
"Kenapa dimatikan?" tanya Deni saat Balen menutup sambungan teleponnya dan Larry.
"Ladi setin Aban Leyi Baen." jawabnya pada Om Deni.
"Tadi siapa yang angkat teleponnya? kok suara perempuan?" tanya Dini.
"Tatak Pemi." jawab Balen santai.
"Napa Tatak Pemi yan antat teponna ya?" bertanya pada diri sendiri.
"Ladi setin soanna." jawab sendiri.
"Tapi napa ada Tatak Pemi dimobin aban Leyi Baen?" kembali tanya sendiri.
"Karena Kakak Femi calon istri Abang Larry." spontan Nanta jawab begitu.
"Eh istina Baen tau." tidak terima.
"Balen cari yang lain saja. Masih ada Daniel dan Redi." Nanta tertawa menggoda Balen.
"Suju memanna ama Aban Danil?" kembali bertanya setuju apa tidak.
"Ya lihat nanti saja kalau Balen dan dua Abang itu sudah besar."
"Baen ndak mo Ledi." gelengkan kepala karena Redi kurang ramah.
"Maunya siapa?" Deni terbahak.
"Aban Leyi." jawabnya pasti.
"Tidak bisa Abang Larry sudah pilih yang lain." dasar para pria dewasa malah tanggapi ocehan bocah.
"Napa ndak piih Baen sih." bersungut kesal.
"Balen masih kecil sih, makanya cepat besar dong." Dini mencubit pipi Balen gemas.
"Papooon, suju ndak ama Aban Daniel?" teriak pada Papon yang sedang bicara dengan Mamon.
"Iya." jawab Kenan main iya saja karena tidak begitu paham maksud Balen.
"Suju dia." langsung joget-joget.
"Genit ah." Nanta bersungut.
"Aban ndak suju?" tanya Balen pada Nanta.
"Kalau besar baru setuju, sekarang kan masih kecil." jawab Nanta sodorkan roti unyil pada Balen.
"Nanti habis magrib aku ke hotel ya Om, pada menginap disana."
"Kenapa pulang?" tanya Deni pada Nanta.
"Ini loh, antar roti unyil untuk Balen dan Richie." jawab Nanta.
"Istrimu saja sudah tidur, Nan." kata Dini pada Nanta.
"Iya, berarti lihat sikon deh, kalau Dania malas tidak jadi ke hotel." Nanta terkekeh.
"Nanti ditungguin." Deni khawatir.
"Biar saja Dania nanti yang hubungi Papa Micko." jawab Nanta serahkan pada istrinya yang sudah masuk kamar dari datang tadi setelah sebentar ngobrol dengan Kak Dini dan Om Deni.
"Papon matasih ya." Balen datangi Papon dan peluk erat.
"Makasih kenapa nih?" tanya Kenan bingung.
"Papon suju Aban Daniel." jawabnya mencium Papon.
"Ih kapan Papon bilang setuju." bingung sendiri tapi balas ciumi Balen.
"Tadi yan Baen tiak, Papon bilan iya." protes karena Papon sudah bilang iya.
"Waduh." jadi menepuk dahinya sendiri karena tadi main iya saja.
"Tunggu besar dulu Balen, nanti kalau sudah besar kamu bisa saja pilih yang lain lagi."
"Ndak." gelengkan kepala padahal belum mengerti juga.
"Kasihan deh Aban Leyi nya sudah mau punya istri." Deni konyol menggoda Balen.
"Biain, Baen juda puna isti." tidak mau kalah dengan Larry.
"Balen bukan punya istri dong, Balen kan perempuan." Dini tertawa melihat Baen.
"Abisna apaan?"
"Balen punya Unta." jawab Nanta tertawakan Balen.
"Baen bobona ama Unta don." langsung ingat Untanya.
"Iya dong, Abang Leyi sama istrinya." jawab Deni lagi.
"Beum, tan beum tondanan." semua tertawa mendengar jawaban Balen.
"Kalau sudah kondangan baru bobo sama istri ya?" Deni gemas langsung mengangkat tubuh Balen yang duduk dipangkuan Kenan.
"Kalian ini, anak kecil dikerjai saja." Kenan gelengkan kepalanya.
"Kocak sih." jawab Deni memeluk erat Balen.
"Aban Maik bobona ama isti nih." langsung ingat Mike yang tadi habis resepsi.
"Aban Leyi tapan tondananna?" tanya pada Nanta.
"Mau apa tanya kondangannya Larry?" tanya Deni pada ponakannya.
"Baen beenangna ama siapa ya?" pikirkan berenangnya nanti sama siapa kalau Larry resepsi.
"Libur dulu dong." jawab Nanta pada adiknya.
"Tao aban Leyi puna isti, Baen ajain beenang ndak?" kembali bertanya pada Nanta.
"Tidak tahu, nanti Balen tanya saja Abang Larry." jawab Nanta pada adiknya.
"Aban, tepon deh, masih nyetin ndak?" minta hubungi Larry tapi berpikir masih menyetir apa tidak.
"Nanti juga Abang Larry yang telepon kalau sudah tidak setir." jawab Nanta tersenyum.
"Kamu tidak ke hotel, Boy?" Kenan ingatkan Nanta.
"Iya aku tanya Dania dulu deh, aku sih siap saja." jawab Nanta segera beranjak menuju ke kamar. Tampak Dania tertidur pulas.
"Masih sore sudah tidur." Nanta menepuk pipi istrinya.
"Hmm..." membuka mata perlahan.
"Mau ke hotel tidak?" tanya Nanta pada istrinya.
"Ngantuk..." merengek manja.
"Nanti Papa sama Kakek cari kamu loh." ingat Kakek yang selalu sebut Dania.
"Telepon Papa dong Mas, bilang aku ngantuk." minta Nanta yang hubungi Papanya. Nanta ikuti permintaan Dania hubungi Papa Micko.
"Boy, sudah dimana?" tanya Micko pada Nanta.
"Masih di rumah Pa, nih Dania." Nanta serahkan handphonenya pada Dania.
"Papa..." merengek pada Papanya seperti anak kecil.
"Kenapa lagi?" tanya Micko pada putri sulungnya ini.
"Aku ngantuk, mau ke hotel tapi maunya rebahan saja." kasih alasan supaya dibiarkan tidur dirumah.
"Minta suamimu gendong kamu ke mobil, Nak. Bagaimana ini kamu selalu ditanya Kakek, Papa tidak enak kalau kalian tidak datang lagi, semua keluarga besar berkumpul disini." Micko tidak ijinkan anak menantunya tidak menginap di hotel.
"Iya." mau tidak mau bilang iya deh, Papa sudah mengoceh cukup panjang barusan.
"Mana Nanta?" beralih pada Nanta, Dania serahkan handphone pada suaminya.
"Iya Pa."
"Papa tunggu ya makan malam sama keluarga besar Suryadi. Setelah sholat magrib langsung berangkat, jangan ada alasan lagi." tegaskan pada Nanta.
"Iya Pa." tersenyum pada Dania yang meringis.
"Papa mau roti unyil tidak?" Nanta tanyakan pada Micko.
"Tidak, disini banyak makanan." jawab Micko pada menantunya.
"Ayo." ajak Nanta pada istrinya setelah sambungan telepon dengan Papa Micko berakhir.
"Gendong." Dania mengulurkan tangannya sambil tersenyum jahil.
"Waduh..." Nanta mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Mas Nanta..." langsung cemberut karena Nanta tunjukkan kesan kalau Dania sangatlah berat.
"Kenapa?" tanya Nanta sok polos.
"Memangnya aku berat?" lebih sok polos lagi tanya begitu.
"Hitung dari pagi kamu jajan apa saja." Nanta naikan alisnya.
"Itu baru jajan loh ya, belum lagi makanan Utama." kata Nanta pada Dania.
Kan makannya berdua." jawab Dania.
"Berdua siapa?" tanya Nanta, tadi rencananya makan Mie Aceh berdua malah Dania habiskan sendiri.
"Baby." cari aman jawab Baby.
"Masa?" Nanta terkekeh.
"Gendong..." kembali minta digendong.
"Berat." jawab Nanta menolak.
"Aah, tidak mesra nih." komplen Dania pada Nanta.
"Bahaya juga kalau kamu sampai jatuh." kata Nanta lagi.
"Ya sudah." pasrah tidak digendong suaminya.
"Nanti kalau baby sudah keluar, aku gendong deh." kata Nanta lagi.
"Betul ya." pastikan supaya suaminya tidak ingkar janji.
"Iya dong, gantian gendong baby sama gendong Mamanya." jawab Nanta tersenyum manis lalu mengecup mesra bibir istrinya.
"Nanti saja dihotel." kata Dania kemudian.
"Idih mau apa dihotel?" Nanta tertawa menggoda Dania.
"Besuk Baby " jawab Dania membuat Nanta gemas dan memeluk erat istrinya yang masih malas bergerak tapi sudah tidak mengantuk lagi.