I Love You Too

I Love You Too
Silahturahmi



Siang ini Kiki dan Reza sudah menunggu rombongannya di lobby hotel, sesuai kesepakatan saat sarapan pagi tadi, mereka akan berkumpul di Lobby pukul 11 siang untuk pergi bersama kerumah Seno sahabat Alex.


"Ish gimana sih, liburan malah dikamar terus, mestinya habis sarapan tadi kita sudah langsung jalan-jalan baru lanjut kerumah kak Koka." gerutu Kiki karena keinginannya ditolak, para lelaki sepakat setelah sarapan kembali kekamar.


"Pengantin baru senangnya memang dikamar aja, aku juga."


"Kalau cuma dikamar ya mending dirumah aja."


"Bawel banget sih Nyonya Reza." Reza mencubit pipi istrinya. Kiki bersungut dibuatnya.


Ya memang baru Reza dan Kiki yang menunggu di Lobby Hotel, karena belum lagi pukul 11 siang, Kiki sudah memaksa untuk keluar dari kamar. Tak lama tampak Mario dan Regina keluar dari lift, disusul Monik, Intan beserta suami mereka. Kiki tak bisa marah karena mereka turun sesuai waktu yang telah disepakati, Kiki saja yang tak sabaran.


"Sudah dari tadi disini, kok ga telepon?" tanya Monik pada Kiki sahabatnya.


"Iya, gue udah bosen dikamar aja dari tadi." sambung Intan


"Gue mau telepon ga boleh sama kak Eja, takut ganggu kalian Katanya. Tuh kan kak, aku bilang juga apa." Kiki mencubit perut suaminya pelan, tak mau Reza kesakitan. Reza hanya tertawa saja melihat istrinya yang sedari tadi mengomel.


Mobil yang akan membawa mereka ke rumah seno pun tiba di Lobby. Minibus luxury keluaran eropa didesign dengan sofa yang cukup untuk 10 penumpang, terdapat meja multifungsi ditengah seakan sedang diruang keluarga.


"Paling pendiam Rere ya diantara kita." kata intan dalam perjalanan menuju rumah Seno.


"Hmm masih jaim kali." jawab Anto sekenanya. Mario tertawa saja mendengar istrinya menjadi bahan pembicaraan, sedangkan yang menjadi objek hanya tersenyum mendengarkan.


"Re, aku juga dulu susah ngomong, sampai sekarang juga masih ada kakunya. Sering-sering bergaul sama mereka urat maluku mulai terurai." Kiki menjelaskan.


"Sekarang bawel ya kak?" tanya Intan pada Reza di jawab oleh Reza dengan mengangkat tangan dan kepalanya menggeleng seakan pasrah dengan keadaan.


"Ga ya kak. Masih pendiam kok." sahut Kiki.


"Suka ngomel aja." jawab Reza tanpa melihat wajah istrinya. Lagi-lagi Kiki memcubit perut suaminya.


"Hayo siapa yang disini sudah pernah diomelin istrinya." tanya Monik, seketika Alex, Anto dan Reza mengangkat tangannya, semua tertawa bersama.


"Kak Mario, Regina ga pernah ngomel? Hebat" Intan tampak kagum setengah tak percaya.


"Belum aja." jawab Reza cepat, langsung saja Mario melempar bantal dipangkuannya ke arah Reza. Lagi-lagi semua tertawa.


Tak lama mereka pun tiba di tempat tujuan. Tampak seorang Pria berbadan atletis dengan rambut cepak, kira-kira tingginya 180 cm, sudah menanti diteras sambil menggendong bayinya, hanya mengenakan poloshirt dan celana sedengkul.


"Nyampe sini juga lu bro, berapa tahun kita ga ketemu." sambutnya, ingin memeluk tapi tangannya sibuk menggendong bayi.


"Sejak lu nikah, Pegangannya beda sekarang ya, bukan botol lagi." Anto terkekeh melihat pemandangan didepannya. Alex dan Seno terkekeh menanggapi ocehan Anto.


"Dibelakang, yuk kita kedalam biar lebih santai." Seno mengajak semuanya ke taman belakang, dengan view kolam renang dan saung besar dibagian sudut. Meskipun siang cukup terik tapi suasana dibelakang tidak seterik didepan, terlebih angin sepoi-sepoi menyambut kehadiran tamu yang ditunggu-tunggu. Mereka pun memilih duduk lesehan di saung.


Tak lama datang seorang wanita dengan tinggi 170cm mengenakan celana kulot 7/8 dan t-shirt pas dibadan. Sangat mirip dengan Kiki, bentuk badan saja yang berbeda.


"Mas Alex, Mas Anto Alhamdulillah sampai juga disini. Maaf kemarin ga bisa hadir ke pernikahan kalian. Yang mana istrinya, wah ini pasti Kiki ya." setelah matanya menjelajah ke rombongan wanita, langsung saja Mocca menunjuk Kiki yang mengulurkan tangannya pada Mocca dengan badan setengah berdiri. Lalu yang lain mulai menyalami Mocca memperkenalkan diri.


"Berasa ngaca ya?" Anto terkekeh melihat wajah mereka yang sangat mirip, bentuk rambutnya pun sama, hanya saja Kiki versi mungilnya.


"Wah iya mirip. Lucu juga ya saudara tapi ga saling kenal." Seno yang baru memperhatikan tertawa melihat istrinya dan Kiki. Mocca mengambil bayi mungilnya dari pangkuan Seno.


"Ci unyil kedalam dulu ya om tante, dijaga ncus dulu. Biar mami sama papi enak ngobrolnya." Mocca berbicara pada bayinya sambil menciumi pipinya.


"Nah lu ga tau ceritanya nih Kiki dilabrak Ranti di acara resespsi kita kemarin." Anto mulai bercerita sepeninggalan Mocca.


"Du du du du jangan bahas Ranti dekat Mocca, tidur diluar nanti gue. Kenapa begitu?" Seno menegur Anto tapi lanjut bertanya karena ingin tau


"Kumat lagi dia lihat Kiki, mirip mocca kan." sahut Alex masih membahas Ranti tanpa menyebut namanya. Tampak gurat kesedihan diwajah Seno.


"Gimana caranya biar dia sembuh, carikan dokter terbaik Lex. Nanti tagihan ke gue aja, bagaimanapun dia begitu karena gue. Tapi please jangan tau istri gue" Pinta Seno serius.


"Dia baru mau sembuh, mulai buka hati buat Reza eh ternyata sudah punya istri, Kiki jelmaan Mocca lagi dia lihat." Anto bercerita dengan serunya.


"Mulai senin kemarin dia terapi lagi. Tapi karena gue sudah menikah, gue sudah ga bisa antar dia terapi Sen. Monik bisa ngamuk nanti" kata Alex menjelaskan seakan Monik tak ada disitu.


"Siapa yang temani dia kemarin?" tanya Seno merasa bersalah.


Drrtttt.... Drrrtttt.... belum dijawab handphone Alex berdering, tampak nama Ranti dilayar. Alex menggeser tombol hijau. "Ranti." katanya pada Seno tanpa mengeluarkan suara hanya gerakan mulut saja.


"Mas Alex hiks.." Ranti menangis


"Kenapa?" tanya Alex merasa kasihan mendengar suaranya


"Hiks aku... aku Hiks..." Ranti tersedu sedan, tak dapat melanjutkan kalimatnya.


"Aku sedih sekali, kenapa mereka jahat sekali. Aku cuma mau Reza, dia yang pantas dampingin aku, kenapa dia menghindar, kenapa dia bilang dia sudah punya istri hiks... hiks... salah aku apa mas. Dan kenapa perempuan yang dia bawa mirip sama perempuan yang sudah hancurin hidup aku, hancurin masa depan aku. Mereka merebut milik aku mas." Ranti menyampaikan keluh kesahnya sambil menangis. Alex hanya mendengarkan saja, saat ini Ranti hanya perlu didengarkan keluh kesahnya, Alex berempati, tapi tak bisa menyalahkan Ranti. Keadaan yang membuatnya begitu, hanya saja Ranti menyerah dengan keadaan sehingga membuatnya sakit.


"Aku harus bagaimana mas." tanya Ranti, kalau sudah begini baru Alex bisa mengeluarkan pendapat.


"Kamu yang sabar, mengadulah pada Allah. Pasti akan ada jalan keluar. Tak ada yang direbut Ran, hanya saja memang mereka bukan jodoh kamu. Reza ga bohong Ran, memang itu istrinya. Kiki sahabat Monik." Alex menjelaskan. Ranti meraung mendengarnya. Ia benar-benar tak terima dengan keadaan. Hingga sambungan telepon dimatikan karena Mocca datang mendekat, Ranti masih menangisi nasibnya. Semua termenung dibuatnya, meskipun tak diloudspeaker suara terdengar cukup keras, dan mereka yang ada disana seperti menyimak ingin mendengarkan.