I Love You Too

I Love You Too
Suapi



"Senang sekali kalau habis belanja ya?" tegur Raymond yang terlihat kegerahan menunggu di parkiran. Ia melihat Roma dan Nona dari jauh tampak seru berduaan dengan tangan kanan dan kiri memegang shopping bag. Sementara Kenan senyum-senyum saja duduk dibangku penumpang belakang. Memandangi istrinya sambil membayangkan saat istrinya sedang mandi tadi.


Penampakan Raymon



"Kita langsung pulang? Mau aku yang setir, kalian kan belum tidur dari semalam." Nona menawarkan diri tidak tega melihat Raymond atau suaminya yang tampak lelah Walaupun tetap terlihat tampan.


"Cari makan dulu, setelah makan baru Kak Nona yang setir." kata Raymond langsung merubah posisi duduknya dan menutup pintu mobil.


Nona pun langsung duduk disebelah Kenan yang langsung saja merapatkan badannya pada Nona.


"Wangi sekali." bisiknya sambil menciumi leher Nona.


"Ih Mas Kenan ini, tidak lihat didepan ada Raymond dan Roma." desis Nona sambil membesarkan bola matanya. Kenan terkekeh mendengarnya, sementara Raymond sibuk mendengarkan celotehan Roma yang tampak puas berhasil mengerjai Melly.


"Katanya dia menginap dihotel yang sama dengan kita, bukannya tadi kamu bilang dia ingin ikut pulang bersama ya?" tanya Nona memastikan. Raymond menganggukkan kepalanya.


"Mana orangnya?" tanya Raymond ada Roma.


"Ke hotel istirahat, kan kalian juga kubilang sedang istirahat di hotel." Roma tertawa puas, Nona pun ikut tertawa.


"Siapa?" tanya Kenan yang tidak tahu cerita, karena Raymond tidak bilang padanya jika Melly ikut makan siang bersama Nona dan Roma. Roma menatap Raymond sambil nyengir lebar, tidak enak hati membahas apa yang baru saja ia lakukan pada klien suaminya.


"Ini Nyonya berdua nakal sekali, Om." adu Raymond pada Kenan.


"Kenapa?" tanya Kenan penasaran.


"Mereka bertemu Melly saat makan siang tadi, bahkan mereka makan siang bersama. Makanya kita tidak dikasih menyusul ke restaurant." kekeh Raymond pada Kenan.


"Oh." hanya itu reaksi Kenan ia tidak mau tahu lebih banyak tentang pertemuan Melly dengan Roma dan Nona.


"Dia kira kita masih lanjut menginap nih, Om." lanjut Roma bersemangat.


"Oh ya?"


"Iya, bahkan dia sekarang lagi ke hotel karena Om dan Raymond kubilang sedang beristirahat. Katanya sih dia menginap di hotel yang sama." kata Roma tertawa puas.


"Kalian ini." Kenan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, kemudian merebahkan kepalanya di paha Nona, ingin tidur sebentar karena mulai mengantuk.


"Makan dimana?" tanya Roma pada Raymond.


"Yang lewat saja, nasi padang saja lah." Raymond membelokkan kendaraannya ketika melihat restaurant padang terkenal dengan parkiran yang luas, sementara Kenan masih tertidur pulas.


"Kami turun duluan saja, nanti kalau sudah tersaji baru kalian turun." kata Raymond pada Nona. Ia tidak tega membangunkan Kenan yang baru saja tertidur. Nona mengangguk setuju. Sekitar sepuluh menit kemudian Roma menghubungi Nona agar membangunkan Kenan karena makanan sudah tertata rapi di meja.


"Mas Kenan, bangun." Nona menepuk pipi suaminya perlahan berulang kali. Kenan mengerjapkan matanya, masih sedikit mengantuk.


"Ayo makan, sudah pada turun." kata Nona pada Kenan. Kenan pun duduk sambil mengusap wajahnya, merapikan rambutnya sambil berkaca pada spion depan.


"Kiss me." kata Kenan pada Nona sambil memajukan mulutnya. Nona menurut saja segera mengecup bibir suaminya, tapi tidak semudah itu Karena Kenan menahan tengkuknya dan ******* bibir Nona dengan penuh nafsu.


"Bikin repot saja." dengus Nona menepuk bahu suaminya. Kenan terkekeh dan membuka pintu mobil dengan tangan disebelahnya menggandeng tangan Nona.


"Mau sewa kamar lagi kah? Om mengantuk sekali tadi." kata Raymond begitu Kenan dan Nona duduk dihadapannya.


"Tidak usah, langsung pulang saja." kata Kenan mulai menyendokkan nasi dan lauk di piringnya.


"Pulang kemana Om? rumah mertua?" tanya Raymond. Kenan menganggukkan kepalanya, ia masih berhutang menginap pada Baron.


"Mobil Om juga masih disana." katanya kemudian.


"Kalian tidak makan?" tanya Kenan pada Roma dan Nona.


"Kenyang." jawab Roma yang memang tidak begitu banyak makan. Nona ikutan menjawab "Kenyang." Tapi melihat Kenan dan Raymond melahap makanan dengan nikmat membuat Nona ingin makan lagi, ia menelan salivanya tak ingin air liurnya keluar.


"Mau disuapi?" tanya Kenan serius, ia menyodorkan sendok yang berisi makanan dan lauk dari piringnya ke mulut Nona. Langsung saja Nona melahapnya, karena ia tak benar-benar lapar hanya saja gaya Kenan dan Raymond memancing seleranya. Kenan kembali menyendokkan nasi dan lauk yang baru kepiringnya, karena melihat Nona masih ingin disuapi.


"Kamu juga mau?" tanya Raymond pada Roma yang terkesima melihat pemandangan didepannya.


"Satu sendok saja. Ingin tahu bagaimana rasanya disuapi suami." kata Roma polos dan ia benar-benar senang ketika Raymond menyuapinya. Tanpa sadar mencium pipi Raymond saking bahagianya. Raymond terkekeh dibuatnya.


"Dibelikan tas tidak sesenang ini." kata Raymond pada Kenan. Semua jadi tertawa dibuatnya. Aktifitas suap menyuapi di rekam Roma dan diupload ke media sosialnya. Tentu saja terpantau oleh Melly yang menjadi-jadi kesalnya karena dipikirnya Nona dan Roma masih berbelanja, sedang Kenan dan Raymond tidur di kamar.


Saat ini Melly masih diruang tunggu lobby hotel, menunggu Roma dan Nona lewat, ingin tahu mereka menginap dikamar berapa. Tapi ternyata yang diincar sedang enak makan di restaurant padang, yang Melly tidak tahu dicabang mana.


Penampakan Roma



foto Roma yang tidak sengaja disukai oleh Melly saat memantau media sosial Roma. Aih Roma jadi tahu kalau saat ini ia sedang dipantau oleh Melly.


"Dia intip-intip media sosial aku, yang." kata Roma pada Raymond sambil menunjuk nama Melly.


"Makannya sudah selesai, Om. Sepertinya kita harus segera berangkat supaya tidak kesorean sampai Malang." kata Raymond pada Om Kenan, selain itu ia tidak mau Melly menyusul.


"Ayo, Om saja yang bawa mobilnya, kamu jadi bisa tidur." kata Kenan mengambil kunci Mobil di meja, segera memanggil pegawai restaurant untuk menghitung jumlah makanan yang harus dibayar.


"Melly tuh gawat Om" kata Raymond yang mengikuti Kenan ke kasir.


"Kenapa?" tanya Kenan.


"Dia stalking media sosial Roma, pantas saja tadi bisa ikut makan siang bersama Kak Nona dan Roma di Mal." kata Raymond sedikit resah, karena Melly memantau istrinya itu karena ada maksud tertentu bukan sekedar ingin berteman.


"Abaikan saja." kata Kenan acuh.


"Aku hanya khawatir Kak Nona terganggu, efeknya ke Om juga." jawab Raymond menyampaikan kekhawatirannya.


"Nona cukup cerdas, jangan khawatir. Ingat saja saat menghadapi Sheila di Mal." Kenan menepuk bahu keponakan kesayangannya agar tak terlalu khawatir. Raymond pun mengedikkan bahunya berusaha untuk tidak lagi memikirkan Melly.