
Perjalanan ke Cirebon berjalan lancar dengan banyak mampirnya, entah ke toilet, isi bensin atau makan. Terlebih bawa Ibu hamil yang bawaannya lapar dan beser. Mike sabar saja, sepupu kesayangannya yang rewel dalam perjalanan kali ini. Yang penting Seiqa tidak merajuk lagi.
Setelah mampir yang kesekian kali, akhirnya Dania menyerah, sudah kenyang dan sekarang mengantuk berat.
"Aku dibelakang ya, mau bobo." katanya pada yang lain. Nanta sudah bawakan bantal untuk istrinya supaya bisa tidur nyaman di bangku belakang.
"Iya." jawab Mike.
"Pelan saja bawa mobilnya, nanti Dania kena bantingan." pesan Nanta pada Mike.
"Dania kalau terguncang teriak saja ya." pesan Mike pada Dania. Mobil keluaran Eropa miliknya sih bisa dijamin tetap nyaman walaupun ada goncangan. Itu sih promo dari sales saat ia beli beberapa bulan lalu.
"Iya tenang saja." jawab Dania.
"Apa bisa tidur dimobil dengan perut begitu? kamu ditengah saja kita yang dibelakang." kata Seiqa tidak tega pada Dania.
"Nah begitu lebih baik." kata Rumi setuju. Tambah senang saja Dania, kalau dibangku tengah ia bisa tidur sambil genggam tangan suaminya. Mereka mulai rubah posisi, sementara Larry dan yang lainnya setia menunggu pergantian tempat duduk di mobil sahabatnya.
Dania mulai ambil posisi tiduran, peluk boneka, mau bawa guling takut sempit.
"Sayang, tangan." pintanya pada Nanta, Nanta pun rubah posisi ulurkan tangannya agar bisa dipegang istrinya.
"Manja." protes Mike pada Dania.
"Biarin." jawab Dania tertawa dikomplen sama sepupunya.
"Mobil baru dari Kakek ya?" tebak Dania.
"Enak saja, ini beli saat pulang dari Amerika." jawab Mike jujur.
"Asik ya pulang training camp bisa beli mobil." Nanta menggoda sahabatnya.
"Elu juga bisa kalau mau." kata Mike mencibir, bisa saja Nanta merendah.
"Enak ya jadi atlet." celutuk Rumi.
"Kamu juga enak, Rum. Dania apalagi tuh enak tinggal peluk boneka pegang tangan suami." Rumi tertawa mendengar jawaban Mike. Sepanjang perjalanan mereka bercanda saja kerjanya.
"Bagaimana terapinya, Rum?" tanya Nanta.
"Alhamdulillah, makin oke." jawab Rumi.
"Oke bagaimana?" tanya Mike.
"Sudah mulai tidak suka minuman alkohol ya, aku tadi saat terapi dikasih minum yang biasa aku minum, eh rasanya kok aneh." jawab Rumi.
"Oh ya, Bagus dong." Nanta senang mendengarnya.
"Iya, tapi tidak tahu ya apa karena lagi terapi saja." kata Rumi pada Nanta.
"Eh tapi jangan coba saat lagi sama kita ya Rum. Bisa dimarahi Papi kita nanti." kata Mike pada Rumi.
"Iya tenang saja." jawab Rumi tertawa.
"Sudah diterapi begitu sama Papi, jangan sentuh minuman itu lagi Rum. Papi anggap kamu seperti anak sendiri loh. Lihat deh dia perhatian sekali sama kamu." Nanta ingatkan Rumi.
"Iya loh aku kadang suka nangis sendiri ya sama perhatian Papi dan Mami. Tidak sangka, orang tuaku sendiri saja tidak begini." kata Rumi sampaikan apa yang dirasanya.
"Aku juga terima kasih loh sama kalian, mau jadikan aku teman." kata Rumi kemudian. Mike jadi tidak enak hati karena sampai tadi masih antipati sama Rumi.
"Papi memang baik, tidak usah kamu yang masih ada hubungan darah, sama aku saja yang orang lain kasih perhatian seperti sama anak sendiri. Kita bersyukur." kata Nanta pada Rumi.
"Kalian beruntung." kata Seiqa tersenyum.
"Iya kami beruntung." jawab Rumi setuju.
"Kalau benar-benar sudah bisa lepas dari alcohol, gue kasih hadiah." kata Mike pada Rumi.
"Oh ya mau kasih hadiah apa?" tanya Rumi.
"Kamu maunya apa?" Mike balik bertanya sambil fokus menyetir.
"Boleh dua hadiah?" tanya Rumi.
"Boleh." jawab Nanta. Pikirnya satu dari Mike, satu nanti Nanta yang akan kasih.
"Pertama aku mau kalian jadi Sahabatku." kata Rumi.
"Iya.
"Oke, sekarang kita proses bersahabat." jawab Mike. Eh satu lagi apa nih.
"Permintaan kedua aku mau Larry jadi pasanganku." kata Rumi lagi.
"Permintaan pertama bisa ya, kalau permintaan kedua kamu berdoa saja, cuma Allah yang bisa kasih kamu pasangan, bukan kita." jawab Nanta terkekeh.
"Jujur ya Rum, kamu jangan patah hati, di Cirebon ini ada satu cewek yang Larry suka. Menurut gue dia langsung mau kesini juga karena ingat itu cewek. Mungkin saja nanti kita akan makan bersama" Mike langsung saja kasih bocoran, ia tidak mau Rumi berharap banyak.
"Begitu kah?" tanya Rumi.
"Iya." jawab Nanta, setahunya memang begitu.
"Yah aku sih tidak berhak melarang Larry untuk suka sama itu cewek. Tapi kalian jangan larang aku untuk suka sama Larry ya. Aku main bersih kok, nanti kalau Larry bertemu sama itu cewek, aku tidak akan gunakan trik kotor." kata Rumi menghela nafas.
"Aku doakan nanti ada cowok single yang bisa kita kenalkan sama kamu." kata Nanta tertawa.
"Siapa?" tanya Mike.
"Ya siapa tahu saja nanti ternyata Rumi dan Larry jodohnya di Cirebon, atau mungkin mereka berjodoh di Cirebon, kita tidak pernah tahu." jawab Nanta tertawa.
"Benar juga Nanta. Kita tidak pernah tahu jodoh kita siapa." Rumi tertawa.
"Eh benar itu, aku saja tidak pernah sangka loh, sedang proses menuju halal sama Mike. Aku pikir sama Larry." Seiqa menggoda Mike yang terang-terangan bilang kalau dulu Ia minta Larry menjauh dari Seiqa karena ingin dekati Seiqa.
"Kamu juga suka Larry dulu?" tanya Rumi pada Seiqa.
"Dia suka aku dari awal." jawab Mike cepat.
"Iya tapi dia kira yang namanya Mike itu Larry." sahut Nanta bercandai Mike, semuanya terbahak dibuatnya.
"Ini Leyi keselek tidak kita jadikan bahan pembicaraan." kata Mike kembali tertawa. Dania pulas saja tidak terganggu dengan mereka yang berisik saling sahut-sahutan di mobil. Tangan Nanta sudah dilepas dari tadi karena Dania rubah posisi.
"Eh tapi kalau ternyata Leyi terima cintaku kalian lapang dada dong." pinta Rumi lagi seperti tahu jika sahabat Larry keberatan.
"Kita sih tidak terlalu berpengaruh ya Rum. Kita hanya teman, hanya bisa kasih saran. Tapi bokapnya Larry sih agak sulit di dekati." kata Mike yang sudah kenal keluarga Larry.
"Malah gue pikir Larry sekarang dibiarkan dekat dengan wanita manapun, ujung-ujungnya juga menikah sama pilihan bokapnya." kata Mike lagi menduga-duga.
"Masa masih ada yang begitu, Mike?" Rumi tidak percaya.
"Berani taruhan gue." kata Mike, Nanta menyimak saja tidak begitu kenal dengan orang tua Larry yang sibuk luar biasa. Namanya juga pejabat negara.
"Elu tahu Larry anak siapa?" tanya Mike pada Rumi.
"Tidak tahu."
"James Prawira." jawab Mike.
"Siapa tuh." Rumi jujur tidak tahu.
"Coba saja browsing." kata Mike lagi, Rumi ikuti perintah Mike, Langsung keluar rentetan jabatan yang pernah dipegang oleh Papanya Larry hingga sekarang.
"Orang penting." kata Rumi tersenyum.
"Itu yang bikin sulit, mereka suka terlibat pernikahan politik." kata Mike sok tahu, memang ada beberapa yang seperti itu, tapi orang tua Larry belum tentu juga. Rumi anggukan kepalanya.
"Jadi aku tidak boleh berharap lebih ya." kata Rumi lagi.
"Yah gue hanya kasih gambaran, kalau masih mau maju silahkan saja. Cuma kasih tahu kamu kalau kita tidak setuju itu tidak akan berpengaruh karena yang lebih menentukan ya orangtuanya bukan kita." Mike kali ini benar, memang ia dan sahabatnya tidak akan bawa pengaruh banyak soal jodoh Larry, keputusan akhir ada pada orang tuanya.
"Oke thank you informasi kalian. Eh kalau cewek di Cirebon ini posisinya sama dong denganku endingnya di orang tua Larry juga." kata Rumi tersenyum.
"Dia menang dua point diatas elu Rum, pertama tanpa riwayat pecandu, kedua Larry memang suka sama dia." Mike kembali to the point.
"Thank you Mike, kalau belum ada Seiqa gue pindah ke elu deh." kata Rumi bercandai Mike.
"Sorry hati gue dari lahir untuk Seiqa." jawab Mike membuat semua kembali terbahak.
"Gombal." kata Seiqa pada calon suaminya.
"Benar Seiqa, seumur hidup belum pernah suka sama cewek dia, kita kira sukanya cowok, eh ternyata sukanya Seiqa." Nanta membela sahabatnya langsung riuh sorak-sorak dari kedua cewek dibangku paling belakang, kali ini Dania sampai terbangun karena empat orang ini heboh sekali.