I Love You Too

I Love You Too
Hall Basket



Begitu Nanta tiba di Warung Elite, tumpukan berkas sudah menanti di meja kerja Ayah.


"Itu yang harus kamu periksa, Boy. Kalau sudah oke baru Papi tanda tangan. Papi tidak sempat kalau harus periksa lagi." kata Mario pada Nanta.


"Aku cross-check dulu ya, Pi." kata Nanta pada Papi Mario.


"Nanti kalau yang di meja Reza sudah selesai kamu kesini ya, Boy." kata Andi menunjuk laptop di mejanya.


"Siap, Pa." jawab Nanta tersenyum, langsung fokus pada dokumen di meja Ayah. Hari ini Nanta tidak bekerja diruangannya, tapi diruangan para petinggi mengurusi berkas yang harus diselesaikannya hari ini.


"Pi, pihak ketiga cabang utara sudah harus dibayar." Nanta mengingatkan. Cabang Utara sedang ada renovasi gedung dan penambahan hall Basket disampingnya. Bukan hanya Basket Corner tapi Reza dan sahabatnya sepakat membuat hall Basket disana. Sediakan fasilitas Nanta dan sahabatnya untuk berlatih basket, jika ada pengunjung ingin bergabung maka jadi urusan Nanta dan sahabatnya yang sudah di kontrak oleh Warung Elite.


"Kita belum sempat lihat hasil kerja akhir mereka." jawab Mario pada Nanta.


"Besok saja survey kesana, kalau sudah oke baru lakukan pembayaran." kata Andi pada Mario.


"Kenapa tidak minta pimpinan cabang untuk berikan laporannya, Pi? mereka kan yang langsung berada disana, baik buruknya cabang ada ditangan mereka." kata Nanta pada Papi Mario, kemudian menatap Andi.


"Pernah sih begitu, ternyata tidak sesuai bayangan kami." jawab Mario, Nanta anggukan kepalanya.


"Tidak bisa percayakan sama mereka seratus persen, Boy. Banyak yang merasa bukan punya gue, biar saja kalau jelek." kata Andi.


"Padahal kalau cabangnya tidak layak pengunjung akan malas datang, kalau pengunjung sedikit mereka juga yang kena imbasnya." lanjut Andi lagi. Nanta kembali anggukan kepalanya.


"Hubungi pihak ketiga, Boy. Sampaikan jika kita baru bisa survey hasil kerja besok. Minta penanggung jawab proyeknya untuk hadir." kata Mario pada Nanta.


"Iya Pi." Nanta langsung gunakan telepon kantor hubungi pihak ketiga, sampaikan apa yang Mario bilang tadi. Mereka sepakat untuk bertemu pukul sepuluh pagi esok hari.


"Kamu ikut Boy, sekalian cek hall Basket cabang utara." perintah Mario pada Reza.


"Pi, Hall basket kalau ada yang mau sewa boleh ya, kan lumayan untuk pemasukan Warung Elite." kata Nanta pada Papi Mario.


"Boleh, buat saja aturannya, tidak hanya untuk berlatih basket, bisa gunakan untuk acara musik, pernikahan dan lainnya. Sudah dirancang agar multifungsi." jawab Mario, Nanta langsung tersenyum lebar, ada saja ide empat sahabat ini.


Begitu selesai pekerjaan di meja Ayah Eja, Nanta lanjut menuju meja Papa Andi, ingin tahu apa yang akan Papa Andi bahas di laptopnya.


"Makan dulu lah, semangat sekali bekerja." Andi terkekeh menunjuk jam dinding diruangan mereka. Nanta jadi ikut tertawa.


"Makan diruangan saja ya." kata Mario, tanpa menunggu persetujuan mulai hubungi pegawai restaurant agar mengantarkan makan siang untuk ketiganya.


"Mas Nanta ada yang minta foto bersama." kata Bowo yang masuk keruangan hanya untuk sampaikan itu. Mario dan Andi terkekeh.


"Dari tadi tidak keluar ruangan, tapi mereka bisa tahu kamu ada disini loh." Mario gelengkan kepalanya.


"Aku juga bingung." Nanta menghela nafas. Pekerjaannya masih banyak, ladeni foto bersama bisa makan waktu juga, semoga saja sedikit yang minta foto bersama.


"Aku keluar dulu ya." ijin Nanta pada Mario dan Andi.


"Setengah jam saja Boy, begitu makanan datang kamu harus langsung makan, kita juga belum sholat Dzuhur." tegas Andi pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta segera ikut Bowo keluar ruangan. Tampak seorang Ibu sedang menggandeng anaknya menunggu dekat ruangan petinggi.


"Ini Mas." tunjuk Bowo pada Ibu dan Anak lelakinya.


"Siang Mas Nanta, maaf mengganggu waktunya sebentar, anak saya suka sekali basket, kita sudah datang ke Cabang Selatan beberapa kali ternyata Mas Nanta ada di Cabang Utama. Kalau tahu langsung saja kesini dari kemarin." langsung saja si Ibu nyerocos, sementara anaknya hanya memandang Nanta tersenyum malu-malu.


"Siang." jawab Nanta tersenyum ramah.


"Ayo Darwin, sampaikan kamu mau apa?" Ibu langsung menepuk bahu anaknya. Perkiraan usia sepuluh tahun.


"Ini." serahkan buku pada Nanta. Nanta menerima buku tersebut dan tertawa begitu melihat semua gambar aktifitas Nanta bermain basket, ada juga gambar yang lainnya, tapi Nanta yang mendominasi.


"Buat saya?" tanya Nanta.


"Jangan." jawabnya cepat.


"Jadi?" tanya Nanta bingung.


"Kakak tanda tangan di tiap lembarnya boleh, setelah itu kita foto bersama sambil Kakak pegang buku ini." kata Daniel pada Nanta.


"Oh, kita duduk disana saja ya. Tapi waktu saya hanya setengah jam nih." kata Nanta melihat jam di pergelangan tangannya. Ia segera menuju meja terdekat, Daniel dan Ibunya mengikuti


"Mas Nanta tidak ajak keruangan saja, kalau disini tidak bisa setengah jam." kata Bowo pada Nanta, benar saja sudah banyak pengunjung yang melirik-lirik.


"Sebenarnya banyak yang mau saya bicarakan selain tanda tangan buku ini juga, saya mau Mas Nanta melatih basket untuk anak saya." kata Ibu itu lagi.


"Waduh, tidak harus saya boleh ya, ada teman sesama TimNas juga bisa ajarkan Daniel anak Ibu. Kebetulan kami sedang membuat Hall basket dicabang utara." kata Nanta pada Ibunya Daniel.


"Boleh Mas, kapan Mas Nanta ada waktu, kita bisa bicara santai." kata Ibunya Daniel lagi.


"Kalau saya minggu ini agak padat Bu, baru agak lowong di hari jumat." kata Nanta sampaikan waktu luangnya.


"Atau kalau Ibu mau, diwakilkan oleh teman saya. Saya aturkan jadwal untuk Ibu agar bisa bertemu dan bicarakan tentang latihan Basket Daniel." kata Nanta.


"Aku mau yang ajarkan Kak Nanta." kata Daniel setengah merengek.


"Ada Doni, Mike dan Larry yang bisa ajarkan kamu, kami akan bergantian." kata Nanta pada Daniel.


"Huaaa berempat yang ajarkan aku nanti?" tanya Daniel semangat.


"Iya, kami bergantian." Nanta tersenyum melihat ekspresi Daniel.


"Masalah biayanya bagaimana Mas Nanta?" tanya Ibunya Daniel.


"Kursus rutin atau hanya ramaikan basket corner, bu? tanya Nanta.


"Kursus rutin, kan saya mau anak saya jadi atlet juga." jawabnya. Nanta sebutkan biaya yang telah disepakati sebelumnya.


"Boleh aku ajak teman-teman, Kak?" tanya Daniel.


"Boleh." jawab Nanta tersenyum, hall basket belum jadi sudah ada yang mendaftarkan diri.


"Latihan seminggu dua kali di cabang utara." kata Nanta pada Daniel.


"Dicabang manapun kami kejar." jawab Ibunya Daniel. Nanta terkekeh.


"Kalau begitu jumat Mama antar aku kesini lagi ya. Tanda tangannya jumat saja, sekalian aku ajak teman-teman yang berminat." kata Daniel.


"Oke Daniel, sampai bertemu jumat." Nanta berdiri dan salami Daniel juga Ibunya.


"Saya tinggal ya, Bu. Masih banyak kerjaan." pamit Nanta.


"Mas Nanta, fotonya jumat saja ya." teriak Daniel. Nanta acungkan jempolnya sambil tertawa tinggalkan mereka menuju ruang petinggi Warung Elite.