
"Aku langsung ke Bandara saja ya Oma, tidak mampir lagi." ijin Nanta pada Oma Nina melalui telepon, siang ini mereka akan kembali Ke Jakarta. Tidak pilih pesawat malam karena harus ke Surabaya, kasihan Oma Misha terlalu lelah di jalan nantinya.
"Kita bertemu di Bandara." jawab Oma Misha.
"Oma mau antar Oma Misha ya?" Nanta terkekeh.
"Iya dong, sekalian mau jewer cucu Oma dulu." jawab Oma Nina jahil.
"Aku yang dijewer?" tanya Nanta tidak terima.
"Iya kamu siapa lagi? masa Dania." Oma Nina terkekeh.
"Aku kan tidak nakal, peluk saja deh." kata Nanta tertawa merayu Omanya.
"Mau apa peluk-peluk, merayu Oma saja kerjanya." Oma Nina pura-pura marah.
"Biar lepas kangenku, kan baru semalam menginap dirumah Oma. Liburku hanya weekend sih, maunya lebih lama lagi disini." keluh Nanta membuat Oma terharu. Memang setiap ke Malang Nanta hanya bisa menemui keluarganya, jarang sekali bisa bertemu teman sekolahnya dulu, waktunya hanya untuk keluarga. Kemarin saja bertemu Vicky, Nanta sempatkan, itupun atas ide Mamanya.
"Minggu depan kesini lagi saja ya, Oma pesankan tiketnya." kata Oma Nina cepat ambil keputusan.
"Tidak bisa Oma, minggu depan Balen latihan berenang." jawab Nanta ingat sudah janjian dengan Mike dan Larry.
"Minggu depan juga jadwal pertemuan keluarga aku Mas." Dania mengingatkan.
"Tuh Oma, Dania ada pertemuan keluarga Suryadi. Aku harus pastikan dulu hari apa biar Balen tetap bisa latihan." Nanta jadi berpikir.
"Sibuk sekali sih kamu." Oma Nina berdecak entah kagum entah menggoda Nanta.
"Makanya Oma jangan bilang aku tidak perhatian dong, aku saja bingung atur badanku harus berada dimana. Kalau bisa di kloning, kloning saja deh biar semua kebagian." kata Nanta sedikit frustasi, ingin menyenangkan semua anggota keluarganya tapi waktunya terbatas.
"Iya sayang, kami hanya menggoda kamu kok. Oma, Opa dan semuanya sangat mengerti kalau kamu itu sibuk." kata Oma Nina tertawakan Nanta.
"Tapi aku jadi kepikiran." kata Nanta jujur.
"Aku maunya selalu bersama-sama seperti dulu, tapi keadaannya sekarang berbeda." Nanta kembali menjelaskan.
"Duh kasihan cucu Oma jadi kepikiran, Nanti Oma peluk deh." Oma Nina malah menggoda Nanta, bercandai Cucunya yang sedang menyampaikan unek-uneknya.
"Oma aku lagi serius." sungut Nanta.
"Oma juga serius, kamu calon Bapak yang sensi, kena sindrom Ibu hamil ya?" Oma kembali tertawakan Nanta.
"Mungkin ya." Nanta jadi ikut tertawa. Om Bagus dan Mama Tari dari tadi tertawakan Nanta juga, mereka menyimak.
"Mau jalan sekarang?" tanya Tari saat Nanta menutup sambungan teleponnya.
"Boleh, Om Bagus mau ke Event juga kan. Tidak apa kami menunggu di Bandara saja." jawab Nanta tersenyum.
"Kapan kesini lagi?" tanya Bagus pada Nanta.
"In Syaa Allah kalau tidak ada halangan dua minggu lagi, dengan catatan tidak ada acara di club Basket." jawab Nanta, Om Bagus terkekeh mendengarnya.
"Ada salaam dari Kevin kamu." kata Om Bagus kemudian.
"Aku kangen sama Kak Kevin, kenapa tidak pernah hadir di group basket,mau diajari basket oleh Kak Kevin aku." kata Nanta yang mengidolakan Kevin.
"Kamu sih cuma dua hari, Nanti kalau kesini lagi siapkan waktu untuk Kevin." kata Om Bagus, Nanta menganggukkan kepalanya.
Perjalanan ke Bandara hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja, Nanta dan Dania tiba lebih dulu, langsung mencari bangku untuk menunggu kedatangan Oma Misha dan Oma Nina tentunya.
"Tidak usah ditunggui." kata Nanta pada Mama dan Om Bagus.
"Pempek titipan Nona, aman kan?" tanya Tari pada Nanta.
"Aman." Nanta terkekeh.
"Kami langsung ya, karena sudah ditunggu." kata Bagus pada anak sambungnya itu.
"Seperti apa saja. Kamu hati-hati, jangan lupa mengirim kabar, kalau tidak sempat telepon paling tidak Kirim pesan saja." Bagus menepuk bahu Nanta.
"Siap Om, dua anak cukup, jangan nambah lagi ya." pesan Nanta pada Om Bagus, langsung saja disambut gelak tawa.
"Takut tersaingi dia." kata Mama Tari pada suaminya menunjuk Nanta.
"Bukan masalah saingan, aku tidak bisa multitasking, kalau jauh suka lupa perhatikan, fokus sama didepan mata." kata Nanta menjelaskan.
"Mana boleh begitu." protes Mama Tari.
"Iya ini aku pelan-pelan belajar."
"Begitu saja pakai belajar, tinggal jalani." kata Mama lagi.
"Nanti Mama terlambat loh." Nanta terkekeh.
"Iya nih bawaannya mau ngomel saja." jawab Om Bagus terkikik geli.
"Dah Masanta." Ulan melambaikan tangannya pada Nanta.
"Dah Kakak Dania." kembali melambaikan tangan pada Dania
"Cium dulu ah." kata Dania sebelum Om Bagus mengajak Ulan menuju kendaraannya, segera menghampiri ulan dan menciumnya gemas.
"Baen dicium begini juga ndak?" tanya Ulan.
"Iya dong kan sama-sama adiknya Kak Dania juga." jawab Dania mengusap anak rambut Ulan.
"Kangen Baen." kata Ulan memandang Nanta.
"Nanti kalau Masanta di Jakarta kita videocall sama Balen." janji Nanta pada Ulan.
Nanta segera mengajak Dania mencari bangku kosong, istrinya pasti lelah jika berdiri terlalu lama. Mau duduk direstaurant penuh juga, lagi pula kasihan Om Misha harus mencari-cari Nanta dan Dania nantinya.
Setengah jam menunggu Oma Misha baru tiba diantar Bang Ray, Kak Roma, Oma Nina dan Opa Dwi. Kompak sekali mereka berempat selalu saja bersama.
"Dari tadi ya?" tanya Raymond pada Nanta.
"Yang dari aku telepon Bang Ray tadi saja, baru setengah jam." jawab Nanta.
"Itu kita masih dirumah, cepat sekali sih jam segini sudah di Bandara." sungut Raymond jadi terburu-buru karena Nanta sudah lebih dulu sampai. Sebenarnya tadi Nanta sudah bilang nanti saja datangnya, tapi Oma Misha jadi rewel karena cucunya sudah di Bandara.
"Iya soalnya Om Bagus ada event hari ini." Nanta menjelaskan.
"Lagi pula cuma lebih cepat satu jam kok." kata Nanta lagi.
"Lumayan kan satu jam kalau tadi kamu ada dirumah." kata Raymond lagi.
"Lumayan ya bisa bully aku." Nanta menatap Raymond curiga.
"Ish suka pikiran negatif nih suami kamu." katanya pada Dania. Nanta tertawa jadinya.
"Kalau masih kangen bilang dong." kata Nanta pada Raymond, Roma mencibir saja sambil tertawa.
"Kangen sekali aku sama kamu." Raymond langsung memeluk Nanta erat dan menciumi pipi adiknya bertubi-tubi.
"Bang, dilihat orang tuh apa sih." Nanta gelagapan menyelamatkan diri, tapi Raymond tetap saja dengan aksinya, Oma, Opa tertawakan keduanya. Dania dan Roma terkikik geli.
"Iih, aku kan bukan anak kecil lagi." Nanta menghapus bekas ciuman Raymond dipipinya.
"Disayang bukannya terima kasih." gerutu Raymond menaikkan alisnya pada Dania senang sekali berhasil mengerjai adiknya itu.
"Aku mau peluk Oma saja." kata Nanta menjauh dari Raymond. Dasarnya Oma sama jahilnya sama Raymond, ia juga menciumi Nanta bertubi-tubi, kalau Oma yang cium mana Nanta berani komplen, pasrah saja menunggu sampai Oma selesai mencium pipinya bergantian. Kembali semua tertawakan Nanta, orang lain pun bahkan ikut tertawa dan mengabadikan melalui kamera handphonenya, nasib deh jadi orang yang lumayan banyak dikenal orang.