I Love You Too

I Love You Too
Banjir



Dania berbisik pada Micko saat tiba di rumah Kenan, Micko tampak terkejut dan memandang Nanta yang tampak mengusap-usap dahinya, kejadian barusan cukup membuat kepalanya sedikit berdenyut.


"Pusing Boy?" tanya Micko terkekeh, ia tahu Nanta pasti terkejut. Micko berusaha menanggapinya dengan santai.


"Sedikit shock." kata Nanta terkekeh.


"Ada apa?" tanya Kenan yang berada didekat Micko.


"Peter muncul, untung Mama tidak ikut tadi." kata Micko pada Kenan. Sementara Oma Misha sedang asik bicara dengan Oma Nina dan Opa Dwi, mereka melepas rindu setelah beberapa tahun terakhir tidak bertemu, karena pisah kota.


"Kamu bertemu Peter, Boy?" tanya Reza ikut nimbrung.


"Iya, aku dan Dania, Om Peter kerumah Nek Pur. Kami bicara di Taman tadi." kata Nanta menjelaskan.


"Kata Om Peter pernikahan kami tidak sah, karena tidak ada restu dari Om Peter." adu Dania resah.


"Ih, orang gila jangan didengar." kata Micko tertawa.


"Katanya aku anak Om Peter." adu Dania lagi.


"Itu lebih gila lagi." Micko terbahak.


"Papa malah tertawa, aku juga seperti orang gila tadi." sungut Dania.


"Seperti orang gila bagaimana?" tanya Micko dengan senyum masih tersisa diwajahnya.


"Aku sengaja jambak rambutnya, untuk test DNA." kata Dania, Micko terbahak.


"Tidak sopan itu, lain kali jangan begitu." kata Micko disela tawanya.


"Habis bagaimana tadi terdesak. Papa santai sekali, bagaimana kalau ternyata benar aku anak Om Peter." protes Dania, ia baru saja menikmati menjadi anak Micko.


"Kamu mau menjadi anak Peter ya?" Micko mengajak Dania bercanda.


"Justru tidak mau, dia jahat." kata Dania kesal. Kenan dan Reza menyimak, Nanta mengamati, bagaimana Om Micko bisa sesantai ini mendengar cerita Dania.


"Besok Papa datangi Peter ke kantornya." kata Micko akhirnya.


"Aku ikut?" tanya Dania.


"Untuk apa? tidak usah." tegas Micko.


"Nanta saja yang ikut." kata Ayah Eja tersenyum.


"Biar apa?" tanya Kenan bingung.


"Aih gunakan ketenaran Nanta kalau Peter macam-macam." kata Ayah Eja terkekeh.


"Aku tidak seterkenal itu." kata Nanta pada Ayah Eja.


"Menurut kamu, Boy." Reza terkekeh.


"Test DNA dulu saja, Pa." kata Dania pada Papanya.


"Percaya Papa sayang." kata Micko menepuk bahu Dania agar tenang.


"Pa, Lucky mau kursus piano katanya, mungkin Mamon bisa ajarkan." kata Nanta pada Papa kemudian, ia tidak mau merusak hari dengan terus memikirkan Peter walaupun tetap kepikiran.


"Oh ya? Non..." panggil Kenan pada istrinya.


"Mamon, pandil Papon tuh." kata Balen yang sedari tadi bermain bersama Winner dan Lucky, ia belum menyadari kehadiran Nanta.


"Ya... Nona yang sedang bicara dengan Lulu dan Kiki menghampiri Kenan.


"Iya gue lupa mau bilang itu." Kata Micko ketika Nona mendekat.


"Bilang apa?" tanya Nona.


"Itu Lucky mau belajar Piano, kamu punya referensi guru piano untuk Lucky?" tanya Kenan.


"Ish kenapa minta referensi, Nona saja yang ajarkan Lucky. Biar dia datang kesini." kata Micko meminta ijin Nona dan Kenan.


"Aduh, bagaimana ya?" Nona bingung.


"Sama Mamon saja." Nanta ikut membujuk. Nona menatap Kenan, teman Roma dulu juga mau keponakannya kursus Piano pada Nona tapi Kenan keberatan.


"Apa tidak mengganggu Richi?" tanya Kenan pada Nona.


"Hanya dua jam, nanti Richi aku yang pegang." kata Lulu yang menyusul Nona diikuti Kiki.


"Terserah bos nya." Nona menunjuk Kenan.


"Saya lagi." kata Kenan terkekeh.


"Boleh lah." kata Lulu lagi. Kenan tertawa karena semua mata mengarah pada Kenan.


"Tanya saja gurunya. Kenapa tanya saya?" kata Kenan kemudian.


"Berarti mengijinkan?" tanya Nona.


"Memang saya pernah larang?" Kenan balik bertanya.


"Ah, dulu keponakan temannya Roma." Nona mengingatkan.


"Itu kamu lagi hamil Balen, sayang." kata Kenan.


"Lucky!" panggil Micko pada Lucky yang sedang memangku Balen.


"Awas Balen, Abang di panggil." kata Lucky pada Balen.


"Pandil teus sih." gerutu Balen berdiri dari pangkuan Lucky, Winner tertawa mendengar Balen menggerutu.


"Balen." panggil Nanta pada adiknya.


"Tuh, sekarang kamu yang dipanggil." kata Winner menepuk pantat Balen, gemas.


"Ih Aban, janan." Omel Balen pada Winner kemudian berlari mengejar Nanta.


"Aban mana sih, ndak puang, Baen tundu juda." katanya melompat kepangkuan Nanta


"Abang tidur di rumah Om Micko." kata Nanta pada Balen.


"Tania juda?" tanya Balen pada Dania.


"Iya, jawab Dania."


"Baen itut don, Bobo umah Om Mito." kata Balen pada Abangnya.


"Hehehe..." Nanta tertawa saja.


"Tawa ladi." gerutu Balen menyandarkan kepalanya di dada Nanta.


"Itut ya." bujuknya pada Nanta.


"Nanti saja kalau Abang disini kita bobo bertiga." kata Nanta pada Balen.


"Nanti bobo sini?" tanya Balen, Nanta menatap Dania tersenyum.


"Hari senin Bobo sini." kata Dania pada Balen.


"Papon..." mulai mengadu pada Papon.


"Kenapa sayang?" tanya Kenan pada putrinya.


"Aban bobo sini don, janan umah Om Mito." katanya pada Kenan.


"Tuh Balen minta Nanta bobo disini." Kata Kenan pada Micko.


"Hahaha nanti ya, sekarang dirumah Om Micko dulu." kata Micko pada Balen.


"Baen itut umah Om Mito." kata Balen merengek.


"Itu Opa dan Oma masa ditinggal." kata Nanta.


"Aban juda tindalin Oma." protes Balen, Nanta terbahak, bingung mau jawab apa.


"Bang Ray mana?" tanya Nanta tidak melihat Raymond dan Roma dari tadi.


"Ban Lemon umah tata Iyom." kata Balen.


"Dirumah Mami Monik ya, Pa?" tanya Nanta memastikan.


"Iya." jawab Kenan.


"Tata Iyom lagi." protes Nanta, Balen tertawa senang.


Lucky senang sekali bisa kursus piano, ia mulai mendengarkan Nona bermain Piano dan duduk disamping Nona.


"Sudah mulai kursus?" tanya Nanta pada Dania.


"Belum, hanya mau mendengar Mamon bermain Piano." kata Dania pada Nanta yang masih memangku Balen.


Nanta kembali sibuk bercanda dengan Balen, Richi datang menghampiri Nanta dengan langkah tertatih.


"Ichi tuh." tunjuk Balen pada Nanta. Richi sibuk menggapai Nanta, ia juga ingin dipangku rupanya.


"Ih pada rindu Abang ya." kata Bunda Kiki melihat kedua adiknya mengerubungi Nanta.


"Abang Idola adiknya ini, hilang sebentar dicari." kata Reza terkekeh.


"Hahaha aku juga suka ingat mereka kalau lagi diluar." kata Nanta pada Ayah Eja.


"Pantas saja adiknya juga." kata Lulu menimpali.


"Lucu nanti kalau punya anak ya, masih sayang tidak sama Balen dan Richi." kata Kenan menggoda Nanta.


"Ih masih dong. Mana mungkin tidak sayang." kata Nanta menciumi adiknya bergantian. Keduanya tertawa senang balas menciumi Abangnya, sudah pasti basah wajah Nanta dibuatnya.


"Duh banjir." kata Nanta terbahak, Dania mengambilkan tissue untuk Nanta sambil tertawa.


"Kiss Kak Dania." tunjuk Nanta pada Dania memandang kedua adiknya.


"Baen duan ya." kata Balen berdiri dan mencium Dania.


"Ayo Chi." kata Balen pada Richi. Nanta membantu Richi berdiri mencium Dania. Dania tertawa mendapat ciuman dari kedua adik Nanta.


"Aban juda kiss Tania." kata Balen kemudian memerintahkan Abangnya. Langsung saja Nanta dan Dania Salah tingkah, sementara yang lain tertawa mendengarnya.