I Love You Too

I Love You Too
Barbar



"Jangan suka kasih harapan sama anak orang, Nji." celutuk Andi yang melihat raut wajah Erwin berharap. Andi berusaha menggoda Erwin supaya raut wajahnya kembali normal. Tapi dasar Erwin, masih sibuk dengan degup jantungnya. Pak Burhan dan Bu Burhan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Enji yang ceplas ceplos dan spontan suka melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga oleh mereka.


"Ya kalau Erwin mau, kalau ga mau ya aku cari yang lain." jawab Enji santai. Langsung saja Bu Burhan menjewer telinga anak gadisnya.


Kini Monik dan Intan, juga sang suami bergabung di ruangan VIP, bersama orang tua mereka, termasuk Anto yang menjemput paksa Mama Papanya dari Canada.


"Pak Burhan, terima kasih sudah datang. Maaf lama menunggu." Papa Alex datang menghampiri Pak Burhan dan mengajaknya untuk pindah meja. Jadilah para orang tua bergabung dalam satu meja, anak muda menjelang tua tetap dimeja semula.


"Kenapa si Ranti?" tanya Alex pada Reza dan rombongannya, karena tak tahu Ranti bermasalah dengan siapa.


"Yang tadi kuyub itu mas, teman kamu?" tanya Monik ingin tahu.


"Mantan pacarnya Seno sahabat aku."


"Shock terapi sedikit dari aku." jawab Enji sambil memperlihatkan video yang ada dihandphone pada Monik dan Alex.


"Kumat." Gumam Alex nyaris tak terdengar.


"Client mas Alex ya? Maaf mas Alex, Ak..."


"Bukan salah kamu Ki." jawab Alex memotong ucapan Kiki.


"Salahnya pada wajahmu itu yang mirip mocca istrinya seno." sambung Anto yang juga ikut menonton Video dihandphone Enji.


"Seno??? kok aku ga kenal? Kamu ga undang?" protes Monik.


"Tinggal di Bali dia sekarang. Istrinya baru melahirkan anak kedua. Dia Teman lama waktu kita lagi nakal-nakalnya hahaha." Anto mewakili Alex sambil terbahak mengenang nakalnya mereka dulu yang hampir setiap malam ke club dan pasti dikelilingi para wanita disana.


"Iya insyaf kita pas Seno bikin ulah. Malam itu dia mabok, Mocca sekretaris barunya malam itu ikut ke club terus hamil. Ranti sempat depresi karena Seno. Mungkin saat lihat Kiki, langsung depresinya kambuh." Alex menjelaskan pada Reza dan semua yang ada disitu.


"Emang mereka selingkuh?" tanya Intan mulai kepo.


"Mocca juga terpaksa saat itu, korban maboknya seno dia, bukan karena selingkuh dengan Seno, kasihan juga. Alhamdulillah sekarang sudah mau dua anaknya. Bikinnya ga pakai mabok pasti itu yang kedua." Anto ikut menjelaskan.


"Kalian ada disitu waktu itu?" tanya Monik.


"Ada, memang kita janjian. Seno habis meeting jadi langsung ke club. Tapi kita ga nyangka akan ada kejadian itu. Siapa yang menduga, Seno yang selalu datang sama Ranti, malam itu dia ajak Mocca karena habis ketemu client." jawab Alex.


"Kamu sama cewek juga malam itu?" tanya Monik menginterogasi suaminya.


"Belum kenal kamu waktu itu kan sayang." Alex tersenyum membelai rambut Monik tanpa menjawab pertanyaan istrinya. Yang lain hanya tersenyum tak mau terlibat melihat interaksi Monik dan Alex.


"Lu To?" Intan mulai terprovokasi.


"La lu, Ta to." Anto menyentil dahi istrinya. Semua yang ada disitu tertawa dibuatnya, sementara Intan bersungut.


"Jangan ngomong lu gue lu gue lagi, jangan panggil nama juga bisa ga." bisik Anto merangkul Intan dengan manisnya. Membuat Erwin ingin merangkul Enji, apalah daya tangan tak sampai.


"Ok sayang." jawab Intan dengan nada dibuat buat.


"Lawak banget sih, aku serius." kata Anto sedikit kesal.


"Iyaaa suamiii." jawab Intan lagi. Anto tersenyum dibuatnya mencubit pipi Intan gemas.


"Balik lagi ke Ranti, dia itu kalau nelpon Kak Eja kaya lagi neror loh mas Alex, aku aja istrinya ga pernah nelpon sesering itu." Kiki mengadu pada Alex.


"Curcol." celutuk Erwin


"Ih kak Erwin beneran, kemarin malah bilang kangen." sungut Kiki.


"Widiiih Eja, fans lu bertambah Ja." goda Andi.


"Bukan gitu, mungkin dia penasaran karena hasil kerjanya gue komplain."


"Loh depresi bisa kerja mas?" tanya Monik heran.


"Dia kan sudah sembuh. Mungkin mulai buka hati untuk Reza, eh malah cowok yang disuka sudah punya istri. Mirip lagi istrinya sama mocca."


"Tuh kan kak, blokir aja nomornya." Kiki mulai khawatir.


"Nasib lu Ki, baru seminggu nikah sudah ketemu psiko dua kali." celutuk Intan sambil tertawa, semua pun tertawa mendengarnya. Benar juga mereka hampir saja lupa sebelumnya Kiki diserang di mal oleh tante Retno.


"Beruntungnya gue ditemani cewek barbar dua kali juga." jawab Kiki tanpa ekspresi.


"pffftttt...." hampir saja Anto menyemburkan minuman dimulutnya mendengar istrinya dikatakan barbar. Sementara Enji dan Intan hanya tertawa tanpa rasa bangga.


"Nji jadi lu serius mau nikah sama Erwin?" tanya Andi mulai mengorek Enji.


"Tergantung..." jawab Enji santai.


"Tergantung gimana?" tanya Erwin, Ciee Erwin prikitiwww.


"Lu berani ga punya istri barbar kaya gue?"


"Siapa takut."


"Kalau ada yang gangguin gue atau orang yang gue sayang, gue bisa spontan kaya tadi, ga perduli tempat. Pikir dulu aja."


"Wah kak Enji, kamu sayang sama aku dong." celutuk Kiki terharu.


"Sepertinya begitu." jawab Enji


"Duh pengen peluk tapi jauh." Kiki berkaca-kaca.


"Peluk aku aja yang dekat sayang." Reza langsung memeluk istrinya. Regina duduk didepan Kiki tersenyum memandangnya.


"Rere jangan iri ya, minta peluk Mario sana." Andi yang melihat Ekspresi Regina mulai menggoda. Mario hanya tersenyum memandang Regina disebelahnya, mendekatkan wajahnya lalu mengernyitkan hidungnya jahil.


"Gue mau aja meluk Rere Ndi, tapi kasihan lu sama Erwin." kata Mario kemudian.


"Rezeee..." Erwin menggaruk kepalanya.


"Lu jangan kelamaan mikir Win, nanti lu diblokir lagi." kata Andi menyindir Erwin yang sudah diblokir Sheila.


"Hahaha Rese." Erwin terbahak menggelengkan kepalanya.


"Waduh Ndi, kalau Erwin segera menikah, kamu jomblo sendiri diantara kita." goda Alex


"Nah itu mas Alex, maunya LDR sih Andi, sama yang dekat ga mau." sahut Erwin


"Siapa yang dekat?" tanya Andi


"Adiknya Wisnu." jawab Erwin.


"Hmmm kalau belum ketemu Cindy sih, hampir gue jadiin kakak ipar lu win. Sayang aja pipit ga bisa nyanyi."


"Hahahha pipit ya, dia ga suka musik, sukanya olah raga sama kaya wisnu."


"Oh iya wisnu ga datang juga nih mas." tanya Reza pada Alex baru sadar sahabatnya itu tak terlihat batang hidungnya.


"Masih jagain ibunya, kasihan si tante belum ada perubahan." jawab Alex prihatin.


"Besok kita besuk friend, senin jadi ke Bali kan?" tanya Mario memastikan.


"Jadi dong." Jawab Monik dan Intan berbarengan seperti sedang berduet.


"Ya sudah checkout pagi ya, mau langsung besuk atau balik kerumah dulu?" tanya Andi.


"Langsung aja Ndi, kalau sudah dirumah malas keluar lagi." jawab Reza membayangkan aktifitas barunya jika sedang berdua Kiki.


"Hmm sudah punya mainan dirumah sih gitu ya." celutuk Erwin.


"Maksud lu, istrinya mainan gitu? Sembarangan." Enji menjewer telinga Erwin, meniru apa yang dilakukan bu Burhan tadi, semua kembali tertawa.


Beneran Barbar kamu Nji😂