
"Tadi Farhan ke kantor saya." Kenan menatap Nona dan Nanta bergantian dimeja makan. Mereka baru saja selesai makan malam.
"Farhan siapa, Pa? tanya Nanta bingung.
"Suami Sheila." jawab Kenan singkat. Nanta mengangguk tidak bertanya yang lain, mungkin Papa bekerja sama dengan Farhan itu pikirnya, tapi kenapa mesti sama suami Sheila?
"Dia meminta tolong Papa ikut mencari Sheila." kata Kenan lagi pada Nanta.
"Memangnya hilang?" tanya Nanta terkekeh, seperti apa saja sampai dicari.
"Bukan hilang sih, hanya pergi tanpa kabar berita." jawab Nona tanpa ekspresi
"Kalian mau bantu cari? supaya Sheila bisa berkumpul lagi bersama keluarganya?" tanya Kenan menawarkan.
"Ada hadiahnya? pakai sayembara?" tanya Nanta membuat Kenan dan Nona terbahak.
"Ada hadiah dari Allah, karena kita menyatukan keluarga yang terpisah." jawab Kenan disela tawanya.
"Mau cari kemana, Pa? kita bukan detektif." kata Nanta malas.
"Betul juga nanti Papa minta Padeh ikut mencari, kenalan detektif Padeh banyak." kata Kenan teringat mertuanya.
"Papa niat sekali." dengus Nanta yang masih sedikit kesal pada Sheila.
"Kan hanya membantu teman yang sedang kesusahan. Orang lain saja kita bantu. Tapi kalau kalian keberatan ya Papa bisa apa." kata Kenan dengan suara melemah.
"Kalau niatnya membantu dan mengembalikan dia pada keluarganya, aku setuju. Setelah itu tidak ada alasan untuk bertemu dua-duaan, tidak juga saling chat ngalor ngidul." kata Nona tegas.
"Iya sayang, saya janji." Kenan menaikkan dua jarinya.
"Iklaskan saja Nan." kata Nona pada Nanta.
"Baiklah, aku bantu Papa bukan bantu Sheila." kata Nanta lagi pada Papa dan Kak Nona.
"Terima kasih Boy." Kenan tersenyum lega karena kedua kesayangannya bersedia ikut membantu mencari Sheila.
"Jumat malam kita ke Malang, bagaimana kabar Mama?" tanya Kenan pada Nanta.
"Masih mules, ini sudah Lima belas menit Om Bagus belum lagi mengabarkan." kata Nanta pada Papa sambil melirik layar handphonenya.
"Sabar saja, semoga Mamamu kuat dan mereka berdua sehat dan selamat." kata Kenan pada Nanta.
Setengah jam kemudian handphone Nanta berdering.
"Nanta..."
"Iya Om, bagaimana kabar Mama?"
"Alhamdulillah, adikmu perempuan." suara Bagus terdengar sangat lega.
"Alhamdulillah, Mama, adek sehat Om?"
"Iya sehat, kasih tahu Papa dan Mamon ya?"
"Mamon?" Nanta mengernyitkan dahinya.
"Iya Mama Nona, Mamamu bilang adik bayi panggil Nona , Mamon." Bagus terkekeh.
"Oh hahaha baiklah nanti aku sampaikan pada Mamon." Nanta menyebut Mamon sambil terkekeh memandang Nona.
"Jadi kalau Mama dipanggil apa nanti sama adikku disini, yang masih di perut Mamon?"
"Mamay, Mama ayi. Ah sudah lah mereka berdua ada-ada saja." Bagus kembali terbahak. Nanta ikut terbahak sementara Nona senyum-senyum dan Kenan sedikit bingung.
"Mamon dan Papa, adik bayi sudah lahir perempuan." kata Nanta masih terkekeh.
"Mamon?" Kenan ikut bingung.
"Mama Nona panggilan sayang adik bayi dimalang." kata Nanta tertawa.
"Aih, terus anak Papa disini panggil apa ke Mama Tari?" Kenan membelai lembut perut Nona, tersenyum lebar.
"Mamay." jawab Nona tertawa.
"Apa itu Mamay?" Kenan ikut tertawa.
"Mama Ayi." Nanta dan Nona menjawab bersamaan. Kenan menggelengkan kepalanya, ada-ada saja kedua mama Nanta nih, rupanya mereka sudah menyiapkan nama panggilan untuk mereka berdua.
"Kamu juga ada panggilan sayangnya loh Mas." kata Nona semangat.
"Apa?" tanya Nanta yang penasaran, Kenan ikut menunggu jawaban Nona.
"Apa sih." Kenan menggelengkan kepalanya, panggilan yang aneh.
"Kamu tidak suka?" tanya Nona memberengut.
"Apa saja lah yang penting kalian bahagia." jawab Kenan terbahak.
"Nanti nama adik bayi kita siapa Mamon?" tanya Nanta pada Nona.
"Kok Papa seperti dengarnya kamu bilang Babon ya?" kata Kenan menggoda Nona, memang berat badannya naik drastis saat ini, tapi bukan seperti babon juga. Nona mencubit pipi suaminya kesal. Nanta terbahak tapi tidak ikut meneruskan.
"Nanta, nama kamu kan gabungan dari Kenan sama Tari ya. Aku tidak mau nama adikmu jadi Nanon atau Kenon ya." kata Nona melirik suaminya kesal. Kenan terbahak, ia belum menyiapkan nama anaknya nanti.
"Papamu minta diselipkan namanya." kata Kenan terbahak, teringat lesan Baron.
"Tuh jangan sampai namanya jadi Kenbar." kata Nona lagi tambah memberengut.
"Ya jangan lah, tidak kreatif. Mamon tahu dari zaman Oma dan Opa juga sudah tidak kreatif, semua namanya Dwi Suryaputra, Reza Suryaputra, Raymond Suryaputra, Nanta Suryaputra. Yah jadi Papa dan Mamon tinggal menyiapkan nama awal saja karena ujungnya pasti Suryaputra." Nanta tertawa diikuti Nona dan Kenan.
"Nanti saja pikirkan namanya, tunggu lahir dulu." kata Nanta bijaksana.
"Permintaan Abang tuh." kata Kenan pada Nona.
"Baiklah, begitu lahir baru kita siapkan nama." kata Nona tersenyum lebar.
"Oke saatnya kita ke kamar, sepertinya lebih baik mulai packing supaya tidak terburu-buru." kata Kenan menyudahi percakapan mereka di meja makan.
"Nanta Senin hari kejepit, Kamu tidak bisa ijin sehari? kita kembali selasa malam." kata Kenan pada Nanta.
"Tidak bisa Pa." jawab Nanta tegas.
"Kamu mau lama di Malang, Mas?" tanya Nona pada Kenan.
"Inginnya empat hari, karena dua hari terlalu mepet, tapi kalau Nanta tidak bisa, ya minggu malam kita kembali Ke Jakarta." kata Kenan pada Nona.
"Pasti bingung atur waktu sama Papa." Nona terkekeh.
"Iya pasti komplen kalau hanya sebentar." kata Kenan lagi.
"Aku pulang duluan saja, Papa sama Mamon belakangan." jawab Nanta cepat
"Tidak apa begitu?" tanya Kenan.
"Aku sudah besar Pa, tahun depan kuliah." jawab Nanta bangga.
"Baiklah, Papa setuju." Kenan menarik nafas lega.
"Kamu jadi sendiri dirumah?" Nona tampak tidak tega.
"Banyak orang disini, apanya yang sendiri." Nanta terkekeh karena Papa mempekerjakan banyak crew untuk mengurus rumah dan mereka bertiga.
"Kalau bosan bisa menginap dirumah Ayah Bunda." kata Kenan pada Nanta.
"Tidak, aku sejak pindah kesini jadi malas menginap, Pa." kata Nanta pada Papa.
"Kenapa begitu?"
"Aku terlalu suka suasana dirumah ini, setiap sudutnya aku suka. Membuat aku betah dirumah." kata Nanta tertawa.
"Memang dulu kamu tidak betah dirumah?" tanya Kenan pada Nanta.
"Betah, tapi tidak pernah rindu kamar kalau sedang menginap." kata Nanta terkekeh.
"Kamarmu yang bisa melihat langit itu ya yang bikin betah. Apa tidak panas kalau siang hari?" tanya Nona.
"Mamon tidak tahu kalau atap kamarku ada sunroofnya. Papa memang juara." Nanta memuji Papanya.
"Kamar kita kenapa tidak dibikin begitu?" protes Nona pada Kenan.
"Kita tidak usah, itu untuk anak muda saja." kata Kenan pada istrinya.
"Papa aku masih muda." Nona merengek pada Kenan.
"Sayang, kalau lagi diluar jangan pernah panggil saya Papa dengan nada seperti ini." tegas Kenan pada Nona.
"Kenapa?" tanya Nona masih merengek manja.
"Nanti orang-orang kira, kamu anak saya." jawab Kenan membuat Nanta dan Nona terbahak.