I Love You Too

I Love You Too
Take it or Leave it



"Loh kalian pada bawa koper, mau kemana?" tanya Nanta begitu melihat Dania, Winner dan Lucky menggeret kopernya.


"Kami ikut ke Bromo." jawab Winner tersenyum mengembang.


"Kenapa bawa koper?" tanya Nanta bingung.


"Besok kita pulang satu pesawat, jadi langsung dari sini saja kami berangkat." jawab Winner lagi. Nanta menganggukkan kepalanya, sementara Om Micko dan Tante Lulu sudah masuk dari tadi tanpa membawa koper.


"Ayo makan bakso." ajak Nanta pada Dania dan kedua adiknya.


"Koper diletakkan dimana ya?" tanya Dania.


"Dikamarku saja." Wilma menggandeng Dania menuju kekamarnya. Dania masuk rumah sambil memberikan Salam dan menyalami semua yang ada, kedua adiknya pun mengikuti.


"Koper kalian masukkan ke kamarku, itu disebelah ladies." tunjuk Nanta pada Wilma dan Dania.


"Sudah hubungi travel untuk ke bromo nanti malam?" tanya Papa pada Nanta.


"Sudah, nanti jam dua belas mereka jemput." jawab Nanta pasti.


"Papa dan Om Micko ikut, Boy." kata Kenan pada Nanta.


"Mamon dan yang lain?" tanya Nanta dengan wajah sumringah, sekalian saja semua ikut, pasti seru, pikir Nanta.


"Kalau tidak ada duo unyil aku ikut, kita dirumah sajalah." kata Nona pasrah.


"Aku, Ayah dan Bunda ikut." kata Raymond mendaftarkan diri.


"Asik, Tante Lulu?" Nanta seperti mengabsen.


"Ikut dong, nanti Bunda sama siapa?" Tante Lulu terkekeh.


"Oma dan Opa menemani Roma dan Nona sama duo unyil dirumah." kata Oma saat Nanta melihat kearahnya.


"Baiklah, aku konfirm travel ya, seru nih." Nanta langsung saja senang.


"Senang ya, aku ikut." Raymond merangkul leher adiknya, ia sudah pulang dari mencari Pepes untuk Roma, kebetulan begitu keluar komplek perumahan ada warteg dua puluh empat jam yang selalu ramai pembeli, begitu masuk, memang rejeki Roma, ada menu Pepes sesuai harapan.


"Senang lah Bang, jadi tambah seru, sudah lama ya kita tidak ke Bromo." Nanta langsung bernostalgia.


"Iya terakhir waktu aku masih kuliah." jawab Raymond terkekeh.


"Ok, kita ke Bakso President dulu, ada yang mau ikut tidak?" tanya Nanta pada semuanya.


"Anak muda saja." kata Om Micko terkekeh, Nanta menganggukkan kepalanya.


"Baen itut, Aban." teriak Balen berlari mengejar Nanta.


"Balen sama Papa saja, Nak. Nanti kamu menangis lihat kereta api terlalu dekat." Kenan membujuk Balen.


"Iya lagipula sudah malam, nanti belum sampai sana kamu tidur lagi, bikin repot saja." kata Nona pada gadis kecilnya.


"Ndak Mamon." merengek dan mulai pasang wajah mewek.


"Ayo ikut saja, Nanti kan banyak yang gendong." kata Lucky mengulurkan tangannya pada Balen.


"Boeh ya Papon." bujuknya pada Kenan. Kenan menatap Nanta tidak mau merepotkan bujangnya.


"Biar saja ikut, Pa. Kan aku sudah janji sih tadi mau ajak Balen." kata Nanta terkekeh memandang adiknya yang menatap Kenan penuh harap.


"Ya sudah, jangan nakal ya." pesan Kenan pada Balen.


"Yah." jawab Balen cepat, berjalan mengambil sepatunya.


"Nanta jangan dilepas loh itu dekat sekali dengan rel kereta." pesan Nona pada Nanta.


"Siap Mamon." kata Nanta tersenyum manis.


"Nanta mundur sedikit deh." kata Nona pada Nanta.


"Kenapa?" Nanta mengikuti keinginan Nona.


"Gantengnya kelewatan." jawab Nona membuat semua terbahak, Nanta pun ikut terbahak merasa dikerjai Nona.


"Lebay deh Mamon." katanya sedikit bersungut, tapi tetap terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Mamon bercanda seperti itu.


Nanta melajukan kendaraannya dengan kecepatan standard, tidak terlalu jauh dari rumahnya menuju ke lokasi tempat makan, untung saja mudah dapat parkir, mengingat saat ini malam minggu.


"Disini?" tanya Dania heran.


"Iya dipinggir rel." jawab Nanta terkekeh. Balen dalam gendongan Lucky dari tadi, mereka cocok dari siang selalu bersama.


"Capek, Luck? sini Balennya." Nanta tidak tega melihat Lucky yang selalu menggendong Balen.


"Aih paling sepuluh kilo ini, Bang." kata Lucky terkekeh.


"Aku takut kamu capek, kalau capek gantian saja."


"Hahaha ada Wilma dia." kata Nanta terkekeh, berjalan sejajar dengan Lucky


"Meja diluar tidak cukup, yang belum pernah silahkan diluar, aku didalam saja." kata Nanta pada yang lain.


"Aku didalam juga." kata Dania pada yang lain.


"Ya sudah kamu, Nanta dan Balen didalam, kita yang single diluar." Wilma terkekeh.


"Maksudnya apa nih?" Nanta bersedekap melihat wajah jahil Wilma.


"Mama, Papa dan anak didalam." Wilma terbahak.


"Dasar..." Dania menepuk bahu Wilma terkekeh.


"Aban uki sini." panggil Balen saat Lucky yang sudah memesan makanan berjalan kebangku luar.


"Balen sama Abang Dan Kak Dania." bisik Nanta pada Balen.


"Masa dudukna, mencal-mencal." protes Balen.


"Penuh diluar, kita kan cuma terpisah jendela, tuh masih bisa colek Bang Lucky." kata Nanta memberi contoh pada Balen yang terkekeh begitu melihat Lucky membesarkan bola matanya pada Balen.


Balen makan ya, Abang suapi." kata Nanta menyuapi Balen potongan Bakso."


"Ndak." Balen menggelengkan kepalanya.


"lucu ya lihat kalian pacaran, bawa bayi." komentar Ando membuat semua tertawa.


"Tuh kan, efek gandengan tangan kemarin kita disangka pacaran." bisik Nanta pada Dania.


"Biar saja." jawab Dania tidak peduli.


"Nanti di Bromo aku gandeng lagi." Dania terkekeh.


"Eh jangan loh, kata Oma yang kemarin dimaklumi karena kamu sakit, tapi kalau ketahuan gandengan tangan lagi kita akan dijodohkan." Nanta keceplosan, Dania membesarkan bola matanya kemudian tersenyum.


"Begitu?"


"Hu uh, keluargaku masih agak kolot. Kalau kamu kan bisa di luar negeri." Nanta menjelaskan.


"Bukan berarti lama disana Aku gandeng cowok sembarangan, cuma sama Mas Nanta saja kok begini. Kan aku sudah bilang temanku cuma Mas Nanta. Aku dibilang aneh sama mereka disana karena selalu menyendiri." cerocos Dania menerawang.


"Kenapa begitu? kamu sombong?"


"I never talk to strangers." kata Dania membela diri.


"Kalau sudah sekelas masih kamu anggap orang asing?" tanya Nanta sambil mencoba menyuapi Balen.


"Hu uh. Kan tidak kenal." jawab Dania pasti.


"Dikampus bagaimana, begitu juga?" tanya Nanta bingung, setidaknya adalah satu atau dua orang yang menjadi teman.


"Iya." jawab Dania terkekeh.


"Bagaimana mau dapat jodoh nanti, kalau kamu menutup diri begini." Nanta menggelengkan kepalanya.


"Aku membuka diri sama Mas Nanta kan, tidak sadar ya?" Dania bicara tanpa beban sementara Nanta membelalakkan matanya.


"Maksud kamu?"


"Semoga saja kita berjodoh, karena aku hanya bisa berteman dengan Mas Nanta, Kakak Ando dan Wilma." jawab Dania santai. Nanta menganggukkan kepalanya pelan seperti berpikir.


"Tidak mau ya?" tanya Dania bersungut.


"Tidak mau apa?" tanya Nanta bingung.


"Berjodoh denganku." jawab Dania lugas, membuat Nanta merasa seperti sedang menerima pernyataan cinta. Kenapa to the point begini Dania.


"Hmm... masa tidak mau." jawab Nanta akhirnya.


"Berarti mau?" Dania minta kepastian sepertinya. Nanta termenung, Ando dan yang lain dimeja sebelah cekikikan, mereka mencuri dengar barusan, tidak percuma Wilma menjadi teman Dania.


"Kamu kenapa bahas ini sih?" tanya Nanta jadi bingung sendiri.


"Kata Wilma kan jadi perempuan jangan mau digantung, kupikir benar juga harus pasti jadi jelas aku harus take it or leave it."


"Leave it?"


"Sejak kemarin itu aku tuh merasa sangat bergantung sama Mas Nanta, jadi kalau begini terus sementara Mas Nanta tidak pasti, bisa saja nanti Mas Nanta bertemu wanita lain, aku sendiri yang repot. Jadi kupikir ya leave it, tinggalkan saja supaya aku tidak banyak berharap." kata Dania tersenyum, Dari tadi ia belum menyuap makanannya. Santai sekali menyampaikan apa yang ada dipikirannya.


Kembali Nanta termenung belum tahu harus bicara apa. Lagi-lagi empat orang dimeja sebelah umbar gigi, kemudian mereka berteriak karena kereta api lewat mengumbar debu yang beterbangan.


"Pikirkan saja dulu, aku tidak keberatan jika kita dijodohkan, lebih pasti dan aku bisa marah kalau perempuan di meja sana melihat Mas Nanta dengan mata lapar seperti itu." bisik Dania menunjuk meja lain, sekumpulan abege memandang Nanta penuh kagum.