I Love You Too

I Love You Too
Makan



"Kamu mau makan apa?" tanya Nanta pada Dania setelah mandi dan kembali dari sholat magrib bersama Raymond.


"Kita makan dikamar?" tanya Dania.


"Iya dikamar saja, malas turun lagi." jawab Nanta membaringkan tubuhnya dengan kepala bersandar menjadikan perut Dania bantal.


"Terserah Mas Nanta deh, samakan saja dengan menu Mas Nanta." jawabnya sambil memainkan tangannya diwajah tampan pria yang baru berapa hari ini menjadi suaminya.


"Terserah...?" Nanta terkekeh, menatap wajah cantik istrinya.


"Tadi di Mesjid ada cewek cantik." katanya lagi membuat Dania menarik nafas,


"Tapi bohong." Nanta tertawa senang melihat ekspresi wajah istrinya.


"Ih, Mas Nanta suka bohong ya?" Nanta mencibir malas menanggapi ucapan Dania.


"Ayo mau makan apa, tidak ada menu terserah disini."


"Istri ikut suami." Dania tertawa.


"Aku mau makan ini saja." Nanta langsung saja menggigit perut Dania dan membenamkan wajahnya disana.


"Mas Nanta geli." teriak Dania sambil tertawa.


"Psssttt, berisik. Nanti Bang Ray dan Kak Roma kira kita sedang apa." Nanta tertawa sambil menghentikan aktifitasnya, Dania jadi tertawa tanpa mengeluarkan suara.


"Mas Nanta, apa kita akan seperti ini terus?" tanya Dania pada suaminya.


"Seperti ini bagaimana?"


"Tertawa bahagia seperti ini, selama-lamanya."


"Semoga." jawab Nanta merubah posisi tidurnya, ia memeluk istrinya seperti guling.


"Ngantuk?" tanya Dania melengos.


"Tidak, baru jam berapa sudah ngantuk saja."


"Katanya mau pesan makan." rengek Dania manja.


"Bang Ray saja yang pesan." kata Nanta sambil mengetik pesan pada handphonenya, kemudian kembali memeluk istrinya.


"Kamu mau bahagia terus?" tanya Nanta kemudian.


"Hu uh." Dania menganggukkan kepalanya.


"Kalau lagi sedih, pura-pura bahagia saja sampai lupa rasa sedih itu." kata Nanta terkekeh.


"Hahaha aku pernah baca tulisan itu." Dania terbahak.


"Dan, kata Bang Raymond sudah dipesankan Nasi dan Sop Iga, kamu suka?"


"Apa saja suka." jawab Dania


"Tadi panggil aku sayang, sekarang panggil Dan, Dan." protes Dania pada suaminya.


"Ih maunya dipanggil sayang terus?" Nanta tertawa menciumi pipi Dania.


"Hu uh." jawab Dania terkekeh.


"Tadi aku panggil kamunsayang karena keceplosan." Nanta menggoda istrinya.


"Tuh kan..." mulai menjauhkan diri dari Nanta.


"Tapi bohong sayangku." kata Nanta kembali menciumi Dania gemas. Dasar Dania malah ******* bibir suaminya. Nanta jadi membalas dan mengambil alih, tangannya pun mulai bergerilya kesana kemari.


"Mas Nanta..." Dania kelimpungan menepuk bahu suaminya. Nanta melepaskan ciumannya menunggu kata selanjutnya dari istrinya.


"Nanti makanan diantar kemana?" tanya Dania kemudian.


"Kamar Bang Ray, kenapa?" Dania menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan aktifitas mereka tadi. Nanta benar-benar menyukai aktifitas barunya ini, ia menikmati setiap jengkal pada tubuh istrinya. Sudah halal tangan bebas kesana kemari tanpa beban, tangan Dania juga mulai ikut bermain, kalau sudah begini Nanta bisa apa selain menyelesaikannya hingga tuntas.


"Tadi lupa nyalakan TV." Dania menutup mulutnya ketika mereka selesai bermain pegang-pegangan.


"Iya dan kamu berisik sekali." Nanta menyeringai.


"Huaaa aku malu sama Bang Ray dan Kak Roma." bisik Dania menyandarkan kepalanya dibahu Nanta.


"Ayo cepat pakai bajunya, nanti makanan keburu dingin." kata Nanta pada istrinya ia mulai mengenakan bajunya dan membersihkan diri dikamar mandi.


"Memang sudah datang?" tanya Dania sebelum Nanta masuk ke kamar mandi.


"Sudah, tidak terasa memangnya handphone terus bergetar karena Bang Ray menelepon." Nanta tertawa.


"Kenapa tidak di ketok pintunya?"


"Aku sudah bilang jangan ganggu kita dulu." Nanta terbahak, Dania jadi meringis tidak bisa bayangkan bagaimana nanti kalau bertemu Roma dan Raymond nanti.


"Baaang!!!" Nanta menggedor pintu sambungan kamar mereka, sudah dihubungi berkali-kali Raymond tidak juga mengangkat teleponnya. Nanta menghubungi lalu Roma tidak juga diangkat. Setelah Lima belas menit Raymond baru membuka pintu kamarnya.


"Ish dingin deh sop aku." keluh Nanta karena Raymond lama sekali mengangkat teleponnya.


"Tidak lihat HP kah?" tanya Raymond acuh.


"Tidak." sungut Nanta segera menuju meja tempat makanan diletakkan, Dania mengikutinya dari belakang.


"Loh belum makan?" tanya Dania heran karena makanan belum tersentuh.


"Tadi masih kenyang makan Bolen." jawab Roma tersenyum manis pada Dania.


"Itu satu kotak dihabiskan sendiri, bagaimana tidak kenyang." tunjuk Raymond pada kotak kosong.


"Kak Roma, itu Manis loh." Nanta menggelengkan kepalanya.


"Iya habis bagaimana? kamu kan cuma beli itu. Harusnya belikan yang lain." gerutu Roma.


"Tadi Kak Roma pesan yang biasa bukan yang lain." protes Nanta.


"Iya kalau kamu belikan juga yang lain pasti aku makannya setengah yang ini setengah yang lain." jawab Roma terkekeh.


"Tetap saja kata Papa tidak sehat kalau berlebihan." Nanta tertawa ingat Papa lagi, selalu saja ingat Papa heran deh, mungkin karena Papa selalu ingat aku, pikir Nanta.


"Iya setelah ini jangan makan manis lagi." tegas Raymond pada istrinya.


"Iya lihat kamu saja kalau mau yang manis." jawab Roma terkekeh memeluk suaminya, Raymond mencebik.


"Begitu ilmunya kalau mau dimarahi." bisik Raymond pada Nanta, kemudian keduanya tertawa, tinggal Dania yang kebingungan tidak mengerti apa yang sedang di bahas Bang Raymond dan Suaminya, Roma sudah pasti tahu karena dengar apa yang Raymond bisikkan pada Nanta.


"Ayo makan, sudah tidak kenyangkan?" tanya Nanta sambil menepuk kursi disebelahnya agar Dania ikut duduk disana.


Semua mengikuti Nanta duduk di meja makan yang hanya cukup untuk empat orang, lumayan jadi semua bisa berkumpul dalam satu meja.


"Banyak sekali." Dania langsung hilang selera melihat Sop yang dipesan Raymond dalam porsi besar.


"Makan saja." kata Nanta pada istrinya.


"Nanti tidak habis." keluh Dania tanpa menyentuh sendok yang sudah disediakan.


"Ck... nanti sakit kalau tidak makan." Omel Nanta memandang Dania sedikit kesal.


"Suapin." kata Dania pada suaminya.


"Pakai bilang banyak sekali bilang saja mau disuapi." Nanta terkekeh menarik kursi yang diduduki istrinya agar lebih dekat lalu mulai menyuapi Dania bergantian dengan dirinya. Tanpa kedua porsi makanan itu habis tak tersisa.


"Banyak sekali..." Nanta mengulang ucapan Dania sambil tertawa setelah piring dan mangkok bersih karena makanan sudah mereka lahap.


"Hahaha..." Dania terbahak, matanya sampai berair.


"Banyak gaya." kata Nanta menunjuk Dania sambil memandang Raymond.


"Hahaha sama saja, Roma juga begitu." kata Raymond terbahak.


"Aku tidak disuapi kan tadi Ban Lemon." Roma terkekeh.


"Bagaimana mau disuapi, baru aku cuci tangan, makananmu sudah habis."


"Anakmu yang habiskan." Roma terkekeh.


"Salahkan saja terus anakku, tadi juga Pisang Bolen kamu bilang anakku juga yang mau." semua terbahak mendengar Raymond mengoceh.


"Kasihan anakku bapaknya suka ngomel kalau mamak makan banyak. Padahal Anak ikut menikmati." Roma mengusap perutnya dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


"Mulai drama..." Raymond mencubit kedua pipi istrinya, kemudian tertawa melihat wajah Roma seperti badut karena hidungnya mulai bengkak, ia pun memeluk Roma gemas.