I Love You Too

I Love You Too
Redi



Setelah beberapa minggu berlalu, tepatnya sebulan sudah, Larry tepati janjinya pada Balen, kenalkan adiknya yang baru saja pulang dari asrama. Hari ini Larry melatih Balen berenang ditemani kedua adiknya yang suka tawuran itu. Eh sekarang sudah tidak lagi karena keduanya sudah dipindahkan ke sekolah boarding school yang terkenal dengan aturannya yang ketat.


"Hao Aban..." sapa Balen ramah saat dikenalkan dengan kedua adik Larry. Daniel dan Redi. Daniel sedang duduk dikelas dua belas sedangkan Redi masih di kelas tujuh. Redi yang ingin Larry jodohkan dengan Balen supaya tidak lari kemana-mana.


"Balen, cakep tidak Abang Redi?" tanya Larry jahil.


"Hmm..." Balen tersenyum saja sambil mengangkat alisnya tidak menjawab lebih.


"Kalian masih suka tawuran?"tanya Mike to the point.


"Mau tawuran sama siapa? tidak ada musuhnya" Daniel terkekeh.


"Adek tata catep semuana." Balen gelengkan kepalanya membuat Larry terbahak.


"Jadi Aban Leyi masih paling cakep tidak?" tanya Nanta pada adiknya.


"Iya don." jawab Balen acungkan jempolnya, rupanya Larry tetap juaranya.


"Ish semua orang bilang aku yang paling cakep." desis Redi tidak terima.


"Loh Balen menilainya begitu, jangan komplen dong. Ayo Balen kita mulai." ajak Larry pada Balen, siap untuk berenang.


"Aban Danil ama Aban Ledi beenang juda ndak?" tanya Balen pada kedua pria tampan yang baru saja dikenalnya, sudah langsung akrab saja gaya Balen.


"Aku tidak." Daniel gelengkan kepalanya.


"Yah beenang aja semuana, ayo." ajak Balen.


"Tidak bawa baju ganti, lain kali saja dek." Daniel tersenyum.


"Kenapa panggil Adek?" tanya Redi sebal, Dari awal diajak Larry sudah sebal, apalagi Larry bilang mau jodohkan Redi sama Bocah kecil yang bicara saja masih belepotan.


"Masih kecil ya panggil Adek lah." Daniel tertawakan Redi yang terlihat resah.


"Baen, Abang Redi juga pernah jadi model pakaian loh." Larry promosikan Redi pada Balen.


"Masut tipi ndak?" tanya Balen.


"Tidak, di majalah saja." jawab Larry tertawa.


"Aban Ledi talo Baen masut tipi don bental ladi." pamer Balen pada Redi.


"Ya." jawab Redi malas.


"Mo iat don Aban Ledi di majaah." pinta Balen pada Larry.


"Ada di handphonenya minta saja." kata Larry pada kesayangannya.


"Kasih liat Red." perintah Larry pada adiknya, dengan gaya malasnya Redi perlihatkan fotonya pada Balen.



"Ya ampun, secatep ini." Balen gelengkan kepalanya.


"Tewen." kata Balen lagi acungkan jempolnya.


"Keren sih kalau tidak tawuran." celutuk Mike.


"Sudah insaf Mike, gue jitak juga nih." kesal Larry pada sahabatnya. Mike dan Nanta langsung terbahak.


"Ayo Aban Ledi tita beenang." ajak Richie menarik tangan Redi.


"Malas ah." kata Redi, tapi tidak lama dibukanya juga pakaiannya karena melihat Larry melotot.


"Tamu bisa beenang juda, ndak?" tanya Richie pada Redi.


"Bisa." jawab Redi bersiap melompat ke kolam.


"Ajain atu ya." pinta Richie, sementara Daniel tertawakan Richie.


"Pantas saja Abang betah, mereka berdua lucu-lucu." kata Daniel masih tertawa.


"Niel, mereka adik kalian juga loh ya, bantu jaga kalau kita sedang sibuk." tegas Larry pada kedua adiknya.


"Iya." jawab Daniel menurut, kedua adik Larry terlihat patuh pada Abangnya.


"Aban Mike, beenangna pinten nih Ledi." kata Richie seakan Redi seumuran dengannya.


"Kok jadi Ledi namaku seperti wanita saja." keluh Redi membasuh wajahnya.


"Hahaha terima nasib sampai mereka bicaranya lancar ya Redi." Nanta terbahak.


"Iya." jawab Redi, masih menjaga jarak dengan Balen, masih tidak terima mau dijodohkan dengan bocah.


Richie beneran abaikan Mike, dia sibuk belajar berenang dengan Redi. Senang sekali dapat teman baru.


"Ledi talo atu dayana dini boeh tan?" tanya Richie sambil berenang gaya punggung.


"Boleh, tapi gerakannya begini." Redi membenarkan, tidak ambil pusing Richie hanya memanggil nama tanpa embel-embel Abang.


"Tamu mo atu pandil aban?" tanya Richie pada Redi.


"Terserah saja." jawab Redi tertawa.


"Tidak apa kok Tante." kata Redi lagi pada Nona.


"Kamu pintar berenang juga ya seperti Abangmu." Nona acungkan jempolnya.


"Semua dirumah bisa berenang Tante." sahut Larry tersenyum.


"Talo Aban Leyi batet, Aban Ledi aja ajain Baen." pinta Balen pada Redi.


"Abang Redi sekolahnya di boarding school, hanya bisa ikut kalau lagi liburan." kata Larry pada Balen.


"Baen mo sekoah don Mamon." pinta Balen pada Nona.


"Belum cukup umur, nanti kalau sudah cukup umur kamu masuk TK dulu." jawab Nona.


"Atu tuwiyah ajah Mamon." teriak Richie minta kuliah. Semua tertawa mendengarnya.


"Iya sebelum kuliah masuk TK dulu." kata Nona terkekeh. Tinggalkan Balen dan yang lain kembali Ke dalam.


"Balen sudah bagus tuh berenangnya." komentar Daniel kagumi Balen.


"Siapa dulu dong pelatihnya." Larry banggakan diri.


"Aban Leyi Baen." sahut Balen membuat semuanya terbahak.


"Fans berat Larry dia." kata Nanta pada Daniel.


"Abangku memang banyak fansnya, tapi tidak sangka ada bocah juga." Daniel terbahak.


"Kamu sebentar lagi kuliah ya?" tanya Nanta.


"Tahun depan, baru masuk kelas dua belas." jawab Daniel.


"Mau kuliah dimana?" tanya Nanta.


"Aku mau ke Ohio ambil business." jawab Daniel mantap.


"Keren, jauh sekali di Ohio." celutuk Mike.


"Biar tidak tawuran Mike." sahut Larry terkekeh.


"Duh aku tuh tawuran beberapa tahun lalu, tapi sampai sekarang masih disebut saja." Daniel terkekeh.


"Karena beberapa kali aku ditemani Mike ke kantor polisi." dengus Larry ingat dulu.


"Oh Abang toh yang ikut. Makasih ya, kalau tidak ada Abang pasti aku babak belur di hajar abangku." Daniel terkekeh.


"Ini lagi si Redi ikut-ikutan besokannya." omel Larry.


"Keluargaku di bilang tidak benar, ya aku hajar saja." jawab Redi.


"Tidak benar bagaimana?" tanya Nanta.


"Karena Daniel beberapa hari dikantor polisi." jawab Redi. Nanta terkekeh mendengarnya.


"Sayang keluarga juga kamu." kata Mike pada Redi.


"Kalau begitu bolehkan ajak ribut, membela kehormatan keluarga loh." Redi membela diri.


"Tidak sampai bikin anak orang babak belur juga." kata Larry gelengkan kepalanya.


"Harus lebih sabar, murah senyum." kata Nanta pada Redi.


"Aban Ledi beum senum ama Baen dai tadi." celutuk Balen membuat Daniel terbahak.


"Senyum Lady Di." goda Daniel tertawakan Redi, semua jadi ikut tertawa mendengar Redi di panggil Lady Di.


"Aku baru mau senyum kalau kamu bicaranya sudah lancar." ketus Redi kesal, karena Balen ia dipanggil Lady Di, Kembali semuanya terbahak.


"Anat tecil nomon ndak ancal mah ndak apa tau. Talo Baen udah dedek tuh bau deh omonna ancal." oceh Balen pada Redi.


"Benean dia adekna Aban Leyi?" tanya Balen pada Larry.


"Iya cakep kan?" Larry tertawa.


"Catep tapi bitin Baen tesel." gerutu Balen membuat semuanya terbahak. Sementara Redi berlagak acuh kembali ajari Richie berenang.


"Ledi, Tatak atu Baen catep tau, talo dedek tamu natsi deh." kata Richie acungkan jempolnya.


"Apa Chie?" tanya Mike ingin Richie mengulang perkataannya.


"Ini pembicaan anat tecil aja." jawab Richie membuat Mike terjun ke kolam mendekati Richie dan menciuminya gemas.