I Love You Too

I Love You Too
Gumoh



Benar saja begitu Nanta mengintip Ando di Musholla kampus, sahabatnya itu masih tertidur dengan pulasnya, sepertinya ia benar-benar begadang semalaman.


"Ndo, masih mengantuk? sudah hampir setengah dua nih." Nanta menepuk pipi Ando, tenang saja pipinya kering tidak basah hehehe.


"Sudah selesai bertemu Diana?" tanya Ando pada Nanta.


"Dania, bukan Diana." jawab Nanta terkekeh.


"Parah nih ngantuknya." kata Ando ketika bangkit dari tidurnya.


"Jadi ke perpustakaan?" tanya Nanta pada Ando, melihat Ando begitu Nanta jadi tidak yakin.


"Jadilah." jawab Ando setelah nyawanya terkumpul. Senang sekali rasanya punya sahabat yang selalu semangat belajar.


Mereka menuju perpustakaan, lumayan dua setengah jam untuk belajar dan mencari buku referensi. Padahal besok hanya quiz, tapi karena berteman dengan Ando, Maka Nanta selalu belajar sungguh-sungguh. Terbukti satu tahun kemarin nilai Nanta dan Ando rata-rata A dan B+. Targetnya mereka mau selesai kuliah dalam waktu tiga setengah tahun, Ando malah berharap lulus dengan nilai tertinggi.


"Bagaimana tadi Dania?" tanya Ando setelah mereka selesai belajar diperpustakaan.


"Bagaimana apanya, elu sih tidak mau ikut."


"Pacaran sih ajak teman." Ando terkekeh.


"Siapa yang pacaran sih?" Nanta memiting leher Ando.


"Itu sampai rela bertemu di cafe." Ando mentertawakan Nanta.


"Ck.. itu karena ada titipan dari Neneknya." kata Nanta pada Ando.


"Waduh sudah pendekatan sampai ke Nenek." Ando menggelengkan kepalanya.


"Sudah ah, nanti tambah ngaco." Nanta segera menuju ke mobilnya, Ando mengikuti dari belakang.


"Nan, jadi jemput Wilma?" tanya Ando pada Nanta.


"Jadi, ini rusuh chat terus." jawab Nanta terkekeh.


"Salaam dari Abang Ando." kata Ando konyol.


"Ayo ikut." ajak Nanta, Ando menggelengkan kepalanya, ia mau cepat sampai dirumah supaya bisa istirahat persiapan untuk quiz besok.


"Gue antar pulang, tenang." Nanta menawarkan.


"Tidak usah, nanti tidak konsen lihat Wilma." kata Ando konyol, Nanta jadi terbahak kembali memiting leher sahabat nya.


"Banyak yang naksir tuh, tadi dia sebut Rico." kata Nanta kemudian.


"Waduh, saingan Bang Ando bertambah." kata Ando kembali terbahak.


"Pepet terus, Ndo." kata Nanta pada Ando.


"Gue pepet sekarang nanti nikahnya sama elu, bikin pegal hatiku." kata Ando mendengus kesal.


"Ish, kalau begitu bagaimana ya, jangan ah, masa friend makan friend. Makanya jangan pacaran, nanti langsung lamar saja." kata Nanta teringat pesan Oma.


"Iya, dua tahun lagi." kata Ando berbinar.


"Mau melamar Wilma dua tahun lagi?" tanya Nanta menggoda Ando.


"Dua tahun lagi kita harus lulus, terus kerja deh." Ando menghayal. Nanta menganggukkan kepalanya ikut berhayal.


"Kalau sudah kerja baru menikah." kata Nanta tersenyum pada Ando.


"Gue mau S2 dulu, Nan." jawab Ando.


"Kerja sambil S2 bisa."


"Iya sih, tapi kata Mama kalau sudah kerja jadi malas lanjut kuliah."


"Tergantung, kalau rajinnya kaya elu sih tidak mungkin malas lanjut kuliah." Ando tersenyum lebar mendengar ucapan Nanta.


"Ayolah gue antar, sekalian lewat." Nanta kembali menawarkan.


"Nanti Wilma naksir gue." kata Ando terkekeh.


"Ya bagus kalau naksir Bang Ando, rajin belajar, ganteng lagi terus kalau di Musholla lama lagi." jawab Nanta terbahak, ia masuk kedalam mobilnya, diikuti Ando yang akhirnya menurut diantar pulang Nanta.


"Hahaha tidur di Musholla, rese. Nan, serius kalau gue suka Wilma bagaimana?" tanya Ando ketika Nanta melajukan kendaraannya.


"Wilma bukan istri gue kan, kalau dia mau aku dukung kamu sayang." jawab Nanta sok mesra.


"Ish Kalau Dania bagaimana?"


"Sama juga Dania bukan istri gue, lu maunya sama siapa sih? tanya Nanta kesal."


"Gebetan lu yang mana dong? jangan sampai kita ribut karena cewek nih." Ando balik bertanya pada Nanta.


"Ya sudah Wilma buat gue." kata Ando cengar-cengir.


"Buat gue? memangnya kado." Nanta terbahak.


"Kalau Dania boleh buat gue?" pancing Ando lagi.


"Jangan serakah, maunya Wilma apa Dania? lagipula elu belum bertemu Dania." wajah Nanta serius, Ando jadi tertawa.


"Pikirkan quiz besok dulu saja." kata Nanta kemudian, ia fokus menyetir.


"Iya Aban, eh singkong rebus apa kabar? jadi kangen." kata Ando lagi tiba-tiba teringat Balen.


"Masih di Malang dia." jawab Nanta terkekeh.


"Duh gemes, kalau Balen jodoh gue lucu juga." kata Ando tertawa.


"Elu kebanyakan baca buku nih, mulai gumoh kayanya." Nanta menoyor kepala Ando, kemudian mereka berdua terbahak.


"Yah kan tidak tahu jodoh bagaimana Nan." kata Ando tertawa konyol.


"Aban Ando, Baen masih dua ta'un." kata Nanta menirukan gaya bahasa Balen. Ando tertawa geli, senang sekali rasanya jika mengingat Balen. Apalagi jika Ando menginap dirumah Nanta, Balen tambah betah dikamar Aban.


"Eh ada Ando." sapa Wilma ketika melihat Ando didalam mobil Nanta, ia sudah kenal dengan Ando karena sering ikut Nanta saat menjemputnya sepulang sekolah.


"Apa kabar wil?" tanya Ando pada Wilma.


"Seperti yang kamu lihat dong, tambah cantik." jawabnya tengil, Nanta tertawa saja melihatnya.


"Antar Ando dulu ya." kata Nanta pada Wilma.


"Oke, nyokap apa kabar, Ndo. Masak apa hari ini?" tanya Wilma pada Ando, ia dan Nanta pernah menumpang makan dirumah Ando beberapa kali.


"Duh dia tidak tahu calon menantu mau lewat, sepertinya tidak masak hari ini. Mau makan dulu dirumah?" tanya Ando pada Wilma, Nanta cengengesan saja melihat mereka berdua bicara.


"Mau kalau calon mertua yang masak, kalau beli tidak mau." jawab Wilma konyol.


"Gue telepon dulu ya " kata Ando kemudian menekan tombol handphonenya.


"Kenapa, Ndo?" tanya Mama Ando begitu angkat telepon.


"Ando sudah dijalan, sebentar lagi sampai rumah." jawab Ando.


"Bagus dong, terus kenapa?"


"Wilma tanya Mama masak apa?" kata Ando menoleh pada Wilma yang cengengesan.


"Ini ada Pepes, Wilma mau makan?"


"Masakan Mama apa beli?" tanya Ando konyol.


"Memangnya kenapa kalau beli?" tanya Mama Ando.


"Maunya yang masak calon mertua." jawab Ando membuat Wilma menoyor kepalanya. Nanta langsung tertawa geli melihat keduanya.


"Parah lu." kata Wilma menunjuk Ando tanpa mengeluarkan suaranya. Mama Ando langsung saja tawanya menggelegar, bocah tengil itu memang selalu mengundang tawa.


"Bilang Wilma yang masak Mama mertua." jawab Mama Ando masih terbahak.


"Aku bertiga, Ma. Ada Nanta juga." kata Ando pada Mama.


"Ya pasti sama Nanta, sejak kapan kamu cuma berdua Wilma?" Ando langsung terbahak, senang sekali menggoda Wilma dan Mama sore ini.


Nanta memarkirkan kendaraannya didepan rumah Ando.


"Ayo turun, makanan sudah disiapkan." kata Ando pada Nanta dan Wilma. Gadis tengil berseragam putih abu-abu itu lantas saja turun dari Mobil, berjalan lebih dulu masuk kerumah Ando, ia sudah lumayan akrab dengan Mama Ando.


"Assalamualaikum Tante, aku datang." teriaknya tanpa malu-malu.


"Masuk Wil, tadi Tante beli Pepes tuh enak deh. Ayo makan." Mama Ando menarik Wilma ke meja makan.


"Aku kira Tante bikin." Wilma terkekeh dan langsung saja makan berdua dengan Mama Ando.


"Nanta ayo makan juga dong, pepesnya banyak loh." ajak Mama Ando yang duduk disebelah Wilma.


"Nanta kenyang Tante, maaf nih Tan, ada anak kelaparan, lihat muka Ando langsung tanya Tante masak apa." Nanta terkekeh menepuk bahu Wilma.


"Namanya juga masakan calon mertua selalu dirindukan." kata Mama Ando, Wilma mengangguk saja tak tahu malu, yang penting makan, pikirnya.


"Tante kapan-kapan makan dirumahku ya, Mommyku pintar masak." kata Wilma lagi sambil menikmati Pepes ikan yang dibeli Mama Ando.


"Iya nanti saja kalau Ando sudah kerja." jawab Mama Ando tersenyum jahil. Nanta dan Ando nyengir dan saling pandang jadinya.