
"Mama mana sayang?" tanya Reza pada istrinya yang sedang dalam pelukannya. Tak peduli suasana masih ramai dengan kerumunan para peserta wisuda dan orangtuanya yang baru pada bubar. Beberapa pasang mata melihat kearah mereka, ada yang hanyut dengan suasana, ada yang jadi mengenang masa muda, ada yang iri, ada pula yang enek terasa mau muntah, hahaha namanya juga manusia.
"Tadi lagi ngobrol sama mama papa kak Andi dan Kak Erwin."
"Kak Andi mau kemana buru-buru amat." sapa Kiki saat melihat Andi dan Erwin melambaikan tangan dengan sedikit berlari.
"Mau mengejar cintanya, takut ketinggalan pesawat." jawab Reza membalas lambaian tangan sahabatnya. Sedangkan Mario dan Regina tampak sedang berbicara dengan Lily dan orangtuanya.
"Mau ke KL, ketempat Cindy? ah ga bilang aku kan bisa bawakan makanan kesukaan mamanya Cindy. Biar kak andi tambah akrab." Kiki sedikit kecewa.
"Biarin aja Andi usaha sendiri. Kamu ga usah ikut pusing."
"Ah aku tuh berharap banget Cindy bergabung di "Nyo Club", Enji kan sebentar lagi bergabung. Kita sudah punya room chat loh. Ga kalah seru sama geng ganteng deh."
"Apa tuh Nyo club?" tanya Reza penasaran sambil mentertawakan istrinya.
"Club Nyonya Boss." bisik Kiki takut terdengar yang lain.
"Hmmm.." Reza mencubit pipi istrinya gemas, kalau saja bukan ditempat umum ingin rasanya mencubit lalu mencium pipi istrinya yang polos cenderung lucu.
"Kirain club belatung nangka." bisiknya pada Kiki, membuat Kiki terbahak mencubit perut suaminya.
"Ih cubit-cubitan didepan umum." Mario datang menghampiri sahabatnya, membuat Kiki merona.
"Kenapa si Lily ?" tanya Reza pada Mario karena sedari tadi kurang menyimak.
"Yang dulu dia pingsan di kelas, kan gue antar pulang karena searah, bokapnya baru sempat bilang makasih. Ternyata Rere kenal Lily, friend." kata Mario menjelaskan.
"Oh iya, kok bisa?"
"Adiknya Lily temannya Rere di S'pore. What a small world." Mario terkekeh, Regina hanya berekspresi dengan wajah dan dahi yang bergerak-gerak.
"Nunggu apa lagi? pulang atau mau jalan?" tanya Regina pada Kiki, sebenarnya masih ingin bersama Kiki karena dirumah terus bosan juga.
"Nunggu mama geng sama papa geng masih pada ngobrol." jawab Kiki menunjuk Sekumpulan mama dan papa yang asik ngobrol seru sendiri.
"Lu ga pasang penyadap di tas nyokap, friend. Banyak ide gitu mereka. Bikin gue kaget-kaget sama gebrakannya. Gue kira cukup lu ya friend, tau-tau gue, udah dong kelar eh minggu depan si Erwin, konyol ga tuh" kata Mario terbahak, Reza, Kiki dan Regina pun ikut terbahak walaupun mereka bisa dianggap korban dari gebrakan orang tuanya.
"Mainnya halus mereka friend, kita ga sadar kegiring ya." kata Reza kemudian.
"Hai kalian ga baik gosipin orang tua." Kata Dwi yang tiba-tiba sudah berada diantara mereka.
"Sudah selesai om?" tanya Mario menatap Dwi kagum, ya kagum dengan gebrakan yang dilakukan Dwi, Papi dan Pak Burhan juga Permana di semarang jumat minggu lalu.
"Sudah, yuk pulang. Kenapa lihatin Om kaya gitu Yo?" tanya Dwi terkekeh menepuk bahu Mario.
"Ya belajar lah sama kita, Ga pakai emosi enak kan?"
"Papi sempat emosi om. Mau hancurin Warung Elite segala." Mario mengadukan apa yang dialaminya sebulan kemarin.
"Hahaha itu ga akan terjadi nak, Sekarang enak kan?" Dwi menaikan alis kanannya menggoda Mario. Membuat Mario tersenyum lebar, selebar-lebarnya merasa dipermainkan tapi tak ingin membalas.
Mereka pun memutuskan untuk pulang karena besok pagi Kiki akan shooting iklan di Bogor, Mario dan Regina sepakat akan bergabung besok, Regina juga ingin mencoba kuliner bogor yang tak pernah didapatnya di S'Pore.
"Erwin ikut Andi ke KL, Ja?" tanya mama saat dalam perjalanan pulang.
"Ga ma, cuma antar Andi ke bandara." jawab Reza sambil fokus menyetir, supir yang mengantar Dwi dan Nina sudah disuruh pulang sedari tadi.
"Gimana Andi sama Cindy pa?" tanya Reza ingin tau apakah ada pergerakan dari orang tuanya.
"Papa ga ada jalur ke Cindy nak, orang tuanya bukan pengusaha ya."
"Nah aku ga tau deh, mungkin Kiki yang tau."
"Bukan pa, papanya Cindy pejabat imigrasi yang bertugas di KL. Bantuin pa, aku lagi jodohin mereka." pinta Kiki pada Dwi.
"Kalian ini memangnya Papa biro jodoh." Dwi tertawa mendengar permintaan menantunya.
"Papanya Cindy itu mau anaknya fokus kuliah sampai selesai, belum mau memikirkan jodoh untuk anaknya. Sepertinya Andi harus sedikit berjuang, ga semua orang mau anaknya menikah muda kan." Dwi memberikan bocoran.
"Berarti papa sudah bikin gerakan buat Andi juga ya. Bah ternyata para orang tua sibuk mengurus masalah perjodohan kami ya." Reza tampak bersemangat.
"Sebenarnya sudah ada tapi bukan Cindy. Tapi tadi mama Andi bilang lihat saja dulu perjuangan Andi untuk Cindy seperti apa. Cindy juga anak baik kan. Tapi jodoh yang disiapkan untuk Andi juga ga kalah dengan Kiki, Regina dan Enji."
"Siapa pa?" tanya Kiki dan Reza berbarengan, terlihat sangat penasaran.
"Kalau papa kasih tau, kalian mau apa?" tanya Dwi menggoda anak dan menantunya. Nina diam saja menyimak, walaupun tau lebih baik pura-pura tak tau dari pada diinterview bisa bocor semua.
"Pengen tau aja pa, sebenarnya aku mau nya Cindy sama kak Andi, tapi kalau sulit dan bikin mereka sedih lebih baik ga usah dari sekarang. Aku ga tega kalau temanku patah hati." Kiki mulai melankolis, membayangkan Cindy yang akan patah hati.
"Ki, kamu tau kalau pejabat suka menjodohkan anaknya dengan sesama anak pejabat? Bahkan ada yang menjodohkan dengan staffnya yang dianggap berprestasi. Begitu juga kami para pengusaha. Orang tua Andi sama Cindy tidak berada di lingkaran yang sama. Pengusaha lebih fleksibel sementara penguasa penuh dengan birokrasi. Kemungkinan mereka bersama menurut papa masih 50%."
"Apa aku kasih tau Cindy aja pa?" tanya Kiki meminta pendapat.
"Ga usah sayang, biarin aja dulu. Kita lihat respon orang tua Cindy malam ini, Papa dan Mama Andi lagi menunggu laporan dari orang suruhannya besok pagi." Hahaha mama Nina keceplosan, dari tadi sudah menahan diri untuk ga bicara, kepancing juga.
"Ck.. pakai mata-mata. Jadi begitu cara kerjanya selama ini ya." Reza menggelengkan kepalanya, tapi tak ingin juga membocorkan pada sahabatnya. Reza pun tak sabar mendengar cerita dari Andi sepulangnya dari Kuala Lumpur. Penasaran dengan kisah cinta Andi sahabatnya. Sementara Kiki hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya Cindy dan juga pastinya yang terbaik untuk Andi sahabat suaminya. Walaupun hati kecilnya sangat ingin Andi berjodoh dengan Cindy. Tapi jodoh siapa yang tau. Kalau pada bilang jodoh ditangan Author itu salah, karena kadang ditengah jalan pikiran menggiring untuk merubah alur cerita hahaha kita tunggu kabar dari Andi ya.