
"Kalau aku berangkat nanti kamu tetap disini kan?" tanya Nanta pada Dania, saat ini Nanta sudah kembali ke kamar, setelah asik ngobrol dengan Om Samuel dan Om Deni.
"Iya disini saja, bisa makan enak." jawab Dania berbinar-binar.
"Disana juga makanannya enak." jawab Nanta.
"Tapi dedeknya suka masakan Mamon." jawab Dania, Nanta terkekeh menghampiri istrinya yang bersandar ditempat tidur. Mulai membelai-belai perut Dania yang belum terlihat hamil.
"Beneran ini Dedek yang mau makan disini apa Mamanya?" tanya Nanta bicara pada Baby dan istrinya. Dania terkekeh, mungkin sebenarnya memang maunya Dania saja makan masakan Mamon.
Padahal kadang bukan Nona yang masak tapi tetap saja merasa itu masakan Mamon. Mungkin kalau Mama Lulu mengirimkan makanan untuk Dania diam-diam, asal lihat Nona sibuk dimeja makan pikirnya Nona yang masak.
"Mamanya sih tapi dedek ikut menikmati." jawab Dania terkekeh.
"Mas telepon Mama dong di London, kan Mama belum tahu aku hamil." pinta Dania pada Nanta.
"Mama bilang biar dia saja yang menghubungi kita, dia tidak akan menerima telepon dari nomor Indonesia." jawab Nanta membuat Dania kecewa.
"Apa sih yang ditakuti, sampai menghindari telepon dari aku." sungut Dania sedih.
"Nanti kalau di Abu Dhabi bisa telepon Mama, kamu mau ikut tidak ke Abu Dhabi?" ajak Nanta.
"Apa boleh lagi hamil? Lagi pula Mas Nanta sama rombongan." tanya Dania ragu.
"Boleh sih kata aku hehehe. Kamu nanti kan ada Dona, dia juga mau ikut kalau ada temannya." jawab Nanta.
"Dirumah Papa saja aku tidak bisa makan Mas, apalagi nanti disana." Dania meragukan ia bisa ikut Nanta ke Abu Dhabi.
"kalau begitu besok coba dulu menginap di rumah Papa. Biar tahu dedek rewel apa tidak disana." kata Nanta pada Dania.
"Gitu ya, boleh deh."
"Dedek, mau ikut Ke Abu Dhabi tidak?"kata Nanta lagi sambil mengusap perut Dania.
"Kalau mau ikut tidak boleh rewel, makannya harus pintar." lanjut Nanta lagi. Dania tertawakan Nanta, lucu sekali suaminya bicara sendiri.
"Kalau besok dirumah Papa Micko tidak rewel makannya, kita ikut ke Abu Dhabi."walaupun tertawakan suaminya, Dania ikut mengusap perutnya dan bicara sambil menatap si Dedek yang masih bersembunyi didalam perut.
"Ah, Aku juga belum kasih tahu keluarga di Malang. Nanti saja ya pulang dari Abu Dhabi. Pasti kamu dilarang ikut kalau tahu sedang hamil." kata Nanta pada istrinya, ia ingin sekali Dania menyaksikannya bertanding di Luar Negeri. Dania menganggukkan kepalanya.
"Tanya Papa deh, Mas." pinta Dania pada Nanta.
"Tanya apa?" Nanta menempelkan pipinya pada perut Dania. Sesekali bibirnya menyambar ke atas, membuat Dania meringis.
"Aku boleh tidak ikut ke Abu Dhabi." jawab Dania.
"Besok saja, kan kita mau menginap disana." Nanta yang sedang dalam posisi nyaman malas bergerak.
"Huhu ya sudah aku saja yang tanya, awas Mas aku mau ambil handphone." usir Dania pada suaminya yang menghalangi ruang geraknya.
"Sama saja, aku lagi dengarkan Dedek bilang apa ini." kata Nanta terkekeh. Dania langsung saja tersenyum dan kembali menyandarkan badannya.
"Apa? Dedek minta ditengok?" dasar Nanta bisa-bisanya mengarang cerita.
"Modus, itu sih Papanya yang mau." Dania tertawa memencet hidung suaminya. Memang sejak pulang dari Amerika mereka belum melakukannya karena Nanta takut menyakiti Dania. Tapi tadi melihat gaya istrinya yang lincah di kolam berenang Nanta pikir istrinya sudah sehat.
"Memang Mamanya tidak mau ya?" Nanta tertawa dengan suara sengau, berusaha melepaskan tangan Dania dari hidungnya.
"Mau sih..."
"Pakai sih lagi." dengus Nanta yang mulai bergerilya menciumi perut Dania semakin lama semakin naik dan menetap di satu tempat, hingga Dania mulai mengeluarkan suara aneh, selanjutnya hampir saja terjadi apa yang mereka inginkan, tapi Nanta kembali sambil berpikir gaya apa yang harus mereka pakai. Nanta menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa?" tanya Dania heran, sementara badannya sudah panas dingin menunggu gerakan yang lain, suaminya malah berhenti.
"Aku mau browsing posisi yang tepat untuk Ibu hamil." jawab Nanta terkekeh.
"Ish terlalu lama, gaya biasa saja yang penting pelan-pelan." jawab Dania menarik tangan suaminya agar kembali beraktifitas. Mana mungkin harus menunggu Nanta baca petunjuk dulu hahaha.
"Oh, ok." langsung saja Nanta mengikuti keinginan istrinya dan selanjutnya Ia melakukan seperti kebiasaan mereka, hanya saja kali ini slow motion😁.
Keesokan harinya saat sarapan pagi,
"Aku mau ajak Dania ke Abu Dhabi, Pa." kata Nanta pada Kenan, pikir Nanta ini waktu yang tepat karena kalau sudah melahirkan nanti susah lagi mengajak Dania, karena masih harus menjaga kondisi dedek bayinya.
"Selama Ibu dan janin sehat sih, tidak masalah. Hanya saja yang lebih aman itu kalau mulai memasuki usia kandungan tiga belas sampai dua puluh delapan minggu." jawab Deni berdasarkan pengetahuannya.
"Aku sih sehat." jawab Dania yakin.
"Janinku in syaa Allah sehat juga." lanjut Dania lagi.
"Ada yang temani kamu?" tanya Kenan pada menantunya.
"Dona." jawab Nanta pada Papanya. Kenan menganggukkan kepalanya.
"Silahkan saja, resiko tanggung sendiri ya." jawab Kenan mengijinkan.
"Doakan tidak ada resiko dong Pa." sungut Nanta pada Papa, Kenan tertawa.
"Sudah pasti itu." jawabnya dengan senyum melengkung dibibirnya.
"Dona saja yang ikut?" tanya Deni pada Nanta.
"Dendin mau ikut juga?" tanya Nanta terbahak.
"Dania kan perlu dikawal dokter." jawab Deni cengengesan.
"Eh dasar ya, itu rumah sakit ditinggal terlalu lama." kesal Samuel pada Deni, yang mulai tidak professional.
"Masa depan ini, bagaimana sih tidak mau mendukung." sungut Deni.
"Siapa nanti yang wakilkan?" tanya Samuel.
"Pakai tanya lagi, sudah tahu kan siapa yang harus wakilkan." Deni terkekeh, Samuel menggelengkan kepalanya sudah pasti Samuel yang akan ketumpuan.
"Sama saja seperti Nona." omel Samuel pada Deni.
"Gue kecolek juga nih." Nona terkekeh.
"Iya, tidak ingat kalau merajuk sama Papa tinggalkan pekerjaan di Malang berminggu-minggu pulang ke Cirebon. Siapa yang hibur kalau bukan Gue sama Deni."
"Aib masih saja diungkit." Nona terkekeh, Balen yang asik main bersama Ichi dan si kembar hanya menyimak, sejak Abang pulang dari Amerika Balen belum mengganggu Abangnya, karena tahu Dania butuh perhatian Abang, jadi Balen tahu diri.
"Jadi kalau Kak Dini ikut, Om Deni ikut juga ya?" tanya Nanta memastikan. Deni menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah nanti aku minta Doni untuk siasati." Nanta terkekeh, ia senang kalau Om Deni ikut, bisa ikut awasi Dania. Walaupun Om Deni bukan dokter kandungan tapi pasti tahu langkah apa yang harus diambil. Nanta segera menghubungi Doni dan menyampaikan rencananya bersama Om Deni, tentu saja disambut Doni dengan senang hati. Setidaknya istrinya tidak kesepian karena ada Dini dan Dania ditambah lagi Om Deni.
"Kak, ikut ya nonton aku ke Abu Dhabi temani Dona." kata Doni pada Kakaknya terdengar oleh Nanta, rupanya Doni lagi menginap dirumah orang tuanya.
"Kapan?"
"Hari minggu ini berangkatnya, kalau Oke semua diurus cepat hari ini." kata Doni pada Kakaknya.
"Bayarin..." terdengar suara Dini minta dibayari oleh adiknya.
"Iya." jawab Doni pasrah harus mengusap tabungan demi jodoh Kakaknya.
"Ya sudah." Dini menyetujui, Nanta menutup sambungan teleponnya karena tadi sudah closing sama Doni, hanya saja diminta mendengar percakapan Doni dan Kakaknya.
"Nanti Om yang bayar." jawab Deni ketika Nanta selesai bicara dengan Doni, tadi handphonenya di loudspeaker oleh Nanta.
"Bukan main, langsung keluarkan modal banyak." Samuel menggelengkan kepalanya senyum-senyum.
"Keponakan sama cucu tidak sekalian?" Nona menggoda Abangnya.
"Urus saja semua, Nan. Nanti kasih tahu Om, berapa total transfer." jawab Deni membuat Nanta bersorak senang, Om Deni jadi sponsor keberangkatan istrinya.
"Kasihan Om kamu itu, jangan di bebani." kata Kenan pada Nanta.
"Biarkan saja duitnya banyak. Selama ini dia nikmati sendiri, kapan lagi mau traktir Nanta." celutuk Samuel.
"Betul itu cuma colek gaji belum colek yang kantong yang lain." sahut Nona ikutan.
"Dasar ya kalian ternyata hitung-hitung income gue." Deni menggelengkan kepalanya, Samuel sama Nona memang biang rusuhnya Deni dari dulu. Keduanya tertawa berharap misi Deni berhasil.
"Sudah keluar uang banyak, pulang Dari Abu Dhabi harus langsung menikah loh." tegas Nona pada Abangnya, membuat Deni ternganga dikasih target oleh Nona.