
"Malam sekali pulangnya, kemana saja?" tanya Mama Nina menyambut Nona yang sedang merapikan lauk pauk yang dibawa dari rumah Papa di meja makan.
"Bertemu Kevin, kerumah Papa, mengantar Nanta terus pulang." jawab Nona pada Mama.
"Sudah diputuskan kapan kalian menikah?" tanya Mama Nina pada Nona, ia sudah mendapat info bahwa Baron memberi deadline hingga tiga bulan kedepan.
"Belum tahu, Ma."
"Kalau kalian tidak bisa menentukan waktu, kami orang tua yang akan menentukan kapan waktunya. Lagi pula Mama tidak suka kamu terlalu sering berdua-duaan dengan Kenan, sementara kalian belum halal. Apalagi Kenan sudah pernah menikah, Mama takut dia khilaf." tegas Mama Nina mulai keluar taringnya. Nona merasa tersindir habis, aku juga khilaf, batinnya malu sendiri.
"Nona harus meminta restu Om dan Tante, adik Mama. Bagaimanapun mereka perwakilan keluarga Mama."
"Silahkan saja kamu urus secepatnya. Kalau Papamu kasih waktu tiga bulan, Mama malah kasih kalian waktu sebelum Mama dan Papa ke Jakarta."
"Minggu depan, Ma?" Nona tampak terkejut.
"Iya, hari ini kamu terakhir bertemu Kenan, baru boleh bertemu lagi saat akad nikah." Mama Nina malam ini tidak ada ramah-ramahnya, Nona sampai takut sendiri.
Sementara dirumahnya Kenan tampak berfikir keras, baru saja Mama menelepon Kenan.
Pov On.
"Kamu benar-benar tidak bisa menahan diri ya Ken." semprot Mama saat Kenan mengangkat teleponnya.
"Kenapa, Ma?"
"Kamu kira Mama tidak tahu apa yang kamu lakukan di mobil. Cepat urus pernikahan kamu dengan Nona. Mama dan Papa minta kamu menikah minggu depan dan mulai hari ini kamu jangan temui Nona lagi sampai akad nikah." tegas Mama Nina, kalau begini biasanya tidak bisa ditawar.
"Ma, mana bisa begitu."
"Jangan membantah, Ken. Kamu sudah cukup tua untuk bisa membedakan mana yang boleh mana yang tidak. Baron menitipkan anaknya bukan untuk kamu melampiaskan hasratmu. Pikiranmu kemana sih!!!"
"Ma, Kenan cuma cium."
"Cuma cium, Istighfar kamu Ken. Mana boleh begitu. Halalkan atau tinggalkan. Jangan bikin Mama naik tensi. Kalau ada warga yang lihat bisa diarak nikah kalian."
"Sorry my love, iya, iya akan Kenan halalkan, tapi Kenan sibuk sekali dalam tiga bulan ini Ma."
"Kalau begitu Mama yang akan urus semuanya. Kalian tahu beres saja." tegas Mama mematikan telepon secara sepihak, tanpa menanyakan apa saja jadwal Kenan seminggu ini.
Setelah menunjukkan taring pada Nona dan Kenan, Mama Nina meminta Papa Dwi menghubungi Baron, semua di bikin cepat seakan keadaan mendesak. Mama Nina juga kemudian menghubungi Reza membahas konsep pernikahan Kenan dan Nona.
"Mereka sudah setuju, Ma?" tanya Reza pada Mama.
"Harus setuju, mana boleh membantah. Mama takut Nona keburu hamil sebelum mereka menikah." Mama Nina menyampaikan kekhawatirannya.
"Ish memangnya mereka melakukan apa?" Reza terkekeh mendengar alasan Mama Nina. Omanya Raymond memang paling bisa.
Mama minta kita menikah secepatnya, bagaimana menurut kamu?
Kenan mengirimkan pesan pada Nona. Centang biru menandakan sudah dibaca.
Tadi juga sudah bilang sama aku. Kenapa Mama jadi galak ya Mas Kenan, Aku jadi takut. *Nona
Memang begitu kalau sudah ada maunya, kamu besok sama ke kantor sama supir saja ya, Saya tidak bisa antar dan jemput kamu. *Kenan
Tidak mau Nona malu, Kenan tidak menceritakan secara detail saat Mama menegurnya tadi. Kenan akui, Kenan memang salah, ia terlalu gemas saat melihat Nona tadi. Memang benar apa yang Nenek bilang kalau berdua-duaan itu sungguh berbahaya.
Pesan dari Baron dibaca, sepertinya sudah ada pembicaraan antara Mama Nina dan Papa, pikir Nona. Pusing juga kalau didesak begini. Mas Kenan saja belum pernah bilang cinta. Tadi juga bilang mau menikah, modelnya seperti itu, tidak seperti yang di novel-novel. Apa karena Mas Kenan sudah pernah menikah sebelumnya ya, Nona sibuk berkata-kata dalam hati.
Iya, Pa
Nona membalas pesan Papa tanpa banyak bertanya.
Malam ini Nona hampir saja melewatkan makan malamnya, tiba-tiba saja ia merasa sungkan bertemu dengan Mama Nina. Nona yang tidak dibesarkan dengan kasih sayang seorang Ibu, merasa sensitif diperlakukan seperti itu oleh Mama Nina. Padahal bawelnya Mama Nina itu bawelnya Ibu pada umumnya. Yang wajib menegur anaknya jika si anak melakukan kesalahan. Lamunan Nona buyar ketika bel pada pintu paviliunnya berbunyi. Nona segera keluar mengintip siapa yang menekan bel.
"Kamu tidak makan?" tanya Kiki yang rupanya datang saat makan malam.
"Kak Kiki dari tadi? tanya Nona senyum terpaksa.
"Baru saja, ayo makan. Mama dan Papa sudah menunggu." ajak Kiki menarik tangan Nona.
"Capek ya? kenapa seperti ada yang dipikirkan?" pancing Kiki pada Nona.
"Belum makan kali ya, jadi lemah tak berdaya." jawab Nona asal, malam ini ia tidak mau curhat. Nona mau merenungi jalan hidupnya saat ini. Dosa sih mau saja dicium Mas Kenan, jadinya sekarang pusing sendiri, sungut Nona dalam hati. Bibir Kenan saja rasanya masih menempel dibibir Nona.
Ah gila bener, ini sih harus cepat minta tanggung jawab, kalau aku hamil sebelum menikah bagaimana? Baru jalan beberapa kali saja sudah mau dicium, stupid, stupid, stupid. Nona jadi menggelengkan kepalanya tanpa sadar.
"Jalani saja, jangan dipikirkan." kata Kiki menepuk bahu Nona, seakan tahu apa yang menjadi beban pikiran Nona saat ini.
Makan malam seperti biasa, Nona hanya menyimak pembicaraan Reza dengan Papa Dwi. Kalau ditanya baru Nona menjawab.
"Kamu yang bawa ini, Non?" Kiki menunjuk makanan yang ada ditangannya.
"Iya tadi Tante Mita yang bikin." jawab Nona tersenyum.
"Enak, sampaikan pada Tante Mita terima kasih ya." kata Mama Nina dengan senyum manisnya, seakan tidak ada yang terjadi.
"Iya Ma, nanti Nona sampaikan." jawab Nona canggung. Kalau tadi tidak bikin dosa pasti tidak canggung begini, batinnya.
"Siap menikah Minggu depan, ya Non?" tanya Papa Dwi pada Nona, Kiki merasa deja vu mendengarnya. Papa Dwi juga pernah menanyakan hal ini pada Kiki dulu. Kiki tertawa menyenderkan tangannya kebahu Reza.
"Aku juga pernah ditanya model begini loh." kekeh Kiki berbisik pada Reza. Reza tertawa saja memandang istrinya.
"Nona ditanya Papa tuh, ayo dijawab." kata Mama Nina mendesak Nona. Duh rasanya mau kabur saja, Papaku mana sih ini, harusnya dia ada disini.
"Siap." jawab Nona lantang, ih apa sih kok jawab begini. Nona jadi bingung sendiri.
"Kamu tuh masih enak loh, didesak menikah begini disaat sudah kerja, sudah dewasa dan sudah nyaman juga sama Kenan, Kan? aku dulu masih senang-senangnya kuliah, berhayal bisa lanjut sampai S3, apalah daya berakhir menjadi Nyonya Reza." kata Kiki pada Nona.
"Oh ya? jadi Kak Kiki berhenti kuliah?" tanya Nona takjub.
"Tidak, tetap lanjut selesaikan S1 dalam keadaan hamil dan S2 waktu Raymond umur lima tahun." jawab Kiki tersenyum senang.
"Hebat, tidak berniat kerja kantoran Kak Kiki?"
"Bos Reza bisa ngamuk. Iya kan Ma?" Kiki tertawa memandang Reza dan Mama Nina. Mama Nina tertawa mengingat Kiki dulu.
"Tidak akan pernah sia-sia menuntut ilmu setinggi mungkin, Walaupun hanya menjadi Nyonya dirumah." kata Reza dengan santainya.
"Jadi Nona dipingit ya Ma?" tanya Papa Dwi pada Mama Nina.
"Iya jangan kasih bertemu Kenan ya Pa. Ja, kamu awasi adikmu itu jangan sampai mereka diam-diam bertemu." kata Mama Nina kembali judes. Aih mati kutu lah Nona malam ini. Mana mungkin membantah seperti yang dilakukannya pada Papa Baron selama ini.