
Setelah mandi dan berganti pakaian, Nanta menunggu Ando yang masih bersiap dikamar hotel, sementara Dania dan Wilma dikamar sebelah, lama sekali Ando, seperti yang mau dimake up saja. Nanta jadi tidak sabar.
"Masih lama kan waktunya, kenapa buru-buru sih?" kata Ando melihat Nanta yang tampak gelisah.
"Aku mau menunggu Papa di lobby." kata Nanta pada Ando.
"Papon kan belum telephone kamu juga." kata Ando santai.
"Ingat, kita juga mau mempertemukan Dania dengan Om Micko loh, sebaiknya kita turun lebih dulu, biar saja Wilma dan Dania menyusul." kata Nanta pada Ando. Belum lagi Nanta ingin bertemu Mas Kevin.
"Oke-oke, tadinya gue mau tidur dulu sebentar." kata Ando yang baru merasakan lelahnya berjalan meladeni Wilma yang selalu saja mampir disetiap spot foto tadi.
"Makanya olah raga, jadi tidak mudah lelah." kata Nanta pada sahabatnya.
"Iya nanti." jawab Ando seperti biasa, Nanta jadi tertawa dibuatnya. Selalu jawab Nanti entah sampai kapan.
"Bagaimana Dania, mau dipepet terus kah?" tanya Ando pada Nanta.
"Pepet-pepet apa. Seperti biasa saja." kata Nanta pada Ando.
"Seperti biasa macam apa itu, sudah gandeng-gandeng tangan." Ando menoyor kepala Nanta yang sedikit lebih tinggi dari Ando. Nanta jadi meringis.
"Tadi terbawa suasana." kata Nanta mengusap kepalanya yang ditoyor Ando.
"Kalau sering bertemu akan terbawa suasana terus." kata Ando terkekeh.
"Elu tuh sama Wilma terbawa suasana." ketus Nanta pada sahabatnya.
"Terbawa suasana apa, gue sih sudah jelas memang menjadikan Wilma calon istri." Ando tidak kalah tengil dengan Wilma, memang cocok mereka, pikir Nanta.
"Gue kebawah duluan lah, elu nanti sama mereka." kata Nanta pada Ando.
"Gue ikut, biar Wilma dan Dania yang menyusul." kata Ando segera merapikan kemejanya. Ia pun sama seperti Nanta menggunakan celana jeans hitam hanya kemejanya yang berbeda warna, Ando menggunakan kemeja warna maroon.
Setelah memberitahu Wilma dan Dania yang masih berdandan, Nanta dan Ando pun berjalan menuju lobby, jujur saja Nanta agak tegang menghadapi pertemuan Dania dengan Om Micko nanti. Padahal Om Micko sudah berpesan agar Nanta santai saja, segala resiko akan Om Micko terima.
"Ganteng betul, anak siapa sih ini?" goda Om Bagus saat bertemu Nanta di lobby.
"Hehehe aku baru mau minta pempek yang dikulkas loh, sudah dibilang ganteng. Anak Om Bagus kan?" kekeh Nanta balas menggoda Bagus.
"Berdua saja?" tanya Bagus menyeringai.
"Yang dua masih diatas. Acara mulai jam berapa Om?" tanya Nanta.
"Bintang tamu masih dandan." jawab Bagus, Nanta mengangguk, sama seperti Wilma dan Dania, mereka pun masih berdandan.
"Om ini sahabat aku dikampus, Ando. Ini Papaku juga. Aku panggilnya Om Bagus." kata Nanta mengenalkan Bagus pada Ando.
"Terima kasih undangannya, Om." kata Ando menyampaikan apa yang dirasanya.
"Bagaimana senang di Malang?" tanya Bagus setelah menganggukkan kepalanya pada Ando.
"Senang Om, sayang besok sudah pulang, belum banyak tempat yang dikunjungi."
"Lain waktu ikut Nanta lagi, dia kan dua minggu sekali ke Malang." kata Bagus pada Ando.
"Hahaha nanti saja Om tunggu sponsor lagi." jawab Ando membuat Bagus tertawa hingga badannya terguncang. Semua ikut tertawa walau tidak seheboh Bagus.
"Om, Mama mana?" tanya Nanta pada Bagus.
"Masih dikamar."
"Om sama Mama menginap?" tanya Nanta, Bagus menganggukkan kepalanya.
Nanta terpana saat melihat Dania turun dengan atasan wol putih dan celana jeans putih. Dania menggunakan make up tipis, tampak lebih cantik dari biasanya, karena wajahnya jadi tampak lebih dewasa. Sementara Wilma yang menggunakan turtle neck pink juga terlihat sangat cantik. Pantas saja lama, keduanya serius berdandan.
"Ya ampun calon istri gue cantik betul." komentar Ando menyambut Wilma, lupa kalau ada Om Bagus disana. Bagus terkekeh melihat reaksi kedua anak muda dihadapannya saat ini.
"Pssst... jangan sampai ngences gitu lah." kata Om Bagus menyadarkan keduanya dan mereka langsung saja terbahak malu sendiri.
"Om Bagus seperti tidak pernah muda saja." kata Nanta masih tertawa. Tawa mereka mereda saat Wilma dan Dania mendekat.
"Lapar nih." teriak Wilma memegang perutnya, berbanding terbalik dengan penampilannya saat ini, tetap saja sudah secantik apapun tidak bisa menjaga sikapnya supaya sedikit lebih anggun.
"Sabar ya, sebentar lagi acara dimulai." kata Bagus pada Wilma.
"Ini Om Bagus, suami Mamaku." kata Nanta pada Wilma dan Dania.
"Wah bertemu juga sama Om Bagus, selama ini cuma dengar cerita. Mana pempeknya om?" cerocos Wilma tidak tahu malu.
"Makanan saja pikirannya, salaam dulu lah perkenalan diri." tegur Nanta pada Wilma.
"Hehehe iya maap, lupa." Wilma segera menghampiri Bagus dan menyalaminya.
"Aku Wilma, Om." katanya kemudian. Dania mengikuti dari belakang menyalami Bagus.
"Ini pasti Dania." tebak Bagus saat Dania menyalaminya.
"Iya Om, kok tahu?" tanya Dania tertawa.
"Pasti Bang Nanta cerita tentang Dania terus ya Om?" tebak Wilma sok tahu.
"Nanta sering cerita tentang kalian. Tamu yang tercatat kan, Ando, Dania dan Wilma. Karena kamu sudah sebut nama, berarti yang terakhir Dania." kata Bagus tertawa.
"Sok tahu kan." kata Nanta terkekeh.
Sedang asik bicara dari kejauhan Nanta melihat Om Micko berjalan bersama Papa dan Bang Raymond, dibelakang mereka berjalan Mamon, Kak Roma dan Tante Lulu, mereka asik ngobrol. Tapi tidak dengan Om Micko, langkahnya lebih cepat agar cepat sampai pada rombongan Nanta dan teman-temannya. Ando dan Nanta saling memandang, kemudian mereka melihat ke arah Dania. Ternyata Dania juga sedang terperangah melihat Papanya, matanya tampak berkaca-kaca.
"Mas Nanta..." Dania berguman, badannya mulai beringsut dibalik punggung Nanta, Bagus yang membelakangi Micko jadi bingung kemudian memutar badannya.
"Papa kamu sama Papaku." bisik Nanta pada Dania. Seperti shock Dania tidak mengeluarkan kalimat apapun, hanya sebelah tangannya memegang tangan Nanta kencang, tampak gugup sekali, yang sebelah tangannya lagi memegang kemeja Ando.
"Rileks." bisik Ando menenangkan Dania, seperti bertemu monster saja reaksi Dania pikir Ando.
"Boy." panggil Kenan pada putra tersayangnya.
"Enak jalan-jalannya?" tanya Kenan pada Nanta, matanya menyapu sahabat Nanta satu persatu, Kenan juga melihat Dania yang tampak tegang.
"Ray, ajak Lulu dan yang lain ke lounge." perintah Micko pada Raymond. Raymond langsung bergerak cepat, mengajak ketiga wanita berbelok arah.
"Enak, Pa. semua senang." kata Nanta pada Papanya.
"Kenalkan Papaku." bisik Nanta pada Dania. Dania menganggukkan kepalanya pada Kenan, belum berani melihat pada Papanya.
"Halo, apa kabar?" tanya Kenan mencairkan suasana.
"Baik Om, Salam kenal aku Dania." jawab Dania kaku, sementara sudut matanya melirik pada Micko yang berjalan di belakang Kenan, semakin lama semakin mendekat.
"Apa kabar sayang?" Micko tersenyum pada Dania dengan mata ikut berkaca-kaca, keduanya seperti menyimpan kerinduan, hanya saja Dania rasa rindunya diselimuti rasa marah dan kecewa.