I Love You Too

I Love You Too
Tiga Bukan Dua



"Orangnya Peter sudah sampai di Sukabumi." lapor Kenan pada Micko saat mereka berada dikantor.


"Alhamdulillah Kakek Neneknya Dania sudah di Kota Malang." Micko menarik nafas lega. Coba saja kalau masih di Sukabumi pasti jadi beban pikiran mereka lagi.


"Sekarang apa lagi?" tanya Kenan.


"Melepas Nanta bertugas." Micko terkekeh, kemudian mengambil teleponnya menghubungi Ando.


"Iya Om?" jawab Ando dari ruangannya, ia sedang mengerjakan tugas yang Micko berikan tadi, menghubungi pelanggan yang komplen melalui email direksi. Ada beberapa customer yang selalu komplen langsung ke direksi, itu untuk yang kenal dekat biasanya. Mereka tidak komplen melalui customer service yang tersedia.


"Hari ini tugas kamu kawal Nanta dan Dania." kata Micko pada Ando. Ia senyum-senyum membayangkan ekspresi Ando yang selalu tidak dapat disembunyikan. Anak buahnya yang cepat tanggap dan dapat diandalkan, anak temannya dan teman menantunya.


"Kawal?" Ando tampak bingung, mau dikawal kemana Nanta.


"Nanta minta kamu dibebas tugaskan hari ini." kata Micko lagi.


"Asik, siap Om." Ando tentu saja senang, ia sudah bilang Nanta kalau sebelum berangkat mereka bertemu dulu, pikir Ando makan siang saja cukup, ternyata malah di bebas tugaskan untuk pergi bersama Nanta.


"Sekalian ambil mobil kamu tuh masih dirumah Pak Kenan." kata Micko lagi mengingatkan, semalam Ando langsung pulang naik taxi kerumahnya karena sudah mengantuk dan tidak sanggup lagi jika harus menyetir.


"Siap Pak, segera meluncur kerumah Pak Kenan." katanya cepat, mumpung bos lagi berbaik hati, selalu berbaik hati sebenarnya, beruntung sekali Ando bisa bekerja bersama Micko yang sekarang jadi mertua sahabatnya.


"Ando, jangan sampai malam keluar sama Nanta, nanti malam kami ada acara keluarga." pesan Kenan sebelum Ando menutup teleponnya.


"Oke, siap Pak." jawabnya semangat. Ia sudah tidak sabar menghubungi Nanta dan juga Wilma calon istrinya. Hubungannya dengan Wilma berjalan lancar, kedua orang tua sudah saling bicara, terlebih Wilma selalu minta menikah setelah lulus ujian sekolah, ia mau seperti Bunda Kiki menikah muda.


"Mau kemana nanti malam?" tanya Micko pada Kenan setelah menutup telepon Ando.


"Tidak ada makan malam saja dirumah Bang Eja." jawab Kenan.


"Gue ikut?" tanya Micko lagi, minta diajak dengan bahasa berbeda.


"Iya lah, datang saja." kata Kenan terkekeh.


"Oke, gue bilang Mama sekarang biar pesan makanan, Kiki tidak usah masak." perintah Micko.


"Kiki sudah belanja, jangan bikin kacau." kata Kenan menolak.


"Ish belanjaan bisa buat besok-besok." Micko kembali menghubungi Reza.


"Ya Ko?" jawab Reza yang sepertinya sedang bersama Balen, terdengar Balen sedang berceloteh.


"Kiki tidak usah masak, Mama pesan catering untuk nanti malam." kata Micko pada Reza.


"Ish memang kamu diundang?" Reza terbahak menggoda Micko.


"Ck... harus lah ini kan acara menantu gue. Anak gue juga itu. Ingat ya Bapaknya Nanta sekarang tiga, bukan dua." kata Micko lagi membuat Kenan dan Reza terbahak.


"Nanti gue bilang Kiki, tidak usah masak. Itu belanjaan mau diapain ya?" Reza jadi bingung sendiri memikirkan istrinya yang sudah belanja bahan baku.


"Bagikan saja ke tetangga atau buat masak besok hari." kata Micko seenaknya.


"Bukan bilang dari tadi mau datang." keluh Reza kesal, Micko mengacau urusan dapur istrinya.


"Adik lu nih tidak kasih kabar, tidak ajak gue lagi." gerutu Micko menunjuk Kenan. Kenan mencebik saja jadinya. Setelah menghubungi Reza, Micko segera menghubungi Mama Misha.


"Mama sayang..."


"Iya ada apa?"


"Nanti malam kita makan malam di rumah Reza, mereka bikin acara mau melepas Nanta." kata Micko padahal hanya kumpul biasa saja mumpung semua lagi di Jakarta.


"Oke, kita bawa apa?" tanya Mama Misha.


"Kita pesan catering saja, Mama telepon langganan Mama ya, Kiki sudah aku larang masak, padahal dia sudah belanja." Micko terbahak.


"Kamu ini mengganggu saja." Omel Oma Misha.


"Biar tidak repot saja, Ma." kata Micko pada Mamanya.


"Belum, nanti aku kasih tahu." jawab Micko cepat sebelum mamanya ngomel.


Setelah menghubungi Lulu, Micko pun melanjutkan pekerjaannya, siang ini ia dan Kenan ada rapat bertemu klien dari Jepang dan Turki.


Sementara dirumahnya Nanta tinggal berdua saja dengan Dania. Oma dan Opa juga Mamon ke rumah Bunda, mereka berkumpul disana untuk persiapan acara nanti malam. Nanta tadinya mau ikut, tapi Ando sudah meneleponnya dan sedang dalam perjalanan ke rumahnya.


"Dan, Ando sama Wilma mau kesini." lapor Nanta pada Dania.


"Wilma tidak sekolah?" tanya Dania mengingat belum waktunya untuk pulang sekolah.


"Dia ijin pulang cepat, kita mau kemana? mau naik helikopter hari ini?" tanya Nanta pada istrinya.


"Tidak mau sekarang, nanti saja kalau mas Nanta sudah selesai urusan basketnya." kata Dania menghampiri suaminya dan segera memeluknya.


"Mau apa nih peluk-peluk?" tanya Nanta memicingkan matanya menggoda istrinya. Padahal sudah ditinggal berdua tapi tetap Nanta tidak bisa beraksi juga, nanti lagi enak-enaknya Ando dan Wilma datang lagi, kejadian lagi seperti semalam.


"Mau peluk saja kan mulai besok aku cuma bisa peluk guling, sekali waktu peluk Balen deh." Dania terkekeh.


"Aku juga cuma bisa peluk guling deh." Nanta terkekeh.


"Nanti kangen aku tidak?" tanya Dania manja.


"Menurut kamu?" Nanta balik bertanya membuat Dania memberengut.


"Ditanya malah tanya lagi." dengus Dania kesal.


"Seperti itu masih saja ditanya." Nanta ikut mendengus.


"Kan aku mau dengar langsung."


"Kangen lah, masa sama istri tidak kangen."


"Ya siapa tahu, kita kan baru seminggu jadi suami istrinya."


"Kalau bisa dilipat masukkan koper pasti aku bawa ini Istriku." Nanta membuat Dania terbahak.


"Dikira aku apa kali bisa dilipat. Aku sebenarnya mau ikut tapi kuliah." Dania menarik nafas panjang.


"Mana bisa aku disana juga diasrama.'


"Ya siapa tahu bisa bertemu berapa hari sekali kan lumayan, serasa diapelin." Dania tertawa sendiri.


"Sabar ya, nanti kan kita kumpul lagi. Ke Abu Dhabi kamu bisa ikut kalau mau, tapi kuliahnya bagaimana? sekarang saja sudah bolos seminggu." Nanta jadi berpikir.


"Berhenti saja kuliahnya." jawab Dania santai.


"Ish sayang lah, Gara-gara menikah jadi putus kuliah."


"Cari kampus yang bisa kuliah online saja." kata Dania lagi, ada saja idenya asal bisa ikut suaminya kemanapun.


"Nanti kita pikirkan dan diskusikan sama Papa dan Mama kamu. Aku tidak mau kesalahan." Nanta mengecup kening Dania.


"Mas Nanta tapi malu tidak kalau aku tidak kuliah? Masa istrinya Nanta tidak sampai lulus kuliahnya." sungut Dania.


"Tuh kamu sendiri yang punya pikiran begitu, aku maunya yang terbaik buat kamu. Bunda Kiki saja dalam keadaan hamil tetap melanjutkan kuliahnya." Nanta menjelaskan.


"Berarti Mas Nanta malu kan kalau aku tidak lulus kuliah?"


"Tidak malu, hanya sayang saja karena kamu punya kesempatan dan mampu tapi tidak dimanfaatkan, sementara banyak yang tidak mampu ingin sekali bisa kuliah." kata Nanta mencubit kedua pipi Dania dan mengecup bibirnya.


"Ah yang lama ciumnya." pinta Dania saat Nanta melepaskan kecupannya.


"Nanti bengkak mau?" Nanta menyeringai jahil.


"Hahaha tidak usah kalau begitu." Dania buru-buru melepaskan pelukan suaminya, bisa gawat kalau bengkak lagi.