
Nanta mengikuti dua mata kuliah hari ini, pagi hari jam delapan, disambung lagi jam sepuluh hingga jam dua belas siang. Ia sudah bilang pada Ando sahabatnya, setelah kuliah akan ke cafe seberang dulu. Ando tidak mau diajak bergabung, alasannya mengantuk jadi mau tidur dulu di mushola sebelum ke perpustakaan pukul satu nanti.
"Lu habis begadang?" tanya Nanta pada Ando.
"Hu uh, dari kemarin sudah belajar untuk quiz besok." jawab Ando sambil menguap. Nanta jadi ikut menguap dibuatnya.
"Menular." Ando tertawa melihat Nanta ikut menguap, Nanta pun jadi tertawa.
"Gue sendiri nih ke cafe." Nanta sebenarnya ingin sekali Ando ikut.
"Bertemu cewek kan? sendiri saja lah, kalau gue ikut nanti dia naksir gue lagi." jawab Ando terkekeh kemudian meninggalkan Nanta menuju mushola. Nanta tetap saja mengikuti dari belakang, ia juga mau sholat dulu, makanya tadi ia bilang sama Dania perlu sepuluh menit menuju ke cafe.
Setelah sholat Dzuhur Nanta langsung menuju cafe yang telah ditentukan, tampak Dania duduk sendiri di bangku dekat pintu masuk.
"Kamu sendiri?" tanya Nanta pada Dania.
"Aku kan belum punya teman, disini." Dania terkekeh, sementara beberapa pasang mata sibuk mengamati aktifitas di meja Nanta, walaupun di kampus bukan hanya Nanta yang ganteng, tapi Nanta termasuk Idola, apalagi ia terkenal sebagai atlet basket, sudah pasti badannya saja cukup menjual, apalagi wajahnya juga tampan.
"Semester awal sudah berjalan beberapa bulan loh, kamu masih belum punya teman?" Nanta sedikit takjub mendengarnya. Dania mengangguk sambil tertawa, memang kesannya tidak masuk akal, tapi begitulah Dania yang mandiri seakan tidak butuh orang lain.
"Kamu kan temanku." katanya kemudian.
"Oh iya selamat menjadi temanku." Nanta tersenyum memandang Dania.
"Aku lapar." kata Dania kemudian. Makanan yang sudah terhidang dimeja rupanya belum disentuh sama sekali.
"Eh sorry kamu menunggu aku lama ya. Ayo makan." ajak Nanta, mereka mulai menikmati makanan yang tersaji dimeja, kebetulan Nanta juga lapar.
"Terima kasih ya semalam sudah mau membantuku, Ini titipan Nenek untuk kamu, dia langsung siapkan tadi pagi begitu kubilang kamu kampusnya disebelah kampusku." Dania menyerahkan 2box makanan didalam mica, setelah mereka selesai makan.
"Apa ini?" tanya Nanta tersenyum lebar.
"Dendeng balado sama Rendang jamur tanpa santan." jawab Dania.
"Semua Nenek yang masak?" tanya Nanta kagum, rajin sekali Nenek.
"Iya, semoga kamu suka, menunya nusantara sekali kan? sementara kemarin koperku overload isinya makanan khas Malang beraneka ragam." Dania terkekeh.
"Papaku pasti suka rendang jamur tanpa santan. Dia pola hidup sehat, Itu padahal Nenek kos kamu kan?"
"Nenek angkatku, pemilik rumah kos." jawab Dania tertawa.
"Kenapa bisa diangkat jadi cucu?" tanya Nanta tertarik.
"Mamaku awalnya tinggal di sebelah rumah Nenek, waktu masih single parent sebelum menikah dengan suaminya yang sekarang. Jadi waktu sepuluh tahun lalu setelah mama menikah kami pindah ke London." Nanta menyimak.
"Suami Mama orang Inggris, saat kami diboyong kesana rumah Mama dibeli sama Kakek, lalu mereka bikin kos-kosan." Wajah Dania terlihat sumringah.
"Aku sudah dianggap cucu mereka sejak kecil, mama kan sudah tidak punya orang tua." katanya lagi, Nanta menganggukkan kepalanya.
"Tapi aksenmu masih Indonesia sekali loh, padahal lama juga di London." kata Nanta pada Dania.
"Memang, tidak perlu sok British kan." jawab Dania terkekeh.
"Kenapa kamu tidak kuliah disana saja sih? malah pulang ke Indonesia."
"Kan aku sudah bilang, aku tidak cocok sama Papa tiriku. Sejak punya anak, pilih kasih." sungut Dania.
"Kamu cemburu sama adikmu." Nanta terkekeh. Dania menggelengkan kepalanya.
"Aku justru sayang, hanya saja kalau kami lagi kumpul dengan keluarga Papa tiriku, aku seperti orang asing, tidak dianggap." air muka Dania berubah sendu.
"Kasihan." Nanta malah mentertawakan Dania supaya tidak sedih.
"Aku tidak minta dikasihani, Mas Nanta." Dania akhirnya ikut tertawa, ia lancar sekali bercerita tentang keluarganya pada Nanta yang baru dikenalnya kemarin.
"Katanya kamu suka traveling keliling Indonesia?" tanya Nanta lagi.
"Iya, sejak sekolah menengah aku selalu liburan ke Indonesia, aku keliling saja sendiri." kata Dania tertawa.
"Nekat, kamu kan perempuan masih kecil lagi."
"Masih kecil?"
"Iya anak remaja kan. Kok dilepas begitu saja." Nanta sangat heran, mengingat Oma dulu selalu menemani Nanta jika harus ke Jakarta sendiri.
"Sekarang juga kamu masih remaja."
"Sudah tujuh belas tahun lewat, apa masih remaja juga?" Dania tidak terima dibilang remaja.
"Belum masuk usia dewasa." jawab Nanta,
"Apalagi semalam membuat ulah, Sekarang bawa cash tidak?" Nanta jadi menggoda Dania, ingat semalam.
"Bawa dong." jawab Dania terbahak, kemudian langsung terdiam dan badannya maju kearah Nanta.
"Mas Nanta, kenapa semua gadis yang lewat selalu melihat ke meja ini ya? Apa kamu terkenal?" tanya Dania heran, risih juga menjadi sumber perhatian orang-orang yang lewat.
"Kebetulan saja, kita duduk dekat pintu masuk." jawab Nanta.
"Apa kebetulan juga kalau kepala mereka sampai berputar begitu?" Dania berbisik menunjuk tiga orang gadis yang tampak kasak kusuk.
"Horor ah, kepala berputar, seperti apa saja." Nanta terbahak sambil bergidik ngeri.
"Aku serius loh." kata Dania lagi.
"Mungkin karena kamu cantik." jawab Nanta apa adanya, memang Dania terlihat cantik, ia tidak bermaksud menggoda Dania. Yang dibilang cantik hanya mengernyitkan hidungnya.
"Ya sudah, hampir jam satu." Dania menunjuk jam dipergelangan tangannya.
"Tidak terasa ya, aku bayar dulu." kata Nanta bersiap menuju kasir.
"Sudah kubayar dimuka." jawab Dania tertawa.
"Anak kos banyak duit ya? traktir aku terus dari semalam." kata Nanta menggelengkan kepalanya.
"Lain kali Mas Nanta yang traktir aku." kata Dania tersenyum manis.
"Eh Boleh-boleh, mau ditraktir kapan dan dimana kabari saja." jawab Nanta semangat, ada lain kali berarti bertemu lagi dengan Dania.
"Minggu depan ya aku kabari." jawab Dania. Nanta menganggukkan kepalanya.
"Aku mau ke Malang lagi, Dan. Nenek masih mau makanan khas Malang?" tanya Nanta serius.
"Ish tidak usah, yang semalam kubawa saja banyak sekali." dengus Dania kesal, Nanta tersenyum jadinya.
"Karena titipan Nenek, kita jadi berteman." kata Nanta pada Dania.
"Iya, betul juga." Dania pun tertawa.
"Mas Nanta, kalau jadi traktir aku minggu depan jangan disini ya, risih aku banyak yang lihati." bisik Dania ketika mereka keluar dari cafe.
"Iya ditempat lain saja dan aku tidak jamin, tidak akan seperti ini." kata Nanta terkekeh.
"Kenapa begitu?" tanya Dania.
"Karena aku jalannya sama kamu yang menarik perhatian banyak orang." jawab Nanta.
"Menarik perhatian bagaimana? aku biasa saja." Dania mengernyitkan dahinya.
"Duh kamu tidak sadar ya kalau kamu itu menarik."
"Hei dude, yang melihat kesini dari tadi perempuan bukan laki-laki."
"Yang laki-laki juga melihat kesini." jawab Nanta tertawa.
"Tidak sebanyak yang perempuan, aku jadi takut salah satu dari mereka ada pacar kamu." Nanta terbahak mendengar perkataan Dania, tadi pagi Wilma dibilang pacar dan sekarang dia sebut pacar lagi.
"Jangan sampai ya aku dilabrak sama pacarmu, aku tidak suka berebut lelaki." kata Dania lagi
"Ngomong apa sih? Nanta kembali tertawa.
"Salaam buat Nenek ya, sampaikan terima kasihku juga. Lain kali aku minta Mamon yang siapkan makanan untuk Nenek." kata Nanta pada Dania.
"Mamon?"
"Mama Nona. Mamaku disini." jawab Nanta tersenyum dengan mata berbinar-binar.
"Oh ok." Dania terlihat bingung tapi enggan bertanya, sementara Nanta tidak peduli dengan ekspresi wajah Dania. Pertemuan siang ini dengan Dania membuatnya bahagia dan sedikit lupa waktu, sudah jam satu lewat lima belas menit, tapi Ando juga belum menghubungi Nanta, mungkin dia pulas tertidur di Musholla.