
"Papa..." teriak Nanta melalui sambungan video. Wajahnya tampak sumringah sudah dua minggu ini tinggal di Jakarta.
"Senang sekali jadi anak Jakarta." kata Kenan terkekeh melihat ekspresi anak bujang kesayangannya.
"Aku tidak di asrama, tempat latihannya dekat sekali dengan rumah Bunda." kata Nanta senang.
"Pantas saja, senang dekat Ayah dan Bunda. Kamu sudah telepon Mama, Boy?" tanya Kenan pada Nanta.
"Setiap hari Papa." Jawab Nanta dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya.
"Aih curangnya, sudah dua minggu baru berapa kali kamu menghubungi Papa." protes Kenan menggoda Nanta.
"Mama setiap hari menghubungi aku, Papa kan tidak." jleb Kenan terdiam tak bisa mendebat Nanta.
"Aku juga menghubungi kamu setiap hari, Nan." kata Nona tidak mau kalah.
"Hahaha iya, Kak Nona dan Mama selalu menghubungi aku. Tahu tidak sepatuku bertambah loh, Kak. Kemarin dibelikan Ayah Eja." celoteh Nanta pada Nona, tambah ceria saja menceritakan sepatu baru.
"Kamu bawa sepatu berapa dari Malang?" tanya Nona ikut semangat.
"Tiga, kan yang satu ku kasih teman basket dari daerah lain karena sepatunya jebol, eh sorenya Ayah Eja bawakan aku sepatu baru yang lebih bagus." Nanta tersenyum dengan manisnya.
"Oh iya, Papa. Aku mau lanjutkan sekolah dan kuliah disini saja, Nanti kuliahnya di kampus Ayah Eja, boleh kan? Kata Mama tanya sama Papa." kata Nanta langsung beralih pada Papanya yang hanya menyimak pembahasan mengenai sepatu.
"Kenapa mau pindah sekolah di Jakarta? Papa dan Mama kan ada di Malang." tanya Kenan ingin tahu alasan Nanta.
"Lebih mudah untuk urusan basket aku, Pa." kata Nanta menjelaskan sambil membujuk Papa agar mengijinkan Nanta untuk kuliah di Jakarta nantinya. Padahal tahun depan Nanta lulus sekolah menengah.
"Selain itu, Nanta ini sudah aku tidak bisa jauh dari kami, Kenan." teriak Enji yang rupanya sedang berada dirumah Kiki, ia tampak berdiri dibelakang Nanta.
"Ish Kak Enji ini pantang menyerah sekali." Kenan terkekeh menggelengkan kepalanya.
"Bukan tentang Jelita, tenang saja. Untuk keponakanku saja anaknya Liana. Kamu kenal Liana sepupuku, istrinya Leo? Mereka hanya beda usia dua tahun." Enji duduk disebelah Nanta sambil merangkul bujang kesayangan Kenan.
"Tidak terlalu, hanya tahu saja." jawab Kenan apa adanya.
"Nah Wilma sekarang pacaran sama Nanta uhuiii." teriak Enji seru sendiri, membuat Kenan dan Nona terbahak.
"Apa sih Ame, kami hanya berteman." Nanta jadi senyum-senyum malu mendengar perkataan Enji sambil menggelengkan kepalanya memandang Nona dan Kenan dari seberang.
"Kak Enji, Nanta tidak boleh pacaran sama Oma nya. Pasti langsung dinikahkan kalau pacaran." kata Kenan sambil cengar-cengir sekaligus menggoda Nanta.
"Tunangan saja dulu seperti Raymond dan Roma." kata Enji semangat.
"Wilma teman baruku disini, Pa. Ame selalu saja bilang kami pacaran." sungut Nanta sesaat tapi kemudian tersenyum kembali saat Enji mencubiti pipi Nanta.
"Iya, Papa percaya." jawab Kenan kembali terkekeh, senang sekali melihat Enji menggoda Nanta.
"Kamu ya, awas kalau tidak jadi sama Wilma." Enji mengacak anak rambut Nanta gemas, Kemudian kembali bergabung dengan Kiki dan sahabatnya yang lain.
"Bagaimana Boy?" tanya Kenan sepeninggalan Enji.
"Aku hanya berteman dengan Wilma." kata Nanta kembali menjelaskan.
"Bukan itu, maksud Papa rencana sekolah dan kuliah di Jakarta." Kata Kenan dengan wajah serius.
"Boleh ya, Pa?" bujuk Nanta.
"Ayah Eja sama Bunda Kiki memangnya mau menampung kamu?" tanya Kenan, padahal tahu abangnya pasti sangat senang Nanta tinggal dirumahnya.
"Justru Ayah yang kasih ide aku sekolah dan kuliah di Jakarta, nanti ayah juga mau mengajarkan aku berbisnis, seperti ayah muda dulu, Pa." kata Nanta lagi semangat.
"Mau sekolah dimana? apa satu sekolah sama Wilma?"
"Cantik orangnya?" dasar Kenan mulai mancing-mancing.
"Aku tidak mau bahas Wilma, nanti Papa kira aku pacaran." tegas Nanta.
"Ih Papa hanya tanya, cantik tidak teman baru kamu itu. Papa tidak pernah lihat kamu berteman dengan perempuan loh. Makanya Papa jadi penasaran."
"Orangnya asik, seperti Kak Nona." selalu saja Nanta menyebut orangnya asik jika sudah menyukai seseorang.
"Berarti cantik." kata Nona mulai narsis.
"Ish memuji sendiri." Nanta mentertawakan Nona. Kenan dan Nona ikut tertawa.
"Jadi mulai sekarang kamu kembaran sepatu sama Wilma?" Nona mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap.
"Tidak, belum hahaha." Nanta tertawa sendiri.
"Suruh saja dia beli yang kita sudah punya koleksi sepatunya, jadi kembar bertiga." Nona memberi ide.
"Iya nanti aku bilang. Kalau dia minta kembaran." kata Nanta pada Nona.
"Pa, boleh ya pindah sekolah." bujuk Nanta lagi.
"Papa bahas dengan Mama dan Om Bagus dulu ya. Kalau sudah ada keputusan Papa kabari kamu." kata Kenan pada Nanta.
"Secepatnya ya Pa." aih tidak sabaran minta Papa memberi keputusan secepatnya, Kenan tampak menyeringai.
"Sudah tidak sabar betul mau satu sekolah dengan Wilma, Boy?" Kenan bertanya sambil bersedekap. Sepertinya Nanta jatuh hati pada Wilma.
"Ih Papa, apa sih." Nanta tampak malu-malu.
"Sekolah yang benar Boy, kamu harus tambah pintar dan berprestasi kalau naksir cewek. Supaya tidak direndahkan oleh orang lain nantinya." Kenan teringat pengalamannya, saat kalah sukses dengan Reza dulu, betapa Ibunya Sheila sangat merendahkan Kenan dan sangat menyesal ketika Sheila tidak jadi dengan Reza.
"Iya, Pa." jawab Nanta tidak membantah.
"Ada cerita apa lagi?" tanya Kenan kemudian.
"Kalau aku tanding nanti, Papa dan Kak Nona ke Jakarta tidak?" tanya Nanta pada Kenan.
"Kalau akhir pekan Papa dan Kak Nona ke Jakarta. Kalau hari Kerja Papa tidak bisa datang, mungkin Kak Nona saja." kata Kenan memutuskan.
"Kalau hari kerja, Mama boleh ijin kantor, melihat aku bertanding?" Nanta meminta ijin Papanya agar Mamanya bisa ikut ke Jakarta.
"Boleh Boy, nanti Mama dan Kak Nona yang akan ke Jakarta, entah Om Bagus bisa ikut apa tidak." kata Kenan tersenyum lebar.
"Mungkin menjelang pertandingan aku baru masuk asrama. Tidak tahu bisa menerima telepon apa tidak. Setelah bertanding semoga sudah ada persetujuan kepindahanku ke Jakarta." Nanta tampak berharap.
"Kamu bersemangat sekali Boy, apa tidak kasihan lihat Papa dan Mama kesepian? terutama Mamamu."
"Mama sudah ada Om Bagus, Papa sudah ada Kak Nona." Nanta tertawa sendiri.
"Memangnya kenapa kalau ada aku, Nanta. Tetap saja kurang seru kalau kamu jauh." keluh Nona apa adanya. Kadang ia suka merindukan Nanta. Bagaimanapun ia lebih dulu dekat dengan Nanta dibanding Kenan.
"Ajak Papa saja kembaran sepatu, biar seru." kata Nanta pada Nona.
"Bukan itu saja, Papa kamu tidak suka anime." kata Nona terkekeh "Dan tidak tertarik dengan sepatu. Nonton bioskop pun tidak begitu suka, lebih suka nonton dirumah. Teman makan es krim ku juga menghilang, Nantaaa." keluh Nona sedikit keberatan Nanta pindah ke Jakarta.
"Kak Nona, bikin aku berpikir ulang. Padahal tadi aku sudah mantap. Aku pikir semua tidak akan sedih kalau aku pindah." kata Nanta tidak tega melihat ekspresi Nona.
"Aku sedih Nanta. Tapi kalau kamu memaksa aku bisa apa." Nona tampak sendu.
"Tidak apa, kalau memang baik untuk Nanta. Tapi tetap akan Papa pikirkan dan diskusikan dengan Mama dulu. Karena ini keputusan bukan main-main. Kamu bahkan ingin sekolah di Jakarta, kalau hanya kuliah saja masih oke. Tapi pindah sekolah itu benar-benar harus Papa bahas lagi." kata Kenan kemudian mereka memutuskan sambungan video.