
"Mas Nanta tungguin aku kan?" tanya Dania saat Nanta mengantarnya terapi pagi ini.
"Iya." jawab Nanta tersenyum.
"Tunggunya dimana?" tanya Dania sebelum turun Mobil.
"Memang tidak ada ruang tunggu?" tanya Nanta bingung, ia segera turun Mobil karena sudah parkirkan kendaraannya dengan sempurna.
"hanya bangku didepan ruangan terapi. Tidak ada kantinnya." kata Dania kasihan karena proses terapi memakan waktu satu jam tiga puluh menit.
"Aku duduk disana saja, tidak boleh masuk kan?" tanya Nanta berharap ia bisa menyaksikan proses terapi istrinya.
"Tidak boleh setahu aku." kata Dania agak ragu, tapi Papa selalu menunggu diluar saat menemani Dania.
"Beli minum dulu kalau begitu, karena lama terapinya." Dania menunjuk minimarket yang mereka lewati, Nanta menuruti keinginan istrinya membeli apa yang Dania mau. Kemudian mereka berjalan menuju ruang terapi Dania.
"Sayang, ini minumnya." Nanta memberikan minuman yang Dania beli tadi.
"Itu untuk Mas Nanta bukan untuk aku."
"Loh kamu, aku kan nanti bisa jalan beli. Kamu didalam lama loh."
"Ada minum di dalam." Dania terkekeh, lalu meninggalkan suaminya yang duduk di depan ruang prakter dokter.
Nanta dengan setia menunggui istrinya yang sedang terapi didalam, ia sudah membawa laptop dan juga buku yang akan dibacanya untuk mengisi waktu selama satu setengah jam. Jika bosan membaca buku, ia bisa beralih ke laptop, banyak hal yang bisa dikerjakannya. Satu setengah jam tidak akan terasa lama.
Drrrtttt... drrrtttt handphone Nanta berbunyi, langsung saja Nanta tersenyum saat membaca nama pada layar.
"Assalamualaikum Bos Ando." sahut Nanta saat menggeser tombol hijau.
"Waalaikumusalaam, punya duit nganggur kan, ikut bisnis yuk." Ando menawarkan sahabatnya.
"Bisnis apa?" tanya Nanta ingin tahu.
"Jual beli mobil bekas, mau?"
"Bagaimana caranya?" tanya Nanta yang belum mengerti.
"Kalau elu percaya, jadi investor saja, gue yang cari mobilnya, kalau cari pembeli kan bisa dari kita-kita juga. Atau kalau belum laku bisa kita rentalkan." kata Ando pada Nanta.
"Percaya sih, tapi ya perlu modal berapa? pembagian keuntungannya bagaimana? mesti dibicarakan supaya tidak ribut kedepannya." kata Nanta pada sahabatnya.
"Elu dimana?" tanya Ando semangat.
"Lagi antar Dania terapi." jawab Nanta.
"Sudah lama terapinya?"
"Baru mulai."
"Ya sudah gue kesana ya." langsung saja ambil keputusan.
"Eh Kerja lu." Nanta tertawa, semangat sekali Ando cari investor.
"Yah kan demi masa depan kita, kebetulan gue lagi bebas tugas nih, Om Micko sama Om Kenan lagi keluar kantor, tadi gue sudah ijin mau keluar sama Tomson. Jadi tidak masalah kalau mampir ke tempat lu dulu."
"Ya sudah kesini saja." jawab Nanta, mereka mengakhiri sambungan teleponnya.
Tidak menunggu lama hanya sekitar dua puluh menit Ando sudah datang menemui Nanta, cengar-cengir saja dia saat melihat sahabatnya.
"Mana Tomson?" tanya Nanta pada Ando.
"Di Mobil."
"Tidak ikut turun?"
"Tidak usah, ini kan bisnis kita berdua." jawab Ando. Mulailah ia menjelaskan rencananya pada Nanta. Ando mengajak Nanta karena jujur ia tidak punya modal, tapi ia memiliki peluang dan pasar yang jelas. Mereka mulai membahas konsep bisnis yang akan mereka jalani.
"Nanti saja kalau sudah banyak hasilnya, sekarang kan kita pemula." jawab Ando.
"Fokus deh, mau rental atau jual beli? Dan stok mobil mau diletakkan dimana?" tanya Nanta detail.
"Kantor bokap lu lagi cari mobil untuk yang disewakan, bisa tidak kita masukkan dua atau tiga mobil."
"Bukannya harus Mobil baru?" tanya Nanta.
"Yang penting tahun muda."
"Harus atas nama perusahaan setahu gue. Mandiri saja dulu, jangan melibatkan orang tua kita."
"Ya sudah berarti kita main jual beli second dulu saja." kata Ando pada Nanta.
"Gue kasih modal saja ya, sementara belum bisa terjun langsung, nanti kalau ada yang cari gue arahin ke elu deh." kata Nanta pada Ando.
"Ya sudah terserah saja, sudah jelaskan tadi pembagian keuntungannya bagaimana." Nanta menganggukkan kepalanya.
"Apa tidak mengganggu pekerjaan dikantor, Ndo?" tanya Nanta lagi khawatir malah kondite kerja Ando jadi buruk.
"Kan jualannya saat weekend, lagian gue harus cari uang halal lebih banyak, berapa bulan lagi punya istri gue." kata Ando membuat Nanta terkekeh.
"Ya sudah kapan gue mesti transfer? surat perjanjian kerjasamanya dibikin, Ndo. Mesti professional biar sahabat juga." kata Nanta, Ando menganggukkan kepalanya.
"Sudah ada incaran Mobil second yang mau kita beli?" tanya Nanta pada Ando.
"Ada." jawab Ando cepat.
"Oh cepat sekali ya sudah langsung saja."
"Mobil gue ya, kita beli Mobil yang gue pakai terus kita jual." Ando cengengesan.
"Kenapa tidak bisnis sendiri kalau begitu, hasil bisa nikmati sendiri tidak usah bagi hasil." kata Nanta terkekeh.
"Gue harus jual mobil buat tabungan, sementara kan bisa pakai Mobil yang dibeli sambil cari pembeli, nanti kalau sudah laku kita beli Mobil lain, jadi gue punya saving juga, selain itu tidak mati langkah karena tidak ada mobil. Boleh kan bos?" kata Ando minta ijin Nanta, main panggil bos saja karena Nanta bersedia menjadi investor.
"Memang paling pintar ya sohib gue. Boleh lah, lu atur saja. Padahal tidak usah libatkan gue, elu pasti juga bisa sendiri." Nanta terkekeh.
"Jangan dong harus ada aura Nantanya, biar bisnis ini berhasil." kata Ando membuat Nanta terbahak.
"Okelah deal." Nanta menyalami Ando. Sebenarnya ia tidak perlu bisnis, tapi demi mendukung sahabatnya Nanta ikut saja. Ia ingin Ando maju, Ando pun begitu ingin Maju bersama Nanta.
"Ndo sudah minta restu Tante sama Om? main jual mobil saja itu kan Om dan Tante yang belikan." Nanta mengingatkan.
"Sudah, mereka yang kasih saran jual mobil untuk modal. Tapi gue kan punya teman yang bisa support juga, makanya gue ajak deh. Ini bisnis kita berdua ya." kata Ando tersenyum senang.
"Iya." jawab Nanta menepuk bahu Ando. Tabungan Nanta cukup untuk dijadikan modal bisnis yang Ando minta, tanpa mengganggu jatah bulanan Dania.
"Gue balik ya, ada kerjaan nih. Nanti kabari kalau sudah transfer, hari sabtu naik iklan." kata Ando pada Nanta.
"Sudah." jawab Nanta mengirimkan bukti transfer pada Ando setelah mengotak-atik internet bangking di laptopnya, untung saja ia selalu membawa token, jadi bisa transfer dalam jumlah besar.
"Bismillah..." kata Ando memejamkan mata sambil komat-kamit, ia berdoa untuk keberhasilan mereka berdua.
"Aamiin." jawab Nanta untuk doa Ando.
"Nanti gue kabari, perlu bikin rekening berdua ya, supaya tahu aliran Dana uang masuk dan keluar." kata Ando pada sahabatnya.
"Boleh, nanti kita atur waktu." jawab Nanta, benar juga mereka harus transparan satu sama lain.
"Iya jadi pembeli langsung transfer ke rekening itu, kita juga bisa lihat langsung transaksi jual belinya, uang keluar masuk elu yang handel ya, gue yang dilapangan." kata Ando bagi tugas, Nanta menganggukkan kepalanya setuju.
"Oke thank you, pikirkan nama perusahaan kita, kalau kita punya showroom nanti." kata Ando berhayal.
"Oke." jawab Nanta tersenyum senang melihat Ando yang tampak semangat, semoga ini langkah baik untuk mereka berdua, Nanta langsung senyum-senyum saja, berhayal bisa berhasil seperti Ayah Eja dan sahabatnya.