I Love You Too

I Love You Too
Hidayah



"Kenapa pada melamun, pasti sudah lapar. Ayo makan, masakan sudah siap disantap." ajak Mocca yang tak tau cerita.


"Yuk yak yuk kita makan." Seno beranjak menarik lengan Alex dan Anto, yang lain pun mengikuti Seno berjalan menuju meja makan. Seperti akan pesta saja, Mocca memasak banyak menu makanan.


"Ini kamu semua yang masak?" tanya Monik menatap Mocca kagum.


"Hahaha dari kemarin sudah kubilang pada Kiki, bukan aku yang masak, aku tinggal menyebut menu yg ku mau saja." Ups ternyata bukan Mocca yang memasak.


"Woow ayam betutu dan buluh kuah pindang kalian wajib coba ini cuma ada di Bali." Seno mempromosikan menu yang ada dimeja makannya.


"Hebat kak Koka." Kiki terkagum kagum melihatnya.


"Apanya yang hebat, tinggal delivery dari Restauran langganan. Sudah ayo dimakan." Koka terbahak dan mengajak semua untuk mulai menikmati sajian.


"Koka mana sempat masak, apalagi anak dua masih pada kecil. Jadi kita catering sajalah." Seno merangkul Koka istrinya. Tak terlihat mereka menikah karena terpaksa, Seno tampak sangat menyayangi Mocca.


"Kamu mau pakai apa?" Mocca menyendokkan nasi untuk Seno yang sudah duduk manis di meja makan.


"Biar aku ambil sendiri, kamu makanlah, mumpung si unyil anteng. Kalian jangan malu-malu ya." Seno mengambil lauk yang diinginkannya. Mocca pun mempersilahkan tamunya untuk menyendokkan nasi dan lauk, baru kemudian ia menyusul. Mereka mulai makan bersama menikmati menu yang disajikan.


"Kamu kemana aja Ki, ga pernah kedengeran tau-tau muncul." semua tertawa mendengar ocehan Mocca.


"Benar aku kaget loh waktu Papa bilang anak tante Ririn lagi di Bali, ku kira Wina, ternyata adiknya yang aku belum kenal. Karena kamu masih kecil banget dulu, sekarang sudah menikah ya. Mas Alex, Mas Anto kalian menikah dengan gadis belia." Mocca menggelengkan kepalanya. Alex dan Anto tertawa dibuatnya.


"Loh kak Koka kenal kak Wina?" tanya Kiki heran.


"Justru yang bantu aku waktu kasus sama Mas Seno ya si Wina." Seno menggarukkan kepalanya mendengar ocehan istrinya yang tanpa beban. Membangkitkan luka lama.


"Kamu ingat Wina kan Mas?" tanya Mocca pada Seno.


"Yang tampar aku waktu itu, mana mungkin aku lupa." jawab Seno mengelus pipinya seakan masih terasa sakit ditampar Wina. Mocca tertawa dibuatnya ikut mengelus pipi suaminya.


"Ya kalau Wina ga tampar Mas Seno mungkin dia sudah menikah dengan mantannya si Ranti." lagi-lagi Mocca tertawa.


"Sayang.." Seno memegang lengan istrinya, khawatir pada akhirnya Mocca emosi karena membahas Ranti.


"Jadi kenapa kalian bisa pindah ke Bali?" tanya Alex mengalihkan pembicaraan melihat Seno yang tampak salah tingkah.


"Oh karena Hotel di Bali harus ditangani langsung, ada sedikit masalah waktu itu, awalnya cuma mau menetap enam bulan, tapi ternyata Mocca betah jadi kita putuskan untuk menetap disini. Yang di Jakarta kan sudah ada yang handel." Jawab Seno menjelaskan.


"Lagian ya kalau di jakarta Ranti masih terus saja mengejar mas Seno." jawab Mocca apa adanya.


"Sayang kamu kenapa bahas Ranti terus? Lihat muka Alex sama Anto kamu jadi ingat Ranti ya?" tanya Seno sambil mengajak Mocca bercanda.


"Tadi Ranti Chat aku, ga tau dapat nomor aku dari siapa. Nih kamu baca." Mocca menunjukkan handphonenya pada Seno.


"Kamu menghancurkan masa depan saya Mocca, Kamu merebut kebahagiaan saya. Saya benci kamu !!! Senang ya bahagia diatas penderitaan saya."


Seno menggelengkan kepalanya membaca pesan dari Ranti. Untung saja makan mereka sudah selesai, hanya belum beranjak dari kursi meja makan saja.


"Tepatnya dia selingkuh, Mas Anto kamu pasti kenal Chandra, dia pacaran sama Ranti waktu itu." Mocca membuat Anto kaget, Chandra sahabatnya setau Anto sudah menikah dari sebelum Mocca menikah dengan Seno.


"Chandra sudah punya istri Ka, gue kenal baik keluarganya. Chandra kan sahabat gue."


"Coba tanya Chandra To, mungkin Chandra tau penyebab Ranti depresi. Harusnya bukan karena gue sih, setelah putus aja, mocca tetap nolak gue. Asal lu tau nih anak keras kepala, biar perut blendung juga ga mau gue nikahi. Pada akhirnya mau karena papa Tio membujuk menikah sampai anak kita lahir, setelah itu pisah jalani kehidupan masing-masing. Tapi keburu cinta ya sayang, ga jadi pisah kita" Seno membelai rambut istrinya.


"Siapa yang mau menikah sama orang yang suka mabok. Kasihan kan kalau anaknya lihat bapaknya tiap sebentar mabok." sungut Mocca kesal mengingat kelakuan Seno waktu itu.


"Sekarang sudah insafkan, sudah tiga tahun loh sayang kita menikah. Aku sudah ga pernah sentuh alkohol lagi. Bahagia ya, Alhamdulillah. Eh Tapi kamu ingat kan aku sudah bilang kayanya kita dijebak waktu itu. Gini Lex, Masa gue cuma minum segelas bisa begitu Lex, lu tau sendiri kita kalau buka botol bisa habis berapa banyak, dan Mocca saat itu pesan soda, cuma minum soda bisa mabok kan lucu. Aku mau selidiki kan waktu itu, sama papaku dilarang."


"Bokap lu kali yang jebak, biar lu insyaf." Anto asal bicara, tapi Alex mengiyakan.


"Mocca bokap lu yang rekrut kan waktu itu." tanya Alex. Seno mengangguk.


"Ah sudah lah yang pasti gue beruntung dapat istri Mocca, biar galak-galak gini juga." kali ini Seno mengusap punggung istrinya.


"Boleh lah nanti kita mulai selidiki. Sekarang boleh bahas Ranti ya Ka." Alex meminta ijin pada Mocca dan Mocca menganggukkan kepalanya.


"Jadi Ranti tuh setahun kemarin sudah sembuh dan sudah hidup normal, dia kerja diperusahaan kontraktor yang handel Restauran Reza dan Mario. Mereka nih yang punya Warung Elite, kalau ke Jakarta mampir cobain. Lagi Happening banget tuh Restauran."


"Oh iya gue tau, Restauran yang suka bikin music live kaya konser gitu kan. Jadi anak muda berasa ke cafe tanpa mabok ya, ala ala club tapi ga jual minuman keras, bagus konsepnya. Memang lagi ngehits banget, Ayolah buka cabang di Bali kita garap bareng." Seno semangat membicarakan peluang bisnis.


"Nanti ya bahas bisnisnya, gue lagi bahas Ranti nih. Mau dilanjut ga?" tanya Alex


"Lanjuuutttt." Mocca dan Monik tampak kompak ingin tau cerita tentang Ranti.


"Ranti sepertinya jatuh cinta sama Reza, tapi sayangnya Reza sudah menikah, saat dia bawa istrinya mau dikenalin ke Ranti. Ga tau gimana nekatnya Ranti ketemu Kiki di toilet malah minta Kiki menjauhi Reza, nasibnya ga bagus malam itu, lagi labrak Kiki malah disiram air segayung sama Enji. Duh kasihan tapi gimana ya gue sama si Ranti malam itu."


"Enji mana nih?" tanya Seno


"Anaknya Burhan Komarudin yang ternyata temannya mereka." Alex menunjuk Kiki, Reza dan Mario.


"Anak baik ya mereka pastinya, karena ga kena blacklist sama tante Burhan. Gue kenal banget tante Burhan, dia sohibnya nyokap. Lu apain Ranti bisa begitu?" tanya Seno pada Reza.


"Baru juga kenal Mas, Ketemu baru sekali saat survey hasil kerjanya dia. Aku komplen habis waktu itu minta dia perbaiki. Setelah itu dia telepon terus ajak ketemu, aku ga pernah ladeni. Teleponnya suka ga aku angkat, chat juga kalau aku rasa ga perlu aku ga balas." Reza menjelaskan.


"Nah karena lu begitu Ranti jatuh cinta, dari dulu dia selalu jatuh cinta sama cowok yang cuekin dia." Seno terkekeh mengingat masa pendekatannya dengan Ranti.


"Loh emang dulu kamu begitu?" tanya Mocca


"Iya aku awalnya cuekin dia sayang, aku ga ladeni tanya aja Alex sama Anto."


"Iya betul Ka, karena dia beler akhirnya dia ga bisa menolak." jawab Anto polos.


"Huh makanya jangan suka mabok, punya mantan aneh kan akhirnya." Mocca mencubit perut suaminya.


"Kalau ga mabok kamu kan ga hamil waktu itu, Alhamdulillah gue dapat hidayah." kata Seno mensyukuri keadaannya saat ini, meski sedikit terlintas masalah Ranti diotaknya.