
Kejadian semalam benar-benar membuat Nona tidak bisa tidur, selepas Sholat shubuh pun Nona masih tidak bisa memejamkan matanya. Sementara badannya melemah karena tidak istirahat semalaman.
"Kak Nona, jalan pagi yuk." Nanta menggedor pintu kamar, Ah bagaimana mau jalan pagi kalau badan rasanya sempoyongan, keluh Nona. Nona membuka pintu kamarnya dengan mata panda.
"Aku ngantuk, Nan. Semalaman tidak bisa tidur." Jujur Nona pada Nanta.
"Ah, tidak mau makan sih semalam, kalau kelaparan memang begitu." kata Nanta sok tahu.
"Ajak saja Papamu, aku tidur dulu sebentar."
"Papa lagi kerumah Oma."
"Eh kita ditinggal?"
"Kata Papa kita disini saja, nanti Oma dan Opa sarapan disini. Ya sudah Kak Nona tidur saja, aku ajak Bang Ray kalau begitu." Nanta meninggalkan Nona dikamar dan berjalan menuju rumah Ray yang hanya beda beberapa nomor. Sepeninggalan Nanta, Nona baru bisa tertidur pulas, tak perduli apa kata Mama Nina nanti kalau ternyata Nona ada dirumah Kenan.
Pukul sepuluh, disaat matahari sudah tinggi, Nona terbangun dengan panik. Ia mendengar dari dalam kamar, ada yang tertawa dan saling ledek diluar, sepertinya sudah kumpul semua, Nona melewatkan sarapan paginya. Tapi badannya sudah jauh lebih segar.
"Kak Nona, ini baju gantinya, aku gantung dipintu." teriak Nanta dari luar kamar, seperti tahu Nona sudah bangun tidur.
Nona yang sudah mandi segera mengambil paper bag yang tergantung dipintu, mungkin Kenan meminta ART di rumah Mama untuk menyiapkan baju Nona.
"Sudah enakan badannya?" tanya Mama Nina saat Nona keluar dari kamar. Nona terbengong mendengar pertanyaan Mama Nina.
"Kata Nanta kamu tidak enak badan, tadi pagi diajak jalan pagi sempoyongan." kata Kenan melihat Nona bengong.
"Oh iya, sekarang sudah sehat." jawab Nona segera duduk disebelah Mama Nina.
"Papa mana, Ma?" tanya Nona karena tidak melihat Papa Dwi diantara mereka
"Papa tadi dijemput temannya main tennis" jawab Mama.
"Sana sarapan, satenya sudah dipanaskan." kata Mama menepuk pipi Nona.
"Mama?"
"Mama sudah kenyang, Kenan tuh yang belum sarapan. Sana kalian sarapan." kata Mama mengusir Nona dan Kenan dari ruang keluarga. Kemudian Mama mendekat pada Raymond dan Nanta. Mereka tampak berbisik-bisik entah apa yang di bahas. Kemudian tertawa bersama, bikin penasaran saja.
"Kenapa tidak bisa tidur? memikirkan saya?" Kenan tampak menyeringai.
"Ish, aku tidak percaya Mas Kenan tidak percaya diri." Nona menggelengkan kepalanya.
"Loh kenapa?"
"Semalam PD sekali mencuri ciumanku." desis Nona pada Kenan.
"Sengaja, biar kamu ingat terus sama saya."
"Aku belum jawab iya loh. Jangan macam-macam." ancam Nona pada Kenan, wajahnya dibikin sejudes mungkin.
"Iya." jawab Kenan santai, mengambil piring lalu meletakkan beberapa tusuk sate dan juga lontong yang baru dibikin tadi oleh bi Wasti. Nona melakukan Hal yang sama dengan Kenan.
"Siang ini setelah mengantar Nanta, saya mau kerumah Papa kamu, mau ikut?" ajak Kenan pada Nona.
"Mau apa ketemu Papa?" tanya Nona panik.
"Mau mengaku kalau tadi malam saya mencium anak gadisnya." bisik Kenan dengan senyum nakalnya.
"Ish jangan Mas Kenan." teriak Nona panik.
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan, nanti Papa marah."
"Paling segera dinikahkan. Saya tanggung jawab kok." kekeh Kenan puas, sementara Nona tampak merah merona.
"Eh tapi sekarang posisi terbalik ya, kamu yang menolak saya." kata Kenan kemudian. Nona hanya menaikkan alisnya yang berbaris rapi.
"Ikut saja ya kerumah Papa." bujuk Kenan pada Nona.
"Tidak mau, nanti aku dibikin malu."
"Tidak akan, saya janji tidak akan bahas masalah semalam sampai kamu menerima saya."
"Mulai besok aku bawa mobil sendiri." kata Nona lagi. Kenan menggeleng,
"Pakai supir saja." katanya kemudian.
"Aku janji tidak akan melamun lagi."
"Kenapa tidak mau berangkat dan pulang sama saya?"
"Mau mandiri. Tidak mau bergantung sama Mas Kenan, sudah dibikin melambung tiba-tiba diabaikan itu menyebalkan." cerocos Nona sambil menikmati sarapannya.
"Siapa yang diabaikan?" tanya Raymond yang sudah berada disebelah Nona. Nona melirik pada Raymond malas.
"Om Kenan itu bikin pusing waktu diluar Kota, Nona jangan sampai begini, Nona jangan sampai begitu, capek deh." gantian Raymond menyampaikan unek-uneknya.
"Tuh, tidak percaya sudah dijelaskan?" kata Kenan pada Nona.
"ART dirumah Mama juga pusing Non, ditelepon Kenan terus urusan kamu." Mama Nina ikutan curhat. Nona jadi malu dan cengengesan dibuatnya.
"Nona tidak percaya, Ma dan semalam aku ditolak jadi calon suaminya." Kenan bicara apa adanya.
"Aku bilang aku fikir-fikir dulu." Nona meluruskan.
"Apa bedanya? sekarang posisi terbalik Ma, Kunci ditangan Nona, sudah bukan ditanganku ya. Jangan rewel sama aku." kata Kenan pada Mama Nina.
"Bagus, cewek memang harus jual mahal." Mama Nina menepuk bahu Nona dan terkekeh melirik pada Kenan.
"Perlu usaha lebih keras, Sayang." kata Mama Nina menggoda anaknya.
Handphone Nona berdering, tampak Nama Kevin pada layar. Nona menarik nafas lalu menekan tombol hijau.
"Ya vin."
"Oh ini ada Nanta, kamu mau bicara?"
"Nantaaa." teriak Nona mengulurkan tangannya pada Nanta.
"Kak Kevin mau bicara." kata Nona lagi. Sementara Kenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya Kevin akan selalu hadir diantara Nanta dan Nona.
"Kak Kevin." sambut Nanta senang.
"Hari ini saja, bagaimana? nanti aku minta Papa antar aku dan Kak Nona. Kita mau ketemu dimana?"
"Ok sampai Nanti Kak Kevin."
Nanta menutup sambungan teleponnya.
"Kak Kevin mau kasih aku buku panduan tentang Basketball. Nanti kita ketemuan di Mal yang kemarin itu ya. Papa bisa antar kami kan?"
"Hu uh." jawab Kenan malas.
"Jangan lama-lama ya." kata Kenan lagi pada Nanta.
"Iya sebentar saja. Papa ikut ngobrol ya, Kak Kevin orangnya asik." pinta Nanta lagi pada Kenan.
"Hmm..."
"Ada yang cemburu." kekeh Raymond melihat ekspresi Kenan yang malas-malasan.
"Mana boleh cemburu, diterima saja belum." kekeh Mama Nina melihat ekspresi Kenan.
"Setelah bertemu Kevin, Papa mau ketemu Padeh, kamu mau diantar pulang dulu atau ikut ke rumah Padeh?" tanya Kenan pada Nanta.
"Siapa Padeh?" tanya Mama Nina.
"Bang Baron." jawab Kenan
"Ajak saja biar akrab sama calon Opa." Mama Nina kembali terkekeh sementara Nona lagi-lagi merah padam.
"Kamu mau tidak mau ikut kan, karena harus bertemu mantanmu?" tegas Kenan pada Nona.
"Bertemu mantanmu ya Kak Nona." Raymond mengulang kalimat Kenan sambil terbahak.
"Lucu ya Oma, Om Kenan sudah lama tidak begini." tawa Raymond kembali meledak tapi menjauh dari Kenan tak berani dekat-dekat.
"Alhamdulillah Om kamu kembali normal, Ray. Mesti selamatan tidak ya?"
"Hahaha Oma, kasihan Papa diledek terus." Nanta ikut terbahak melihat kelakuan Oma dan Raymond.