau mau." kata Dania pada adiknya.


"Tidak, aku hanya heran Oma selalu minta ikut, jadi jarang dirumah, baru juga pulang dari Malang ." omel Lucky pada Omanya.


"Kamu marah-marah saja, nanti lekas tua." kata Oma terkekeh.


"Sudah janjian sama Nek Pur?" tanya Micko pada Dania.


"Datang saja, Nenek kan selalu dirumah. Aku mau kasih laporan keuangan Kos-kosan Nenek." Dania menjelaskan pada Papa maksud kedatangannya kerumah Nek Pur.


"Sudah dibuat laporannya?" tanya Oma pada Dania.


"Sudah." Dania menganggukkan kepalanya.


"Kakak jadi juragan Kos-kosan ya?" Winner tertawa.


"Bantu Nek Pur, kasihan tidak ada yang kontrol pembayarannya. Nenek suka lupa siapa saja yang belum bayar." Dania menjelaskan sambil tertawa.


"Laporannya ada dimana?" tanya Mama Lulu pada Dania.


"Ini di tas aku." Dania terkekeh.


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita ke rumah Nek Pur dulu ya." kata Micko pada duo bujangnya.


"Terserah Papa." jawab Lucky tanpa ekspresi, sementara Oma Misha memasang muka kepo menggoda Lucky.


"Ikut juga akhirnya." Oma tertawakan Lucky.


"Ih Oma aku kan diajak, kalau Oma itu loh minta ikut terus." kata Lucky memberengut. Tapi Oma malah tetap tertawakan cucunya itu.


"Kalian malam ini masih menginap kan?" tanya Micko sambil fokus menyetir.


"Iya. Tapi besok habis sholat shubuh pulang ke Papa Kenan ya Pa, Balen mau belajar berenang." kata Dania pada Papanya.


"Belajar berenang dimana?" tanya Lucky semangat.


"Dirumah, Larry teman Abang yang ajari." jawab Nanta pada Lucky.


"Aku ikut dong belajar berenang." kata Lucky dengan wajah berharap.


"Aku juga." Winner tidak mau ketinggalan.


"Kalian ini maunya ikut Abang sama Kakak saja." balas Oma Misha melirik Lucky. Semua jadi tertawakan Lucky.


"Ah Oma aku kan mau belajar berenang juga." jawab Winner senyam-senyum.


"Aku juga, sekalian aku mau bertemu Mamon ada kunci nada yang harus kutanyakan." kata Lucky membela diri.


"Ya sudah kalian pagi ikut saja Nanti siang Papa jemput." jawab Micko tertawa.


"Mama ikut jemput ya." kata Oma, benar saja sekarang Oma bawaannya mau ikut terus. Mungkin bosan dirumah.


"Semua ikut deh kalau begitu, aku juga sudah lama tidak bertemu Nona." kata Lulu yang tidak pernah ikut jika Lucky belajar Piano pada Nona.


"Jadi besok makan siang dirumah kan, aku kasih tahu Mamon ya." kata Nanta mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Nona.


"Tidak usah Nan, tidak usah beritahu nanti sibuk Nona karena kami." kata Oma pada Nanta.


"Memang pasti sibuk Oma, kalau Balen belajar berenang itu pasti Mamon siapkan makanan untuk Sahabatku. Selain Larry, Mike juga ikut ajari Richi berenang." Nanta menjelaskan.


"Wih Bang Mike juga ada ya, asik." Winner langsung saja semangat mendengar Mike juga hadir.


"Memang kenapa kalau ada Mike?" tanya Micko pada Winner.


"Kamu kan sudah pernah bertemu waktu ikut berenang dulu itu." kata Nanta pada Winner.


"Iya kah? lupa aku. Kalau Bang Doni aku ingat." kata Winner pasti, tentu saja ingat Doni yang kebetulan satu alumni dengan Winner juga teman ngobrol Winner saat itu. Doni juga teman Nanta yang Winner wawancarai untuk majalah sekolahnya.


"Iya kamu fokus sama Doni saja waktu itu." kata Nanta terkekeh sementara Micko memarkirkan kendaraannya didepan rumah Nek Pur. Tidak terasa sudah sampai saja mereka di rumah Nek Pur.


"Ya ampun, mimpi apa ini saya didatangi keluarga Ibu Misha." Nek Pur tersenyum penuh haru menyambut kedatangan satu keluarga itu.


"Kebetulan habis pertemuan, Dania bilang mau kesini, ya sudah kita antar deh." kata Oma Misha ikut tersenyum menyalami Nek Pur dan memeluknya.


"Dania kamu tidak bilang sih, kalau bilang Nenek siapkan makanan kesukaan Ibu Misha." kata Nek Pur memukul bahu cucu angkatnya itu.


"Tadi sih Papa suruh telepon takut Nenek tidak ada dirumah, tapi aku bilang Nenek kan selalu dirumah, jarang keluar rumah." Dania terkekeh.


"Tidak apa, kita sudah kenyang ini." kata Micko ikut terkekeh.


"Ayo masuk, Lucky, Winner sini." panggil Nek Pur karena Lucky dan Winner masih saja berdiri diteras.


"Tidak apa disini saja, Nek." jawab Lucky tersenyum manis.


"Nanti kalau mau masuk, masuk saja ya. Kalian suka rendang paru tidak?" tanya Nek Pur pada keduanya.


"Suka." jawab Lucky cepat.


"Ya sudah kamu makan pakai rendang paru ya, Nenek selalu ada stock." Nek Pur menepuk bahu Lucky.


"Nanti saja Nek Pur, aku masih kenyang." jawab Lucky mengusap perutnya.


"Aku ada urusan sama Nenek." kata Dania pada Nek Pur.


"Urusan apa?"


"Laporan bulanan." kata Dania menepuk tasnya, Micko terkekeh, anaknya jadi bagian keuangan Nek Pur rupanya.


"Minggir dulu kalau begitu kita." kata Nek Pur sambil tertawa.


"Silahkan Bu Pur." jawab Lulu tersenyum, sementara Nanta sibuk meladeni adik iparnya, ada saja yang mereka tanyakan pada Nanta.


"Pa..." panggil Winner tiba-tiba.


"Ya." jawab Micko menunggu apa yang mau Winner katakan.


"Kenapa sih Papa mau terima permintaan Kakek Suryadi urus Suryadi Corporation?" tanya Winner pada Papanya.


"Itu kan punya Oma." jawab Micko pada anaknya.


"Tapi kan Oma menolak." kata Winner lagi.


"Coba tanyakan Oma, Papa hanya ikuti perintah Oma kok."


"Kenapa Oma?"


"Sudah tidak ada yang mau urus lagi, Kakek Kris menolak, Opa Kripto juga menolak. Kasihan karyawan kalau perusahaan dibiarkan hancur." kata Oma yang ternyata memikirkan karyawan.


"Kan ada Om Peter, kenapa bukan dia saja yang urus?" tanya Winner lagi.


"Urus anak perusahaan saja bangkrut, bagaimana mau urus perusahaan Utama?" Oma Misha mengedikkan bahunya.


"Jadi Papa bisa urus dong Oma, hebat loh Papa ini." Winner tambah bangga saja pada Papanya.


"Papa juga kan mau minta bantuan Om Kenan, Papa tidak bisa urus sendiri." jawab Micko apa adanya.


"Merger dong perusahaan Suryadi dan Syahputra kalau begitu." komentar Lucky sok tahu.


"Bukan merger sih sebenarnya, hanya saling support saja. Kalian belajar yang benar ya, karena setelah lulus kuliah kalian yang harus terjun langsung." Micko mengingatkan putranya, Nanta menyimak saja tanpa beban.


"Kamu juga Nanta." kata Micko yang melihat Nanta seolah tidak peduli.


"Kok Aku?" Nanta tampak bingung.


"Iya kamu, karena Investor diperusahaan Peter itu sebenarnya Papa kamu. Jadi Syahputra Group ada kepentingan juga kan?" Nanta menganggukkan saja jadinya, baru tahu kalau Syahputra Group ikut andil di perusahaan Om Peter.


"Senin aku sudah mulai aktif di Warung Elite, Pa." lapor Nanta pada Papa Micko, biar Papa Micko tahu kalau Nanta lumayan sibuk saat ini