I Love You Too

I Love You Too
Pengorbanan



"Mas Nanta..." Dania menepuk pelan punggung Nanta, ia sudah berhasil menetralkan perasaan canggungnya.


"Hmm..." Nanta tersadar dan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah istrinya, menangkup dengan kedua tangannya. Kembali mencium dahi, pipi Kiri dan pipi kanan, diam sesaat berpikir maju mundur, kemudian akhirnya mengecup bibir Dania, membiarkannya menempel lama. Ah Dania kembali berdebar tak karuan. Kembali Nanta mengecup bibir Dania kemudian terkekeh.


"Aku wudhu dulu." katanya kemudian meninggalkan Dania ke kamar mandi. Dania menghembuskan nafasnya kencang begitu Nanta sudah menutup pintu kamar mandi, rasanya wajah Dania memanasi. Ia mengurut dadanya beberapa kali, agar lebih tenang, beberapa kali menarik nafas dan menghembuskannya. Duh begini ya rasanya, bikin panas dingin, pikir Dania.


Sementara Nanta didalam kamar mandi berdiri sambil berkaca memegang bibirnya, pengalaman pertama mencium perempuan, walaupun sudah halal tapi rasanya kok gemetar. Nanta menghembuskan nafasnya pelan, main basket tidak gemetar kenapa cium bibir rasanya begini, pikir Nanta. Ia membasuh wajahnya, kembali menatap cermin, memastikan apakah wajahnya masih memerah atau sudah normal.


Setelah tenang, Nanta mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi, cukup lama ia melamun didalam, menunggu wajahnya kembali normal. Ia tersenyum saat melihat Dania duduk di kasur.


"Yuk." katanya mengulurkan tangannya pada Dania, hanya sebelah tidak keduanya, kali ini Nanta akan hati-hati agar Dania tidak lagi terjatuh kedalam pelukannya, bisa berabe urusannya. Dania menyambut uluran tangan suaminya, mereka berjalan keluar kamar bergandengan tangan.


Tidak terlihat Micko dan yang lain diruang keluarga. Apa mereka tidak ke mesjid, pikir Nanta


"Papa mau dibanguni, apa kutinggal saja?" tanya Nanta pada Dania.


"Banguni saja ya."


"Papa sudah bangun." kata Micko tersenyum melihat anak dan menantunya saling bergandengan tangan.


"Belum mandi?" tanya Micko pada Dania.


"Belum, antar Mas Nanta kebawah dulu." jawab Dania, Micko terkekeh, sebenarnya ia penasaran keduanya sudah malam pertama apa belum, makanya tanya Dania sudah mandi apa belum. Mau lihat Dania rambutnya basah apa tidak, kalau basah berarti sudah aman pikir Micko menyeringai.


"Kita tunggu Winner dan Lucky dulu." kata Micko pada Nanta.


"Mereka sudah bangun, Pa?" tanya Dania.


"Sudah." jawab Micko, tadi ia sudah menghubungi anaknya via handphone, sebenarnya ingin menghubungi Nanta juga tapi takut mengganggu.


"Pegangan tangan terus, tidak keram?" tanya Winner tertawa menggoda kakak dan Iparnya.


"Hehehe..." Nanta segera melepaskan genggaman tangannya.


"Ish kamu ini mengganggu saja, apa kamu tahu kalau suami istri saling bergenggaman tangan, maka dosa mereka sedang berguguran." Micko memberi tahu Winner.


"Wah aku baru tahu, ya sudah pegangan tangan saja lagi." kata Winner membuat Nanta terbahak.


"Ada apa sih?" tanya Lucky yang baru saja muncul.


"Papa baru saja kasih ceramah." jawab Winner pada Lucky.


"Oh, aku terlambat ya."


"Ayo ayo, nanti keburu adzan." ajak Micko, bisa panjang kalau Winner dan Lucky sudah bersahutan.


"Cepat mandi, sholat shubuh." pesan Micko pada Dania.


"Iya." jawab Dania.


"Papa bawa kunci." kata Micko pada Dania.


"Oh ya sudah aku kekamar saja ya." kata Dania kemudian menyalami Papa, suami dan adik-adiknya.


"Tidak cium istri, biar dosa berguguran?" tanya Winner.


"Oh kalau itu juga kah?" tanya Nanta. Micko tertawa saja.


"Setiap perbuatan baik kamu sama istrimu itu bernilai ibadah." jawab Micko, Nanta segera mengecup dahi istrinya.


"Papa tidak didepan umum juga." protes Dania.


"Kalau pipi dan dahi saja tidak masalah, yang bukan suami Istri saja banyak yang cium pipi saat bertemu." kata Lucky pada Kakaknya. Micko tertawa saja, tidak mau memperpanjang, nanti lama lagi sampai dimesjid.


"Nanti Nek Pur mau diantar jam berapa?" tanya Dania setelah mandi dan sholat shubuh, Dania, Tante Lulu, Oma Misha dan Nek Pur sudah duduk dimeja makan. Oma Misha pagi sekali sudah siap masakannya, ia juga sudah menyiapkan buah potong untuk Nanta, padahal Papa pesan agar Nanta yang menyiapkan itu Dania.


"Setelah sarapan juga boleh." jawab Nek Pur.


"Cepat sekali, setelah makan siang saja.' protes Oma Misha.


"Cateringku terlalu lama tidak diawasi." kata Nek Pur.


"Supir kalau weekend begini datangnya siang." kata Oma Misha.


"Nanti aku dan Mas Nanta yang antar Oma." kata Dania pada Omanya.


"Tidak tahu, belum ada rencana." jawab Dania.


"Jangan diganggu Oma." kata Lulu pada mertuanya.


"Hahaha Oma hanya ingin ikut cucu jalan-jalan." kata Oma tertawa.


"Ya sudah ayo Oma ikut saja." kata Dania.


"Pulang dari rumah Bu Pur, kita kerumah keluarga suamimu ya, Oma sudah lama tidak bertemu Oma Nina dan Opa Dwi."


"Boleh Oma." jawab Nanta yang baru saja kembali dari mesjid.


"Tuh buah kamu sudah Oma siapkan." kata Oma Misha menunjuk potongan buah dimeja makan.


"Aku tidak disiapkan Oma?" tanya Winner.


"Itu, semua bisa kamu makan." kata Oma pada cucunya.


"Aku juga mau seperti Bang Nanta, Oma. Pola hidup sehat dan menikah muda." kata Winner membuat Lulu mengerutkan dahinya.


"Mimpi apa ingin menikah muda?" tanya Lulu terkekeh.


"Pegangan tangan saja dosa berguguran, ya aku mau lah." jawab Winner membuat Micko mengacak anak rambut Winner.


"Sekolah yang benar, kalau sudah bisa cari uang lagi kuliah baru bisa menikah." kata Micko.


"Berarti Papa menikahkan Kak Dania dan Bang Nanta karena Bang Nanta sudah bisa cari uang?" Winner mencibir.


"Nanta bertanggung jawab dengan hobbynya, makanya dia bisa menghasilkan uang. Kalau kamu bosanan begitu, kursur ini berhenti tengah jalan, kursus itu berhenti tengah jalan." Lulu mulai merepet.


"Salah satu yang merusak mental itu ketika dibanding-bandingkan." kata Winner tertawa jahil.


"Ish jewer saja kupingnya, setiap kali dikasih tahu bikin kesal." kata Oma Misha pada Lulu.


"Hahaha jangan begitu Oma, aku hanya bercanda. Iya aku mau kursus lagi deh, aku janji serius." janji Winner pada semuanya.


"Buktikan saja, sebelumnya juga kamu pernah berjanji." kata Lulu disambut kekehan Micko.


"Aku mau kursus piano loh, sampai sekarang belum ada gurunya." kata Lucky ikut-ikutan.


"Eh Mamon dan Kak Roma main pianonya jago loh." kata Nanta promosi.


"Oh ya, aku mau lihat." kata Dania pada Nanta.


"Nanti kan kita sama Oma ke rumah, bisa minta mereka main." kata Nanta lagi.


"Aku ikut." kata Lucky pada Nanta.


"Ayo." ajak Nanta.


"Aku juga." kata Winner lagi.


"Ayo , eh mobilnya tidak muat." kata Nanta kemudian tersenyum tidak enak hati.


"Begini saja, Nanta sama Dania antar Nek Pur setelah itu kerumah Papanya. Kita langsung saja dari sini." kata Kenan pada anak dan istrinya.


"Mama ikut sama Nanta." kata Oma Misha.


"Pilih kasih." celutuk Lucky menggoda Oma.


"Mentang-mentang punya cucu baru." Winner menimpali, Nanta tertawa mendengarnya.


"Sama kalian sudah sering, berantem terus lagi. Sekarang pindah cucu saja." kata Oma Misha membuat kedua cucunya berebutan memeluk Oma.


"Enak saja mau pindah cucu, lupa pengorbanan aku dari lahir jadi cucu Oma." kata Lucky konyol.


"Apa pengorbanan kamu, gaya betul." kata Papanya pada Lucky.


"Aku selalu menemani Oma tidur dari kecil sampai sekarang, apa itu bukan pengorbanan, kamarku kubiarkan kosong setiap malam." gerutu Lucky membuat Oma Misha terbahak dan memeluk cucunya.


"Mana mungkin pindah cucu, tambah cucu sih iya, begitu saja hitung-hitungan." kata Misha menoyor kepala Lucky sambil terkekeh.