
Tepat pukul empat sore mereka pun sudah berada di lokasi syuting, selain camera ada juga lampu sorotnya. Semua sudah siap, Steve sudah memberikan pengarahan pada semua bintang iklan, Balen dan Larry disuruh berenang saja seperti biasa.
Adegan Balen membawa produk makanan sehat saat berenang tandem bersama Larry kemudian segera membuka bungkusnya untuk dimakan saat duduk di pinggir kolam berenang, tapi langsung dikerubutin oleh pria-pria tampan yang ingin tahu gadis kecil makan apa, begitu para pria mendekat Richie muncul dan merebut makanan tersebut kemudian berlari, skenarionya seperti itu.
"Bisa tidak Ichie rebut makanan Balen begitu abang-abang mau minta?" tanya Nona pada Richie.
"Minta sekaang aja matanna Baen." pinta Richie berlaku sopan, ia tidak mau jadi perebut makanan Balen.
"Itu hanya akting Ichie." kata Nona ajarkan Richie.
"Oo ote." jawab Richie tengil.
"Oke kita mulai ya?" teriak Aditia yang sudah siap memberikan aba-aba pada model dan crew.
"Camera." Aditia memberi aba-aba.
"Lighting." Aditia perintahkan bagian lighting untuk beraksi, mulailah kameramen dan lighting beraksi.
"Huaaaa Papa, tatuuut." Richie langsung melompat kepangkuan Kenan melihat kamera dan lampu sorot berjalan.
"Loh bagaimana ini mau syuting." Kenan terkekeh, sementara Richie menyembunyikan wajahnya di dada Kenan.
"Ichie itu hanya lampu dan kamera." Nona membujuk Richie.
"Ndak mo... ndak mo... huaaa." Richie menangis.
"Wah sudah bisa cuwiwit, cuwiwit, lihat lampu malah takut." celutuk Micko membuat semua terbahak.
"Tidak bisa Steve, ganti yang lain saja." kata Kenan pada Steve yang masih tertawakan Richie.
"Chie, malu tuh dilihat Selin." kata Steve lagi, tidak pengaruh ya, tetap saja karena sudah ketakutan Richie tidak keluarkan suaranya. Sudah tidak peduli cewek cantik lagi kalau begini.
"Oke ganti ya, Skenario tetap seperti semula, tapi Lucky yang rebut makanan sehatnya, lalu makan berdua dengan Winner." kata Steve pada semuanya.
"Teus matanan Baen mana?" protes Balen karena tidak kebagian. Rumi terbahak mendengarnya.
"Jangan khawatir, karena Abang Leyi ternyata punya banyak stok dan kasih semua untuk Baen." kata Aditia pada Balen.
"Ote, Aban Winei ama Aban Luti janan ebut puna Baen ladi ya." kata Balen khawatir nanti direbut lagi oleh Winner dan Lucky.
"Itu cuma akting Baen." kata Nanta pada adiknya sambil tertawa.
"Boeh satu, Aban, janan semuana." jawab Balen sewot.
"Baen, tuh lihat dikotak banyak makanannya, jadi yang direbut itu hanya untuk masuk tipi." Rumi menjelaskan.
"Oh..." jawab Balen mengerti.
"Sudah bisa dimulai?" tanya Rumi pada semuanya.
"Bisa." jawab mereka cepat.
"Baen?" tanya Rumi lagi.
"Bisa don." jawab Balen tersenyum.
"Oke sebelum mulai baca doa dulu ya." Steve mengingatkan, tadi belum pada berdoa, jadi Ichie nangis deh.
"Action." teriak sutradara ketika camera dan Lighting sudah beraksi. Larry langsung melompat ke kolam diikuti Balen.
"Ayo berenang gaya bebas, Baen." ajak Larry pada Balen. Balen berenang gaya bebas, Larry mengapung mengawasi Balen lalu berenang dibelakang Balen. Kemudian setelah sampai diujung mereka pun berenang tandem.
"Angkat makanannya Baen." perintah Steve pada Balen, Singkong rebus mengikuti arahan sambil tersenyum bayangkan makanan sehatnya masih banyak didalam kotak. Setelah sampai diujung, Larry mengangkat Balen yang menggoyangkan makanan sehatnya sambil tertawa lalu dudukkan Balen dipinggir kolam berenang. Nanta, Mike dan Doni berakting memandang Balen dengan penuh kagum dan terus mengamati gadis kecil tersebut. Larry membantu Balen membuka makanan kecilnya, ketiga pemuda mengintip perlahan apa yang dimakan gadis kecil.
"Minta dong." kata salah satu dari mereka pada Balen, baru saja akan Balen kasih, Lucky dan Winner datang langsung merebut makanan ditangan Balen.
"Cut." teriak sutradara.
"Baen, begitu Abang bilang minta, kamu jawab boleh." perintah sutradara pada Balen.
"Ote." jawab Balen mengerti. Makanan ditangan Lucky kembali lagi pada Balen.
"Beenang ladi?" tanya Balen.
"Tidak usah, kita mulai dari Abang minta ya."
"Ote."
"Action.
"Minta dong."
"Nanis ndak?" tanya Balen begitu makanannya dimakan kedua Abangnya.
"Cut." semua tertawa dengan pertanyaan Balen yang membuat adegan harus diulang kembali.
"Tidak usah menangis pasang wajah kecewa saja, bisa tidak?" tanya Steve.
"Dini?" Balen bergaya pasang ekspresi kecewa.
"Kurang menekuk wajahnya." kata Steve pada Balen. Singkong Rebus mengulang sampai beberapa kali hingga berhasil mendapatkan wajah kecewanya.
"Nah pintar, nanti seperti itu ya kalau makannya sudah diambil Bang Lucky." kata Rumi pada Balen.
"Iya." jawab Balen menurut.
"Nah Leyi, begitu Balen pasang wajah kecewa, kamu langsung kasihkan beberapa bungkus yang baru." kata Rumi pada Larry, eh kenapa juga jadi panggil Leyi si Rumi, Larry jadi tersenyum lebar mendengarnya.
"Ish malah senyum, ngerti tidak Leyi?" tanya Rumi pada Larry.
"Ngerti don." jawab Larry bergaya Balen. Semua tertawakan Rumi dan Larry.
"Oke, bisa dilanjut tidak nih, kenapa jadi banyak kupu-kupu ya?" sindir Steve pada sepupunya.
"Lanjut!" jawab Rumi mengernyitkan hidungnya pada Steve.
"Baen kasih pakai kimono handuk boleh, takut masuk angin." pinta Larry khawatirkan Balen.
"Boleh." jawab Rumi cepat ambilkan kimono handuk untuk Balen. Adegan Rumi pakaikan kimono handuk untuk Balen direkam oleh sutradara, atas kode dari Steve karena mereka seperti keluarga bahagia. Syuting berakhir menjelang magrib. Adegan hanya dua jam saja, seperti yang Steve kira. Hasilnya membuat semua crew dan pihak Unagroup puas.
"Pintar betul adik Abang Leyi nih." kata Larry mencubit pipi Balen gemas.
"Aban..." panggil Balen pada Larry.
"Apa?" jawab Larry terkekeh, paling suka kalau Balen sudah bilang Aban..."
"Aban tok ndak pate timono juda?" tanya Balen pada Larry.
"Tidak, kan Abang masih di air, kalau Balen kan sudah duduk dipinggir kolam." kata Larry pada Balen.
"Tuh tata Yumi bawain anduk Aban tuh." tunjuk Balen saat Rumi berjalan kearah mereka membawa handuk, setelah dekat berikan handuk tersebut pada Larry.
"Ayo Leyi, ganti baju. Nanti masuk angin." kata Rumi pada Larry.
"Uhuuiii, ada yang perhatikan." teriak Mike membuat semuanya tertawa. Rumi jadi ikut tertawa.
"Cuwiwit Aban Leyi ada yang perhatikan." Nanta bercuwiwit ala Richie yang dari tadi pura-pura tidur karena takut dengan lampu sorot yang jalan-jalan. Semua kembali tertawa, Larry cengar-cengir jadinya, menutup badannya dengan handuk lalu ijin berganti pakaian pada Rumi.
"Sayang, kamu juga ganti pakaian." teriak Dania pada Nanta yang asik menggoda Larry.
"Eh iya, yuk sudah mau magrib nih." ajak Nanta pada sahabatnya, mereka pun bergegas menyusul Larry yang sudah berjalan lebih dulu.
Sementara itu Kenan bangunkan Richie yang ketahuan sekali pura-pura tidur.
"Sudah selesai syutingnya, boy. Ayo bangun." Kenan menepuk pipi bungsunya.
"Atu butan Boi, Papa." sungutnya tanpa membuka mata.
"Kamu Boy, sayang."
"Aban tuh Boy, atu Ichie." katanya dengan mata masih tertutup.
"Oke Ichie sudah boleh buka mata sekarang." perintah Kenan.
"Tatut ampu dedek jaan-jaan, Papa."
"Sudah dimatikan lampunya dan sudah tidak jalan lagi." kata Kenan.
"Ayo Baen, ganti baju." ajak Nona pada Balen yang asik bercanda dengan Selin.
"Ichie nih Sein cuwiwit nih." kata Balen pada Richie sambil hampiri Nona. Selin tersenyum memandang Richie yang sudah tidak tidur lagi.
"Tadi kamu takut ya?" tanya Selin pada Richie.
"Atu bobo." jawab Richie ngeles, gengsi betul rasanya dibilang takut.
"Bukannya tadi menangis lihat lampu?" tanya Selin.
"Oh itu atu ladi eting." kata Richie membuat semuanya terbahak.