I Love You Too

I Love You Too
Farhan



"Saya Farhan, maaf mengganggu waktunya." seorang pria baru saja memasuki ruangan kerja Kenan dan memperkenalkan diri.


"Silahkan duduk Mas Farhan, maaf baru sempat bertemu hari ini." Kenan tersenyum ramah pada Farhan suami Sheila yang beberapa kali menghubungi Kenan meminta untuk bertemu. Kenan mempersilahkan tamunya duduk.


"Langsung saja Ken, saya mohon bantuan kamu, Sheila sudah meninggalkan kami hampir satu tahun, sudah beberapa kali saya ke Malang tapi belum juga menemukannya, bantu saya menemukan istri saya, Ken, kasihan Ibunya yang sakit-sakitan." kata Farhan dengan wajah sendu.


"Sakit apa Tante Retno? siapa yang menemaninya dirumah? selama ini mereka hanya berdua, art tidak ada yang betah bekerja disana." Kenan tampak prihatin, bagaimanapun ia mengenal baik Sheila dan Ibunya, Walaupun Tante Retno orang yang sangat tidak menyenangkan.


"Anak kami yang menemani disana. Maafkan kalau mertua saya ada salah sama kamu ya."


"Kenapa Mas Farhan yang minta maaf." Kenan terkekeh, rupanya Sheila dan Farhan belum resmi bercerai, sedari tadi Farhan jelas menyebut Sheila istrinya dan Tante Retno sebagai mertuanya.


"Mama sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur. Seharusnya dirawat, tapi Mama selalu menolak, jadi dokter saja berapa hari sekali datang kerumah mengecek kondisi Mama." sepertinya hubungan Farhan dengan Tante Retno sangat baik.


"Dimana Sheila ya? Terakhir kami tidak sengaja bertemu di restaurant padang seberang hotel C. Itu pun tidak lama hanya bertegur sapa." Kenan tampak berpikir.


"Sepertinya Sheila ganti nomor handphone, Ken. Saya tidak pernah bisa menghubunginya, anak dan mertua saya pun tidak bisa." Farhan menarik nafas panjang.


"Dulu memang menghubungi saya pakai nomor lain, tapi saya tidak simpan nomor Sheila." Kenan mengeluarkan handphonenya dan mencoba mencari daftar panggilan masuk beberapa bulan kebelakang. Ups banyak sekali daftar panggilan masuk, Kenan harus cari pelan-pelan. Entah masih ada atau tidak. Diantara nomor klien yang tidak dikenal, Kenan mencoba mengingat-ingat tanggal berapa Sheila menghubunginya saat itu.


Kenan pun menghubungi istrinya, karena saat Sheila menghubungi ia sedang bersama Nona.


"Sayang, lagi apa?" tanya Kenan pada istrinya.


"Lagi belanja perlengkapan baby sama Sosa, Mas." jawab Nona, pantas saja terdengar berisik. Usia kandungan Nona sudah hampir delapan bulan, tidak terasa sebentar lagi Nona akan melahirkan.


"Sayang, saya lagi bersama Mas Farhan suami Sheila." kata Kenan pada Nona hati-hati. Jika dengar Kenan menyebut nama Sheila, Nona bisa ngamuk, kecuali Nona yang menyebutnya.


"Hmmm..." nada suara sudah mulai datar.


"Bantu saya ingat, tanggal berapa saya blokir nomor Sheila ya? Saya mau kasih sama Mas Farhan."


"Aku lupa nanti aku tanya Nanta." Nona menutup sambungan telepon tanpa persetujuan Kenan. Kenapa harus tanya Nanta? Kenan jadi bingung sendiri.


"Bagaimana?" tanya Farhan tidak sabar


"Tidak bisa cepat ya, kita tidak ada yang ingat." jawab Kenan jujur.


"Baiklah, saya permisi dulu Ken, mohon hubungi saya jika sudah dapat nomor telepon Sheila."


"Pasti, akan saya informasikan secepat mungkin." Janji Kenan pada Farhan. Farhan segera beranjak dari bangku meninggalkan ruangan Kenan.


"Mas Farhan..." panggil Kenan ikut beranjak dari kursi kebesarannya. Farhan menoleh sebelum membuka pintu.


"Saya antar ke lift " kata Kenan tersenyum menghampiri Farhan.


"Tidak apa Ken, lanjutkan saja pekerjaannya.


"Saya sedang santai, Maafkan saya kalau selama ini saya ada salah." kata Kenan tulus meminta maaf, mungkin saja Kenan penyebab Sheila pergi meninggalkan keluarganya.


"Bukan salah kamu, Ken. Saya tahu selama ini kamu tidak pernah mengganggu Sheila." jawab Farhan menepuk bahu Kenan.


"Saya kurang perhatian, cenderung tidak peka. Saya pikir Sheila cukup mandiri jadi saya selalu membiarkan Sheila melakukan semuanya sendiri. Saya juga Salah." kata Farhan sadar diri. Kenan diam saja, ia tidak bisa komentar banyak untuk ini. Kenan hanya bisa mendoakan semoga Farhan dan Sheila kembali bersama.


"Terima kasih ya Ken, Saya tunggu informasinya." kata Farhan saat pintu lift terbuka, ia akan segera turun menuju Lobby.


"In Syaa Allah secepatnya saya beri kabar." kata Kenan pada Farhan. Kasihan juga sudah berbulan-bulan mencari istrinya. Kenapa Sheila bisa begini, Kenan jadi kepikiran.


"Kamu belanja apa saja?" tanya Kenan sambil melepaskan dasinya.


"Banyak." jawab Nona tanpa menjabarkan apa saja yang ia beli.


"Nanta mana sayang?" tanya Kenan pada Nona.


"Dikamar mungkin, aku juga baru sampai rumah, terus kurir datang antar barang." jawab Nona membantu Kenan membawakan tas nya.


"Pantas bau, belum mandi kan?" Kenan menyeringai jahil.


"Kalau sudah mandi juga, tetap Mas Kenan bilang bau." Nona memonyongkan bibirnya, sudah tahu pasti Kenan akal-akalan mau mengajaknya mandi bersama. Kenan tergelak modusnya terbaca Nona.


"Yuk." Kenan menarik tangan Nona masuk ke kamar, mau tidak mau Nona mengikuti.


"Aku capek betul, Mas." rengek Nona pada Kenan, mandi bersama Kenan kadang bisa menguras energi.


"Cuma mandi bersama, tidak lebih." janji Kenan pada Nona.


"Kecuali kamu yang memulai." kata Kenan lagi terkekeh. Nona langsung saja bersemu merah, kadang Nona suka lupa diri menjelajah tubuh suaminya kesana kemari hingga Kenan terpancing.


"Papa..." suara Nanta terdengar dari luar kamar, ia mengetuk pintu kamar Nona dan Kenan. Untung saja Kenan belum membuka bajunya.


"Kamu mandi duluan, nanti saya menyusul." kata Kenan pada Nona, membuat Nona terbahak.


"Aku tunggu Mas Kenan saja." jawab Nona malas berlama-lama di kamar mandi.


"Kenapa Boy?" tanya Kenan begitu membuka pintu kamarnya.


"Sabtu aku ke Malang ya? Mama sudah waktunya melahirkan. Kata Om Bagus sudah pembukaan berapa gitu." ijin Nanta pada Papanya.


"Kenapa tidak berangkat sekarang?" tanya Kenan pikirnya lebih baik Nanta mendampingi Tari sampai adiknya lahir.


"Sekolahku sekarang sangat ketat, aku sudah terlalu banyak ijin karena pertandingan." jawab Nanta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenan tahu hati kecil Nanta ingin mendampingi Mamanya melahirkan.


"Ya sudah, kalau Kak Nona mau, kita bertiga ke Malang." Kenan tersenyum pada Nanta.


"Kamu baru pulang, Boy?" tanya Kenan kemudian.


"Hu uh, tadi dijalan Om Bagus telepon. Padahal sabtu aku ada pertandingan persahabatan, tapi tadi aku sudah ijin sama pelatih." Nanta bercerita panjang lebar.


"Ya sudah kamu mandi dulu sana, Papa juga mau mandi, nanti kita ngobrol lagi." Kenan segera menutup pintu kamarnya setelah Nanta mengangguk dan meninggalkan kamar Kenan.


"Kenapa Mas?" tanya Nona yang sedang duduk menyender di sofa kamar.


"Nanta mau ke Malang, Tari sudah pembukaan berapa gitu, kamu mau kita ke Malang?" tanya Kenan berdiri menggunakan lututnya dihadapan Nona.


"Mau." jawab Nona cepat.


"Oke, jumat malam kita berangkat." Kenan tersenyum mendekati perut Nona.


"Anak Papa apa kabar?" langsung saja mengangkat minidress Nona dan menciumi perut istrinya, tangan dan bibirnya mulai menjelajah kesana kemari, lupa jika istrinya tadi mengeluh capek. Sementara yang mengeluh pun lupa akan lelahnya, Nona membiarkan dan tampak menikmati dengan tangan meremas pada rambut Kenan, suara terdengar tertahan.


Segitu aja ya selanjutnya terserah mereka.