
"Aban besot janan telambat." kata Richie pada Larry dan Mike yang baru saja selesaikan latihan bersama, walaupun hanya membantu berhitung dan mengawasi tetap saja terasa lelah juga, pantas saja Tim kedua minta diundur kemarin itu.
"Iya." Jawab Larry tersenyum pada Richie yang bersiap pulang bersama Opa Baron, Balen dan Ncusss.
"Janan upa es kim dem Baen." Balen mengingatkan.
"Iya singkooong." jawab Larry terkekeh.
"Lima drum ya." kata Larry menggoda Balen.
"Satu aja tutas umah ndak muat." teriaknya. Semua tertawakan Balen jadinya.
"Gue juga mau Leyi." kata Mike tidak mau kalah.
"Oke besok elu gue bawakan satu drum." jawab Larry.
"Tadi kan mau bawa Lima, ya beli Lima saja biar yang empat gue bawa pulang." kata Mike membuat Larry kembali memiting kepalanya.
"Oke balik ah, capek gue." kata Nanta pada semuanya.
"Capek?" Chris terkekeh tertawakan Nanta dan yang lain, kemarin saat Tim kedua mau mundur Mike bilang lemah.
"Iyee." jawab Mike ikut tertawa menepuk bahu Chris sudah tidak berani bilang lemah lagi sekarang, terbukti memang capeknya terasa tapi hati senang.
"Kapan lagi nih?" tanya Chris ketagihan.
"Nantilah berkabar ya." jawab Nanta pada Chris.
"Jangan lupa loh ajak kita lagi." kata Chris takut tidak diajak.
"Kemarin saja waktu belum mulai tidak lupa ajak kalian, masa sekarang lupa." jawab Nanta dan semuanya tertawa.
"Makan dulu yuk." ajak Dona yang rupanya belum makan efek terburu-buru mengantar Mama mertua tadi.
"Aku juga hanya makan dikit tadi di acara nikahan." kata Dania kode keras kalau mau ikut makan juga.
"Didalam kamu makan rujak sebungkus sendiri, yang lain ramai-ramai loh, masih belum kenyang?" tanya Nanta.
"Itu kan beda." jawabnya tersenyum malu-malu, sejak hamil memang makannya sangat banyak, melebihi porsi makan Nanta.
"Ayolah kita makan dulu, Ibu hamil tidak boleh lapar." ajak Nanta pada yang lain.
"Gue skip deh, mau cepat sampai rumah." kata Chris. Yang lain juga ikutan mau pulang cepat, mungkin lelah karena fokus satu jam Non Stop.
"Ya sudah kita sajalah." kata Mike. Geng kwartet saja yang akhirnya makan bersama mengikuti keinginan para istri.
"Sebentar lagi Seiqa ikutan gabung begini nih." Mike menghayal saat mereka tiba direstaurant.
"Bukannya sudah gabung kemarin saat di S'pore." kata Nanta membuat yang lain tersenyum pandangi Mike.
"Yah kan di S'pore belum ada kejelasan." kata Mike senyum lebar.
"Jadi besok sore itu baru perkenalan keluarga atau langsung lamar?" tanya Doni.
"Perkenalan keluarga inti." jawab Mike.
"Bokap nyokap gue tidak di undang loh." kata Doni lagi.
"Kan keluarga inti, bagaimana sih." jawab Mike.
"Iya sih. Rencana kapan mau menikah" tanya Nanta lagi.
"Maunya cepat saja, tidak mau lama-lama, nanti aku diambil orang." Mike bergaya seimut mungkin.
"Siapa yang mau ambil sih, Seiqa mau saja gue sudah bingung." Larry menggoda sahabatnya itu.
"Sembarangan bicara, Seiqa beruntung dapat gue, belum pernah tersentuh wanita manapun." kata Mike bangga.
"Bohong Mike." ketus Dania.
"Ish kenapa bohong?" Mike jadi bingung
"Tadi kiss Balen, lupa?" Dania naikkan alisnya.
"Wanita Dania, Wanita ish." tegas Mike membuat yang lain tertawa.
"Waduh jadi Mike sudah mau menikah ya." kata Larry terkekeh.
"Jangan iri Leyi."
"Siapa yang iri sih, senang malah." jawab Larry.
"Kok senang?"
"Saingan berkurang." jawab Larry terkekeh.
"Saingan apanya, pacar-pacar elu dulu juga bukan type gue dan gue juga bukan type mereka." jawab Mike, Doni dan Nanta pandangi Mike sambil tersenyum.
"Beda auranya yang sedang jatuh cinta ya." kata Doni pada Nanta menunjuk Mike.
"Masa sih?" Mike cengengesan. Larry anggukan kepalanya.
"Jadi Rumi bagaimana?" tanya Mike pada Larry.
"Kenapa jadi bahas Rumi?" Larry terkekeh. Sudah dilarang sekarang tanya-tanya.
"Ya kali elu backstreet dari kita." kata Mike konyol.
"Fitness lu." jawab Larry terkekeh, mulai meminggirkan piring yang ada dimeja karena makanan mulai berdatangan.
"Memang kenapa sama Rumi?" tanya Dania.
"Kakak-kakak tidak setuju." jawab Larry terkekeh.
"Kan cantik." Dania bingung, belum tahu cerita rupanya.
"Larry butuh yang sholeha." jawab Mike wakili Larry.
"Kita saja belum sholeha." Dania berbisik pada Dona, mereka berdua jadi cekikikan.
"Yang seperti Seiqa dong." timpal Dona lagi.
"Maunya gue memang Seiqa tapi disalib Mike." jawab Larry.
"Mana ada salib dari awal elu sudah mundur." Mike menoyor kepala sahabatnya, semua tertawa.
"Femi atau Rima tidak mau." sungut Mike.
"Femi gue mau tapi dia menghindar terus yang maju malah Rima. Gue tidak suka cewek agresif kalau mau jadikan istri." kata Larry menjelaskan.
"Gue lapor Om Deni nih." kata Nanta semangat.
"Kenapa harus lapor, yang pasti-pasti saja gue telepon beberapa kali Femi tidak mau angkat, mungkin karena Rima suka gue, dari pada persahabatan mereka rusak. Lebih baik gue cari yang lain deh." Larry menjelaskan.
"Masa sih bisa rusak?" Mike jadi berpikir.
"Bisa Mike, tidak semua bisa berbesar hati." sahut Nanta.
"Seperti kamu sama Ando ya?" Dania menggoda suaminya.
"Kenapa aku sama Ando?"
"Awalnya kan Wilma dijodohkan sama kamu, tapi Ando suka kamunya mundur." tebak Dania.
"Tidak begitu ceritanya, aku sama Wilma ya seperti adik kakak saja, aku kenalkan sama Ando mereka berdua sama-sama suka tuh." Nanta menjelaskan.
"Aku kira kalian sempat saling suka." Dania nyengir lebar.
"Cemburu lu Dan?" tanya Mike. Dania gelengkan kepalanya.
"Kan mas Nanta pilih aku." jawabnya tertawa, Nanta jadi nyengir dan mengacak anak rambut istrinya. Mau cium malu lagi dikeramain.
"Seiqa juga pilih aku." Mike kembali sok imut.
"Seiqa tidak ada pilihan." Doni tertawa melempar tissue ditangannya pada Mike
"Rese, tapi kan dia mau."
"Mau juga takut sama Om Micko, mana ada bilang cinta dibantu Om sendiri." Dona tertawakan Mike.
"Ish Om Deni saja kita bantu." Mike membela diri.
"Jadi dalam perjodohan harus saling membantu." kata Mike lagi.
"Ayo makan lah sudah datang semua kan." kata Larry lagi.
"Ayo." semua mulai menyendok makanannya.
"Leyi, kalau Rumi insaf elu mau sama Rumi?" tanya Mike kepo, padahal semua sudah hampir menyuap makanannya.
"Elu kenapa kepikiran Rumi terus?" tanya Larry tertawa.
"Secara fisik kalian cocok sebenarnya, tapi kalau dia masih begitu gue tidak rela." jawab Mike tulus.
"Jodoh kan tidak ada yang tahu Mike, semua orang juga punya masa lalu. Yang pasti dari sekarang gue minta sama Allah jodoh yang terbaik siapapun itu." Larry tersenyum.
"Makanlah jangan pikirkan jodoh gue." kata Larry lagi mulai menyuap makanannya.
"Kan maunya kita semua sama-sama sudah menikah, istri kita kompak." kata Mike berharap.
"Gue Lamar saja Rumi sekarang?" tanya Larry bercandai Mike.
"Rima saja." kata Mike tertawa.
"Ish bukan type gue." jawab Larry monyongkan mulutnya.