
"Gw mau nikah, Ndo." kata Nanta pada sahabatnya saat mereka bertemu dikampus.
"Sama Dania, jadi?" tanya Ando terkekeh, mengingat Nanta galau sepanjang perjalanan dari Bromo ke rumahnya.
"Iya, sama siapa lagi." jawab Nanta.
"Alhamdulillah." Ando menarik nafas lega.
"Kenapa?" tanya Nanta tersenyum.
"Wilma aman, tidak ada saingan lagi, yess." Ando bersorak, membuat Nanta memiting lehernya, mereka tertawa bersama.
"Gue juga mau menikah kalau Wilma sudah lulus." kata Ando berharap.
"Memangnya boleh?" tanya Nanta.
"Tidak tahu, kan belum maju." Ando menghela nafas.
"Bagaimana kantor, menyenangkan?" tanya Nanta.
"Alhamdulillah, sudah mulai membaur, sudah dapat customer juga." jawab Ando bangga.
"Syukurlah, jadi bisa menabung untuk modal Nikah." Nanta menggoda Ando.
"Ah iya, sudah mulai menabung dari pulang liburan kemarin itu." jawab Ando terkekeh.
"Nanti datang ya, tidak pakai undangan, hanya keluarga saja dan sahabat." Nanta mengingatkan Ando.
"Gue ajak Wilma ya." katanya meminta ijin.
"Ajak saja, hari pastinya nanti gue kabari." kata Nanta lagi, mereka berpisah di parkiran, karena Nanta akan kekantor Papa dan Ando kembali kekantor.
Nanta melajukan kendaraannya perlahan, menuju kantor Papa, entah kenapa Om Micko meminta Nanta bertemu dengannya, Papa pun tidak tahu kenapa Micko ingin bertemu Nanta.
Drrrtttt... Drrrtttt... handphone Nanta berdering, Wilma menghubunginya, Nanta tersenyum, pasti Ando menyampaikan pada Wilma jika Nanta mau menikah.
"Assalamualaikum..." kata Nanta menahan senyum.
"Waalaikumusalaam, begitu caranya bikin gue patah hati, Bang." Nanta tertawa mendengarnya.
"Sekian tahun gue digantung, sekarang mau menikah dengan Dania, teganya, teganya, teganya." dangdutnya mulai keluar.
"Berisik deh, dikasih tahu Ando ya?" tanya Nanta.
"Iya, hari apa, dimana, siang apa malam, gue mau beli baju, transfer ya." Nanta kembali terbahak mendengarnya.
"Hari jumat, pagi kayanya, pakai seragam sekolah saja." kata Nanta menggoda Wilma.
"Ih jangan pelitlah, nanti kalau sudah menikah mana berani gue minta transfer." bujuk Wilma pada Nanta.
"Mau beli baju apa sih? cuma akad nikah saja." kata Nanta lagi masih tertawa geli mengingat kelakuan Wilma.
"Yah yang baguslah, masa pakai baju lama sih, kan ini hari special Abang gue."
"Iya, kalau ada maunya panggil Abang." Nanta pura-pura marah.
"Nanti kalau transfer lebihin ya, gue beli bajunya di boutique biasa tuh, tahu kan standard harga disitu?"
"Eh kenapa dilebihin, aku transfer sesuai harga baju, nanti fotokan tag bajunya." kata Nanta pada Wilma.
"Ah tidak mau, kan gue mesti kasih angpau untuk pengantin." Nanta kembali terbahak.
"Pintar sekali anak Pak Leo ya, yang nikah yang belikan baju terus angpaunya minta modalin sama yang nikah juga. Lagi pula siapa yang minta angpau sih, datang saja kasih doa tulus." kata Nanta.
"Nah berarti uang angpaunya buat isi paket data, browsing doa tulus." kata Wilma lagi.
"Hahaha sayang jauh, kalau dekat sudah ku sentil jidatnya, duit saja pikirannya."
"Cuma sama elu Bang gue berani, sama yang lain tidak."
"Yang lain tuh siapa?"
"Teman sekolah gue."
"Iya-iya terserah kamu saja lah."
"Asik betul ya nanti transfer."
"Ini buat kamu sendiri apa bagi dua lagi sama Ando?" tanya Nanta terbahak.
"Buat gue sendiri, Ando kan sudah kerja." jawab Wilma. Nanta tertawa dan menutup sambungan teleponnya. Ada saja kelakuan Wilma ini dan memang hanya sama Nanta dia berani minta transfer sama Bang Raymond tidak pernah. Kalau masalah traktir, tidak usah diminta kalau bertemu Bang Raymond pasti akan traktir jika ada kesempatan.
Nanta memarkirkan kendaraannya di basement dan segera menuju ruangan kerja Papa.
"Sudah makan?" tanya Kenan pada Nanta.
"Sudah tadi sama Ando." jawab Nanta.
"Boy, sore ini sudah siap untuk lamaran seperti yang saran Opa kemarin." kata Kenan pada Nanta.
"Oh disini? dikantor Papa?" tanya Nanta, Kenan menaikkan alisnya.
"Mamon?"
"Mamon dari rumah."
"Mama dan Om Bagus sudah siap?" tanya Nanta.
"Aku belum hubungi Dania." kata Nanta pada Papa.
"Om Micko tadi sudah menghubungi Dania dan Mama Dania siap dihubungi pukul empat sore."
"Sekarang baru pukul dua lewat." Nanta melirik pergelangan tangannya.
"Tidak apa tunggu disini, kan. Om Micko sudah menyiapkan surat kuasanya." kata Kenan menarik nafas, entahlah ia seperti ada beban saat mendengar kata surat kuasa. Inginnya jujur saja.
"Satu lagi yang aku pikirkan, Nek Pur." kata Nanta kemudian.
"Yap aman itu." jawab Papa santai.
"Maksud Papa?"
"Nek Pur tidak masalah, Om Micko sudah menemuinya." kata Papa.
"Syukurlah." Nanta menarik nafas lega.
"Om Micko sudah tahu kamu disini?" tanya Kenan.
"Belum, aku langsung menemui Papa saja, biasanya Om Micko ada disini." Nanta terkekeh.
"Kalau ada urusan saja." jawab Kenan kemudian menghubungi Micko menyampaikan jika Nanta sudah berada diruangannya.
Micko memasuki ruangan Kenan dan langsung duduk disebelah Nanta.
'Masih sibuk?" tanya Kenan.
"Sibuk menunggu Nanta." jawab Micko tertawa.
"Aku sih tidak usah ditunggu, Om." kata Nanta ikut tertawa.
"Om sudah bertemu Nek Pur?" tanya Nanta kemudian.
"Sudah kemarin, aman Boy, Nek Pur bukan bagian dari Peter." kata Micko melegakan Nanta.
"Nanti lamaran virtual, Nek Pur ikut?" tanya Nanta lagi.
"Ikut, kan ada Dania di rumahnya."
"Syukurlah." kata Nanta senang.
"Boy, kamu sudah tidak bertemu Dania lagi?" tanya Micko tertawa.
"Dipingit sampai hari H, Om." jawab Nanta terkekeh.
"Kamu sih nakal." Kenan dan Micko terbahak.
"Cuma cium pipi sama dahi, Om." kata Nanta jujur, kemudian tertawa sendiri.
"Hahaha nanti kalau sudah halal boleh cium semua." kata Micko jahil.
"Cium semua itu bagaimana, Om?" tanya Nanta polos.
"Aduh anak lu, mau gue kasih tonton videonya atau bagaimana?" tanya Micko pada Kenan.
"Hahaha jangan dirusak otaknya, Bang. Biarkan saja berjalan natural." kata Kenan terbahak.
"Video apa sih, video porno ya?" tanya Nanta pada Micko dan Kenan.
"Iya, sudah pernah nonton kan sama teman-temanmu?" tanya Micko menyeringai jahil.
"Belum." Nanta menggelengkan kepalanya.
"Masa?" Micko tidak percaya.
"Betul, belum pernah." jawab Nanta.
"Gue mesti bersyukur atau khawatir nih, anak lu lurus betul." Kenan terbahak mendengarnya.
"Seperti Papanya kan?" kata Kenan bangga.
"Setahu gue sih jauh lebih lurus anaknya." kata Micko, Nanta terkikik mendengarnya.
"Bersyukurlah, Bang. Dapat menantu seperti anak gue." kata Kenan tersenyum bangga.
"Iya gue bersyukur, cuma gue khawatir nanti mereka bisa apa tidak." kata Micko lagi.
"Bisa apa Om?" tanya Nanta ingin tahu. Micko tidak menjawab pertanyaan Nanta
"Boy, *** edukasi sudah pernah dapat kan? pembuahan atau apalah." kata Micko agak vulgar, Nanta terkekeh menutup mulutnya.
"Apa sih Om." kata Nanta malu.
"Yah, ini penting loh, jangan sampai malam pertama sia-sia." kata Micko tertawa, Kenan menggelengkan kepalanya, ia juga bingung harusnya bertanya apa tidak.
"Nanta tahu lah, Bang. Tidak usah diajari."
"Suka nonton bioskop tapi kan, kadang suka ada bagian yang tidak disensor, kamu tahukan?" kata Micko lagi.
"Aduh Om, aku biasa nonton animasi dan super hero." jawab Nanta jujur, Micko dan Kenan terbahak.
"Nanti cari animasi yang 21tahun keatas deh." kata Micko serius.
"Bang, alami saja tidak usah nonton atau diajari Nanti juga bisa sendiri." kata Kenan tidak berhenti tertawa, sementara Micko sibuk memikirkan malam pertama Nanta dan anak gadisnya nanti.