I Love You Too

I Love You Too
Skenario Allah



"Kita mau kemana?" tanya Nanta pada Ando dan Wilma yang baru saja datang.


"Makan." jawab Wilma cepat.


"Makan terus pikiranmu." oceh Nanta pada Wilma.


"Ini sudah waktunya makan siang, jadi ya harus makan." malah ikut mengoceh, lebih galak Wilma dari Nanta.


"Mau makan disini dulu atau langsung keluar?" tanya Ando pada Wilma.


"Masak apa memangnya?"


"Lihat saja ke meja makan. Makan disini dulu saja." kata Nanta memutuskan.


"Biar irit? tanya Wilma konyol.


"Biar dijalan tidak ada yang teriak kelaparan." jawab Nanta sambil menjentikkan jarinya ke dahi Wilma.


"Ish sudah punya istri masih suka aniaya aku." kesal Wilma pada Nanta. Nanta dan Ando terkekeh, kelakuan Wilma memang paling bisa bikin Nanta ingin menjewer atau menjentikkan jarinya kedahi Wilma.


"Kamu sih nakal jadi suamiku bikin dahimu sakit." Wilma mendengus mendengar ucapan Dania.


"Dania, sudah hamil belum?" tanya Wilma pada Dania.


"Ish pohon saja di siram tidak langsung berkembang." Nanta terkekeh memandang istrinya.


"Iya nih Wilma. Doakan saja kalau memang harus hamil cepat ya aku terima, kalau harus menunggu juga aku terima saja." kata Dania tertawa. Mereka duduk rapi di meja makan, setelah mengintip menu, minta asisten rumah tangga untuk ambilkan piring lalu mereka mulai menyendokkan nasi dan menikmatinya. Wilma sudah pasti yang paling lahap diantara yang lain, selera makan Wilma selalu bagus dan menggugah selera.


"Nanta, di Amerika jangan genit-genit, sudah punya istri." Dania mulai mengoceh setelah makan.


"Kemarin belum punya istri saja tidak genit." kata Ando pada calon istrinya.


"Itu kan karena aku jaga." jawab Wilma terkekeh.


"Jaga bagaimana?" tanya Nanta bingung.


"Tidak berasa ya gue pepet terus, sampai tidak ada yang berani dekati." kata Wilma bangga.


"Ah itu sih karena kamu suka sama Nanta." kata Ando santai. Nanta terkekeh, Dania melirik Nanta.


"Enak saja, siapa yang suka sama Nanta?" Wilma menyangkal.


"Itu buktinya minta antar jemput Nanta terus." sungut Ando sedikit cemburu.


"Minta antar jemput Nanta karena sama dia itu aman, tidak pakai rayu-rayu dan Modus." Dania menjelaskan.


"Iya karena Nanta tidak suka sama kamu jadi tidak modus dan rayu-rayu." ketus Ando lagi.


"Aku saja istrinya tidak pernah dirayu-rayu." kata Dania melirik suaminya.


"Masa?" Nanta terkekeh mengacak anak rambut Dania.


"Ish so sweet." Wilma heboh sendiri. Nanta dan Ando terkekeh.


"Ndo, please setelah gue lulus kita menikah." pinta Wilma pada Ando.


"Iya kan sudah bicara sama Daddy dan Mommy." kata Ando.


"Nanti kamu berubah pikiran." sungut Wilma.


"Kenapa berubah pikiran, aneh deh kamu."


"Menikah saja sekarang, kalau takut Ando berubah pikiran, di kantor banyak yang cantik loh." Nanta terkekeh menggoda Wilma.


"Mana diijinkan Mommy." sungut Wilma.


"Mau apa sih cepat-cepat menikah?" tanya Dania pada Wilma.


"Kalau sudah menikah kan bebas pelukannya, sekarang takut dosa." jawab Wilma terkikik.


"Hanya karena itu?" Nanta mendelikkan matanya.


"Iya apa lagi?" Wilma ikutan melotot.


"Menikah bukan hanya soal itu, Wilma. Kamu belajar lagi deh, banyak hal yang tidak kita mengerti setelah menikah ternyata harus kita hadapi." Nanta menghela nafas, menggenggam jemari istrinya.


"Gue titip Dania ya, Ndo."


"Titipnya kok sama Ando?" protes Wilma.


"Iya karena Ando sudah tahu permasalahan keluarga Dania." Nanta menjelaskan.


"Lu juga Wilma, jagain Dania." pesan Nanta lagi.


"Ke Amerika kan jauh, musuh mertua gue masih berkeliaran." kata Nanta pada Wilma.


"Iya sih tapi kan sudah dibantu Bang Atan."


"Kamu tahu?"


"Tidak sengaja ikut dengar saat Bang Ray dan Bang Atan bahas masalah ini." Wilma terkekeh.


"Siap-siap Ndo, keluargaku juga ada masalah loh, sudah dibereskan Daddy sih, tapi kami tetap waspada." kata Wilma pada Ando


"Apa?"


"Masa lalu Mommy sih, kurang lebih saja sama Dania. Masa lalu Mamanya juga kan?" Wilma tertawa mengajak Dania Tos.


"In Syaa Allah, aku jaga semampuku." jawab Ando yakin, Masalah keluarga Nanta saja kemarin Ando ikut bantu.


"Kita mau kemana nih? Nanta sebelum magrib sudah harus dirumah lagi." tanya Ando ingat pesan Om Kenan.


"Gue kok ngantuk ya, ngobrol disini saja boleh ya, kalau mau karaoke nyanyi saja kita, enak begini ngobrol santai." kata Wilma yang sudah kekenyangan.


"Dasar *****, pasti mau tidur." Nanta terkekeh.


"Iya kalian nyanyi aku dengarkan sambil tiduran, seperti biasa." Wilma menaikkan alisnya.


"Kamu mau nyanyi sayang?" tanya Nanta pada Dania.


"Aku seperti Wilma dengarkan kalian nyanyi sambil tiduran." Nanta dan Ando terbahak pujaan hati mereka setali tiga uang, sama-sama suka tidur.


"Dania ini suka tidur sekali. Jadi ingat waktu kamu aku antar pulang yang kamu tidur dimobil itu." Nanta mengenang saat Dania tertidur hingga ia harus membawa Dania pulang kerumahnya. Tawa Dania dan Wilma langsung meledak seketika.


"Kenapa tertawa? itu bikin panik tahu." sungut Nanta memandang istrinya.


"Kenapa panik, kan Abang bawa pulang Danianya." kata Wilma terbahak.


"Apanya yang lucu sih?" Nanta bersungut.


"Lucu bayangkan wajah panik kamu." kata Dania tidak ingin Wilma membuka rahasia.


"Iya, pasti lu panik kan Bang?" tanya Wilma menaikkan alisnya memandang Dania.


"Bukan panik lagi." Nanta terkekeh


"Iya sampai telepon aku." kata Ando tertawa, ia tahu akal-akalan kedua wanita dihadapannya saat itu.


"Kamu bilang apa waktu itu sama Nanta?"


"Aku suruh bawa pulang kerumahnya." kata Ando jujur, sesuai arahan Wilma pastinya.


"Bagus." Wilma mengacungkan jempolnya.


"Ish tapi jangan begitu lah, kalau Dania bertemunya bukan sama gue, habis dia sama cowok tidak benar." Nanta mengacak anak rambut Dania, mencium dahinya sekilas membuat Wilma dan Ando saling pandang, iri sama yang sudah halal.


"Justru karena cowoknya kamu Bang Nanta, dia bisa tidur pulas." Nanta terkekeh mendengarnya.


"Memang iya karena cowoknya aku?" tanya Nanta pada istrinya, Dania menganggukkan kepalanya.


"Kalau bukan aku?" pancing Nanta.


"Ya pasti supir taxi, mana mungkin aku tidur di taxi sepulas itu." Dania terkikik.


"Kalau misalnya waktu itu yang kamu kenal bukan aku dan Ando, terus cowok itu antar kamu pulang bagaimana?" tanya Nanta lagi.


"Ganteng apa tidak?" sahut Wilma.


"Aku tanya Istriku, bukan kamu." keluh Nanta, Wilma tertawa geli.


"Mana mungkin aku kenalan sama cowok lain." Dania terkekeh.


"Mungkin saja, sama aku saja bisa kenalan."


"Karena Mas Nanta tolong aku waktu itu."


"Kalau yang tolong kamu cowok lain bagaimana?" tanya Nanta penasaran.


"Sepertinya tidak mungkin ada cerita seperti itu." jawab Dania pasti.


"Kenapa?" tanya Nanta.


"Karena kurasa Allah sudah gariskan kita harus bertemu saat itu, kemudian Mas Nanta pertemukan aku dengan Papa, Lalu Papa memaksa kita menikah cepat, Dan sekarang Mas Nanta menjadi suamiku, itu sudah skenario Allah, jadi tidak mungkin ada cowok lain." jawab Dania pasti membuat Nanta mencubit kedua pipinya gemas tapi tidak berani cium bibirnya karena ada Wilma dan Ando.