I Love You Too

I Love You Too
Pacaran



"Papa..." gumam Dania pelan, kepalanya menyembul dari balik badan Nanta mengintip sosok yang selalu dirindukannya sekaligus dibencinya.


Nanta menggeser badannya ketika melihat Om Micko menganggukkan kepala dan merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Dania. Perlahan Nanta dan Ando melepaskan tangan Dania dan mendorong tubuh gadis cantik itu hingga masuk kedalam pelukan Micko. Langsung saja tangis Dania pecah, tangannya memukul bahu Micko berulang kali, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dari bahasa tubuhnya, Micko dan yang lain tahu Dania sedang meluapkan rasa marahnya lewat tangisan.


Wilma yang biasanya rusuh ikut menangis terbawa suasana, Nanta dan Ando baru tahu kalau Wilma yang selalu ceria, ternyata cengeng juga.


"Papa, minta duit." bisik Nanta yang ikut berkaca-kaca pada Wilma sambil terkekeh, menutupi rasa sedihnya. Dengan air mata yang berurai, Wilma mencubit bahu Nanta kesal, bisa-bisanya lagi suasana haru begini, Nanta mengajaknya bercanda. Ando memicingkan matanya pada Nanta, ingin tahu apa yang dibisikkan Nanta pada Wilma. Nanta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Papa rindu." bisik Micko pada Dania yang masih menangis dipelukannya, Micko pun ikut meneteskan air mata, walau tidak sederas Dania. Drama kehidupan yang tidak pernah Micko inginkan terjadi juga, diantara sekian banyak drama keluarga yang dialaminya sedari kecil. Terpisah dengan anak gadisnya selama sepuluh tahun, sekian lama mencari akhirnya bertemu juga hari ini.


Sekarang putrinya ikut merasakan, apa yang Micko rasakan dulu. Hanya saja Micko sampai saat ini tidak bisa mendekat dengan Papanya, Micko tidak mau itu terjadi pada Dania. Ia ingin hubungannya dengan Dania terus baik seperti layaknya anak dan Ayah walau jarang bertemu. Dania menggelengkan kepalanya tidak percaya Micko merindukannya, ia berusaha melepaskan pelukan Micko.


"Dania benci Papa." bisik Dania sambil terisak.


"Tidak apa kalau kamu benci, tapi jangan lama-lama. Papa rindu sekali sama Dania. Beberapa kali Papa susul Dania ke London, tapi tidak pernah bisa bertemu kamu." Lagi-lagi Dania menggelengkan kepalanya tidak percaya, Papa tidak pernah muncul dihadapannya, selentingan kabar tentang Papa pun tidak ada. Walau tangisnya sudah tidak sederas tadi, dadanya masih terasa sesak seperti awal melihat Micko tadi.


"Dari awal kamu akan ke London, Papa sudah minta kamu untuk tinggal saja bersama Papa di Jakarta." Micko terus saja menjelaskan, Dania yang masih menangis menerima tissue yang Kenan berikan kepadanya, ia menghapus air mata dan hingusnya.


"Papa menelantarkan aku, aku sudah hampir setahun di Jakarta saja Papa tidak pernah muncul." bisik Dania kembali terisak, tangisnya kembali pecah.


"Sayang, Papa akan jelaskan semuanya, tapi sepertinya kita harus cari tempat bicara, kalau disini jadi perhatian orang." pinta Micko pada Dania. Gadis kecilnya tampak dewasa kini. Cantik sekali, Micko berkali-kali menciumi pucuk kepala gadis kecilnya.


Dania menoleh pada sekitarnya, benar saja selain rombongan mereka yang mengelilingi Micko dan Dania dengan maksud ingin menutupi agar tidak terlihat orang, ada beberapa pasang mata tampak melihat kearah keduanya ingin tahu apa yang terjadi. Pandangan Dania tiba-tiba menggelap, dan Dania jatuh pingsan dalam pelukan Micko.


"Nanta tolong Om." Micko panik mengangkat tubuh anak gadisnya sambil berjalan cepat.


"Kekamar aku saja Om, lantai tiga." sigap Nanta langsung berjalan didepan Micko.


"Nanta..." Ando ikutan panik.


"Wilma kamu sama Ando ikut acara saja, ikuti Bang Ray sama Kak Roma juga." kata Nanta pada Ando dan Wilma. Wilma menurut pada Nanta kemudian menarik tangan Ando, membiarkan Nanta dan Om Micko membawa Dania.


"Ada Tim dokter, aku minta mereka keatas Boss." kata Bagus pada Kenan.


"Kamu lanjuti acara saja Gus, biar saya yang panggil dokter." kata Kenan pada Bagus. Bagus menganggukkan kepalanya.


Micko dan Nanta sudah berada di kamar Nanta. Untung saja tadi sebelum turun mereka sudah merapikan kamarnya, sehingga saat ini Dania bisa tidur nyaman dikasur Nanta dan Ando. Nanta mendekati parfume yang ada di nakas miliknya pada hidung Dania. Berdasarkan pengalaman Nanta jika ada yang pingsan disekolah di kasih cium parfume atau minyak angin.


Tidak lama Kenan datang bersama dokter untuk memeriksakan kondisi Dania. Sementara Dokter memeriksa Dania ditemani Micko, Nanta menyandarkan kepalanya pada bahu Papa. Tiba-tiba Nanta ikut merasakan kesedihan Om Micko dan Dania. Tidak serumit masalah Nanta dengan Papanya dulu. Kenan menepuk bahu Nanta, ia tahu apa yang Nanta rasakan.


"Hei laki-laki tidak boleh cengeng." Kenan terkekeh berusaha menetralkan suasana, ia tidak mau Nanta larut dalam suasana.


"Aku sayang Papa." kata Nanta melankolis.


"Ih Papa terharu." Kenan berusaha menanggapinya dengan tawa, tapi jujur Kenan terharu dengan apa yang Nanta ucapkan barusan. Nanta tertawa mendengarnya, ia tidak perlu mendengar kata balasan dari Papa, karena Nanta tahu Papa sangat menyayangi Nanta.


"Bagaimana?" tanya Kenan saat Micko kembali dari mengantarkan dokter yang sudah memeriksa Dania ke pintu.


"Tadi sudah sadar, tapi sekarang sedang tidur. Ah sepertinya pura-pura tidak tidak mau bicara sama gue." kata Micko menghela nafas panjang.


"Bangun." Nanta menepuk pipi Dania pelan. Dania membuka matanya perlahan memandang Nanta dan kembali menangis.


"Kenapa?" tanya Nanta menghapus air mata Dania dengan jarinya.


"Papa mana?" bisik Dania pada Nanta hampir tidak terdengar.


"Lagi bicara sama Papaku. Masih di kamar ini." kata Nanta kembali menghapus air mata Dania yang terus mengalir.


"Tidak mau bertemu Papa, Papa pembohong." isak Dania lagi.


"Dan..." Nanta menggenggam jemari Dania yang memandang Nanta.


"Dengarkan dulu penjelasan Om Micko ya? aku temani." kata Nanta pada Dania.


"Ceritanya bohong." bisik Dania lagi takut terdengar Micko.


"Yang aku kenal Om Micko tidak pernah bohong, kita telusuri dulu ya. Kita harus dengar penjelasannya, biasanya Om Micko akan menyertai bukti-bukti, karena dia selalu bicara berdasarkan data." bujuk Nanta pada Dania.


"Mas Nanta temani aku?" tanya Dania memastikan. Nanta menganggukkan kepalanya.


"Pegang tanganku seperti ini ya, aku takut serangan panikku datang lagi." kata Dania lagi mengajukan syarat.


"Seperti ini?" Nanta mengangkat tangan mereka yang saling bergenggaman.


"Iya." jawab Dania yakin.


"Nanti mereka kira kita pacaran." kata Nanta terkekeh, menggoda Dania.


"Masa sih, bukannya itu biasa." sungut Dania bersemu merah.


"Di London mungkin biasa, disini luar biasa." jawab Nanta kembali tertawa, Dania ikut tertawa, sudah tidak menangis lagi.


"Mas Nanta lebay." Dania terkekeh.


"Eh di London ada kata Lebay juga ya." Nanta kembali mengajak Dania tertawa, tanpa Nanta sadar mata Micko dan Kenan tidak lepas sedikitpun dari keduanya. Kenan dan Micko tersenyum saling berpandangan.


"Sudah boleh panggil Papa?" tanya Nanta begitu sadar ia dan Dania sedang diperhatikan. Dania menganggukkan kepalanya.


"Sudah siap?" tanya Nanta pada Dania.


"Siap bicara dengan Papa." jawab Dania yakin.


"Bukan itu..."


"Siap apa?"


"Siap-siap dikira kita pacaran?" keduanya kembali tertawa. Dania sudah jauh lebih rileks kini. Nanta pun menganggukkan kepalanya pada Om Micko dan Papanya, keduanya segera menghampiri Nanta dan Dania.