I Love You Too

I Love You Too
Senyum itu Ibadah



"Loh Papa Kapan datang?" tanya Nona bingung melihat Papa dan Tante Mita sudah duduk manis diruang keluarga, menunggu Kenan dan yang lain untuk ke Mesjid bersama.


"Dari semalam." jawab Baron mengulurkan tangannya minta disalami Nona.


"Salam begitu saja harus diingatkan." omel Baron pada Nona.


"Makin tua makin sering ngomel ya." kata Nona membuat Mita cekikikan.


"Mana yang lain, mau ke Mesjid apa tidak sih?" Baron mengalihkan pembicaraan.


"Tuh mengomel lagi saja." Nona menggelengkan kepalanya, Mita kembali tertawa geli.


"Itu bukan ngomel, hanya bertanya."


"Tapi nadanya lebih tinggi satu oktaf, sabar dulu dong. Papa bisa tunggu sambil baca Qur'an atau sayang-sayangan sama Tante Mita." Nona menggoda Papanya.


"Junior mau ajari Senior." kata Baron tertawa memandang Mita.


"Hahaha sebentar ya Pa aku panggil Mas Kenan, dia sudah rapi kok." ijin Nona pada Papanya.


"Sekalian yang lain." pinta Baron, dibalas anggukan kepala oleh Nona.


"Loh Papa sudah ada disini saja seperti sulap." kata Samuel saat melihat Baron, kemudian menghampiri dan menyalami keduanya.


"Kami datang kalian sudah pada tidur." kata Baron terkekeh.


"Siapa yang bukakan pintu? bukannya telepon aku."


"Ada Kenan, sudah tunggu Papa duluan." jawab Baron.


"Pa..." Deni muncul dengan wajah sumringah melihat Papanya.


"Eh katanya lagi sedih, kok senyum-senyum?" tanya Baron terkekeh.


"Siapa yang sedih sih? aku semalam agak kaget saja. Sekarang sudah santai." jawab Deni pada Papanya.


"Sudah ada jawaban?" tanya Samuel penasaran.


"Belum." jawab Deni kembali tersenyum.


"Senyum lu mencurigakan." Samuel memicingkan matanya.


"Prasangka buruk, senyum itu ibadah." kata Deni membuat Samuel mati gaya.


"Ayo duluan saja ke Mesjid, Kenan sama Nanta lama." Baron tidak sabaran.


"Enak saja mau ditinggal, tunggu sebentar Papa Mertua." kata Kenan berlari kecil menghampiri Baron dan anak-anaknya.


"Nanta mana?" absen Baron dengan mata berkeliling.


"Iya Padeh, aku ada." sahut Nanta ikut berlari kecil.


"Ih making ganteng saja kamu, seperti Padeh muda." katanya memeluk Nanta.


"Hahaha seperti Papanya dong." malah Kenan yang bangga anaknya dibilang ganteng.


"Papanya narsis." kata Baron membuat Kenan mesem-mesem.


"Padeh aku sudah menikah loh." lapor Nanta seperti bocah yang melapor kalau raportnya bagus.


"Kalah kamu sama bocah." katanya Pada Deni, Kenan menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak memikirkan perasaan anaknya.


"Itu sih bukan perlombaan Padeh, jadi tidak ada kalah atau menang." jawab Nanta bijaksana.


"Pintar seperti Papanya." sahut Kenan memandang Baron, mereka sudah keluar rumah berjalan kaki menuju Mesjid.


"Iya itu memang bukan perlombaan, tapi kan ada usahanya. Ini si Deni sudah usaha belum hubungi Dini?" tanya Baron pada Deni.


"Belum lah Pa, nanti dikira aku mendesak." Deni memberikan alasan.


"Begitu saja harus diajarkan, selesai sholat nanti kamu tanya, Dini cukup jawab Iya atau tidak soal lamaran semalam." Baron mengerutkan keningnya.


"Dia minta waktu." kata Deni.


"Kalau Dini minta waktu, kamu simpulkan jawabannya adalah tidak." tegas Baron pada Deni, yang lain menyimak saja.


"Kejam sekali." protes Deni.


"Perlu tegas bukan kejam." jawab Baron, mereka pun mulai memasuki mesjid, percakapan terhenti karena sudah bersiap untuk Sholat.


Deni mengikuti saran Papanya, ia mengirim pesan pada Dini setelah Sholat subuh.


Saya minta jawaban, jadi saya tahu nanti harus datang untuk Ijab Kabul atau tidak, karena itu hari bahagia maka saya tidak mau ada yang merasa terpaksa.


"kalimatnya begini saja ya?" Deni menunjukkan handphonenya pada Nanta.


"Tanya kok sama bocah." protes Baron.


"Bocah juga sudah bikin bocah, istrinya lagi hamil Pa." kata Deni sambil mengirimkan pesannya pada Dini. Kembali menarik nafas panjang, kirim pesan begitu saja jadi timbul debar-debar lagi. Kira-kira apa nanti jawaban Dini.


"Santai Om." kata Nanta menenangkan Om Deni.


"Iya." jawab Deni tersenyum, ingat pesan temannya semalam kalau resah senyum saja biar rileks. Makanya dari tadi Deni mengumbar senyumnya, dan memang benar rasanya lebih rileks.


"Om, jalan pagi yuk." ajak Nanta pada Deni.


"Ayo Om ikut." sahut Samuel semangat.


"Langsung atau bagaimana?" tanya Nanta.


"Langsung saja." kata Deni.


"Pakai sarung begini?" tanya Samuel.


"Memangnya kenapa, kita hanya jalan santai." kata Deni pada Samuel.


"Ya sudah, ayo. Papa dan Padeh mau ikut? kami mau jalan pagi." tanya Nanta pada keduanya.


"Kalian saja, Papa mau ngobrol dulu sama Padeh." kata Kenan menepuk bahu Nanta.


"Bisa ngobrol sambil jalan pagi kan." kata Samuel.


"Kasihan Deni, bisa semua yang lewat tahu permasalahannya. Bapak mertua saya ini kalau bicara suka seperti toa." kata Kenan terbahak merangkul Baron.


"Sudah jadi menantu masih saja seperti dulu bicara seenaknya." Baron menggelengkan kepalanya.


"Tapi sayang kan?" tanya Nanta pada Padeh sambil menaikkan alisnya.


"Ah jangan ditanya nanti kembang kempis lagi hidung Papamu." Kenan terbahak mendengar jawaban Baron.


"Cium juga nih." kata Kenan membuat semuanya terbahak, rusuh sekali mereka dijalan.


"Oke kita pisah arah ya, kami lurus." kata Nanta saat Kenan dan Baron membelok.


"Oke." jawab Baron melambaikan tangannya.


Begitu tiba dirumah, Kenan meminta Baron untuk langsung bersiap saja. Supaya tidak terburu-buru kalau Dini menjawab iya. Apalagi begitu membuka handphone Kenan mendapat pesan dari Jonas supaya tetap datang sebelum pukul sembilan, ia yakin Dini tidak menolak Deni. Hanya saja Kenan bingung bagaimana meyakinkan Deni supaya ia mau melaksanakan Ijab Kabulnya hari ini.


"Sepertinya kita harus pulang." kata Deni tiba-tiba saat membaca pesan di handphonenya.


"Yah kenapa?" tanya Nanta kecewa.


"Pikiran Om kacau nih." kata Deni jujur.


"Kacau bagaimana?" tanya Samuel.


"Otak gue tidak sampai, ini Dini maksudnya apa?" Deni menunjukkan pesan yang dikirim Dini. Samuel menggelengkan kepalanya.


"Lu mau dia jawab apa?" tanya Samuel menyilangkan tangannya didada.


"Kan gue minta dia jawab Iya apa tidak." kata Deni menghela nafas panjang.


"Lihat Om." pinta Nanta pada Deni. Deni menyerahkan handphonenya.


"Pulang saja Om." kata Nanta akhirnya.


"Ayo." kata Deni lagi-lagi menghela nafas.


"Maunya apa sih jadi perempuan rumit sekali." sungut Deni.


"Maunya Om Deni datang." jawab Nanta santai.


"Iya datang mau apa kalau tidak ada jawaban." Deni mulai frustasi.


"Itu jawaban Oncee." kata Samuel kesal.


"Jawaban macam apa, itu namanya mengancam awas saja kalau tidak datang." sungut Deni mengulang pesan balasan dari Dini.


"Pantas Papa bilang elu kalah sama bocah. Masa mesti gue jabarin sih. Lu donlot foto yang dia Kirim dong." omel Samuel pada Deni. Deni menuruti perintah Samuel mendonlot foto yang Dini kirim. Tapi ternyata sudah Dini hapus.


"Om diterima Om, ayo pulang." ajak Nanta menunjukkan pesan yang dikirim Doni pada Nanta.



Bilang Om Deni, Kak Dini sudah dandan nih.


pesan yang dibaca Deni dari handphone Nanta membuatnya ingin berlari cepat, setelah menyerahkan handphone Nanta benar saja ia segera berlari cepat dengan sarungnya, tidak henti mengucap syukur Alhamdulillah, Deni sudah tidak sabar mau bersiap menuju rumah keluarga calon istrinya.


Nanta jadi berkaca-kaca terharu, Samuel juga begitu ikut berkaca-kaca, Nanta dan Samuel saling berpelukan kemudian ikut berlari mengejar Deni yang sudah lebih dulu pulang.