I Love You Too

I Love You Too
Request



"Dari semalam sibuk terus aku dibiarkan sendiri." sungut Dania saat Nanta masuk kamar bersiap akan sholat ashar di Mesjid.


"Maaf sayang, kamu sih tidak suka keramaian sementara keluarga Mamon lagi kumpul, tidak enak kalau aku dikamar terus." Nanta segera memeluk istrinya dan mengecup pucuk kepalanya.


"Hmm..." hanya memonyongkan bibirnya dan membalas pelukan suaminya.


"Nanti ikut keluar saja ya, mau?" Nanta menawarkan istrinya untuk ikut ngobrol diluar, Dania menggelengkan kepalanya.


"Mau rebahan saja, setelah magrib saja keluarnya." jawab Dania melepaskan pelukan Nanta.


"Tapi tidak boleh komplen, aku pasti diluar terus sampai semuanya bubar." kata Nanta menangkupkan kedua tangannya pada wajah Dania.


"Iya." jawab Dania pasrah. Nanta tersenyum dan mengecup bibir istrinya, kemudian segera mandi dan berganti pakaian.


"Tadi bahas apa diluar?" tanya Dania pada suaminya yang sudah selesai mandi dan berpakaian lengkap.


"Om Deni lah, siapa lagi." Nanta terkekeh.


"Kenapa Om Deni?"


"Aku kepikiran bagaimana rasanya Om Deni dan Kak Dini yang baru kenal tigal hari sudah jadi suami istri." Nanta tersenyum lebar.


"Yah sama saja dengan kita, pasti ada rasa canggung gitu saat dikamar." jawab Dania santai.


"Sok tahu ah."


"Loh pasti iya, bahkan yang pacaran lama pun pasti akan canggung saat pertama kali berada dalam satu kamar, kecuali mereka memang sering melakukan itu diluar kamar." lancar sekali analisa Dania, Nanta terkekeh.


"Kamu seperti sudah pengalaman saja." Nanta mengacak anak rambut Dania, istrinya ikut tertawa tidak jadi merajuk.


"Aku ke Mesjid dulu ya, kamu jangan lupa sholat."


"Iya."


"Nanti mau berenang? aku mau ajari Balen." kata Nanta lagi.


"Tidak, mau leyeh-leyeh saja sambil nonton kalian disini." jawab Dania sambil mengulet. Nanta tersenyum dan segera keluar kamar.


Sementara dikamarnya Deni pun sedang bersiap ke Mesjid, tampak Dini sedang membantu suaminya mengancingkan baju koko yang dipakai Deni untuk ke Mesjid. Sudah pasti Deni debar-debar tak karuan, mau peluk cium tapi kok sungkan, nanti Dini marah lagi. Mau tidak mau Deni hanya bisa memandang saja sambil berzikir dalam hati.


"Masih sakit perutnya?" tanya Deni pada Dini, ingin tahu juga apa obatnya cocok untuk Dini.


"Tidak." Dini tersenyum manis, Deni jadi terpana, banyak sekali yang harus mereka bicarakan, termasuk nanti akan tinggal di Jakarta atau di Cirebon, bisa jadi mereka akan pisah kota jika Dini tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di Jakarta. Jalan tengahnya setiap libur Deni yang akan mendatangi istrinya ke Jakarta, meskipun hati kecil Deni ingin setiap hari bersama Dini.


"Memikirkan apa?" tanya Dini membuyarkan lamunan Deni.


"Hmm...?" bingung Dini bicara apa.


"Mas Deni pikirkan apa?" tanya Dini lagi.


"Saya bingung kita nanti bagaimana, kamu ikut saya ke Cirebon atau kita tinggal di Kota karena kamu juga punya usaha disini." jawab Deni menghela nafas.


"Aku harus ikut Mas Deni seperti kata Mama, tapi Mas Deni temani aku kalau aku harus ke Jakarta urusan pekerjaan." jawab Dini mengajukan syarat, Deni tersenyum lega jadinya. Langsung saja masalah teratasi.


"Kalau sedang tidak ada pekerjaan penting pasti saya temani." kata Deni lagi.


"Mas Deni boleh request?" tanya Dini ragu.


"Apa?"


"Boleh ya tidak bilang saya, kok aku merasa seperti sedang bicara sama klien." Dini terkekeh.


"Hmm begitu ya, dirumah ini mayoritas sebut saya, kami semua begitu mulai dari Papa, Mas Kenan dan Samuel." Deni ikut terkekeh.


"Oke." jawab Deni menyetujui, ia menarik nafas panjang.


"Sa.. eh aku ke Mesjid dulu, kamu masih mau istirahat?" tanya Deni pada istrinya.


"Aku antar keluar ya, maunya begitu kan?" Dini seperti cenayang saja bisa menebak pikiran Deni, membuat Deni tertawa pikirannya terbaca. Mereka pun keluar kamar bersama, tidak pegang tangan atau rangkul-rangkul ya, mereka masih malu-malu.


"Loh katanya tidur?" sambut Baron yang sudah rapi, saat melihat Dini keluar kamar bersama Deni. Ia duduk bersama Nanta dan Kenan, menunggu Deni dan Samuel yang belum juga muncul.


"Tadi sudah." jawab Dini tersenyum manis.


"Masih mulas?" tanya Baron lagi.


"Kok Papa tahu, Mas Deni cerita ya?"


"Iya papa tadi tanya kamu." jawab Deni pada istrinya.


"Oh iya, sudah tidak sakit kok, Mas Deni tadi kasih obat." jawab Dini tersenyum lagi. Suka sekali tersenyum, Deni beruntung istrinya murah senyum, Baron jadi senang melihatnya.


"Din, kamu belum makan siang loh." Nona mengingatkan.


"Masa sih?" tanya Dini bingung.


"Loh iya tadi setelah Ijab Kabul kita semua makan kamu tidak, kita makan siang kamu juga tidak." kata Nona yang rupanya perhatikan Dini.


"Perhatian juga adek sayang." kata Deni pada Nona.


"Beda tipis sih antara perhatian sama Kepo." kata Samuel yang baru saja muncul, semua tertawa jadinya.


"Nanti mau berenang tidak Kak? Balen ajak berenang sore ini." Nanta menawarkan Dini, meskipun sudah jadi istri Om nya tetap saja panggil Kakak.


"Wah seru juga ya, tapi aku tidak bawa baju berenang tuh." Dini terkekeh.


"Lain kali saja kalau begitu, yang paling penting makan dulu biar kuat eh biar tidak sakit perut." kata Nona pada Dini yang menganggukkan kepalanya sambi tertawa mendengar perkataan Nona yang menjurus.


"Ayo berangkat." ajak Kenan pada semuanya. Mereka semua bergegas keluar rumah.


"Jadi bagaimana Din, rasanya menikah sama orang yang baru dikenal?" tanya Nona pada Dini, padahal rencananya Deni yang mau ditanya.


"Bagaimana ya, aku tuh kok merasa seperti kenal lama sama Mas Deni, apa orangnya memang begitu ya, gampang akrab?" Dini balik bertanya.


"Ramah, perhatian, suka bercanda?" No a menyebutkan sifat Abangnya.


"Iya dan sabar." tambah Dini lagi, Nona mengangguk setuju.


"Memang, mungkin karena selama bertahun-tahun hadapi aku, uji kesabaran ya berhasil." Nona terkekeh. Hanya ada mereka berdua saat ini, yang lainnya dikamar masing-masing, Balen saja hari ini lebih banyak dikamar bersama Richi dan pengasuh.


"Memang kamu kenapa? aduh aku mesti panggil apa nih?" Dini jadi bingung.


"Mau panggil adek sayang seperti Deni juga boleh." Nona terbahak, Dini ikut terbahak


"Aku ya begini, bagaimana sih adik perempuan yang seenaknya sama Abangnya. Pasti uji kesabaran kan. Nanti tanya saja Deni, mungkin dia Dan Samuel yang paling lega saat aku dan Mas Kenan menikah dulu." Rencananya Nona yang mau mendengar banyak tentang Dini, malah jadi Dini yang mengorek informasi tentang Deni melalui adik iparnya. Pembicaraan mereka terhenti saat adzan ashar terdengar.


"Sholat dulu nanti lanjut lagi, kalau kamu lebih baik makan dulu." kata Nona menarik tangan Dini ke meja makan.


"Nasinya ada di magic com, kamu ambil saja, aku tidak temani ya sholat dulu, setelah sholat aku kesini lagi."


"Iya."


"Harus makan ya, kalau tidak aku marah loh." ancam Nona seperti gaya Balen. Dini mengangguk lagi sambil tersenyum, ia bahagia bisa diterima di keluarga Deni dengan hangat.