
"Aku ke Mama dulu deh Pa." ijin Nanta pada Papa, karena waktu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin, kunjungi Mama, Om Bagus dan Wulan.
"Mamon juga belum ke Padeh. Duh waktu sempit begini, tidak sowan rasanya bagaimana ya." Nona langsung rusuh.
"Coba kamu hubungi Mamamu, kita ajak makan saja. Kamu juga sayang hubungi Papamu. Papa hubungi Oma." jawab Kenan mulai bagi tugas ajak semuanya makan malam bersama supaya bisa sekalian kumpul. Semua yang di hubungi sudah setuju untuk susuli Kenan dan keluarganya di restaurant langganan mereka di Kota Malang.
"Nah kalau begini kan aman." Nanta langsung senang mendengar semua bisa datang penuhi undangan mereka yang sudah mendekati Restaurant.
"Baen temu ulan don." Balen langsung joget-joget senang bertemu dengan Wulan yang selama ini hanya bisa bicara via telepon.
"Ulan pintel dambal loh Baen." kata Richie pada Balen.
"Iya Baen tau." jawab Balen.
"Atu ndak suta dambal Papa." lapor Richie pada Papanya.
"Sukanya apa dong?" tanya Kenan.
"Sutana olah lada." jawab Richie membuat Nanta mengajaknya Tos.
"Ichie mau jadi atlet seperti Abang?" tanya Nanta.
"Boeh ajah." jawabnya sok jual mahal.
"Bukan boleh saja kalau mau ya bilang mau, belajar berenangnya yang serius, belajar basket juga serius." tegas Nanta pada adik bungsunya.
"Haus jadi atet emanna?" tanya Balen mengkerut.
"Tidak, terserah saja mau jadi apa asal baik. Tapi kalau tekuni sesuatu harus serius." Nanta mulai memberi kuliah singkat pada Balen.
"Baen sius beajal beenang, tapi ndak mo jadi atet." jawab Balen.
"Iya, itu Bagus belajarnya serius. Mau jadi apa?" tanya Nanta.
"Isti Aban Leyi." jawabnya membuat Nanta gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Aban Leyi mau nikah tuh sebentar lagi, Baen cari yang lain saja." jawab Nanta tersenyum, pikirnya mana mungkin Larry sama Balen, singkong rebus juga cita-citanya kenapa rumit sekali mau jadi istri Larry.
"Baen sama sapa don istina?" bingung sendiri karena Larry mau menikah.
"Ya kamu nanti kalau sudah besar cari yang lain saja, jangan sama Ban Leyimu itu." kata Nona terkekeh.
"Mamon ndak suju ya?" tanyanya membuat Kenan gelengkan kepala, bisa-bisanya tanya tidak setuju.
"Mama Papa aban Leyi juga tidak setuju." jawab Nona asal, yang penting Balen tidak pikirkan jadi istri Larry.
"Ya udah sama Aban Danil aja deh." jawabnya membuat Kenan berdehem.
"Aban Danil mah mo te Amita Baen, ndak ajat Baen jadi isti." sahut Richie.
"Sekolah dulu kerja dulu nanti cari suami yang tanggung jawab sama takut Allah." kata Nona pada anaknya.
"Suami apaan sih Mamon?" jiah mau jadi istri tapi tidak tahu suami itu apa, Kenan terkekeh.
"Kamu tahu arti istri tidak sih?" tanya Nona akhirnya.
"Isti itu tan taya Mamon, talo udah jadi isti peutna ada adena." jawab Balen tunjuk Dania. Semua tertawa dibuatnya.
"Kalau Mamon istri, Papon suami." Nona menjelaskan.
"Oooh beati Aban Leyi suami don." langsung tertawa tidak jelas, tapi yang lain tertawa juga.
"Iya tapi bukan suami Balen." jawab Nanta cepat.
"Suami istina ya nanti?"
"Iya." jawab Nanta.
"Istina Baen." tetap saja minta dicubit.
"Sama Redi baru kamu cocok." kata Nanta malah ladeni adiknya.
"Tapi Baen beajal nomon duu." jawabnya ingat Redi tidak mau senyum kalau Balen belum bisa bicara
"Belajar ngomong, belajar disekolah, baru deh pikirkan Redi." jawab Mamon ikutan nimbrung, sama saja seperti Nanta.
"Balen harus masuk playgroup nih, supaya tidak kebanyakan gaul sama suami istri." kata Kenan pada Nona.
"Balen kamu masuk playgroup ya, biar punya teman. Setelah itu masuk TK, tambah banyak deh teman Balen." kata Nona pada Balen.
"Ote." jawabnya.
"Ndak ah, Baen beenangna ama Aban Leyi aja." Balen langsung menolak.
"Kalau Abang Larry punya istri belum tentu bisa ajari kamu seperti sekarang loh Baen." kata Nanta ingatkan adiknya.
"Aban aja ajain talo Aban Leyi puna isti." jawab Balen santai.
"Mau diajari Abang?" Nanta terkekeh.
"Atu aja yan ajain Baen, atu bisa tan udah beajal juda." Richie menawarkan diri.
"Ya udah Aban ama Ichie." jawab Balen lagi santai saja tanpa beban.
"Talo Baen jadi tatakna Aban tuh balu bisa jadi isti Aban Leyi." kata Richie lagi.
"Tidak bisa dong, Balen jadi lebih tua dari Abang, berarti lebih tua dari aban Leyi juga."
"Bisa ajah, tutelan, aban anat tecil, Baen anak dedek." jawab Richie.
"Halu ah." celutuk Nona.
"Papon napa sih aban yan lahi duuan, hausna Baen don Papon." langsung komplen sama Papon.
"Memangnya Papon bisa atur." jawab Kenan terbahak.
"Nanti kalau sudah besar Papon yang carikan suami, kamu mau seperti apa, Aban Leyi?"
"Iya."
"Oke. Nanti Papon carikan sekarang kita pesan makan dulu, sambil tunggu yang lain datang. Ingat ya Aban Leyi itu Abang kamu juga. Jangan pernah berpikir untuk jadi istri Larry lagi." tegas Kenan pada Balen.
"Ote." jawab Balen setuju. Dasar labil sebentar mau sama Larry sebentar mau sama yang lain.
"Baen!!!" panggil Ulan yang baru saja datang, berlari mengejar Balen, keduanya saling berpelukan seperti teletabis. Sementara Tari tampak datang dengan perut membesar digandeng oleh Bagus.
"Ya ampun, kamu hamil juga?" Kenan terkekeh melihat Tari.
"Kan aku sudah bilang Papa." protes Nanta.
"Papa lupa, sepertinya sebentar lagi melahirkan ya?" tanya Kenan pada Tari dan Bagus.
"Bulan depan." jawab Tari terkekeh.
"Aku ke Malang lagi dong." Nanta menatap Papa.
"Ijin saja sama Ayah." kata Kenan ingat tadi Reza bilang apa.
"Mama kalau melahirkan weekend saja, aku sulit ijin kantor nih." kata Nanta pada Tari.
"Kalau Mama melahirkan hari biasa kamu datang saja weekend." jawab Tari santai.
"Oke." Nanta boleh tenang.
"Opon!!!" teriak Balen melihat Baron dan Mita datang ditemani Vicky.
"Mas Vicky libur?" tanya Nanta hampiri sepupunya.
"Iya tapi besok sudah ke Aussie lagi." jawab Vicky.
"Sama dong aku juga besok pagi ke Jakarta." Nanta terkekeh. Sedang asik ngobrol keduanya langsung menghampiri Opa Dwi dan Oma Nina.
"Datangnya bisa berdekatan gini." Nanta tertawa memeluk Oma dengan erat.
"Nanta Oma sesak nih." teriak Oma Nina membuat Nanta mengendurkan pelukannya tapi ciumi Oma berkali-kali.
"Antri tuh Nan." kata Vicky tunjuk yang lain sudah berbaris ingin salami Oma Nina.
"Aku kangen Oma." kata Nanta kemudian salami Opa tanpa ciuman berkali-kali cukup sekali saja.
"Aku juga kangen Opa." kata Nanta membuat Opa terkekeh.
"Sudah punya cicit nih uyut." kata Kenan pada Mama dan Papanya.
"Kalian tidak menginap di rumah kah?" kata Oma lagi dengan wajah garang.
"Menginap dong." jawab Kenan.
"Oh Mama kira ajak makan karena mau menginap ditempat lain, baru saja mau Mama semprot." kata Oma Nina membuat Nanta terkekeh.
"Emanna tita namuk, disempot-sempot." kata Balen membuat semua terbahak. Oma jadi hampiri Balen dan ciumi cucunya berulang kali, gemas sama si kenes Balen.