I Love You Too

I Love You Too
Banyak maunya



Hari yang ditunggu-tunggu oleh Mike datang juga. Pagi ini Nanta dan Dania bersiap menuju tempat pernikahan Mike dan Seiqa.


"Papa menyusul?" tanya Nanta pada Papa yang memilih datang saat resepsi saja.


"Iya nanti adik-adikmu rewel kalau terlalu lama di sana." jawab Kenan.


"Aku duluan ya." pamit Nanta pada Papa dan Mamon.


"Iya hati-hati." jawab Kenan menepuk bahu Nanta. Masih pagi sekali Nanta dan Dania berangkat menuju gedung tempat pernikahan dan resepsi berlangsung nantinya. Sesuai arahan Wedding Organizer yang meminta pihak keluarga datang lebih dulu.


"Aku tidak usah dandan disana ya, dandan sendiri saja." kata Dania pada Nanta saat dalam perjalanan.


"Iya." Nanta menurut saja.


"Kita tidak usah datang terlalu pagi kalau begitu, cari sarapan saja." ide baru dari istrinya membuat Nanta tertawa.


"Makan saja pikirannya." kata Nanta kemudian. Tadi di rumah mereka memang belum sarapan. Nanta sih sudah minum jus, tapi Dania tadi tidak berselera minum jus.


"Acara begitu tidak tahu makannya jam berapa, pikirkan anak kita dong." kata Dania lagi.


"Iya sayang, lama-lama kamu jadi seperti Balen, cewet." kata Nanta katai Dania seperti Ichie katai Balen.


"Aku seperti Balen atau Balen seperti aku?" tanya Dania tertawa.


"Entahlah, sama saja." jawab Nanta ikut tertawa.


"Aku Telepon Papa dulu deh." Dania segera hubungi Papa Micko, ingin sampaikan jika ia mau cari sarapan dulu. Papa sekeluarga sudah menginap di hotel dari semalam.


"Papa..."


"Sudah dimana sayang?"


"Sudah jalan sih, tapi aku mau sarapan dulu. Tidak apa kan datang tidak terlalu pagi." ijin Dania pada Papa.


"Kakek Suryadi dari semalam cari kamu loh." Micko sampaikan karena hanya Dania dan Nanta yang tidak ikut menginap di hotel.


"Iya nanti langsung temui Kakek Suryadi." janji Dania pada Papa.


"Kamar kalian tidak dibatalkan, sarapan di hotel saja bagaimana?" Micko bernegosiasi. Dania pandangi suaminya, Nanta hanya mengedik sambil terkekeh.


"Papa..."


"Kamu mau sarapan apa memangnya?" tanya Micko.


"Tidak tahu."


"Nanta mana." yah kalau sudah bicara sama Nanta pasti ujungnya ikuti keinginan Papa. Dania serahkan handphonenya pada Nanta.


"Ya Pa." sambil fokus menyetir, Dania pegangi handphone tempelkan ditelinga suaminya.


"Mau sarapan apa Dania?" tanya Micko pada Nanta.


"Tidak tahu, belum bilang mau apa, cuma bilang mau cari sarapan jadi tidak usah datang pagi." cerita Nanta apa adanya.


"Sarapan di hotel saja." ulang Micko pada Nanta.


"Aku sih ikut saja Pa. Tapi anakku bagaimana?" Nanta melihat perut istrinya.


"Aduh, ya sudah cari sarapan saja dulu, tapi jangan kelamaan, kasihan Kakek Suryadi tanyakan Dania terus. Kamu tahu orang tua selalu tanya berulang kali, Papa tidak enak sama yang lain jadinya, ketahuan betul kalian tidak ada diantara keluarga besar."


"Iya Pa, semoga pada maklum karena bawaan bayi."


"Iya, hati-hati." Micko akhirnya menyerah setelah Nanta sebutkan anaknya. Dania jadi senyum-senyum senang pandangi suaminya.


"Sekarang mau makan apa? jangan bikin putar-putar tidak jelas ya my baby." kata Nanta pada istrinya.


"Hehehe Mas Nanta apa saja deh yang kita lihat ada orang jualan ramai, kamu berhenti, aku mau makan itu." kata Dania pada suaminya.


"Apa?"


"Ya apa saja, berhenti langsung. Kalau ramai kan pasti enak."


"Belum tentu."


"Maas, ikuti saja sih." sedikit maju bibirnya.


"Iya." jawab Nanta ikuti saja maunya si my baby nya itu.


Tidak berapa lama Nanta lihat kerumunan orang antri kelilingi ibu-ibu yang sedang jualan kue pasar.


"Berhenti nih?" Nanta memastikan.


"Iya."


"Kamu ikut turun?" tanya Nanta pada Dania.


"Pakai kebaya begini?" tanya Dania yang sudahkan kenakan seragam yang dibagikan Mike minggu lalu.


"Tidak usah, aku saja." akhirnya Nanta putuskan ia saja yang belikan istrinya.


"Mau apa?" tanya Nanta.


"Tanya saja yang paling laku." jawab Dania. Model sarapan macam apa ini, dia tidak tahu mau makan apa, hanya cari tempat jualan yang ramai lalu suruh tanya apa yang paling laku. Untung saja lagi hamil jadi Nanta ikuti saja kemauan istrinya ini.


Ikut berbaris antri, bukan Nanta saja laki-laki diantara para antrimen.Walaupun kebanyakan para ibu-ibu yang membeli kue pasar ditempat itu.


"Mau apa Mas?" tanya Ibu yang berjualan.


"Yang paling laku apa bu?"


"Semua juga laku ini sudah pada tinggal sedikit." jawab si Ibu.


"Waduh..." Nanta garukkan kepalanya.


"Ya sudah beli semua saja bu." jawab Nanta.


"Semua dihabiskan?" tanya Ibu penjual, Nanta melihat antrian dibelakangnya, kasihan juga kalau Nanta borong, mereka tidak kebagian.


"Masing-masing dua deh." jawab Nanta. Yang makan kan hanya Dania saja, Nanta tidak. Lagi pula belum tentu habis. Tadi mau borong pikirnya bisa untuk Papa Micko sekeluarga.


"Oke." jawab Ibu senang langsung bungkuskan lima belas jenis kue pasar yang dijualnya. Duh banyak juga ya, jadi tiga puluh, apa habis kalau untuk Dania sendiri. Nanta jadi tertawa sendiri.


"Terima kasih." kata Nanta saat terima kardus yang si Ibu berikan pada Nanta.


"Mas bukannya sering di tv ya?" tanya salah seorang peserta antrian.


"Bukan." jawab Nanta tersenyum, repot kalau bilang Iya, Papa Micko sudah pesan jangan kelamaan.


"Nanta!" ada yang panggil Nanta langsung menoleh.


"Ah katanya bukan, ternyata iya." dasar ternyata salah satu dari mereka ada yang tahu namanya, jadi Nanta tertawa lambaikan tangan pada Antrimen dan Antriwomen dilapak si Ibu.


"Hati-hati Nanta." kata Antrimen disana.


"Terima kasih." jawab Nanta sudah seperti bertamu saja rasanya kalau begini.


"Beli apa?" sambut Dania saat suaminya masuki Mobil.


"Lihat saja sendiri, bingung jawabnya." jawab Nanta membuat istrinya senyum-senyum.


"Percaya deh kalau senangkan istri seperti ini rejekinya akan berlipat ganda." oceh Dania sambil buka box belanjaan yang nanta beli. Nanta tertawa saja mendengarnya dalam hati bilang Aamiin.


"Ya ampun sayang, sebanyak ini aku harus makan yang mana?" bingung sendiri ada lima belas jenis kue pasar yang harus Dania makan. Ini bukan ukuran mini lagi.


"Mulai dari yang mudah saja." jawab Nanta seperti sedang kerjakan soal ujian.


"Ya." jawab Dania mulai membuka salah satu makanan yang terbungkus rapi.


"Enak..." mulai mengunyah.


"Bismillah sudah belum?"


"Sudah dalam hati." tersenyum pandangi kuenya.


"Mas kapan ada waktu ke Bogor dong, ada roti kecil-kecil disana katanya, aku mau coba." halah yang didepan mata belum beres sudah pikirkan makanan lain. Mau Nanta tepuk saja jidat istrinya kalau begini.


"Mas, habis pesta saja kita ke bogornya." pinta Dania pada Nanta.


"Pakai kebaya?" tanya Nanta terkekeh.


"Ah iya, Mas Nanta sih kenapa tidak bawa baju saja ya tadi." sudah jelas semalam tidak mau menginap karena malas packing, sekarang malah menyesal tidak bawa baju ganti. Nanta senyum saja jadinya dengarkan ocehan istrinya.


"Mas, jadinya kapan dong?" masih mendesak suaminya.


"Nanti saja setelah pesta." jawab Nanta.


"Pakai kebaya?"


"Nanti minta Bibi siapkan baju dikoper biar Papa bawakan." jawab Nanta tak kehabisan akal.


"Kok di koper?


"Siapa tahu nanti kamu minta menginap." jawab Nanta, bukan tidak mungkin mengingat istrinya sekarang lagi banyak maunya.